• Home
  • About Us
    • About P2W
    • People
      • Management
      • Researchers
      • Visiting Researchers
    • Institutional Partners
    • Annual Reports
  • Projects
  • News and Events
    • News
    • Events
      • Past Events
      • Upcoming Events
    • Opinions
    • Prominent Figures
  • Publications
    • Books
    • Newsletter
    • Working Papers
    • Policy Papers
    • Journal Kajian Wilayah
    • Book Reviews
  • Gallery
    • Photos
    • Videos
  • Contact
  • Sudut Pandang Amin Mudzakkir

Latest Update

 
Mar 15, 2022

Rempah, Alat Niaga Pendorong Pertemuan Lintas Bangsa

News Humas BRIN
Dec 31, 2021

Perdagangan Indonesia-Uni Eropa: Studi Kasus Hambatan Ekspor Ikan Tuna Indonesia ke Uni Eropa

Opinions Catherina Henderson*
Dec 31, 2021

Sejarah Perbatasan di Asia Tenggara: Mengupas Pengelolaan Perbatasan Di Vietnam

Opinions Lamijo
Dec 31, 2021

Ethiopia 2020–2021: Mengulang Masa Kelam Perpecahan Etnis

Opinions Angela Iban
Dec 28, 2021

Kota-Kota Perbatasan di Asia Tenggara: Arti Penting Kota Perbatasan Mong Cai bagi Vietnam

Opinions Lamijo

Erwiza Erman: Profesor Riset Bidang Sejarah Pertambangan

28 July 2020
Written by Abdul Fikri Angga Reksa
fShare
Tweet

e2e86d37 921f 4fdb 8ff5 1006813f0b18

 

 

Tim website P2W-LIPI, Fachri Aidulsyah (F) berkesempatan untuk berbincang langsung dengan Prof Erwiza Erman (E) mengenai perjalanan kariernya di dunia penelitian. Prof Erwiza telah dikukuhkan sebagai profesor riset ke-117 di LIPI pada 16 Agustus 2017 dengan judul orasi “Rekonstruksi Interdisiplin Sejarah Pertambangan Mineral Indonesia: Rezim Kerja, Tata Kelola, dan Pembangunan Masyarakat Lokal”. Selama kurang  lebih 30 tahun menggeluti bidang sejarah pertambangan, ternyata banyak sekali pengalaman menarik yang dituturkan oleh Prof Erwiza. Berikut ini wawancara selengkapnya:

 

F: Bagaimana perjalanan karier Prof Erwiza dari awal sampai sekarang?

E: Perjalanan karier memang Panjang. Sebetulnya saya ingin menjadi  guru. Karena itu  saya masuk di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP-Padang). Awalnya di jurusan Sastra Inggris, jurusan favorit, gagal. Dinasehati keluarga, bahwa semua jurusan sama saja, asal tidak “menjadi mentimun bungkuk, masuk karung tidak dihitung”. Akhirnya saya memilih jurusan Sejarah, dengan harapan cita-cita untuk menjadi guru meniru kakek saya, terkabul. Cita-cita saya gagal, karena ternyata saya lulus dalam program penyeleksian untuk mendapatkan beasiswa dari Program Kerja Sama Indonesia-Belanda yang dipusatkan di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Berbekal beasiswa itu, saya pindah ke Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk melanjutkan kuliah di tingkat sarjana penuh (Dra.) Dari tujuh kandidat, lulus 2 orang, teman saya dari Fakultas Hukum, Intizham Djamil dari Universitas Andalas dan saya sendiri, mewakili perguruan tinggi dari Sumatera Barat. Waktu itu kami diwawancarai oleh Bapak A.B. Lapian.

 

F: Program kerja samanya seperti apa?

E: Tujuan program tersebut adalah untuk mempersiapkan bibit-bibit muda sejarahwan dan antropolog dari Indonesia. Untuk bidang Sejarah dicangkokkan di UGM dan diketuai Pak Sartono Kartodirdjo. Sedangkan untuk bidang Antropologi ditempatkan di Universitas Indonesia (UI) dan diketuai oleh Pak Koentjaraningrat. Program beasiswanya seingat saya ada tiga Angkatan, mulai dari angkatan 1978, 1979 dan berakhir tahun 1980. Saya merupakan angkatan kedua pada 1979. Mahasiswa cangkokan Angkatan saya, dari Universitas Riau, Universitas Andalas dan IKIP-Padang, Universitas Udayana, Universitas Sebelas Maret, dan selebihnya mahasiswa UGM.  Jumlah kami  delapan orang. Sejak awal ‘dicangkokkan’ di UGM, kami dipersiapkan untuk menguasai Bahasa Belanda sebagai bahasa sumber, sebagai bekal mengikuti program sandwich di Belanda. Jadi mau tidak mau kami harus belajar Bahasa Belanda. Gurunya seorang native speaker, Dr. W.G.J. Remmelink, didatangkan langsung dari Belanda. Kami dilatih hingga mahir. Saat menyusun skripsi, kami sudah terbiasa menggunakan Bahasa Belanda. Bahkan, 95 persen referensi skripsi saya berasal dari dokumen-dokumen yang ditulis dalam Bahasa Belanda.

 

F: Berapa lama program pencangkokan tersebut?

