Cibinong, Humas LIPI. Pada pekan kedua April ini, ada yang berbeda di salah satu satuan kerja di Kawasan Cibinong Science Center – Botanical Garden (CSC-BG), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Ya, Pusat Pembinaan, Pendidikan, dan Pelatihan (Pusbindiklat) LIPI telah mendapatkan seorang Nakhoda baru yang akan membawa kapal Pusbindiklat segera berlayar cepat di tengah situasi pandemi COVID-19 khususnya bidang kediklatan meneruskan estafet Nakhoda sebelumnya, R. Arthur Ario Lelono.
Harapan besar Pusbindiklat LIPI digantungkan di pundak Ratih Retno Wulandari, sang Kepala Pusbindiklat LIPI baru, sebagaimana disampaikan Kepala LIPI, Laksana Tri Handoko saat melantiknya di Jakarta, pada Kamis (8/4). “Kepala Pusbindiklat dapat fokus untuk menyelesaikan serta mengembangkan modul kediklatan baru yang menjadi tantangan dari Pusbindiklat,” tuturnya.
Tugas baru lain telah menantinya yakni membentuk sistem jabatan fungsional peneliti yang terdiri dari tujuh jabatan fungsional yang diampu langsung oleh Pusbindiklat LIPI. Handoko menekankan agar pelaksanaan pembentukan sistem tersebut segera dilaksanakan karena sudah banyak peneliti yang menanti sistem terbentuk.
Kehadiran seorang Ratih diapresiasi Kepala LIPI sebagai bukti bahwa LIPI memiliki SDM yang bagus dari generasi muda untuk menjadi SDM di garis depan. Sebenarnya Ratih bukan wajah baru juga di Pusbindiklat LIPI. Jauh sebelum ia menduduki jabatan Asesor SDM Aparatur Ahli Madya di Biro Organisasi dan Sumber Daya Manusia (BOSDM) LIPI, berbagai jabatan struktural telah diembannya di Pusbindiklat Peneliti LIPI sebelum ditarik ke BOSDM Jakarta.
Tantangan ke Depan Kepala Pusbindiklat LIPI
Ratih mengatakan bahwa transformasi Pusbindiklat dengan penugasan-penugasan baru yang menantang untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas SDM IPTEK Nasional menjadi tantangan baru baginya ke depan. “Bukan lagi sekedar bisnis biasa sebagai Pembina jabatan fungsional pada lingkup penelitian dan pengembangan, namun lebih luas lagi pada SDM IPTEK yang tidak dibatasi dengan status ASN maupun jabatan fungsional,” ungkapnya.
Dirinya menjelaskan, pada era disrupsi teknologi yang dipercepat dengan adanya pandemi Covid-19, seperti halnya pada bisnis lainnya, perubahan proses bisnis pelatihan dipaksa untuk cepat berubah, mengikuti perkembangan teknologi dan kebutuhan customer. “Pengembangan learning technologist menjadi prioritas untuk mendukung berbagai program pembelajaran (pengembangan kompetensi) yang kita siapkan, hal ini juga untuk mengantisipasi bisnis masa depan dengan sasaran anak-anak milenial, gen X, Y, Z yang lebih melek teknologi dan tidak mau dibatasi waktu dan tempat dalam belajar,” papar Mba Erra, panggilan akrabnya.
Lebih jauh Ratih memaparkan, sebagai institusi riset terbesar di Indonesia, LIPI sudah membangun infrastruktur riset yang canggih, dan ini harus diimbangi dengan peningkatan kapasitas dan kapabilitas SDM IPTEK didalamnya. “Untuk menjembatani kolaborasi riset nasional maupun global, melalui skema pengembangan kompetensi berupa kolaborasi riset, diantaranya program belajar by research, research internship, research fellowship maupun postdoctoral, Pusbindiklat memasuki babak baru menuju pusat belajar dan pengembangan kompetensi riset yang dapat menjadi platform dalam menciptakan talent-talent unggul di dunia riset,” rincinya.
“Perlu dukungan semua pihak untuk mewujudkan hal ini, banyak kendala dan permasalahan yang harus diatasi, karena program ini melibatkan banyak pihak baik dari civitas LIPI maupun dari instutusi luar. Namun, belajar dari kasus pandemi covid 19 ini, saya yakin kreativitas dan inovasi kita justru semakin terasah untuk mencari jalan keluar dengan adanya kendala dan permasalahan,” pungkas Ratih. (sl)


Leave a Reply