• Home
  • About Us
    • About P2W
    • People
      • Management
      • Researchers
      • Visiting Researchers
    • Institutional Partners
    • Annual Reports
  • Projects
  • News and Events
    • News
    • Events
      • Past Events
      • Upcoming Events
    • Opinions
    • Prominent Figures
  • Publications
    • Books
    • Newsletter
    • Working Papers
    • Policy Papers
    • Journal Kajian Wilayah
    • Book Reviews
  • Gallery
    • Photos
    • Videos
  • Contact
  • Sudut Pandang Amin Mudzakkir

Merayakan 75 Tahun Berakhirnya Perang Dunia II dengan Membaca Salah Satu Buku Populernya #1

16 November 2020
Written by Prima Nurahmi Mulyasari
fShare
Tweet

 42389

 

Judul Asli Buku           : Band of Brothers: E Company, 506th Regiment, 101st Airborne from Normandy to Hitler's Eagle's Nest

Judul Indonesia          : Ikatan Persaudaraan: Kompi E, Resimen 506, Lintas Udara 101 Dari Pantai Normandia sampai ke Sarang Elang Hitler

Pengarang                 : Stephen E. Ambrose

Penerbit                    : Yayasan Obor Indonesia

Kota Terbit                 : Jakarta

Tahun Terbit               : Juni, 2007

 

 

Tahun 2020 ini dunia merayakan 75 tahun berakhirnya Perang Dunia II yang berlangsung sejak 1939 hingga 1945. Walaupun tidak dirayakan semeriah tahun-tahun sebelumnya dikarenakan Pandemi COVID-19, namun beberapa media terkemuka dunia menurunkan liputan-liputan menarik terkait hal tersebut. Tentu saja kini jumlah veteran Perang Dunia II yang terlibat dalam berbagai pertempuran terus berkurang. Mereka yang hidup pun rata-rata sudah mendekati usia 100 tahun. Dan dalam beberapa tahun mendatang para saksi hidup peperangan ini akan habis karena usia lanjut.

Sumber daring dari Museum Perang Dunia II di New Orleans secara rinci per negara menyebutkan kuantitas total korban meninggal dalam pertempuran sebanyak 15 juta jiwa, korban luka-luka akibat pertempuran sebesar 25 juta jiwa dan masyarakat sipil yang meninggal sebanyak 45 juta jiwa (nationalww2museum.org, 2020).  Dilihat dari skala jumlah korban, personil militer yang diterjunkan, negara-negara yang terlibat, luas wilayah pertempuran dan operasi militer perlombaan dalam persenjataan militer, Perang Dunia II merupakan Perang terbesar dalam sejarah umat manusia. Maka tak heran, apabila buku-buku, film, maupun serial baik fiksi maupun non-fiksi dengan latar kisah Perang Dunia II sudah banyak sekali yang dipublikasikan dan dirilis. Bahkan di hampir semua toko buku di Eropa, di mana salah satu medan teater pertempuran terbesar, buku-buku koleksi Perang Dunia II memiliki rak khusus dan penanda sendiri yang terpisah dengan rak-rak buku sejarah sebagaimana di Indonesia.

Sudah cukup banyak buku mastepiece mengenai Perang Dunia II di Eropa yang terbit di Indonesia. Sebut saja Crusade in Europe karangan Dwight David Eisenhower, pimpinan tertinggi tentara sekutu di Eropa pada Perang Dunia II. Lulusan Westpoint yang kemudian menjadi Presiden Amerika Serikat ke-34 ini menuliskan jalannya perang dunia kedua secara garis besar. Buku lain tentang Perang Dunia II ditulis P.K. Ojong dalam tiga jilid Perang Eropa-nya. Ia menuliskan sejarah perang ini dari awal kemenangan Jerman di Eropa. Selain Band of Brothers, Ambrose menulis Citizen Soldiers (diterbitkan Yayasan Obor Indonesia pada tahun 2003) yang mengisahkan perjuangan anak-anak muda Amerika. Para anak muda tersebut terdiri dari perwira, tamtama, dan bintara yang diterjunkan di kancah Perang Eropa.

