• Home
  • About Us
    • About P2W
    • People
      • Management
      • Researchers
      • Visiting Researchers
    • Institutional Partners
    • Annual Reports
  • Projects
  • News and Events
    • News
    • Events
      • Past Events
      • Upcoming Events
    • Opinions
    • Prominent Figures
  • Publications
    • Books
    • Newsletter
    • Working Papers
    • Policy Papers
    • Journal Kajian Wilayah
    • Book Reviews
  • Gallery
    • Photos
    • Videos
  • Contact
  • Sudut Pandang Amin Mudzakkir

Merayakan 75 Tahun Berakhirnya Perang Dunia II dengan Membaca Salah Satu Buku Populernya #2

21 November 2020
Written by Prima Nurahmi Mulyasari
fShare
Tweet

band of Brothers 2

Film Band of Brothers (sumber: HBO) 

 

Amerika Membangun Pasukan Penerjun Payung

Sedikit agak terlambat, Amerika Serikat juga turut membangun Pasukan Penerjun Payungnya dengan dukungan penuh Presiden Roosevelt yang mencapai puncak perekrutan pada 1942. The Screaming Eagle (julukan bagi Divisi Lintas Udara ke-101) bersama-sama All Americans (AA, julukan bagi Divisi Lintas Udara ke-82 Amerika), yang tergabung dalam Korps VII dari Angkatan Darat Pertama Amerika pimpinan Jenderal Omar Bradley, ditugaskan untuk terjun di wilayah St. Marie Eglise dan St. Marie du Mont, Semenanjung Cotentin, Normandia pada dini hari tanggal 6 Juni 1944. Mereka terjun dari pesawat dalam kegelapan malam ke garis belakang musuh. Tujuannya memutus jalur bantuan tentara Jerman yang akan menuju pantai tempat didaratkannya pasukan Amerika. Tugas Kompi E lainnya merebut Carentan, untuk menyatukan Korps VII AS yang mendarat di Pantai Utah dan Korps V (juga dari Angkatan Darat I AS) yang mendarat di Pantai Omaha. Dalam pendaratan amfibi terbesar sepanjang sejarah bersandikan Operasi Overlord ini, Sekutu menggunakan kode Utah (Semenanjung Contentin), Omaha (Pantai Calvados), Gold, Juno, Sword, untuk nama-nama pantai tempat pendaratan tentara. Ini artinya, Kompi Easy diterjunkan di Pantai Utah.

Narasi buku ini dimulai dengan kisah training prajurit Kompi E di kamp Toccoa, Georgia tempat para prajurit dari Resimen ke-506 mempersiapkan diri melatih kekuatan fisik dan mental. Pelatih Kompi E adalah pimpinan pertamanya, Letnan Sobel, yang berambisi menjadikan kompinya sebagai kompi terbaik di batalion. Letnan Herbert Sobel, sosok yang sangat disiplin dan keras, sangat dibenci anak buahnya. Kelemahan yang menjatuhkan Sobel adalah ia tidak bisa membaca peta dan buta strategi perang. Kondisi ini membuat anak buah yang dipimpinnya merasa was-was untuk pergi bertempur bersamanya. Meski demikian, anak buah Sobel memujinya sebagai arsitek Kompi E yang brilian. Dengan tekadnya, ia berhasil menjadikan Kompi E sebagai salah satu kompi paling tanguh dalam ETO (European Theater Operation)/Medan Perang Eropa. Ketangguhan Kompi E, terutama, diuji dalam The Battle of the Bulge, serangan ofensif Jerman yang dimulai di Hutan Ardennes, Belgia pada 16 Desember 1944.

Secara gamblang setelah melalui riset bertahun-tahun mewawancarai para veteran, penulis buku ini memuji Kompi E sebagai kompi senapan terbaik di dunia dalam performa terbaik mereka pasca-Operasi Market Garden di Belanda pada Oktober 1944 dan di Ardennes pada Desember 1944 -Januari 1945. Dalam pelatihannya pada 1942, mereka diajari latihan dasar, dasar-dasar ketentaraan, dan taktik infanteri. Tiga atau empat kali dalam seminggu para perwira dan prajurit ini harus berlari mendaki puncak bukit Currahee yang berketinggian 1.000 kaki sejauh tiga mil dan turun lagi. Dalam bahasa Suku Indian, Currahee berarti “we stand alone together”. Inilah yang menjadi semboyan para prajurit Resimen ke-506. Selepas dari Toccoa para perwira dan prajurit Easy menjalani latihan terjun payung di Fort Benning. Dari sini mereka kemudian berpindah-pindah kamp. Namun di dalam hati mereka tetaplah Kompi E dari kamp Toccoa.

