Tiongkok adalah salah satu negara di kawasan Asia yang kerap dilanda bencana. Menurut Cuny (1983) bencana dapat digolongkan ke dalam dua jenis kategori, yaitu bencana akibat peristiwa alam dan bencana sosial, dan kedua bencana semakin sering terjadi di Tiongkok. Majalah National Geographic (2008) dalam edisi khusus tentang Tiongkok menyebutkan bahwa negara ini selalu dibayang-bayangi oleh bencana karena secara geografis Tiongkok rentan terhadap bahaya bencana alam. Selain itu, banyaknya persoalan (sosial maupun ekonomi) muncul sebagai akibat dari kerusakan lingkungan. Demografi penduduk Tiongkok yang saat ini mencapai 1,3 milyar semakin memperparah kondisi kerusakan lingkungan yang berujung pada bencana sosial. Disamping itu, perubahan teknologi dan percepatan kehidupan sosial ekonomi yang melambung secara cepat disertai pula dengan meluasnya urbanisasi penduduk kini menciptakan kondisi kerentanan (vulnerability) negara dan penduduk Tiongkok yang sewaktu-waktu dapat menjadi suatu bencana dan mempengaruhi perekonomian Tongkok. Berdasarkan Natural Disaster Economic Loss Index (NDELI) Tiongkok mendapatkan nilai 25, yang artinya negara ini termasuk dalam kategori” high risk”, sehingga GDP Tiongkok dapat turun mencapai 3-5% pertahun akibat bencana yang menimpa mereka (Pandey, 2012).
Bila dirunut dari peristiwa bencana yang terjadi, bencana (baik alam maupun sosial) di Tiongkok telah terjadi sejak waktu yang lampau. Tercatat bahwa bencana telah terjadi sejak abad ke-15 dan terus terjadi hingga abad ke-19. Hingga saat ini bencana yang terjadi di Tiongkok adalah banjir, gempa bumi, kemudian diikuti oleh badai salju, angin topan dan longsor akibat pertambangan atau kerusakan lingkungan serta bencana teknologi berupa polusi udara akibat penggunaan batu bara.