Pendidikan Vokasi Masyarakat Pesisir Tingkatkan Potensi Sektor Perikanan
Dalam konteks perayaan Hari Pendidikan Nasional yang sering luput diperhatikan adalah potensi Indonesia sebagai negara maritim. Perhatian terhadap pembangunan pendidikan dan pelatihan bagi masyarakat pesisir menjadi penting untuk Sumber Daya Manusia (SDM). Melalui pendidikan dan pelatihan vokasi bagi masyarakat pesisir, diharapkan semakin meningkatkan jumlah penduduk yang terdidik untuk memenuhi permintaan pasar kerja di berbagai sektor ekonomi, khususnya pada sektor perikanan. Untuk mengulas lebih dalam terkait masalah ini, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Penelitian Kependudukan bekerja sama dengan Pusat Penelitian Kebijakan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) menyelenggarakan webinar dengan mengusung tema “Pendidikan dan Pelatihan Vokasi di Sektor Perikanan: Refleksi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara pada Penelitian dan Kebijakan Masa Kini”. Webinar akan diselenggarakan pada Selasa, 25 Mei 2021 pukul 09.00 - 12.00 WIB via zoom meeting yang dapat diakses melalui tautan: https://zoom.us/j/98312165114?pwd=R1RiNm82U0E1VXdwMVRnenU4SUY5dz09 atau Meeting ID: 983 1216 5114
& Passcode : 498455 dan Live Youtube pada: bit.ly/Live_WebinarPendidikanLIPI.
Jakarta, 24 Mei 2021. Deputi bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan (IPSK) LIPI, Tri Nuke Pudjiastuti, menyatakan, pembangunan sektor maritim/ kelautan merupakan salah satu prioritas utama Presiden Joko Widodo. Menurut data Kementerian Kelautan dan Perikanan, jumlah stok ikan nasional 7,3 juta ton pada tahun 2015 dan terus meningkat pada tahun 2016 dan 2017 menjadi sebesar 9,93 juta ton dan 12,5 juta ton. “Angka-angka tersebut menggambarkan melimpahnya potensi perikanan di Indonesia yang tentu saja perlu juga didukung dengan ketersedian SDM yang memiliki kapasitas untuk dapat mengelola potensi besar tersebut,” ungkapnya.
Menurut Nuke, dalam rangka menyambut masa keemasan Indonesia dan menyongsong bonus demografi, diperlukan SDM dapat terampil dalam penguasaan teknologi agar mampu bersinergi dengan pasar global. Selain itu, kerjasama dengan pihak industri juga perlu didorong agar dapat mengoptimalkan penggunaan teknologi ke pelosok nusantara. “Formulasi desain kurikulum pendidikan yang mengadopsi kebutuhan teknologi bagi industri harus sesuai dengan dinamika industri teknologi kelautan global 2030,” jelasnya.
Lebih lanjut, Kepala Pusat Penelitian Kependudukan LIPI, Herry Yogaswara, mengungkapkan pendidikan dan pelatihan vokasi di sektor perikanan perlu mengakomodasi kebutuhan global, nasional dan lokal untuk menjawab berbagai tantangan aktual. “SDM berkualitas yang dibentuk melalui pendidikan dan pelatihan vokasi sektor perikanan tersebut akan mengisi pasar kerja perikanan baik di industri perikanan maupun usaha perikanan skala kecil. Kebutuhan akan tenaga kerja yang memiliki kapasitas dan keterampilan menjadi sangat urgen,” tegas Herry.
Sementara itu, Anggi Afriansyah, peneliti Pusat Penelitian Kependudukan LIPI menjelaskan dalam konteks kesejarahan, Ki Hadjar Dewantara (2013) menyatakan bahwa diperlukan sekolah kepandaian atau vakschool yang menguntungkan rakyat dan negara. “Ki Hadjar Dewantara menyarankan sekolah-sekolah tersebut harus disesuaikan dengan kondisi alam masing-masing. Arus utama dalam penguatan pendidikan vokasi dalam ide Ki Hadjar Dewantara ialah local production yang ada di wilayah masing-masing. Dengan semua potensi alam dan ekonomi lokal yang dimiliki wilayah tersebut, bangunan pendidikan dan pelatihan vokasi dikokohkan untuk menunjang kedua hal tersebut,” tuturnya.
