Program Kajian Wilayah (area studies) di Amerika secara formal bermula dari kepentingan geopolitik Amerika pada 1950an untuk menangkal persebaran komunisme di Asia. Di Eropa, meskipun baru berkembang pada 1970an, kajian wilayah dipengaruhi oleh warisan imperialisme and kolonialisme abad ke-19. Sementara itu di Jepang, kajian wilayah baru berkembang pada 1980an, meskipun sejak abad ke-19 para ilmuwan Jepang telah meneliti bahasa dan budaya masyarakat di Laut Selatan. Pengetahuan tentang Jepang sebagai sebuah wilayah budaya (cultural area) baru berkembang pada 1940an melalui tulisan Ruth Benedict. Tulisan ini membahas konsep esensialisme kebudayaan dan konsep wilayah yang menjadi dasar kajian wilayah di Eropa, Amerika, dan Jepang sampai 1990an. Pada abad ke-20 and ke-21, pergerakan manusia, barang, dan gagasan yang cepat telah memicu krisis dalam konsep dan teori wilayah kebudayaan, dan pada akhirnya berdampak pada konsep dan metode yang dipakai dalam kajian wilayah. Dengan menggunakan pengalaman kajian Jepang di PSDR-LIPI, tulisan ini mempersoalkan kembali konsep “wilayah” dan “esensialisme budaya” dalam kajian wilayah. Dengan memanfaatkan pada teori Deleuze dan Guattari, tulisan ini mengusulkan konsep dan pendekatan konseptual yang menempatkan “wilayah” sebagai “rhizome” dan menawarkan metode penelitian kajian wilayah yang bermula dari prinsip wilayah sebagai sebuah jaringan (network).