Para sukarelawan ini mulai bergabung dengan Resimen ke-506 pada musim panas tahun 1942. Anggota asli Kompi E terdiri dari 132 prajurit dan 8 perwira. Mereka kebanyakan orang-orang menengah ke bawah atau bahkan yang lebih miskin lagi. Hanya beberapa dari mereka yang sempat mencicipi bangku kuliah. Dua di antaranya yakni Letnan Lewis Nixon (berasal dari Yale) dan Prajurit David Kenyon Webster (mahasiswa Sastra Inggris, Harvard). Nama yang terakhir dipuji Ambrose sebagai seorang penulis hebat dan pengamat baik dalam peperangan yang dialaminya. Buku Webster Parachute Infantry. An American Paratrooper's Memoir of D-day and the Fall of the Third Reich banyak dirujuk Ambrose dalam buku ini juga bukunya yang lain, Citizen Soldiers. Anak-anak muda Amerika ini hampir semuanya membenci perang, namun nasionalisme mengalahkan rasa takut mereka terhadap maut yang setiap saat siap menjemput di garis depan.

 

Amerika Mengirimkan Putra-putra Terbaiknya ke Medan Perang

Setelah lebih dari setahun berlatih di Tanah Air, pada September 1943 Kapal Samaria membawa 5.000 pasukan resimen ke-506 menuju Inggris. Ini berarti mereka akan diterjunkan di Medan Perang Eropa, bukan medan Pasifik. Mereka tiba di kota pelabuhan Liverpool pada 15 September 1943. Kemudian ditempatkan di Aldbourne, 80 mil sebelah Barat London, dan segera memulai latihan mereka. Di sinilah terjadi konflik antara Letnan Sobel dan Letnan Winters yang menjadikan Sobel harus kehilangan kompinya. Ia digantikan Letnan Meehan dari Kompi B sebagai pemimpin Kompi E. Kejadian ini membuat Sobel mendendam dan mati dengan penuh kebencian pada Kompi E. Ia menembak mati dirinya pada September 1984.

Mereka berangkat dari Lapangan Terbang Upottery, Inggris pada tengah malam tanggal 5 Juni 1944 dengan diangkut pesawat Dakota C-47 yang terbang rendah (rata-rata 250—500 kaki) membentuk formasi V. Sebelum sampai pada titik pendaratan, mereka dibombardir senjata antipesawat udara Jerman yang menyebabkan formasi kacau. Para pilot berinisiatif menerjunkan mereka di bawah ancaman peluru-peluru Jerman yang berdesingan di pagi buta tanggal 6 Juni 1944.  Alhasil, para prajurit ini pun terpencar dari kompi masing-masing. Menyebar di daratan Normandia nan luas. Dalam penerjunan ini Kompi E harus kehilangan pemimpinnya yang kedua, Letnan Meehan, karena pesawat yang ditumpanginya tertembak dan meledak sebelum ia sempat terjun mengenakan parasut.

Sesudah diterjunkan dini hari, pada pagi hari 6 Juni 1944 tugas pertama prajurit infantri Lintas Udara ini adalah menghancurkan meriam 88 milik Jerman yang disembunyikan di area kebun di Brecourt Manor, Normandia. Meriam yang diarahkan ke Pantai Utah ini menimbulkan banyak sekali korban di kalangan sekutu yang tengah mendaratkan pasukan. Serangan ini dipimpin langsung oleh Letnan Winters, yang dengan gemilang berhasil menghancurkan empat meriam Jerman sehingga dapat menyelamatkan ribuan nyawa prajurit di Pantai Utah. Setelah penyerangan ini, Letnan Winters, pemimpin kharismatik yang sangat dihormati oleh para anak buahnya, diangkat menjadi pemimpin ketiga Kompi E menggantikan Letnan Meehan yang gugur sebelum bertempur.