Sebagai informasi, webinar ini turut menghadirkan Wikan Sakarinto, S.T., M.Sc., Ph.D. Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Kemendikbudristek; Prof. Ir. Sjarief Widjaja, Ph.D., F.RINA, Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan KKP; Amich Alhumami, Ph.D., Direktur Agama, Pendidikan dan kebudayaan Kementerian PPN/Bappenas; Daniel Mastri Nugraha, S.Pi, PT. Central Proteina Prima; dan Nur Berlian Venus Ali, S.TP., M.SE., Peneliti Pusat Penelitian Kebijakan Kemendikbudristek.
Sumber : Humas LIPI
Sivitas Terkait : Dr. Herry Jogaswara MA
& Passcode : 498455 dan Live Youtube pada: bit.ly/Live_WebinarPendidikanLIPI.
Jakarta, 24 Mei 2021. Deputi bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan (IPSK) LIPI, Tri Nuke Pudjiastuti, menyatakan, pembangunan sektor maritim/ kelautan merupakan salah satu prioritas utama Presiden Joko Widodo. Menurut data Kementerian Kelautan dan Perikanan, jumlah stok ikan nasional 7,3 juta ton pada tahun 2015 dan terus meningkat pada tahun 2016 dan 2017 menjadi sebesar 9,93 juta ton dan 12,5 juta ton. “Angka-angka tersebut menggambarkan melimpahnya potensi perikanan di Indonesia yang tentu saja perlu juga didukung dengan ketersedian SDM yang memiliki kapasitas untuk dapat mengelola potensi besar tersebut,” ungkapnya.
Menurut Nuke, dalam rangka menyambut masa keemasan Indonesia dan menyongsong bonus demografi, diperlukan SDM dapat terampil dalam penguasaan teknologi agar mampu bersinergi dengan pasar global. Selain itu, kerjasama dengan pihak industri juga perlu didorong agar dapat mengoptimalkan penggunaan teknologi ke pelosok nusantara. “Formulasi desain kurikulum pendidikan yang mengadopsi kebutuhan teknologi bagi industri harus sesuai dengan dinamika industri teknologi kelautan global 2030,” jelasnya.
Lebih lanjut, Kepala Pusat Penelitian Kependudukan LIPI, Herry Yogaswara, mengungkapkan pendidikan dan pelatihan vokasi di sektor perikanan perlu mengakomodasi kebutuhan global, nasional dan lokal untuk menjawab berbagai tantangan aktual. “SDM berkualitas yang dibentuk melalui pendidikan dan pelatihan vokasi sektor perikanan tersebut akan mengisi pasar kerja perikanan baik di industri perikanan maupun usaha perikanan skala kecil. Kebutuhan akan tenaga kerja yang memiliki kapasitas dan keterampilan menjadi sangat urgen,” tegas Herry.
Sementara itu, Anggi Afriansyah, peneliti Pusat Penelitian Kependudukan LIPI menjelaskan dalam konteks kesejarahan, Ki Hadjar Dewantara (2013) menyatakan bahwa diperlukan sekolah kepandaian atau vakschool yang menguntungkan rakyat dan negara. “Ki Hadjar Dewantara menyarankan sekolah-sekolah tersebut harus disesuaikan dengan kondisi alam masing-masing. Arus utama dalam penguatan pendidikan vokasi dalam ide Ki Hadjar Dewantara ialah local production yang ada di wilayah masing-masing. Dengan semua potensi alam dan ekonomi lokal yang dimiliki wilayah tersebut, bangunan pendidikan dan pelatihan vokasi dikokohkan untuk menunjang kedua hal tersebut,” tuturnya.
Sebagai informasi, webinar ini turut menghadirkan Wikan Sakarinto, S.T., M.Sc., Ph.D. Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Kemendikbudristek; Prof. Ir. Sjarief Widjaja, Ph.D., F.RINA, Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan KKP; Amich Alhumami, Ph.D., Direktur Agama, Pendidikan dan kebudayaan Kementerian PPN/Bappenas; Daniel Mastri Nugraha, S.Pi, PT. Central Proteina Prima; dan Nur Berlian Venus Ali, S.TP., M.SE., Peneliti Pusat Penelitian Kebijakan Kemendikbudristek.
Sumber : Humas LIPI
Sivitas Terkait : Dr. Herry Jogaswara MA


