
(MOFA Taiwan, 2020)
Alarm berbunyi, peta di layar berkedip merah ketika berita mengabarkan bahwa sebuah kota di Taiwan telah mengonfirmasi lebih dari 500 kasus baru COVID-19. Wabah berkembang cepat ke distrik-distrik tetangga dan jumlah orang yang dikarantina meningkat pesat. Orang-orang panik dan bergegas ke toko-toko, menyapu bersih isi rak-rak makanan dan persediaan. Sementara jumlah kasus diproyeksikan akan terus meningkat secara signifikan (Quartz, 2020).
Skenario di atas bukanlah kenyataan. Itu hanya simulasi yang digelar di Kota New Taipei City terkait penanganan COVID-19. Meskipun dua hari sebelumnya (14/04/2020) Taiwan menyatakan diri tidak ada kasus baru (zero case) setelah 35 hari, Taiwan tetap menjaga kewaspadaan. Sebuah simulasi mengenai bencana penyebaran virus COVID-19 digelar selama satu jam. Simulasi ini melibatkan 16 institusi pemerintah beserta militer, termasuk para pejabatnya. Mereka mempraktikkan langkah-langkah dan mengoordinasikan lintas departemen jika wabah meluas, seperti membatasi perjalanan, pemeriksaan identitas, menutup sekolah dan usaha, serta kebijakan untuk memastikan ketersediaan pasokan makanan di pusat grosir dan toko-toko.
Turut disimulasikan pula Ketika karantina wilayah (lockdown) berakhir, bagaimana para pejabat mendiskusikan cara membuka kembali sekolah secara perlahan sambil meningkatkan kerja. Transportasi publik dan toko-toko mulai dibuka lagi. Pemutaran musik yang penuh kemenangan dan penuh harapan menutup simulasi. Begitulah kira-kira suasana simulasi mitigasi COVID-19 digelar.
Taiwan memang tidak pernah melakukan karantina wilayah. Tetapi simulasi karantina wilayah dipraktikkan sebagai langkah antisipasi. Mitigasi bencana semacam ini kerap dilakukan Taiwan dengan setting yang berbeda. Meskipun Taiwan sudah melewati masa bebas kasus, jika tidak diantisipasi dengan baik bisa saja muncul penyebaran COVID-19 fase kedua.
Fase pertama penyebaran COVID-19 telah dilewati Taiwan. Upaya pencegahan Taiwan dianggap sebagai model yang berhasil sehingga pengalamannya layak dibagikan ke negara lain. Keberhasilan awal Taiwan tersebut didukung oleh beberapa faktor antara lain; gerak cepat pembatasan perjalanan, karantina wilayah, transparansi, dan penggunaan big data.
Model terbaik
Beberapa minggu sebelumnya, banyak media mengabarkan Taiwan sebagai salah satu negara terbaik dalam menangani kasus COVID-19. Dalam hal ini, memang tidak ada kompetisi maupun kejuaraan. Tetapi setidaknya pujian itu telah diakui banyak negara. Terlepas dari faktor politik yang terjadi dengan China, Taiwan pernah diprediksi bakal menjadi wilayah terdampak parah setelah China. Rupanya prediksi tersebut tidak terbukti. Sebaliknya, kasus pasien terinfeksi dan kasus kematian di Taiwan yang berpenduduk 23 juta jiwa ini tergolong rendah. Bahkan, setelah tiga bulan berjuang sendiri melawan virus, Taiwan berkomitmen membantu negara-negara lain yang terdampak.
Berita mengenai adanya kasus pneumonia di Wuhan pada Desember 2019 lalu, sempat membuat masyarakat dan otoritas Taiwan khawatir. Wajar saja, karena banyak orang Taiwan yang tinggal maupun bekerja di China, begitu sebaliknya. Faktor kedekatan wilayah yang hanya dibatasi selat membuat mobilitas manusia di kedua wilayah ini sangat intensif, meskipun saat ini intensitasnya relatif menurun. Yang jelas, pengalaman dalam menangani wabah SARS 2013 silam menjadi pelajaran berharga dalam penanganan wabah tahun-tahun selanjutnya, termasuk kali ini. Kunci utamanya adalah gerak cepat.
Untuk meminimalisasi penyebaran virus, Central Epidemic Command Center (CECC) bertindak cepat dan proaktif. Bandara, sebagai pintu masuk pergerakan orang menjadi prioritas utama. Penumpang dari China, utamanya Wuhan diperiksa secara intensif. Bila diketahui menderita gejala, langsung dimonitor dan diawasi secara ketat. Taiwan juga meminta penundaan wisatawan Taiwan ke China maupun wisatawan China ke Taiwan. Ketika Imlek tiba, pemerintah telah menyiapkan 110 ruang isolasi di seluruh Taiwan yang dilengkapi dengan negative room pressure. Bahkan ketika kapal Diamond Princess singgah di Taiwan, pihak otoritas juga memastikan lokasi-lokasi yang disinggahinya bebas dari virus.
Kasus pertama di Taiwan yang menimpa seorang pengemudi taksi dideteksi pada 21 Januari 2020. Namun kian hari kasus demi kasus bertambah, khususnya didominasi oleh mereka yang pernah bepergian ke negara terdampak (imported cases). Untungnya Taiwan punya data yang terintegrasi antara kantor imigrasi dengan kantor asuransi sehingga keberadaan mereka sebelumnya bisa ditelusuri. Sementara CCTV di hampir semua lokasi juga dapat merekam kegiatan mereka sebelumnya.