E: Lama program tersebut antara 2,5 sampai 3 tahun. Kami semua sudah Sarjana Muda dan perlu waktu untuk menyelesaikan Sarjana Penuh (Drs/Drs) sambil mengambil beberapa mata kuliah aanvullen di tingkat Sarjana Muda.  Setelah itu kami diseleksi lagi, dan cukup menggembirakan hati karena memperoleh ranking pertama menurut dosen Bahasa Belanda kami. Sayangnya, saya memutuskan tidak pergi ke Belanda dan menawarkan ke teman yang lain yang sebetulnya tidak lulus seleksi. Kami belajar bersama dan teman saya diuji kembali dan akhirnya dia pergi untuk melanjutkan studinya Bersama 5 orang teman lainnya.  Saya memilih kembali ke Padang, dan berkat bantuan Dr. Mokhtar Naim, saya diterima sebagai dosen honorer dan sekali sekretaris Jurusan Sejarah yang baru dibuka di Universitas Andalas. Ketika itulah saya berkenalan dengan Prof. Dr. Khaidir Anwar, ayah Prof Dewi Fortuna Anwar, Prof. Aziz Saleh yang memberi saya bekal pengalaman beliau yang lama di luar negeri. Seperti diketahui, Pak Khaidir Anwar telah bertahun-tahun menjadi dosen di SOAS-University of London. Sayangnya, saya hanya bekerja selama empat bulan lebih di Universitas Andalas, meskipun sebenarnya sudah lulus tes ujian untuk studi ke Australia.

 

F: Bagaimana akhirnya memilih berkarier di LIPI?

E: Jadi setelah menikah dan pindah di Jakarta, saya melamar di dua tempat yaitu UNICEF dan LIPI. Saya gagal mendapatkan pekerjaan di UNICEF pada seleksi yang terakhir. Beruntungnya saya diterima di LIPI. Saya mendapat informasi tentang lowongan kerja di LIPI itu dari Pak Khaidir Anwar, karena Bu Dewi baru saja bekerja di Lembaga Riset Kebudayaan Nasional (LRKN). Saya mengirimkan lamaran melalui pos Kilat Khusus. Hanya seminggu setelah itu, saya langsung dipanggil oleh Direktur LRKN, Bapak Dr Alfian, langsung diwawancarai, langsung diterima dengan syarat tidak boleh lagi menolak untuk melanjutkan studi di luar negeri. Sejak April 1983, saya mulai bekerja sebagai staf peneliti honorer di LRKN-LIPI. Ketika itu, LRKN sedang merekrut banyak peneliti baru yang sudah menjadi calon pegawai negeri. Waktu itu Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan (IPSK) hanya ada dua institusi, LRKN dan Lembaga Ekonomi Nasional (LEKNAS). Minggu kedua bekerja, saya dipanggil oleh Pak Taufik Abdullah untuk menjadi asisten beliau. Saya belum pernah bertemu dengan Pak Taufik sebelumnya, hanya senang membaca tulisan beliau yang enak dibaca tentang sejarah, agama dan etos kerja. Ada rasa senang tetapi juga takut menjadi asisten beliau. Sebab saya dengar dari teman-teman senior, tuntutan Pak Taufik untuk tulisan sangat tinggi. Yang paling saya senang adalah, saya diberi izin menempati ruangan Pak Taufik di lantai 6 Gedung Widya Graha  yang penuh dengan buku dan majalah, terutama ketika beliau keluar negeri. Jadi saya bisa membaca buku-buku tersebut, dan jika ingin tidak mengobrol dengan teman satu ruangan, saya bisa menyendiri di kamar kerja Pak Taufik. Bekerja di ruang kerja Pak Taufik banyak manfaatnya juga, karena melalui telepon saya berkenalan dengan “orang-orang pintar” di luar LIPI. Setahun bekerja sebagai peneliti honorer, tahun 1984 diangkat menjadi PNS.  

 

F: Bagaimana kondisi awal ketika bekerja di LIPI?

E: Kondisi awal bekerja di LIPI, terutama di LRKN, jauh dari yang diharapkan, apalagi dibanding dengan sekarang. Jauh lebih enak sekarang. Kami dulu jarang melaksanakan penelitian lapangan. Hanya studi pustaka. Fasilitas kantor, selain diberi kartu catatan berukuran 10x15 cm yang berguna untuk mencatat bagian-bagian penting dari buku atau artikel yang dibaca di perpustakaan lantai 5 PDII, kami  juga memiliki sebuah mesin tik kuno yang dipakai secara bergantian untuk enam orang untuk satu ruangan. Kami menuliskan dulu draft di kertas, dan kemudian baru diketik.  Awalnya saya mendapat ruangan di lantai 10, tetapi kemudian pindah ke lantai 11, satu ruangan dengan Hermawan Sulityo, Herman Hidayat, Riza Sihbudi, Pak Samsumardam dan Rachmawati. Yang paling rajin menengok kami, mengejutkan kami secara tiba-tiba itu adalah Pak Luhulima, sesekali Pak Alfian. Hampir tidak ada penelitian lapangan. Karena itu, kami lebih banyak membaca di perpustakaan. Pada tahun 1986, ketika melakukan penelitian tentang Orientasi Nilai Budaya di Medan, di mana Prof. Koentjaraningrat yang menjadi koordinator penelitian. Pada waktu itulah penelitian lapangan, dan itupun hanya satu orang senior, Pak Rusydi Syahra yang baru pulang dan memperoleh master dari salah satu universitas di Amerika Serikat.  Pada tahun-tahun berikutnya, saya terlibat di dalam penelitian sejarah politik, tentang Fungsi dan Peran Dewan Perwakilan, multiyear proyek penelitian. Bersama Kiki, Syamsudin Haris, Herman Hidayat, JR Chaniago dan saya, awalnya diketuai oleh Bapak A.B.Lapian dan kemudian oleh Mas Ibrahim Ambong, fokus penelitian mulai dari Dewan Perwakilan Hindia Belanda (Volksraad) hingga masa Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

 

F: Bagaimana strategi untuk mengatasi keterbatasan dana penelitian waktu itu?

