Sejumlah Peneliti LIPI Saat Memeberikan Keterangan Pers Soal Biorefineri Di IICC Bogor (Foto : PJ/ Herman).
Bogor- Penelitian terkait pemanfaatan biomasa non-pati di Indonesia dinilai belum menyeluruh, sehingga penerapannya belum optimal. Padahal Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan optimalisasi penggunaan biofuel untuk sarana transportasi di Insonesia, yang mewajibkan penggunaan bahan bakar minyak jenis solar dicampur 20 persen komponen biofuel berbahan dasar minyak nabati (B20).
Demikian dikatakan Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI, Enny Sudarmonowati disela-sela Symposium Internasional di IPB International Convention Centre (IICC) Bogor. Menurutnya, LIPI telah mengembangkan teknologi biorefineri berbasis biomasa non-pati untuk menggantikan bahan bakar fosil.
“Kita perlu memberi solusi pengembangan biomasa agar segera terimplementasikan menjadi energi alternatif melalui teknologi biorefineri,” ujar Enny kepada pewarta, Rabu (10/10/2018).
Ia mengatakan, pengembangan borefineri unuk mengubah biomasa menjadi biofuel dan produk kimia lainnya, menuntut adanya perhatian pada tiga komponen penting yaitu, pengembangan teknologi pretreatment, pengembangan teknologi produksi enzim sebagai katalisator dan teknologi fermentasi dan reaksi terpadu.
“Sampai saat ini, enzim yang diperlukan masih produk impor sehingga berpengaruh pada biaya produksi,” paparnya.
Sementara itu peneliti Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, sekaligus Manager Proyek Biorefineri, Yopi menjelaskan, untuk mewujudkan produksi energi alternatif dari biomasa yang lebih murah dan efisien, peneliti LIPI telah bekerjasama dalam konsorsium melaksanakan riset biorefineri terpadu.
“Konsorsium ini terdiri dari LIPI yakni Pusat Penelitian Bioteknologi, Pusat Penelitian Biologi, Pusat Penelitian Biomaterial dan Pusat Penelitian Kimia,” jelasnya.
Salah satu fokus riset yang saat ini yang sedangdikerjakan adalah pengembangan biorefineri terpadu dengan dasar pemanfaatan biomasa dari industri kelapa sawit dan tebu, untuk produksi bioethanol dengan dan bioplastik dengan menggunakan mikroba lokal.
“Kami berharap teknologi biorefineri ini terus dikembangkan melalui jalinan kerjasama riset yang lebih luas.Teknologi Biofineri.
Selain iti kami berharap mampu meningkatkan kerjasama dan berbagi pengetahuan terkait bidang bioproses biorefineri antara sesama peneliti Indonesia maupun kuar negeri serta sektor Industri,” pungkas Yopi. (her).