Bertempur di antara pagar tanaman yang tinggi di Normandia bukanlah hal yang sama sekali mudah. Waspada harus selalu ditanamkan setiap waktu untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan. Karena mengenakan pakaian mirip pakaian Jerman di luar baju tentaranya, Sersan Floyd Talbert harus mengalami luka tusuk bayonet dari salah satu prajurit di kompi E yang gugup saat harus ganti jaga malam. Kejadian serupa juga terjadi pada pemimpin keempat Kompi E Letnan Heyliger. Di Belanda, pada suatu malam saat ia sedang berjalan dengan Kapten Winters—pada saat itu telah menjadi pimpinan batalion kedua, Heyliger ditembak oleh prajuritnya sendiri. Untunglah ia selamat. Penggantinya adalah Letnan Norman Dike, seorang perwira yang tidak bisa memimpin pasukannya. Sewaktu di Battle of the Bulge, dalam suatu pertempuran di Foy, ia digantikan Letnan Speirs, perwira dari Kompi D. Ialah yang kemudian memimpin Kompi E hingga dibubarkan pada November 1945.

Dalam setiap pertempuran, seorang pemimpin yang tangguh dan ahli strategi merupakan sosok yang dicintai oleh para anak buahnya. Sifat itulah yang melekat pada Letnan Richard Dick Winters, pemuda asal Pennsylvania yang memegang tampuk tertinggi di Kompi E sejak pendaratan Normandia. Berbagai pujian yang jujur dan tulus dilontarkan para bekas anak buahnya pada pria yang keluar dari medan perang dengan pangkat mayor ini. Kepercayaan pada rekan dan pimpinan adalah kunci sukses memenangkan pertempuran. Dan Winters telah membuktikan dirinya sebagai pemimpin legendaris. Meski sejak Oktober 1944 tidak lagi memimpin Easy, karena dipromosikan menjadi pimpinan batalion ke-2, orang-orang tetap mengatakan bahwa Kompi E adalah miliknya. Tangan besi Sobel pun telah banyak menyelamatkan nyawa prajurit Kompi E.

 

Tentang Kisah Para Prajurit

Namun buku ini tidak hanya berkisah mengenai para pemimpin Kompi E. Buku ini juga mengisahkan Sersan Donald Malarkey, Prajurit Darren “Shifty” Powers, Prajurit Janovec, Prajurit Eugene “Doc” Roe, Sersan Bill Guarnere, Sersan Joe Toye, Sersan George Luz dan teman-teman mereka lainnya.

Buku ini juga memuat kisah menarik tentang prajurit Lintas Udara 101 yang menjadi ilham pembuatan film Saving Private Ryan—film terbaik Academy Awards 1998. Fritz Niland adalah salah seorang prajurit Kompi E yang memiliki 3 saudara yang bertugas di kesatuan yang berbeda-beda. Dua saudaranya yang masing-masing tergabung dalam Divisi Lintas Udara ke-82 dan Divisi Infanteri IV tewas di medan pertempuran Normandia. Begitupun saudaranya yang menjadi pilot di medan pertempuran Pasifik. Ia mengalami nasib serupa dengan dua saudaranya di Normandia. Oleh angkatan darat yang menaunginya, Fritz Niland dibawa pulang ke tanah air karena Nyonya Niland telah menerima tiga telegram berisikan kabar kematian tiga dari empat puteranya di medan Perang Dunia II.

Pada bab terakhir buku ini, penulis menyajikan kehidupan para prajurit Kompi E setelah mereka bebas tugas dari kesatuannya dan kembali ke kehidupan masing-masing pascaperang. Beberapa di antaranya memutuskan untuk tetap tinggal dan berkarir di angkatan darat. Sebagian dari mereka melanjutkan kuliah dengan memanfaatkan beasiswa dari undang-undang G.I. (perwira muda ke bawah hingga prajurit tamtama Amerika Serikat di Medan Perang Eropa). Kapten Speirs merupakan salah satu yang tinggal dalam angkatan darat. Ia ikut terjun dalam Perang Korea sebagai komandan pasukan senapan. Letnan Harry Welsh, salah satu sahabat Winters, memenuhi cita-cita menikahi kekasihnya Kitty Grogan. Uniknya sang mempelai wanita mengenakan gaun pengantin yang terbuat dari parasut cadangan Harry saat ia terjun ke Normandia dan hampir selalu melekat di punggungnya pada setiap pertempuran. Welsh menyabet gelar masternya dan menjadi guru.