E: Untuk mengatasi keterbatasan dana penelitian, seperti juga teman-teman lain. Awalnya kami berlomba menulis di koran, membuat resensi, dengan harapan dapat membeli buku lebih banyak. Setiap kali menerima honorer di Sinar Harapan misalnya, saya langsung ke toko buku Gramedia untuk membeli buku baru untuk diresensi lagi.  Gaji yang tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup di Jakarta yang mahal, kami mencari berbagai kegiatan di luar LIPI. Kegiatan di luar LIPI itu sebenarnya sekaligus juga sebagai proses belajar. Misalnya ikut menjadi anggota pewawancara sejarah lisan di Arsip Nasional, mewawancarai para mantan Menteri dan Duta Besar periode Orde Lama, ikut penelitian bidang sejarah di Kementerian Kebudayaan. Di antara kegiatan mengatasi keterbatasan dana penelitian, yang paling menyenangkan adalah ketika di bawah pimpinan Pak Abdurrachman Surjomihardjo, kami dikontrak selama setahun untuk membuat buku sejarah Harian Merdeka, milik BM Diah. Selain cocok dengan minat saya di bidang sejarah dan gajinya lumayan, sepuluh kali lipat dari gaji pegawai negeri yang kami terima. Memang menyedihkan nasib peneliti pada waktu itu. Selang beberapa waktu kemudian, lembaga penelitian di Indonesia mengalami reorganisasi, termasuk LKRN. Saya bergabung bersama Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan (PMB).

 

F: Bagaimana cerita studi magister Prof Erwiza?

E: Setelah masuk PMB,  saya melanjutkan master dengan skema sandwich program di Amsterdam sejak 1988. Saya  kuliah di Vrije Universiteit, Amsterdam, dan juga menulis tesis di sana. Tetapi saya ujian tesis di UI, sebab waktu itu belum ada program master di kampus Vrije Universiteit, Amsterdam. Selain kursus Belanda, kami mengikuti beberapa mata kuliah wajib tentang Asia Tenggara dan mata kuliah pilihan. Awalnya saya ingin memilih untuk mempelajari kawasan Polinesia dan Melanesia sebagai mata kuliah pilihan, tetapi setelah membaca beberapa buku, terutama berkaitan tentang sejarah ekonomi pertambangannya, akhirnya saya berubah pikiran. Kapan saya akan pergi ke wilayah itu? Akhirnya saya memilih tentang mata kuliah tentang budaya dan sejarah ekonomi pertanian Jepang dengan seorang Antropolog Belanda, Dr. Jan Bremen. Semula bahan-bahan bacaan saya ini akan menjadi bahan kuliah di Sastra Jepang yang direncanakan oleh Prof. Akhdiati Ikram. Tetapi saya tidak ingat lagi kenapa beliau tidak membicarakan kewajiban saya untuk mengajar di Sastra Jepang, setelah kembali ke Jakarta bersama dengan para dosen muda dari Fakultas Ilmu Budaya, UI. Seperti skripsi, informasi untuk menulis tesis master ini juga diambil dari sumber-sumber berbahasa Belanda.  Berbekal dengan kemampuan Bahasa Belanda waktu kuliah di UGM, maka mengikuti kursus Bahasa Belanda di Leiden bagi saya tidak begitu berat, bahkan jauh lebih ringan dibanding dari Jogya. Kondisi ini dimungkinkan, tentu dengan pertimbangan bahwa para dosen hukum, filologi, Bahasa Indonesia, Sejarah dan Antropologi yang mengikuti kursus hanya di Belanda saja atau paling sebagai mata kuliah pilihan di Indonesia. Saya beruntung dengan disiplin keras oleh Pak Remmelink --yang sampai saat ini masih berkontak—yang mendidik kami, sehingga ujian-ujian yang diberikan oleh dosen Belanda di Leiden, terasa tidak sulit. Saya pernah dipanggil khusus oleh Prof. Termoshuizen, dosen Bahasa Belanda, menanyakan apakah keluarga saya menggunakan Bahasa Belanda di rumah atau ada anggota keluarga keturunan Belanda. Saya berpikir, buat apa pertanyaan itu diajukan ke saya di ruangannya di KITLV itu. Oh saya baru tahu bahwa saya memperoleh nilai tertinggi dari ujian terjemahan Bahasa Belanda ke Bahasa Indonesia. Mungkin tidak perlu menyombong, ujian itu sangat tidak sulit, cepat saya kerjakan, karena kota kata dari buku yang dikarang dosen itu sudah ada di kepala, dan tidak perlu membalik-balik kamus untuk mencari kata-kata sulit.  Dalam hal ini saya ingat jasa dosen saya, Pak Remmelink, yang saya temui di Tokyo pada tahun 1989 kembali ketika beliau menjadi Direktur Japan-Nederlands Institute.  

 

F: Bagaimana kondisi dunia riset di Indonesia setelah kembali dari sekolah?

