Cibinong, Humas LIPI. Setelah 13 hari pelatihan diselenggarakan, pada Kamis (25/2) Ocky Karna Radjasa selaku Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian (IPK) LIPI menutup Pelatihan Reviewer Penelitian Terakreditasi. “Saya sangat bersyukur kegiatan ini dapat selesai dengan baik. Saya berharap para calon reviewer dapat menjaga kualitas review substansi dalam proses bisnis penelitian dan menjadi penjaga gawang melalui proses monitoring dan evaluasi,” ujar Ocky dalam sambutan penutupannya.
Tak hanya itu, Ocky juga berharap pelatihan ini dapat menjadi ajang untuk memperkuat kapasitas dan kompetensi peneliti. Para peneliti otomatis mendapat pengetahuan lebih terkait proses penelitian, sehingga menjadi lebih paham tentang kisi-kisi dalam penilaian proposal berkualitas. Hal ini tentunya akan meningkatkan kemampuan dalam menulis proposal, sehingga peluang peneliti untuk mendapatkan pendanaan riset menjadi lebih besar. Tahun ini terjadi peningkatan persentase dana eksternal yang tahun lalu 10% naik menjadi 40% di tahun ini.
Pelatihan ini juga akan memberi dampak positif karena dapat menjaga kualitas penelitian di lingkungan IPK. Peneliti yang telah tersertifikasi dapat berperan aktif dalam proses review, baik secara internal maupun eksternal. Membantu dalam memperbaiki sistem dalam proses bisnis penelitian dan dapat mengurangi kesenjangan dalam sistem penilaian.
Mengamini harapan Ocky, Prakoso selaku Sekretaris Deputi Bidang Penguatan Risbang Ristek/BRIN berharap pelatihan ini dapat meningkatkan kualitas kegiatan penelitian dan memperluas wawasan serta kolaborasi. “Pelatihan ini ingin menghasilkan reviewer yang kompeten, jujur dan professional dengan dukungan sarana dan prasarana yang telah disiapkan sehingga dapat sesuai dengan output yang ditargetkan. Posisi reviewer berada di tengah-tengah tersebut, dengan pelatihan ini saya yakin peserta telah mendapat tambahan ilmu dan pengetahuan dalam proses review sehingga menjadi dasar dalam pengambilan kebijakan,” ungkapnya.
Dalam pesan dan kesan yang disampaikan Rahma Hanifa, salah seorang peserta pelatihan juga memberi poin positif. “Bagi saya mengikuti pelatihan ini adalah sebuah kesempatan besar. Banyak hal baru, istilah dan peraturan baru yang memperkaya pengetahuan saya dari 32 pengajar yang kompeten. Meskipun pelatihan diselenggarakan secara daring dengan berbagai kendala, namun tidak menyurutkan semangat saya. Aplikasi fitur Learning Management System (LMS) sangat membantu proses pembelajaran kami. Adanya penyamaan persepsi aturan baru dan perkembangan aturan semakin memperkaya pengetahuan kami. Bagi kami yang berbasis science kebumian, kedepannya juga diperkenalkan tentang technopreneurship. Sciencepreneurship juga perlu diperkenalkan, sehingga hilirisasi hasil penelitian dapat tercapai secara optimal,” jelas Hanifa.
Dalam laporannya Adhi Putranto selaku Ketua Pelaksana penyelenggara pelatihan dari Kemenristek/BRIN juga menjelaskan bahwa tujuan pelatihan ini memang untuk meningkatkan pemahaman calon reviewer Kemenristekdikti atau lembaga mengenai paradigma baru anggaran berbasis riset, meningkatkan pengetahuan mengenai arah riset nasional dan update panduan pendanaan riset BRIN beserta tatacara penilaiannya. Tak hanya itu pelatihan ini juga bertujuan untuk menyamakan pandangan dan pemikiran calon reviewer penelitian dan menghasilkan reviewer penelitian yang kompeten, jujur dan professional dalam menilai keluaran penelitian.
Tak lupa Adhi juga mengucapkan terima kasih atas kerja sama dan kolaborasi dalam penyelenggaraan pelatihan. “Kemenristek/BRIN mengucapkan terima kasih kepada Kedeputian IPK LIPI dan pihak Pusbindiklat LIPI yang telah memfasilitasi kegiatan ini. Sebagai informasi pelatihan selama 13 hari telah dimulai sejak tanggal 8 Februari hingga 25 Februari 2021. Peserta berjumalah 29 orang dan berasal dari LIPI. Hasil evaluasi kegiatan pelatihan menilai proses penyelengagrakan berjalan dengan baik,” imbuhnya. (SA ed SL)


Leave a Reply