Peluang dan Tantangan Enzim Rekombinan Buatan Indonesia

Pinterest LinkedIn Tumblr +
image_pdfimage_print

Cibinong, Humas BRIN. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Mikrobiologi Terapan (PRMT), Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan kembali menyelenggarakan webminar seri ke-2 bertopik Enzim Rekombinan made in Indonesia: Peluang dan Tantangan, pada Rabu 17 Mei 2022. Webinar secara daring ini menampilkan narasumber Dr. Is Helianti, M.Sc., Peneliti Pusat Riset Mikrobiologi Terapan, dan Suwandi Iskandar selaku Manajer Pemasaran PT. Sadya Balawan, dengan moderator Dr. rer nat Niknik Nurhayatis.

Plh. Kepala PRMT, Dr. Eng. Ario Betha Juanssilfero dalam sambutan dan pembukaan webinar menyampaikan bahwa kemandirian enzim di Indonesia menjadi salah satu fokus utama dan menjadi sasaran strategis PRMT yang harus dicapai. Meningkatnya kebutuhan enzim untuk berbagai industri dan menjawab isu-isu nasional maupun global menuntut PRMT agar semakin peka dan kritis.

“Semakin meningkatnya kebutuhan enzim untuk berbagai industri dan untuk menjawab isu-isu nasional maupun global seperti industri pakan, pangan, kesehatan, bioteknologi hingga lingkungan, membuat kita harus semakin peka dan kritis bagaimana kita bisa menjadi yang terdepan dalam menjawab permasalahan dan kebutuhan yang ada,” ungkapnya. Hal ini senada dengan apa yang disampaikan pasa webminar episode pertama.

Menurut Ario bahwa dalam menjawab isu-isu tersebut, kolaborasi antara periset dan pemangku kepentinganya merupakan suatu kewajiban agar mampu melakukan akselerasi riset ataupun pemanfaatan hasil riset yang telah ada kepada mitra atau stakeholdernya. Pelaksanaan webminar berkala PRMT ini merupakan salah satu strategi penguatan riset dan membangun kolaborasi. Adapun tujuan pelaksanaan webminar ini adalah untuk berbagi ilmu pengetahuan dan riset bidang mikrobiologi terapan. “Kita juga berharap bahwa kita bersama dapat mempelajari isu atau kendala apa saja yang dihadapi dalam pelaksanaan riset serta rencana pengembangan riset kedepannya,” tandasnya.

Pada webminar kali ini PRMT mengundang para periset dan akademisi dari perguruan tinggi sebagai pembicara, namun yang tidak kalah penting PRMT juga akan berusaha untuk menjemput bola dengan mengundang para pelaku industri yang berkaitan dengan bidang mikrobiologi terapan agar dapat berbagi informasi, mencari solusi dan berkontribusi terhadap permasalahan apa saja yang dihadapi.

“Kami dari PRMT memiliki komitmen yang kuat untuk dapat berkontribusi positif dalam memecahkan masalah yang menjadi isu strategis nasional termasuk di dunia industri. Untuk itu kami selalu berusaha untuk membuka peluang kerjasama baik itu antar periset, akademisi, maupun pelaku industri,” sambung Ario.

Tak lupa Ario menyampaikan bahwa PRMT sebagai institusi yang mewadahi para periset dan kegiatan riset, publikasi dan KI merupakan output utamanya yang tentu saja dapat dimanfaatkan oleh rekan-rekan pelaku industri baik itu melalui skema kerjasama ataupun skema-skema lainnya.

Peluang dan Tantangan Enzim

Sementara Is Helianti menyampaikan paparan terkait riset enzim berjudul “Enzim (Rekombinan) Made In Indonesia : Peluang dan Tantangan”. Diantara paparannya membahas tentang fakta menarik enzim, proyeksi nilai ekonomi enzim, dan peningkatan nilai pasarnya secara global, data konsumsi enzim sektor industri, tren kebutuhan enzim, proses produksi enzim dari mikroba baik skala laboratorium maupun industri.

Dalam hal proses produksi enzim, menurutnya dengan pendekatan Teknologi DNA Rekombinan, yaitu melalui proses penggabungan molekul DNA dari organisme yang berbeda dan memasukkannya ke dalam organisme inang untuk menghasilkan kombinasi genetik baru yang bernilai bagi sains, kedokteran, pertanian, dan industri.