E: Setelah menyelesaikan program master di Vrije Universiteit, Amsterdam dan ujian di UI, saya kembali sebagai peneliti di PMB-LIPI. Waktu di PMB, dunia riset sudah agak lumayan, dan pengadaan peralatan seperti komputer, juga cukup lumayan. Riset lapangan ada dan bahkan ada teman-teman sibuk melakukan riset dari satu daerah ke daerah lain dengan tema yang bermacam-macam. Ada peneliti yang melakukan dua atau tiga penelitian dengan tema yang berbeda-beda.  Saya tidak memilih jalan itu. Saya hanya mengerjakan satu riset tentang Etos Kerja dan Wirausaha, dengan studi kasus penenun songket Silungkang.  Sampai sekarang, perkembangan tenun songket Silungkang tetap menjadi perhatian. Hasilnya, ada dua buku yang saya tulis tentang tenun ini.  Selain itu, saya juga masih aktif di luar kantor. Beberapa riset ada yang didanai Arsip Nasional dan lembaga luar negeri. Saya memperoleh dana riset jangka pendek dari Prof. Henk Schulte Nordholt. Di luar LIPI, saya bergabung dengan teman saya tamatan IPB yang mendirikan perusahaan konsultan kehutanan, dimana penelitinya kebanyakan terdiri dari dosen-dosen IPB. Riset dengan konsultan tentang kondisi sosial ekonomi masyarakat di pinggir hutan, berlangsung sekitar lima tahun, wilayahnya mulai dari Aceh sampai ke Papua. Selain itu, saya kembali bergabung dengan riset yang diketuai oleh Pak Taufik Abdullah.  Saya  banyak belajar menulis dari Pak Taufik Abdullah, meski kadang-kadang mengalami kekecewaan, karena tulisan saya banyak dicoret. Misalnya ketika saya diberi tugas oleh Pak Taufik menuliskan kembali Bab Pendahuluan buku Sejarah Pemuda. Dengan bangga saya selesaikan dan serahkan ke Pak Taufik sebanyak 25 halaman. Ternyata, yang diterima hanya 3 halaman, selebihnya harus ditulis ulang. Ini pengalaman pertama bekerja di bawah bimbingan Pak Taufik. Walaupun demikian, pada tahun-tahun berikutnya, beberapa tulisan di bawah bimbingan beliau dimuat dalam Ensiklopedi di Malaysia dan Ensiklopedi Nasional Indonesia.  

 

F: Saat awal meniti karier sebagai peneliti, riset apa yang paling berkesan?

E: Sebelum melanjutkan studi program sandwich, riset yang saya lakukan yang sesuai dengan jurusan saya, adalah sejarah politik, khususnya Sejarah Legislatif. Riset ini multi-tahun, dan sangat serius, apalagi dibandingkan dengan fungsi dan peran anggota legislatif yang tidak maksimal pada waktu dan bahkan  sedang mendapat sorotan dari masyarakat. Selain itu, riset yang berkesan dan  cukup bagus adalah mengenai Pandangan dan Sikap Hidup Ulama Indonesia yang dikoordinatori oleh Dr.Martin Van Bruinnessen. Pada dekade 80-an kegiatan keagamaan di kampus itu dilarang, namun pada saat yang bersamaan muncul ulama muda di kampus. Saya senang karena yang menjadi expert-nya itu Pak Nurcholis Majid, Gus Dur, dan Clifford Geertz. Melalui riset ini saya bisa berkenalan dengan Clifford Geertz, duduk di dekatnya, bisa bertanya-tanya sepanjang pemahaman saya yang masih sedikit dari buku-bukunya dan buku istrinya yang saya baca dan resensi. Lumayan, dari berbagai pengalaman dan tulisan-tulisan yang diterbitkan, dalam waktu tiga tahun jabatan fungsional saya bisa langsung ke tingkat Peneliti Ajun Madya. Akan tetapi setelah itu, saya tidak lagi memperhatikan jabatan fungsional itu sampai saya menyelesaikan  Ph.D. saya tahun 1998.

 

F: Apa yang memotivasi Prof Erwiza?

E: Yang memotivasi saya menjadi peneliti adalah karena memperoleh banyak pengalaman, bertemu banyak orang dan berbeda adat-istiadat dan kepentingan. Karena dinamis, akhirnya dunia penelitian menjadi hobi saya dari dulu. Apalagi sejak kecil, sejak saya bisa membaca sebelum masuk SD, saya sudah memiliki imajinasi dari buku-buku cerita yang dibelikan kakek atau yang saya ambil dari rak-rak buku kakek saya.  Imajinasi saya tentang pulau kaya timah di Bangka didapat dari cerita kakek saya atau dari adik ibu yang selalu mendongeng sebelum tidur.  Karena itu saya kecewa gambaran masa lalu dari cerita kakek saya tentang pulau timah tidak sebanding dengan yang saya jumpai ketika pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Belitung pada 1989. Kebiasaan membaca dan lingkungan keluarga yang memang suka membaca,  dengan kehidupan kampung yang sederhana, adalah unsur utama sebagai peneliti. Karena itu, jika tidak membaca,  seperti ada sesuatu yang hilang. Dari bacaan-bacaan masa kecil itu saya sering bertanya dan kadang-kadang dikatakan saya sebagai anak pelawan, bila tidak sesuai dengan yang saya ketahui. Saya punya beberapa majalah langganan walaupun hidup di kampung. Masih ingat beberapa buku yang dibelikan kakek saya seperti kisah Empu Gandring, sejarah terjadinya Banyuwangi dan kisah orang-orang besar di dunia, saya baca tidak hanya sekali tetapi beberapa kali sampai kemudian saya kena marah kakek karena buku itu saya bawa main dan perlihatkan kepada teman-teman. Kakek saya memiliki banyak koleksi buku, ditambah lagi koleksi buku-buku  adik ibu waktu kuliah tahun 1956/57. Kebiasaan membaca buku dan hobi penelitian masih  berlangsung hingga sekarang. Dari hasil bacaan kita ‘berbelanja ide’ dan dari ide muncul keinginan untuk meneliti. Bagi sejarahwan,  tidak harus selalu pergi ke lapangan, apalagi kini dapat menggunakan informasi yang banyak tersedia secara daring. Misalnya koleksi berbagai surat kabar dan majalah lama dalam Bahasa Belanda cukup tersedia secara online, tanpa harus pergi ke Belanda seperti masa sebelumnya. Jadi sebagai sejarawan, saya tidak terlalu risau dengan adanya dana atau tidak adanya dana penelitian lapangan, gaji kecil atau besar, yang pasti naluri penelitian selalu bergelora.

 

F: Sejauh ini, apa kesulitan terbesar ketika menjadi peneliti?

