• Home
  • About Us
    • About P2W
    • People
      • Management
      • Researchers
      • Visiting Researchers
    • Institutional Partners
    • Annual Reports
  • Projects
  • News and Events
    • News
    • Events
      • Past Events
      • Upcoming Events
    • Opinions
    • Prominent Figures
  • Publications
    • Books
    • Newsletter
    • Working Papers
    • Policy Papers
    • Journal Kajian Wilayah
    • Book Reviews
  • Gallery
    • Photos
    • Videos
  • Contact
  • Sudut Pandang Amin Mudzakkir
Diaspora Etnik Cham: Identitas Agama dan Jaringan Transnasional di Asia Tenggara

Diaspora Etnik Cham: Identitas Agama dan Jaringan Transnasional di Asia Tenggara

5.0/5 rating 1 vote

 

Pergerakan dan mobilitas manusia yang intens, serta munculnya identitas kolektif berlandaskan pada etnisitas dan agama merupakan fenomena yang terjadi pada era globalisasi saat ini. Demikian halnya dengan terbentuknya masyarakat dan negara modern di Asia Tenggara yang tidak terlepas dari pergerakan dan mobilitas etnik yang mendiami kawasan tersebut. Etnik Cham, salah satu muslim minoritas di Kamboja, Malaysia dan Vietnam turut ambil bagian dalam dinamika masyarakat Asia Tenggara.
Menurut sejarahnya, etnik Cham merupakan penduduk asli Kerajaan Champa di Vietnam Tengah yang berkuasa sejak abad ke-9 sampai dengan abad ke-15. Runtuhnya Kerajaan Champa mengakibatkan penyebaran etnik Cham ke berbagai wilayah di Asia Tenggara, seperti Kamboja, Thailand, Malaysia, dan Indonesia. Namun, masih terdapat etnik Champa di Vietnam Tengah yang tidak mengungsi dan masih memiliki identitas serta budaya Cham yang sama dengan budaya dan tradisi nenek moyangnya. Sementara diaspora Cham di Kamboja dan Malaysia mengalami proses pembentukan identitasnya sendiri yang berbeda dengan identitas etnik Cham di Vietnam. Meskipun demikian, mereka masih mengakui sebagai keturunan dari Kerajaan Champa. Etnik Cham di Kamboja dan Malaysia mengalami pergeseran identitas secara bertahap seiring dengan interaksinya dengan masyarakat lokal, yaitu Khmer dan Melayu, di mana mereka menganggap sebagai Khmer Islam dan sebagian mengaku sebagai Melayu.
Selain persoalan identitas, jaringan transnasional etnik Cham di Vietnam juga sangat penting perannya dalam diaspora Cham di Asia Tenggara. Secara ekonomi, posisi etnik Cham di Vietnam masih rendah jika dibandingkan dengan etnik Kinh yang merupakan etnik mayoritas di Vietnam. Menghadapi ekonomi yang sulit, etnik Cham di Delta Mekong misalnya mencari penghidupan dengan memanfaatkan jaringan transnasional di Kamboja dan Malaysia melalui perdagangan. Setelah komunis menguasai Vietnam pada tahun 1975 banyak anggota keluarga etnik Cham yang pindah ke Malaysia. Dengan adanya kemajuan teknologi, etnik Cham Vietnam di Malaysia banyak yang menyarankan keluarga mereka untuk datang ke Malaysia dan berbisnis atau berdagang dengan menjual baju-baju di daerah perkampungan di Malaysia. Selain itu, etnik Cham memilih untuk bekerja di Malaysia dibanding dengan di Thailand atau Kamboja karena mempunyai kesamaan agama, yaitu Islam. 

Specifications

  • Language: Indonesia
  • Year: 2014
  • Author: Betti Rosita Sari, Yekti Maunati dan Amorisa Wiratri

Download

Download

Social Share

Tweet

dokinfosimpegintra lipiepenelitiBanner KIP

Privacy Policy Legal Disclaimer « ISSN 2086-5309 » ContactCopyright © 2022 Research Center for Regional Resources - Indonesian Institute of Sciences (P2SDR-LIPI)
Policy Papers