Tulisan ini membahas salah satu buku non-fiksi Perang Dunia II yang menceritakan salah satu kompi tempur terbaik di dunia. Bagi anda yang pernah menyaksikan miniseri Band of Brothers produksi HBO tahun 2001 tentu tidak akan asing dengan tokoh Mayor Richard D. Winters, Kapten Ronald Speirs, Letnan C. Carwood Lipton, Prajurit David Webster, serta puluhan tokoh lainnya. Miniseri tersebut diadaptasi dari buku berjudul sama karangan Ambrose. Penulis yang satu ini merupakan sejarawan asal Amerika Serikat pemerhati Perang Dunia II serta dunia kemiliteran pada umumnya.

Buku laris versi koran The New York Times ini pertama terbit tahun 1992 di negara asalnya. Pada 2001 dua sineas terkenal Hollywood, Stephen Spielberg dan Tom Hanks, yang pernah berkolaborasi sebelumnya dalam Saving Private Ryan mengabadikan kisah para prajurit dari Toccoa ini ke dalam layar gelas. Berbagai penghargaan dari berbagai ajang festival berhasil disabet. Dua di antaranya untuk kategori Outstanding Miniseries dalam Emmy Awards dan Best Mini-Series or Motion Picture Made for Television pada Gloden Globe Awards. Dua kemenangan sangat bergengsi dalam ajang penghargaan bagi dunia televisi di Amerika Serikat.

Buku Band of Brothers mengisahkan perjuangan Kompi E pasukan infantri terjun payung (paratroopers), Divisi Lintas Udara ke-101 Amerika yang diterjunkan ke Normandia sejak D-day 6 Juni 1944 hingga merebut Sarang Elang Hitler di Pegunungan Bavaria pada Mei 1945. Untuk memudahkan pengucapan maka penamaan kompi-kompi ini seragam. Misalnya Kompi A menjadi Able, Kompi B menjadi Baker, Kompi C menjadi Charlie, Kompi D menjadi Dog, Kompi I menjadi Item. Dalam kasus ini, Kompi E menjadi Easy. Kompi ini merupakan batalion kedua, Resimen ke-506, Divisi Lintas Udara 101 Amerika bersama tiga kompi lainnya: Kompi HQ (markas besar batalion), Kompi D, serta Kompi F.

Meskipun masuk kategori buku lama, namun buku ini merupakan buku klasik yang masih layak untuk dibaca terutama pada momen-momen seperti perayaan tiga seperempat abad berakhirnya Perang Dunia II. Terlebih, penjualan DVD dan Blu-ray adaptasi serial filmnya masih berjalan baik hingga kini, hampir 20 tahun setelah penayangannya di layar televisi. Hal yang menandakan bahwa buku ini masih cukup relevan untuk dibicarakan.

Divisi Lintas Udara (Airborne) merupakan Divisi baru yang diperkenalkan dalam Perang Dunia II. Taktik baru ini memanfaatkan glider dan para penerjun payung untuk menyeberangi garis depan dan terjun ke wilayah musuh untuk melakukan serangan. Pada Perang Dunia I (1914-1918) Divisi ini belum lahir meskipun pada masa itu sudah ada aktivitas orang meloncat dari pesawat terbang menggunakan parasut. Penerjun Payung sebagai sebuah kesatuan prajurit regular baru muncul pertama kali pada awal dekade 1930an di Rusia. Dengan cepat Jerman yang berniat membalas kekalahan mereka pada Perang Dunia II membentuk Divisi Lintas Udara-nya.

Pasukan Penerjung Payung Jerman, Fallschirmjäger, merupakan pasukan tangguh yang sangat ditakuti. Negara-negara tetangganya, Belanda dan Belgia sukses ditaklukan oleh gerak cepat Pasukan Penerjun Payung Jerman pada paruh pertama tahun 1940. Belanda yang terletak di Daratan Rendah mengupayakan benteng pertahanan alami dengan membanjiri wilayah-wilayah perbatasannya dengan Jerman untuk menghalau laju panzer-panzer Jerman yang sebelumnya penuh digdaya menyerang negara-negara Eropa lain. Polandia terlebih dahulu diserang dengan kecepatan panzer-panzer ini pada awal September 1939. Waktu dimulainya Perang Dunia II. (bersambung)

dokinfosimpegintra lipiepenelitiBanner KIP

Privacy Policy Legal Disclaimer « ISSN 2086-5309 » ContactCopyright © 2022 Research Center for Regional Resources - Indonesian Institute of Sciences (P2SDR-LIPI)
Book Reviews