E: Sepanjang pengalaman saya sebagai peneliti, kesulitan terbesar adalah pada masa Orde Baru. Subjek penelitian saya pertama tentang sejarah pertambangan adalah tentang hubungan kerja, politik buruh. Subjek penelitian ini sangat sensitis, selalu dikaitkan dengan “orang kiri” dan bisa saja bisa ‘dipanggil’. Saya pernah dipanggil oleh Koramil untuk menjelaskan mengapa saya membaca hasil laporan wawancara dari anggota-anggota Serikat Sekerja (Serikat Buruh Tambang Indonesia, SBTI) yang ditahan oleh pemerintah Orde Baru. Kemudian saya mengalami kesulitan ketika meneliti masyarakat Cina khususnya mantan para penambang Cina di Belitung. Seluruh pemilik toko yang ada di pasar Tanjung Pandan keluar semua melihat saya sedang mewawancarai sejarah mantan penambang Cina di Belitung. Mereka mengira saya seorang wartawan yang akan menyebarkan berita tentang pedagang Cina di Belitung, berkaitan dengan pajak, atau minuman keras yang mereka bikin sendiri. Begitulah, gosip beredar di kalangan para pedagang Cina di sepanjang toko itu. Meskipun yang diteliti masa lalu, akan tetapi ketika itu menyinggung pemerintah, maka bisa saja kita menerima telpon dengan nada mengancam. Inilah yang saya alami ketika menulis sebuah artikel tentang dinamisnya peran badan legislatif masa revolusi dengan kasus berlakunya PP No.6 Tahun 1946 yang dimuat di harian Sinar Harapan. Sejak mendapat telepon dengan nada ancaman itu, saya berhenti menulis dan membaca buku-buku politik. Yang lebih mengecewakan lagi adalah ketika TVRI memotong hasil wawancara saya yang berkaitan dengan ‘mandulnya’ peran badan legislatef masa Orde Baru. Masa sulit juga terjadi saat dana  riset terbatas dan kondisi politik negeri yang kurang mendukung. Walaupun demikian, masa sulit bukan berarti produktivitas berhenti, malah pada masa sulit saya menjadi lebih produktif.

 

F: Untuk proses kreatif, seperti apa kesulitannya?

E: Pada waktu itu memang tidak segampang sekarang. Untuk belajar bagaimana menulis yang baik tidak mudah. Tidak seperti saat ini, dimana bahan-bahan bacaan jauh lebih gampang didapatkan. Kesulitan untuk mendapatkan buku-buku dan artikel-artikel yang baru bisa teratasi dengan cara lain. Saya merasa lebih beruntung sebagai asisten Pak Taufik yang punya banyak koleksi buku baru, bisa digandakan. Kalau sekarang lebih enak bisa melalui daring juga, tinggal mengunduh saja, seberapa kita sanggup. Pada waktu mengikuti program Master, saya pernah di SOAS- University of London selama satu bulan.  Di London buku-buku jauh lebih murah.  Saya memborong buku sehingga tas penuh dan terpaksa pakaian saya tinggal ketika kembali ke Belanda. Strategi lain adalah dengan membeli buku, diresensi dan kemudian honor dari resensi bisa dibelikan buku tiga buku atau lebih. Tapi itu semua kesulitan yang membawa nikmat. Kesulitan yang membuat kita menjadi banyak akal dan kreatif. Karena sering menulis resensi buku, saya diminta juiga menjadi penelaah naskah-naskah yang akan diterbitkan oleh penerbit Sinar Harapan. Dari situ, saya banyak mendapatkan buku gratis.

 

F: Bagaimana cara menjalin networking yang baik?

E: Pada 1995 saya melanjutkan studi doktoral di Amsterdam School for Social Science Research, Faculty of social and Political Sciences, University of Amsterdam. Bagi saya sungguh berat, mengikuti tiga mata kuliah, sosiologi, antropologi dengan setumpuk bahan bacaan disertai lagi laporan penelitian disertasi untuk bulan ke delapan. Laporan itu juga menentukan apakah saya bisa melanjutkan studi atau tidak. Ada teman India saya, gagal, tidak lagi menerima beasiswa karena laporan penelitian  disertasinya menurut keputusan dewan penilai tidak menunjukkan kemajuan. Stres memang. Di tengah stress luar biasa itu, saya merasa masih beruntung, karena dapat menikmati kuliah umum dari orang-orang terkenal, seperti James Scott, Immanuel Wallerstein, Charles Tilly, Gunnar Frank dan ilmuwan terkenal lainnya dari berbagai universitas di luar Belanda, dan luar Eropa. Saya mulai ikut seminar internasional yang diadakan di Belanda, bertemu dengan banyak orang dari dalam dan luar Belanda. Bagi saya ini adalah proses belajar, setelah pengalaman pertama mempresentasikan paper di kelompok studi Asia Tenggara di Sophia University, Jepang pada tahun 1990.  Setelah itu saya malah semakin sering mengikuti kegiatan akademis, bertemu banyak orang dan banyak kenalan. Saya masih ingat, ketika pembimbing saya Prof. Heather A Sutherland mengingatkan saya untuk segera menyelesaikan disertasi lebih dulu dan setelah itu ada kesempatan terbuka untuk ikut dalam berbagai seminar. Saya masih ingat dan sedikit kecewa dengan ‘peringatan’ itu dan membatalkan niat untuk ikut workshop di SOAS-University of London tentang ‘coping with crises’.  Dibalik teguran pembimbing, ada manfaatnya, karena draft pertama disertasi sudah saya serahkan empat bulan lebih cepat dari waktu yang ditentukan. Bagi saya, untuk menjadi peneliti yang baik itu seharusnya aktif menulis karya yang serius dan ikut dalam seminar internasional. Saya merasa masih jauh jalan yang ditempuh. Karena itu, ketika lulus jenjang doktoral, saya sebenarnya ingin menerima tawaran post-doct di Australian National University yang cocok dengan bidang saya, pertambangan dan kehutanan selama 3 tahun. Akan tetapi dihambat oleh perjanjiajn harus kembali ke LIPI dulu. Akibatnya, saya membuat strategi lain, menjadi peneliti tamu di berbagai tempat dalam waktu paling lama hanya 4 bulan. Saya beberapa kali menjadi Visiting Fellow di IIAS, KITLV, NIOD di Belanda, GSID-University of Nagoya, ANU-Canberra, ARI-NUS, Singapura dan Nanchang University, Jiangsi. Yang berkesan adalah ketika ditawari menjadi peneliti tamu di Institute of International Studies, University of California, Berkeley, Amerika Serikat (2006). Saya bertemu dengan antropolog, terkenal dengan bukunya Rich Forest, poor people, Prof Nancy Peluso dan beberapa ahli tentang Afrika. Dari sini pula nafsu menggebu-gebu untuk memiliki banyak buku terlampiaskan. Empat bulan di UC Berkeley, saya membaca literatur, terutama yang berkaitan dengan politik lingkungan. Hasilnya dua artikel terlesaikan selama di sini, Rethinking Legal and Illegal Economy…, dan New Trends of Indonesian Mining Historiography, keduanya diterbitkan di jurnal internasional di Jepang. Artikel pertama saya presentasikan pada peringatan 50 tahun Asosiasi Ilmuwan Jepang untuk studi Asia Tenggara di Univ of Tokyo, terbang dari San Fransisco ke Narita pada awal Desember, 2006. Saya datang kembali ke UC Berkeley pada 2010 untuk mengikuti seminar.

