Cibinong - Humas BRIN. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Rekayasa Genetika menyelenggarakan Friday Scientific Sharing Seminar (FS3) pada Jumat, 13 Mei 2022. FS3 menghadirkan narasumber Adji Baskoro Dwi Nugroho, Ph.D dari Chung Ang University, Republic of Korea dan Dr. Ria Fajarwati Kastian, M.Bio.Sc. Peneliti Pusat Riset Rekayasa Genetika BRIN serta dimoderatori oleh Dr. M. Dylan Lawrie, S.Si. Peneliti Pusat Riset Rekayasa Genetika BRIN.
Kepala Pusat Riset Rekayasa Genetika, Dr. Ratih Asmana Ningrum. membuka langsung FS3 edisi pertama ini. “Diharapkan FS3 menjadi sarana untuk memperkenalkan kegiatan dan ruang lingkup Pusat Riset kepada Masyarakat luas, serta menjadi ajang sharing ilmu dan hal-hal baru yang menjadi fokus utama dalam dunia riset saat ini,” ungkap Ratih.
Selain itu, Ratih menambahkan Pusat Riset Rekayasa Genetika juga membuka peluang dan kesempatan terjalinnya kolaborasi riset baik itu melalui pelatihan atau kegiatan seminar-seminar yang bisa diselenggarakan bersama.
Salah satu narasumber dalam FS3 Ria Fajarwati memaparkan aspek mekanobiologi dari synapse pada otak yang berperan penting untuk pembentukan learning dan memori.
Ria menyampaikan bahwa aktifitas intelektual manusia itu tidak terpisahkan dengan sistem kerja otak, “otak manusia sebagai salah satu organ utama yang memiliki kapasitas penyimpanan informasi yang sangat besar, menjadikan manusia itu sebagai salah satu sistem yang kompleks,” ungkapnya.
Dirinya juga menjelaskan bahwa informasi-informasi yang diterima otak itu melalui 3 tahap yang sangat penting, (1) tahapan learning (belajar) untuk mendapatkan informasi, (2) informasi-informasi ini akan disimpan dalam bentuk memori dan (3) terkadang memori itu dapat teringat atau berbalik kembali.
Lebih lanjut Ria menyampaikan ada satu bagian yang sangan penting pada otak manusia yang namanya hippocampus, dimana bagian ini yang sangat berperan dalam proses penyimpanan memori, baik itu memori dalam jangka panjang atau jangka pendek dan kedua memori ini saling bersinergi satu dengan lainnya.
“Di dalam otak kita agar bekerja secara optimal, otak tersebut mengandalkan sirkuit syaraf yang saling berkomunikasi dalam mengirimkan informasi-informasi, dari yang namanya terminal axon ke dendritic yang ada di sel syaraf itu sendiri, setelah mendapatkan informasi, sel syaraf akan meintegrasikan informasi-informasi tesebut yang kemudian dikirimkan dalam bentuk output,” papar Ria.
Ria menyampaikan penelitiannya berfokus pada titik temu yang berkomunikasi antar axon terminal yang dinamakan synapse, dan dari hasil penelitiannya dapat disimpulkan bahwa distabilitas intelektual yang disebabkan oleh dendritic spine dengan adanya jumlah yang tidak normal pada beberapa penyakit neurologi, mungkin salah satu penyebabnya adalah kurangnya traction fource, yang dimana shootin1a berperan penting dalam proses traction fource, dan bisa jadi referensi para farmakologi atau para dokter yang sedang mencari pengobatan atau mencegah efek samping dari penyakit-penyakit neurologi.
Sementara itu narasumber Adji Baskoro Dwi Nugroho menyampaikan paparan berjudul “Regulation of genes related to glucosinolate biosynthetic pathway in Brassicaceae family”.dari paparannya disimpulkan bahwa Glikosinolate merupakan salah satu bentuk simpanan sebagai mekanisme pertahanan dari tanaman JSLs yang akan dikonversi ke Isothiocyanates setelah ada cekaman biotik maupun abiotik.
Lebih lanjut, disampaikan bahwa tanaman radish (lobak) sebagai salah satu anggota dari JSLs mempunyai GRH yang tinggi sementara pada tanaman JSLs yang lain hanya sedikit, kemudian pada daun lobak mempunyai DRH yang tinggi dibandingan dengan akar, dan ekpresi dari GRS1 yang bertanggungjawab terhadap produksi JRS ini akan mengalami penutunan seiring dengan penuaan tanaman lobak itu sendiri.
Acara yang dihadiri sekitar 129 peserta ini diakhiri dengan diskusi, dan peserta sangat antusias. Hal ini ditandai dengan banyaknya pertanyaan dari peserta, meski waktu tidak mencukupi, namun penyelenggara dapat melayani melalui informasi alamat email narasumber yang dapat dihubungi. (wt ed. sl)

