Cibinong, Humas LIPI. Pada Senin (07/06), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Pembinaan, Pendidikan dan Pelatihan (Pusbindiklat) memberikan Pelatihan Pembentukan Jabatan Fungsional Peneliti (PPJFP) bidang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) untuk 20 ASN Kementerian Pertanian yang berasal dari pusat, balai dan loka pertanian di Sumatera Utara, Aceh, hingga Papua.
Kapusbindiklat LIPI, Ratih Retno Wulandari mengharapkan peserta memiliki kompetensi dalam merancang proses penelitian sesuai dengan kaidah ilmiah yang berlaku sehingga dapat menjalankan tugas dan fungsi sebagai peneliti ahli pertama berdasarkan peraturan perundangan. “PPJFP merupakan prasyarat bagi calon pejabat fungsional peneliti ahli pertama. Bagi kandidat dari CPNS walaupun sudah diangkat menjadi ahli pertama belum sah jika belum menyelesaikan pelatihan ini,” ungkapnya.
Selanjutnya Ratih menjelaskan bahwa proses pembelajaran akan berlangsung dari tanggal 7 Juni hingga 2 Juli 2021. “Pembelajaran terdiri dari kegiatan belajar mengajar, mulai dari kompetensi dasar pelaksanaan bidang tugasnya dalam melakukan penelitian, pengembangan dan pengkajian,” rincinya. “Sedangkan fokus kompetensi yakni penyusunan proposal,” imbuhnya.
“Mengapa proposal penelitian sangat penting dan perlu diuji kompetensinya dalam pelatihan? Karena proposal penelitian ini akan menjadi guidance bagi peneliti, penyandang dana maupun pemberi kerja agar dapat melihat tujuan penelitian, permasalahan yang akan diselesaikan, metode yang akan dipakai, tahapan penelitian yang akan dilakukan, maupun besaran biaya yang ditutupkan,” paparnya.
Dirinya mengatakan bahwa menyusun proposal dengan baik, mampu meyakinkan pemberi dana dan pemberi kerja bahwa penelitian yang akan dilakukan perlu dan penting dengan metode yang dapat divalidasi serta transparansi dan efektifitas kebutuhan dana merupakan modal awal untuk menjadi peneliti yang professional.
Lebih lanjut Ratih menuturkan, penelitian merupakan sebuah proses tiada akhir karena setiap saat akan ditemukan fenomena baru, temuan baru menguatkan penelitian sebelumnya atau bahkan mematahkan hasil penelitian yang digadang sebagai terobosan atau inovasi baru. “Harapannya setelah pelatihan ini peserta dapat menjalin kerjasama seluas-luasnya dalam bidang penelitian agar mampu menghasilkan penelitian yang berdampak nyata sehingga dapat dipublikasikan pada jurnal terakreditasi terindex global dan bereputasi tinggi. Selain itu rekan-rekan harus terus bersemangat untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi,” pungkas Retno. (shf ed sl)


Leave a Reply