Selain membuat jaringan melalui seminar, workshop dan berbagai institusi riset dimana saya menjadi peneliti tamu, pada tahun 2009 saya terpilih menggantikan Prof. Maris Diokno dari Manila sebagai Steering Committee Member mewakili negara Asia Tenggara untuk sebuah program The South-south exchange Program for History of Development (SEPHIS) yang berkantor di Gedung International Institute of Social History (IISH) di Amsterdam, dimana saya pernah berkantor selama 3 bulan, ketika menjadi peneliti tamu di IIAS-Amsterdam. Pekerjaannya menurut saya berat, membaca semua proposal yang masuk dari negara selatan-selatan (Asia Tenggara, Asia Selatan, Amerika Latin, Afrika Utara, Tengah dan Selatan), mengawasi kegiatan seminar, workshop yang didanai oleh SEPHIS serta memberikan pertimbangan kepada SEPHIS untuk lamaran ilmuwan dari Selatan yang hendak mengajar di beberapa Universitas di negara-negara selatan. Bagaimana mungkin, pikir saya dalam hati, memberikan pertimbangan dan penilaian tentang seorang ilmuwan yang sudah malang melintang di dunianya. Keterlibatan saya di SEPHIS dan kegiatan-kegiatan yang dilakukan membuka jaringan baru, kolega baru dari Afrika (Tengah dan Selatan), Amerika Latin dan negara-negara yang terletak di sekitar lautan Karibia. Keterlibatan ini pula yang membawa saya berkelana ke Kingston, Jamaica, Trinidad dan Tobago dan terakhir di Maroko. Pertemuan terakhir di Maroko sungguh luar biasa, karena bertemu dengan para sejarawan, antropolog dari beberapa negara di Amerika Latin dan Afrika dan bertemu kembali dengan para inisiator program. Saya bertemu kembali dengan promotor saya, Prof. Heather A Sutherland dan penguji disertasi, antropolog, Prof Willem van Schendel. Inilah pertemuan terakhir pada 2010 dan program SEPHIS tidak lagi berlanjut, karena kekurangan dana.

Bakat terpendam dan gagal sebagai guru tersalurkan juga ketika saya diberi kesempatan untuk memberi kuliah umum di berbagai universitas di daerah (Andalas, UNP-Padang, UNM, UNHAS, Makassar, Univ Sam Ratulangi, Manado, dan di berbagai tempat lain. Pengalaman mentransfer ilmu pengetahuan kepada generasi muda itu mengasyikkan,  dan membuka jaringan baru dengan para dosen dan mahasiswanya. Berkenalan dengan para dosen sejarah dari Amerika Latin dan Wilayah Karibia, menghabiskan waktu-waktu terakhir bersama mereka dengan pesta kebun, sungguh menyenangkan dan entah kapan lagi akan bisa menikmati alunan musik tahun 1960an di rumah besar milik tuan kebun di pulau itu. Kapan saya bertemu lagi dengan dosen sejarah dari Kuba, darinya saya belajar hentakan kaki yang sangat cepat mengiri irama musik di pesta kebun. Entah kapan lagi menikmati pantai indah di pulau kecil Tobago, penghasil buah mangga kuning yang sangat manis. Bersama Prof. Shamil Jeppi dari Afsel, Prof. Verene Schepper dari West Indies University, Kingston, dan Dr Marina van de Recht, kami menikmati hari-hari yang indah selama mengawal workshop para dosen sejarah di Trinidad. Sebuah moment yang mungkin tidak akan terulang lagi, ketika kita pergi bersama melepas penat, ke musium penyanyi terkenal, Bob Marly, bersama dan membuat foto kenangan di depan patungnya? Program SEPHIS telah mempertemukan kami  dari negara-negara selatan. Tentu saja saya ingat bagaimana menahan kantuk yang luar biasa ketika kami memperbincangkan hasil bacaan 300 lebih proposal yang masuk untuk mendapatkan dana riset dari Sephis dan posisi post doct-nya selama 3 tahun. Perbedaan waktu 24 jam, bak siang dengan malam akhirnya saya kalah dengan meminum obat tidur pada malam hari dan siang hari di negeri sendiri.