Kopral David K. Webster, menjadi penulis sesuai cita-citanya. Ia hilang dan tak pernah kembali saat berlayar memenuhi obsesinya meneliti hiu pada tahun 1961. Sersan Johny Martin dan Letnan Lipton menjadi orang kaya dan sukses kariernya. Kapten Lewis Nixon, sahabat kental Winters, mewarisi perusahaan Nixon Nitration Works di New Jersey. Di perusahaan inilah Mayor Winters bekerja selepas perang sambil melanjutkan kuliah atas beasiswa pemerintah. Winters kemudian membeli lahan pertanian yang sangat luas di Blue Mountain, Pennsylvania. Menghabiskan masa tuanya dalam damai bersama keluarga tanpa pernah melupakan para prajurit yang dipimpinnya, yang tidak dapat menghirup udara kedamaian tanpa peperangan. Major Winters pada tahun 2006 merilis buku memori perangnya berjudul Beyond Band of Brothers.

Memanfaatkan metode sejarah lisan dalam pengumpulan sumber primer bagi tulisannya, Ambrose berkeliling mengumpulkan data tentang para veteran kompi ini serta tinggal bersama mereka untuk beberapa waktu. Ia juga mengumpulkan karangan-karangan, memoar, surat-surat para veteran, dan literatur lain yang berkenaan dengan buku ini. Bahkan beberapa langsung ia kutip dari para narasumber. Stephen E. Ambrose, calon dokter yang berubah haluan menjadi sejarawan, berhasil menyedot simpati pembaca tulisannya untuk larut dalam ikatan persaudaraan yang menyatukan anggota Kompi E. Berbagai pujian dilontarkan oleh media Amerika terhadap buku ini.

Secara keseluruhan, buku ini sangat menarik bagi anda yang gemar mengoleksi buku atau pernak-pernik mengenai perang. Apalagi bagi siapapun yang pernah menonton film miniseri Band of Brothers. Narasi perang tidak hanya melulu berpusat pada para para jenderal dan perwira tinggi dengan segal taktik jitu untuk memenangkan perang. Kisah-kisah para prajurit di garis depan yang menjalankan taktik peperangan para jenderal sepantasnya pula mendapatkan panggungnya.

 

 

Daftar Pustaka 

Ambrose, Stephen E.; Rahman Zainuddin, A.. (2003). Citizen soldiers = tentara sukarela (tentara Amerika Serikat dari pantai-pantai di Normandia ke Bulge sampai menyerahnya Jerman) 7 Juni 1944-7 Mei 1945 / Stephen E. Ambrose ; penerjemah, A. Rahman Zainuddin. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia

Eisenhower, D. D., & Mazal Holocaust Collection. (1948). Crusade in Europe. Garden City, N.Y: Doubleday.

Moreman, T., Smith, C., Rottman, G., Quarrie, B., Antill, P., & Guard, J. (2007). Airborne: World War II Paratroopers in combat. Bloomsbury USA.

Ojong, P.K. dan Sugiantoro, R.B. (2003). Perang Eropa Jilid I. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Ojong, P.K. (Petrus Kanisius), 1920-1980; Sugiantoro, R.B. (2004). Perang Eropa  Jilid I/ P.K. Ojong; editor, R.B. Sugiantoro. Jakarta: Buku Kompas,.

Ojong, P.K. (Petrus Kanisius), 1920-1980. (2005). Perang Eropa Jilid III / P. K. Ojong; editor, R.B. Sugiantoro. Jakarta: Kompas,

Winters, Richard D. (2006). Beyond band of brothers: [the war memoirs of Major Dick Wintershttps://www.nationalww2museum.org/students-teachers/student-resources/research-starters/research-starters-worldwide-deaths-world-war">https://www.nationalww2museum.org/students-teachers/student-resources/research-starters/research-starters-worldwide-deaths-world-war, diakses 9 November 2020

 

 

dokinfosimpegintra lipiepenelitiBanner KIP

Privacy Policy Legal Disclaimer « ISSN 2086-5309 » ContactCopyright © 2022 Research Center for Regional Resources - Indonesian Institute of Sciences (P2SDR-LIPI)
Book Reviews