BRIN Gelar Serentak Pelatihan Pembentukan Jabatan Fungsional Peneliti Gelombang VI dan Pelatihan Penilaian Kondisi Padang Lamun dan Mangrove

Cibinong. Humas BRIN. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Pembinaan, Pendidikan dan Pelatihan (Pusbindiklat) menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Pembentukan Jabatan Fungsional Peneliti (PPJFP) Gelombang VI Tahun 2021 dan Pelatihan Penilaian Kondisi Padang Lamun dan Penilaian Mangrove, pada Senin (27/9).

Plt. Direktur Pengembangan Kompetensi, Deputi Bidang Sumber Daya Manusia Ilmu Pengetahuan dan Teknologi BRIN, Sudi Ariyanto dalam sambutannya mengatakan bahwa Indonesia memiliki luasan area laut lebih besar daripada daratan sehingga memiliki satu garis pantai yang termasuk terpanjang di dunia dan merupakan satu komunitas atau ekosistem dari satu perairan. “Kita perlu menangani secara khusus pantai-pantai atau ekosistem kelautan yang ada di tempat kita. Disisi lain, kita masih mempunyai jumlah peneliti atau jumlah manajemen talenta nasional yang dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia masih lebih rendah,” ungkapnya.

“Dua hal ini perlu untuk kita pikirkan bersama, karena kebanyakan negara maju, ekonominya selalu didukung dengan penelitian ataupun hasil-hasil penelitian dari komunitas ilmiah mereka. Kita memiliki juga luasan laut yang begitu besar yang perlu untuk kita jaga, kedua-duanya baik peneliti, maupun pemangku kepentingan di dalam pemeliharaan komunitas ekosistem kelautan bersinergi dalam rangka kemajuan Indonesia dan meningkatkan ekonomi Indonesia,” jelas Sudi.

Dirinya mengatakan, “Kurikulum penelitian peneliti dirancang temen-temen untuk memenuhi syarat sebagai fungsional peneliti di dalam pengembangan karir sebagai pejabat fungsional peneliti antara lain kode etik peneliti, penulisan proposal penelitian, kompetensi teknik substansi penelitian ada landasan penelitian, proposal penelitian, analisis dan indeks prestasi data Ilmiah, publikasi ilmiah dan kompetensi lainnya” imbuh Sudi.

Selanjutnya Sudi menyampaikan tujuan pelatihan yaitu untuk meningkatkan kompetensi dalam rangka berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan nasional Indonesia. “Bapak/ibu berada jangan melupakan kita bekerja dalam rangka bakti kita untuk mendukung kemajuan ekonomi Indonesia melalui bidang keilmuwan masing-masing,” tuturnya.

Sudi berharap selama 20 hari ini para peserta secara umum memiliki kompetensi dasar untuk bisa menduduki jabatan fungsional peneliti ahli pertama sesuai dengan kebutuhan bidang tugasnya masing-masing. “Diharapkan para peserta mampu merancang proses penelitian sesuai dengan kaidah ilmiah yang berlaku, sehingga teman-teman sekalian bisa melaksanakan tugas dan fungsi bagi peneliti menyelesaikan peraturan dan juga menghasilkan karya-karya tulis dan penelitian yang luar biasa,” ucapnya

Selanjutnya Sutrisno Heru Sukoco, Widyaiswara BRIN memaparkan pelatihan Pembentukan Jabatan Fungsional Peneliti (PPJFP) ini diikuti oleh 15 orang peserta antara lain dari Badan Sandi Negara, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi, Kementerian Kesehatan, Kementerian Komunikasi dan Informatika dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Penelitian dan Pengembangan Propinsi Riau. Sedangkan Pelatihan kondisi padang lamun dan penilaian mangrove diikuti oleh 32 orang peserta yaitu 22 orang peserta dari penilai kondisi ekosistem lamun dan 10 orang peserta dari penilai kondisi ekosistem mangrove antara lain dari Universitas Maritim Raja Ali Haji, Institut Pertanian Bogor, Karbonetik Indonesia, Yayasan Ekologi Kepulauan Riau dan CV. Macegana Ininwana.

“Kompetensi pelatihan PPJFP antara lain mampu menerapkan landasan penelitian sesuai dengan kaidah ilmiah yang benar, mampu merancang proposal penelitian, mampu melakukan analisis dan interpretasi data penelitian dengan tepat, mampu menerapkan penulisan ilmiah sesuai kaidah secara tepat, mampu menerapkan teknik presentasi ilmiah hasil penelitian yang dapat dipahami dengan benar, mampu menerapkan tim efektif dalam kolaborasi dan sinergitas di kegiatan penelitian dengan benar, mampu menerapkan research integrity dalam kegiatan penelitian dengan benar, mampu menerapkan PNS peneliti berkaitan dengan tugas dan fungsinya sebagai peneliti dengan benar, mampu memahami intelektual dan prosedur mendapatkannya dengan benar, mampu melakukan uji kompetensi melalui penulisan proposal penelitian secara tatap muka dan online, presentasi ilmiah dan wawancara subtansif proposal penelitian dengan benar, mampu memahami manajemen referensi dan jurnal ilmiah dengan benar, mampu memahami program pelatihan dengan benar,” rinci Sutrisno.

Sebagai informasi pelatihan pembentukan jabatan fungsional peneliti (PPJFP) yang diselenggarakan selama 20 hari kerja mulai tanggal 27 September – 25 Oktober 2021 menggunakan fully e-learning terdiri dari pembelajaran synchronous atau tatap muka maya dan asynchronous atau self learning atau mandiri. Sedangkan pelatihan penilaian kondisi padang lamun dan penilaian mangrove diselenggarakan selama 5 hari kerja mulai tanggal 27 September – 1 Oktober 2021 menggunakan klasikal atau offline terdiri dari menggunakan fungsi e-learning management system. (shf ed sl)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*


3 + fourteen =