Mencari pengalaman sebagai dosen ke negara Asia Timur adalah membuka jaringan baru dengan para dosen di sana yang sebagian sudah saya kenal dan sebagian belum. Hanya dua bulan mengisi kuliah intensif Sejarah Asia Tenggara Moderen untuk mahasiswa Universitas Kyoto pada bulan Februari 2019 adalah sesuatu yang berbeda. Mahasiswanya rata-rata S2, hanya satu orang dari S3, dari berbagai jurusan, biologi, pertanian, hukum, filsafat dan sejarah. Rata-rata mahasiswa Jepang pemalu, hati-hati mengeluarkan pendapat, takut salah, tetapi mereka rajin membaca materi kuliah. Universitas juga cukup memperhatikan mahasiswa yang tidak bisa melihat dengan menyediakan pembimbingnya untuk datang pada 16 kali pertemuan. Dibanding kiprah Pak Taufik Abdullah dan kolega saya yang lain di P2W-LIPI seperti Dr. Fadjar Ibnu Thufail, Prof. Yekti Maunati, Dr. Ganewati Wuryandari, capaian saya masih jauh sekali dari harapan. Apalagi dengan para peneliti muda yang cepat dan sangat dinamis gerakan dan jaringan, Dr. Cahyo Pamungkas, Dr. Helmy Fuadi, Dr. Bondan Widyatmoko untuk menyebut beberapa dari begitu banyak generasi muda yang memiliki karier cemerlang di P2W. Mereka memiliki jaringan, dan jaringan merupakan modal utama untuk bertukar informasi dan bahkan untuk bekerja sama dalam riset.  

 

F: Bagaimana awal ketertarikan Prof Erwiza penelitian tentang pertambangan?

E: Ketertarikan saya meneliti sejarah sosial-politik dan ekonomi pertambangan berawal dari kontak saya dengan mahasiswa PhD dari Nigeria yang sedang menulis disertasi dengan sejarah ekonomi pertambangan timah di negerinya. Ia mahasiswa SOAS-University of London dan rombongan teman-teman dari Indonesia menginap di International House yang berlokasi di Russel Square, London. Berbincang di ruang makan atau di kampus tidak hanya tentang timah, minyak bumi, juga mengenai berbagai komoditas pertambangan lain yang dihasilkan oleh benua Afrika. Ternyata studi sejarah sosial pertambangan di Afrika jauh lebih maju dibanding dengan Kawasan Asia Tenggara.   

Dari hasil perbincangan itu kemudian saya mempertanyakan kembali posisi penting sebagai negara penghasil timah, emas, batubara, nikel dan kini rare earth (tanah jarang). Untuk memilih topik, saya membuat tabel tentang topik-topik yang sudah dikerjakan oleh sejarahwan Indonesia.  Saya tidak mau sembarangan memilih topik, mengikuti kecendrungan umum sejarahwan lain.  Sebab sekali memilih topik, saya berkomitmen untuk tetap di situ. Setelah pemetaan, ada dua pilihan antara membahas sejarah hutan atau sejarah tambang, dua hal yang berlawanan. Operasi  tambang akan menghabiskan hutan, sementara ujung sejarah kehutanan akan mendorong ke arah pelestariannya. Meskipun saya memilih tambang, tetapi saya ikut dalam diskusi-diskusi kelompok peneliti di di KITLV untuk sejarah lingkungan. Saya memilih sejarah hubungan kerja di tambang timah Belitung. Pembimbing saya sempat ragu karena sebetulnya sejarah timah sudah ditulis oleh Mary Somers. Saya tetap meyakinkan pembimbing bahwa fokus saya dengan Ibu Mary Somers berbeda. Mary lebih membahas tentang etnis Cina, saya membahas tentang hubungan kerja. Setelah itu, saya berpindah dari timah ke batubara, kembali ke timah, berlanjut ke tambang emas dan intan, berlian, dengan tema yang beragam, baik dari sudut sejarah sosial politik regim kerja, ekonomi politik pertambangan dan perspektif pembangunan masyarakat lokal, termasuk persoalan keberlanjutan lingkungan, sosial-ekonomi dan budaya masyarakatnya.  

Menjadikan tambang sebagai subjek penelitian telah membawa saya berkenalan dengan organisasi International Association for Mining Historian yang bermanfaat untuk saling tukar informasi mengenai sejarah penambangan di berbagai belahan dunia. Selain organisasi ini, studi pertambangan ini telah memberi kesempatan untuk bergabung dan mempertemukan  saya dengan para ilmuwan sosial dan insinyur pertambangan dari berbagai belahan dunia melalui berbagai kegiatan yang diadakan oleh World Bank, UNCTAD-PBB dan International Tin Research Industry yang berpusat di London. Berbagai pertemuan yang membahas  tema-tema, seperti pertambangan berskala kecil, foreign direct investment (FDI), konflik pertambangan dan livelihood strategies telah mengantarkan saya belajar banyak pada pertemuan-pertemuan di Sri Lanka, Hanoi, Pangkal Pinang dan Makati, Manila, dan Jakarta. Sebuah riset bersama dengan ANU-Canberra dilakukan untuk membahas mengenai pertambangan emas di Bombana. Melalui jaringan ini saya memperoleh dana riset dari International Tin Research Industry, London untuk sebuah riset mengenai pertambangan timah di Bangka. Sayang sekali, tawaran untuk riset lagi masa pa ndemik tidak bisa dilakukan, karena masih terlalu riskan untuk turun ke lapangan.

 

F: Apakah ada tantangan ketika meneliti tentang tambang?

E: Nah, saya sebetulnya menghadapi banyak kesulitan karena dunia tambang didominasi laki-laki, informan saya kan penambang Cina di Pulau Belitung. Pada masa itu, segala sesuatu yang berkaitan dengan Cina itu sangat sensitif. Kemudian orang-orang Cina yang saya wawancara tidak bisa Bahasa Indonesia, terpaksa menggunakan penerjemah. Saya juga mengalami kesulitan mengingat nama-namanya. Saya ingat betul sebagai seorang peneliti, dikerumunin oleh orang Cina ketika wawancara. Saya dikira wartawan oleh mereka. Namun, saya selalu bilang kalau saya kenal dengan penguasa judi yang juga orang terkaya di pulau tersebut, sehingga saya tetap merasa aman.