Sharing terkait riset dan pengembangan enzim natif dan rekombinan khususnya xilanase dan protease yang potensial untuk aplikasi di industri, Helianti berfokus pada pada Bacilus halodurans CM1 dengan alasan bakteri tersebut asli asal Indonesia, diisolasi dari sumber air panas Cimanggu, Jawa Barat, merupakan galur bakteri unggul, dan menghasilkan berbagai jenis enzim potensial seperti xilanase dan protease, serta fermentasi optimal pada suhu 50 ºC dan pH 9.

Dari sekian banyak paparan yang disampaikannya, Helianti menyimpulkan bahwa riset terkait pengembangan enzim rekombinan sudah banyak dilakukan oleh SDM Iptek dan periset baik di perguruan tinggi maupun di BRIN. BRIN sendiri telah mampu mengembangkan enzim rekombinan baik dengan menggunakan inang bakteri E.coli dan Bacillus, maupun yeast seperti Pichia pastoris. Aplikasi xilanase natif untuk proses deinking kertas telah sampai pada proses hilir dengan uji lapangan di industri kertas. Sayangnya, kendala non teknis menyebabkan komersialiasi belum dapat berlanjut. 3CL Protease rekombinan dari SarsCov2 menunjukkan potensinya sebagai protein target dalam skrining obat Covid dari herbal. Kerja sama dengan mitra harus dipererat untuk memberi nilai penting dari protease rekombinan ini.

Menurutnya kekayaan biodiversitas Indonesia, peningkatan pasar enzim secara global maupun nasional, pemanfaatan enzim pada industri secara berkelanjutan, penerapan teknologi produksi enzim rekombinan, dan tersedianya bigdata yang terkait genomik dan metagenomik sebagai sumber enzim baru merupakan peluang pengembangan enzim rekombinan produksi anak bangsa.

Selain itu Helianti juga menyimpulkan bahwa sebagai tantangan pengembangan enzim rekombinan meliputi pertama belum adanya produsen/industri manufaktur enzim secara riil, kedua adanya keengganan sebagian industri untuk memanfaatkan enzim dalam proses industrinya, ketiga pasar enzim domestik besar, akan tetapi sudah tertutup dominasi enzim impor, keempat memerlukan aspek kebijakan dan regulasi agar riset enzim berkembang dan termanfaatkan, selain faktor teknis penguasaan teknologi.

Kesimpulan berikutnya yaitu bahwa riset yang dilakukan oleh sebagian besar peneliti atau SDM Iptek Indonesia sebagian besar baru terbatas pada skala lab, kemudian belum masifnya penguasaan teknologi produksi enzim rekombinan, khususnya yang berfokus pada jamur sebagai inang (kondisi di BRIN), dan pemanfaatan koleksi mikrob asli Indonesia untuk sumber pencarian enzim baru harus lebih dioptimalkan, serta pemanfaatan bigdata yang terkait genomik mikroba dan metagenomik dengan pendekatan bioinformatika (data mining) untuk penemuan enzim baru belum ada yang melakukan

Narasumber lain yang juga sebagai salah satu yang berkecimpung dalam dunia bisnis enzim adalah Suwandi Iskandar. Mitra industri dari perusahaan PT Sadya Balawan ini telah mengaplikasikan enzim pada perusahaan client yaitu pada industri kertas, gula dan etanol. Ia menggunakan jenis-jenis enzim seperti enzim dekstranase, amilase, glukoamilase, dan sellulase yang diaplikasikan pada gula dan etanol. Sedangkan untuk industri kertas misalnya dalam proses deinking, diaplikasikan formulasi enzim menggunakan campuran dari selulase, lipase, amilase, dan xilanase.

Suwandi juga menjelaskan tentang potensi pasar dan pengembangan bisnis perusahaan Sadya Balawan ke depan. Ia menyampaikan ke depan perusahaannya akan mengembangkan aplikasi enzim untuk industri monosodium glutamate (MSG) dan industri laundry.

Diskusi dalam webinar yang telah dihadiri peserta sekitar 276 sangat menarik dengan antusiasme dari audien yang sangat tinggi. Hal ini tampak dari banyaknya pertanyaan sehingga moderator memperpanjang waktu agar dapat mengakomodir semua tanggapan dan pertanyaan.(dk/ ed. sl)

 

 

Share.

About Author

Leave A Reply