
PENDAHULUAN
Chinese Culture: Philosophy merupakan versi Inggris dari buku berjudul 中国文化·哲学思想. Buku karya Wu Chun membantu pembaca memahami filsafat Tiongkok, yang dipengaruhi para filsuf-filsuf Tiongkok terkenal pada zaman dahulu. Buku yang diterbitkan tahun 2014 ini memberikan pemahaman dasar mengenai filsafat hidup masyarakat Tiongkok sejak dahulu hingga kini. Dalam buku setebal 223 halaman ini, Wu Chun menjelaskan lima topik utama, yakni sifat alami dunia, hubungan antar benda, norma sosial, orientasi hidup dan struktur pengetahuan manusia.
FILSAFAT TIONGKOK TRADISIONAL
Filsafat Tiongkok tradisional banyak dipengaruhi oleh ajaran Konfusianisme dan Taoisme. Terutama Konfusianisme, yang menjadi inti dari filsafat Tiongkok (Pan, 2009). Filsafat Tiongkok merefleksikan cara pandang, sistem nilai, dan sikap masyarakat Tiongkok.
Pada awalnya, terdapat mitos yang menyebutkan bahwa jagat raya ini diciptakan oleh神 (Shen; Tuhan, arwah). Konsep Shen ini kemudian menjadi sistem kepercayaan dalam masyarakat Tiongkok masa lalu. Kemudian, muncullah Konfusianisme dan Taoisme, yang memperkenalkan rasionalisme dan mulai menggiring masyarakat Tiongkok untuk tidak lagi mempercayai mitos. Ajaran Konfusianisme dan Taoisme kemudian memunculkan konsep Yin dan Yang serta Lima Elemen (Wu Xing). Konsep Yin dan Yang menjelaskan bahwa segala sesuatu di dunia ini memiliki kebalikannya. Sementara, konsep lima elemen mengkategorikan segala benda di dunia ke dalam lima elemen, yakni air, api, kayu, logam dan bumi, dengan membawa sifatnya masing-masing. Kedua konsep ini kemudian menjadi inti dari filsafat Tiongkok.
Filsafat Tiongkok tradisional juga berkaitan dengan hubungan antar benda. Hubungan antar benda terbagi atas hubungan antara Tuhan dan manusia serta hubungan antar manusia. Hubungan antara Tuhan dan manusia sangat kompleks, karena tidak hanya membahas nasib manusia (ming), keinginan Tuhan (tian ming) dan takdir manusia (mingyun), tapi juga teori tentang perbedaan Tuhan-Manusia, peraturan Tuhan-manusia, dan lain sebagainya.
Sementara itu, norma sosial juga berperan penting dalam filsafat Tiongkok tradisional. Konfusianisme mengajarkan bahwa norma sosial terbagi atas Ritual (Li), Kebajikan (Ren), Kebenaran (Yi), dan Alasan (Li). Ritual dan Kebajikan merupakan dua konsep penting dalam norma sosial. Keduanya berperan untuk menjadikan manusia sebagai “manusia yang ideal” menurut Konfusianisme (Budisutrisna, 2009).
Filsafat Tiongkok juga mengajarkan mengenai orientasi hidup. Dalam Konfusianisme, orientasi hidup manusia adalah untuk menjadi manusia berkarakter ideal, yang disebut manusia sempurna (Junzi). Hal ini kemudian menjadi pedoman hidup masyarakat Tiongkok untuk bersikap dan bertingkah laku.
Pengetahuan, dalam filsafat hidup masyarakat Tiongkok tradisional, juga memiliki peran penting. Pengetahuan dianggap sebagai cara agar manusia memperoleh kebenaran. Ilmu pengetahuan sangat berhubungan dengan moral dan praktek hidup. Dalam filsafat Tiongkok, pengetahuan dan tindakan harus selalu konsisten.
Filsafat hidup yang diajarkan dalam Konfusianisme dan Taoisme telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Tiongkok. Filsafat tersebut mempengaruhi cara berpikir dan cara hidup masyarakat Tiongkok (Wang, 2009). Tidak bisa dipungkiri bahwa ide dalam filsafat Tiongkok tradisional, terutama Konfusianisme, bahkan masih tetap memiliki kekuatan di masyarakat hingga saat ini (Xu, 2007).
PENUTUP
Nyaris tidak mungkin untuk menampilkan filsafat Tiongkok dalam satu buku. Filsafat Tiongkok sudah dibangun sejak kira-kira 3000 tahun. Ini tidak hanya menyangkut cara pandang, tapi juga sastra, seni, budaya serta kebiasaan hidup masyarakat. Meskipun demikian, buku ini cukup berhasil menjelaskan dasar-dasar filsafat Tiongkok.
Satu hal yang menarik dari buku ini adalah buku ini bisa menampilkan filsafat Tiongkok murni. Padahal, di era modern seperti ini, dengan gempuran budaya dan filsafat Barat, semua budaya dan filsafat menjadi tercampur aduk. Sulit untuk menilai mana filsafat Tiongkok sejati. Namun, buku ini bisa dikatakan sukses menampilkan filsafat Tiongkok yang sebenarnya.
Meskipun menjadi keistimewaan dari buku ini, namun di lain pihak hal tersebut juga menjadi sisi negatif dari buku ini. Buku ini hanya menampilkan konsep filsafat mendasar pada zaman Tiongkok tradisional, tanpa sedikitpun menjelaskan mengenai bagaimana filsafat tersebut digunakan pada masa kini, atau apakah filsafat tersebut masih digunakan saat ini. Hal ini sedikit menyulitkan pembaca memahami filsafat masyarakat Tiongkok saat ini. Maka, sepatutnya pembaca juga menambah sumber referensi lain untuk lebih memahami filsafat masyarakat Tiongkok.
REFERENSI
Budisutrisna. (2009). Filsafat Kebudayaan Confucius. Yogyakarta: Kepel Press
Pan Sisu. (2009). A New Chinese Identity: the Spirit of Ancient Chinese. Beijing: New World Press.
Wang, Andri. (2009). Dao De Jing: The Wisdom of Lao Zi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Wu Chun. (2014). Chinese Culture: Philosophy. Beijing: China Intercontinental Press.
Xu Yuanxiang. (2007). Confucius: A Philosopher for the Ages. Beijing: China Intercontinental Press.
SUMMARY
《中国文化·哲学思想》从五个主题介绍中国哲学。那些主题是:世界的性质是怎样的;事物的关系是怎样的;社会的准则是怎样的;人生的取向是怎样的;认识的结构是怎样的。本书的目的在于使读者对中国博大精深的哲学思想有一个最基本的了解. 这本书的特色之一,就在它关于中国哲学详细的解释。读完这本书后,读者明白了中国哲学博大精深。一个最重要的中国哲学就是儒家。儒家已经融入整个民族的血液之中。儒家这本影响了中国的发展,到现在为止。
Penulis : Wabilia Husnah (P2SDR-LIPI)