 

F: Bagaimana dukungan dari PT Timah?

E: PT Timah selalu mendukung penelitian saya, awalnya 1989 dengan memberikan fasilitas transportasi dan akomodasi dan pada penelitian-penelitian saya pada tahun-tahun berikutnya. Ini tradisi yang sudah biasa dilakukan oleh perusahaan manapun, seperti halnya PT Tambang Batubara Bukit Asam, Unit Produksi Ombilin. Bagi peneliti persoalan transportasi di daerah pertambangan sangat penting karena sarana transportasi umum sangat terbatas di kota-kota tambang. Perusahaan tidak pernah mencampuri hasil penelitian. Jadi selama melakukan penelitian untuk tesis master dan doktor, syukur saya tidak mengalami kesulitan di lapangan. 

 

F: Apa sumbangan konkret sejarahwan untuk masyarakat?

E: Memang pertanyaan ini banyak ditanyakan karena sejarahwan membicarakan masa lampau. Walaupun yang menjadi fokus masa lampau, tetapi bagi sejarahwan masa lalu menjadi sebuah kekuatan, bahkan dapat membawa dampak positif untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sebagai contoh, sebagai konsultan Wali Kota Sawahlunto,  saya membantu wali kota merancang menjadi kota wisata tambang dengan menggunakan warisan yang ditinggalkan oleh pertambangan batu bara. Prosesnya bertahun-tahun hingga akhirnya Sawahlunto akhirnya diakui oleh UNESCO pada 6 Juli 2019 sebagai Kota Warisan Dunia. Pada 1995, saya sudah mengusulkan kepada Bapak Wali Kota untuk menjadikan kota yang sudah redup itu menjadi kota wisata tambang, karena produksi batubara menurun drastis, banyak tenaga kerja perusahaan diberhentikan dan banyak pula yang meninggalkan kota, mencari pekerjaan di wilayah pertambangan di luar Sumatera.  Kemudian 1997, saya mengatakan kepada Bapak Direktur PTBA UPO secara informal, kalau seandainya perusahaan masih mengabaikan kesejahteraan penduduk lokal di sekitarnya, wilayah tambang pasti akan diserang warga. Saya mengatakan itu berdasarkan hasil penelitian saya yang melihat masih adanya sengketa lahan dan permasalahan lainnya yang belum diselesaikan perusahaan. Masyarakat di sekitar wilayah pertambangan tidak begitu berkembang. Ketika 1999, insiden kerusuhan benar-benar terjadi, dimana masyarakat sekitar membakar wilayah operasi penambangan. Massa tidak bisa terkendali, produksi stagnan, konflik tanah mencuat, sehingga perusahaan disibukkan dengan masalah-masalah sosial di luar arena produksi.  

Ketika Visi dan Misi kota Sawahlunto telah ditetapkan menjadi Kota Wisata Tambang yang Berbudaya pada 2002, sejak itu, beberapa usulan saya diterima menjadikan Orang Rantai sebagai salah satu kategori buruh tambang sebagai fokus pengembangan wisata. Usulan diterima dan beberapa situs bangunan tambang yang berkaitan dengan Orang Rantai direvitalisasi. Kemudian, menerbitkan beberapa buku populer yang bisa dikonsumsi umum. Banyak objek wisata yang dikembangkan, memadukan objek wisata sejarah tambang dengan objek wisata anak-anak. Nah, di situ saya berfungsi sebagai public historian dengan memberikan pertimbangan kepada perusahaan dan pemerintah. Pekerjaan saya di Sawahlunto tampaknya belum berhenti, karena pengelolaan kota Warisan Dunia ke depan yang dapat menyejahterakan masyarakat sekitar agenda utama. Walaupun sebenarnya saya sudah beralih beberapa tahun lalu sebagai konsultan untuk Asosiasi Penambang Rakyat Indonesia (APRI) dan Majelis Raja Sultan Nusantara sejak Februari 2018, akan tetapi kota Sawahlunto ternyata tidak dapat ditinggalkan. Saya baru mendapatkan lagi surat keputusan wali kota untuk menjadi konsultan dalam tata kelola ke depan.  Saya rasa, itulah sedikit kontribusi saya berperan sebagai sejarahwan publik untuk kota Sawahlunto yang kini sudah dikenal dunia dan dikunjungi banyak wisatawan dalam dan luar negeri. (fik)

 

FOTO: Fachri Aidulsyah 

Latest Update

 
Mar 15, 2022

Rempah, Alat Niaga Pendorong Pertemuan Lintas Bangsa

News Humas BRIN
Dec 31, 2021

Perdagangan Indonesia-Uni Eropa: Studi Kasus Hambatan Ekspor Ikan Tuna Indonesia ke Uni Eropa

Opinions Catherina Henderson*
Dec 31, 2021

Sejarah Perbatasan di Asia Tenggara: Mengupas Pengelolaan Perbatasan Di Vietnam

Opinions Lamijo
Dec 31, 2021

Ethiopia 2020–2021: Mengulang Masa Kelam Perpecahan Etnis

Opinions Angela Iban
Dec 28, 2021

Kota-Kota Perbatasan di Asia Tenggara: Arti Penting Kota Perbatasan Mong Cai bagi Vietnam

Opinions Lamijo

dokinfosimpegintra lipiepenelitiBanner KIP

Privacy Policy Legal Disclaimer « ISSN 2086-5309 » ContactCopyright © 2022 Research Center for Regional Resources - Indonesian Institute of Sciences (P2SDR-LIPI)
Prominent Figures