• Home
  • About Us
    • About P2W
    • People
      • Management
      • Researchers
      • Visiting Researchers
    • Institutional Partners
    • Annual Reports
  • Projects
  • News and Events
    • News
    • Events
      • Past Events
      • Upcoming Events
    • Opinions
    • Prominent Figures
  • Publications
    • Books
    • Newsletter
    • Working Papers
    • Policy Papers
    • Journal Kajian Wilayah
    • Book Reviews
  • Gallery
    • Photos
    • Videos
  • Contact
  • Sudut Pandang Amin Mudzakkir

Sudut Pandang Amin Mudzakkir

VIRUS CORONA DAN WAJAH BARU GLOBALISASI

06 January 2021
Written by Amin Mudzakkir
fShare
Tweet

rsz globalization coronavirus

Para Penumpang berjalan melewati awak South African Airways di bandara di Frankfurt, Jerman (Foto: Michael Probst - AP)

 

Virus corona telah mengubah wajah dunia dalam satu tahun terakhir ini. Bandara, di mana biasanya orang lalu-lalang bepergian, sekarang terlihat sepi. Di beberapa negara, seperti Australia, bahkan sejak sekitar Maret 2020 bandara telah tertutup sama sekali bagi orang asing. Dalam situasi ini, muncul pertanyaan, inikah akhir globalisasi?

Setidaknya sejak tahun 1990-an, globalisasi telah menjadi kata sakti. Berbagai fenomena yang terjadi selalu dikaitkan dengannnya, entah dengan nada positif atau negatif. Sejumlah pandit seperti Kenichi Ohmae (1995) mengumumkan akhir negara-bangsa. Saat itu, memang, pengumuman Ohmae seolah menemukan pembenarannya. Bagaimana tidak, segera setelah komunisme runtuh, dunia memasuki era baru ketika ekonomi tidak lagi disangga oleh pilar-pilar Westhapalian, tetapi oleh konsensus-konsensus multilateral. Sebagai akibatnya, mobilitas orang, barang, dan jasa dalam skala dan intensi yang tidak pernah ada sebelumnya tidak lagi terelakkan.Akan tetapi, hanya dalam hitungan bulan, pengumuman Ohmae tersebut sekarang terasa usang. Sejak bandara-bandara internasional menutup perbatasannya bagi orang asing, dunia seakan kembali ke Abad Pertengahan. Dampaknya sangat luas. Tidak hanya ekonomi, kehidupan sosial dan politik pun mengalami kemerosotan.

Yang dimaksud kemerosotan adalah menguatnya dinding pemisah antara satu kelompok dan kelompok lainnya. Peristiwa Black Lives Matter di Amerika Serikat sepanjang bulan Juni kemarin membuka sesuatu yang mungkin agak tertutupi selama ini. Di balik globalisasi ternyata terdapat wajah dunia kita yang sesungguhnya: ketimpangan karena keberbedaan. Keduanya saling membelit sedemikian rupa sehingga “dunia yang datar” hanya ada dalam imajinasi Thomas Friedman (2005) saja.

Dalam kenyataannya, bahkan sebelum virus corona melanda, dunia tidak pernah datar. Kemudahan bepergian dari satu bandara ke bandara lain sebagaimana sering diilustrasikan oleh narasi-narasi mengenai globalisasi hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang. Sebagian besar penduduk dunia tetap tinggal, tidak mampu kemana-mana, di tempat mereka lahir dan mati. Jika pun mereka pindah, itu terjadi karena keterpaksaan. Bukankah alasan terakhir inilah yang melatarbelakangi sebagian besar migrasi? 

Dengan kalimat lain, status pandemi yang disebabkan oleh persebaran virus corona bukan akhir, melainkan awal, dari suatu pemahaman baru mengenai globalisasi. Seperti dikatakan Arjun Appadurai (2020), tidak ada yang berubah dari dunia yang kita huni sekarang ini. Berbagai kesepakatan atau ketidaksepakatan dagang di antara negara-negara besar tetap berjalan, meski mungkin eksekusinya mengalami penundaan. Sementara itu, politik populisme Kanan terus memperlihatkan signifikansinya. Meskipun Trump kalah tipis oleh Biden di Amerika Serikat, Boris Johnson berhasil membawa Inggris keluar dari Uni Eropa. 

Di Indonesia, sama seperti di negara lainnya, virus corona membuka mata kita dalam memahami bagaimana globalisasi bekerja. Alih-alih menegasikan negara-bangsa, yang terjadi adalah sebaliknya. Sisi positif dan negatif dari globalisasi sangat tergantung pada kemampuan pemerintahan masing-masing negara nasional dalam menjalankan fungsi kepengaturannya, terutama di saat krisis. Oleh karena itu, dampak globalisasi dari persebaran virus corona berbeda di antara negara satu dengan negara lainnya.

Dari sudut pandang kajian wilayah, fenomena globalisasi yang dialami berbeda oleh masing-masing negara itu menarik diamati. Dalam hal ini, virus corona yang melahirkan status pandemi membuat kita, semoga saja, tersadar betapa pemahaman mengenai globalisasi pada dasarnya lahir dari ekonomi politik pengetahuan tertentu. Namun di sisi lain, persebaran virus corona yang sekarang sudah bermutasi menjadi varian yang konon lebih mematikan juga memaksa kita berpikir ulang: kita, negara-bangsa, tidak bisa menghadapi ini sendirian. Suatu solidaritas internasional dibutuhkan, sutau nilai kemanusiaan universal yang lintas-batas diperlukan. 

 

**************************************

 *Amin Mudzakkir adalah peneliti di Pusat Penelitian Kewilayahan LIPI.  

 

 

dokinfosimpegintra lipiepenelitiBanner KIP

Privacy Policy Legal Disclaimer « ISSN 2086-5309 » ContactCopyright © 2022 Research Center for Regional Resources - Indonesian Institute of Sciences (P2SDR-LIPI)
Sudut Pandang Amin Mudzakkir