Tiga minggu kemudian, kebijakan larangan mobilisasi manusia diperluas. Penduduk Wuhan dilarang ke Taiwan, sehingga Taiwan menjadi negara pertama yang melarang kunjungan orang Wuhan ke Taiwan (Scher, 2020). Untuk meminimalisasi imported cases, pada Maret 2020 larangan juga berlaku untuk semua orang yang masuk ke Taiwan melalui Hong Kong, China, dan Macau. Mereka dianjurkan menggunakan penerbangan langsung. Bila terpaksa transit, disarankan agar menghindari ketiga wilayah itu. Bagi yang transit melalui Hong Kong, China, dan Macau, harus melakukan karantina mandiri selama 14 hari. Selama masa karantina, otoritas Taiwan memberikan uang saku harian. Bila nekat keluar saat masa karantina, mereka bisa didenda sebesar NT$150.000 atau sekitar Rp60 juta! Ternyata, menurut laporan ada 318 orang yang didenda dengan jumlah total yang harus dibayarkan ke otoritas mencapai NT$27.148.000 atau sekitar Rp14,5 miliar (Herususilo, 2020).
Puncaknya, pada 19 Maret 2020 larangan masuk diterapkan bagi pendatang WNA ke Taiwan diberlakukan kecuali bagi mereka yang memiliki Alien Resident Certificate (ARC). ARC merupakan sejenis KTP bagi orang asing, diplomat, izin bisnis khusus, dan izin khusus lainnya. Bahkan kemudian larangan diberlakukan bagi penumpang penerbangan melalui semua bandara di Taiwan mulai 24 Maret hingga 7 April 2020.
Sulitnya mendapatkan masker akibat aksi borong dan tingginya harga sempat dialami masyarakat di Taiwan pada awal Februari 2020 (Hsu, 2020). Maklum saja, masyarakat wajib memakai masker saat berada di transportasi publik. Jika melanggar, masyarakat bisa dijatuhi hukuman denda Rp1,2 – 6 juta (Focustaiwan.tw, 2020). Padahal untuk mendapatkan masker di Taiwan sangat sulit. Masyarakat harus mengantre sejak subuh menunggu apotek atau klinik yang buka pada pukul 10.00 pagi. Meskipun sudah antre sejak subuh, masyarakat belum tentu kebagian karena terbatasnya ketersediaan masker. Untungnya, otoritas Taiwan telah lebih dulu mendistribusikan masker ke pusat-pusat fasilitas kesehatan.
Untuk memastikan ketersediaan dan distribusi masker yang merata, pihak otoritas melarang ekspor masker medis sejak 24 Januari 2020. Sementara produksi alat-alat kesehatan di tingkat lokal digenjot, dikoordinasi oleh Taiwan Industrial Technologi Research Institute (ITRI) dari 4 juta per hari pada Februari 2020 menjadi 13 juta per hari pada Maret 2020. Distribusinya pun diatur agar harga tidak melambung. Seseorang bisa membeli masker maksimum sembilan helai per dua pekan dengan harga sekitar Rp21.000. Pemesanannya dilakukan melalui daring dan pengambilannya sehari kemudian di minimarket, klinik, atau apotek terdekat. Syaratnya, pembeli harus menunjukkan kartu anggota asuransi kesehatan. Untungnya, hampir semua masyarakat Taiwan punya kartu asuransi kesehatan. Tapi, pengambilannya berdasarkan nomor kartu ganjil genap. Lagi-lagi ada keterlibatan otoritas untuk mengatur stabilitas pasokan dan distribusinya, baik untuk publik, medis maupun sektor industri.
Kebijakan ini mendapat dukungan pegiat teknologi web di Taiwan. Mereka menyediakan informasi terkini berbasis web di mana masker tersedia, termasuk info tentang jenis, ukuran, lokasi, dan jarak tempuh dari tempat tinggalnya (Harususilo, 2020).
Penggunaan big data dalam analisis memberikan informasi kepada masyarakat mengenai lokasi orang yang terinfeksi. Bagusnya adalah, informasi ini terintegrasi dengan kantor asuransi kesehatan, kantor imigrasi, dan kantor bea cukai Taiwan sehingga seseorang baik orang lokal maupun asing dapat ditelusuri riwayat keberadaannya selama 14 hari. Ketika berinteraksi dengan pasien, pihak rumah sakit, kinik, dan farmasi diizinkan untuk mengakses informasi itu. Data ini juga menginformasikan pasien-pasien yang sebelumnya sudah punya riwayat penyakit, sehingga bisa diminta untuk lebih waspada. Yang jelas, data ini tidak menginformasikan nama pasien kepada publik.
Sementara itu bagi masyarakat yang melakukan karantina mandiri akan ditelefon secara rutin dua kali sehari dan diikuti pergerakannya melalui telefon untuk memastikan dirinya tidak keluar dari tempat tinggalnya. Sinyal telepon GPS akan memberi tahu polisi dan petugas setempat jika warga yang dikarantina itu menjauh dari tempat tinggalnya atau mematikan ponselnya (Iswara, 2020). Jika melanggar, pihak berwenang akan menghubungi atau mengunjungi mereka dalam waktu 15 menit. Bahkan mereka bisa dikenai denda hingga NT$1 juta atau sekitar Rp521 juta (Iswara, 2020).
Untuk memberikan perkembangan informasi dalam dan luar negeri, situs resmi Taiwan CDC menyediakan informasi lengkap bagi masyarakat. Konferensi pers dari pihak otoritas digelar dan diperbaharui setiap hari, termasuk di media sosial. Informasi yang transparan ini menjaga agar publik mengikuti perkembangan terkini penyebaran COVID-19.
Data hingga 14 April 2020, tecatat 393 kasus COVID-19 di mana 338 kasus merupakan imported cases, dan 55 kasus lokal. Terdapat 6 orang meninggal dan 124 pasien dinyatakan negatif. Kecilnya kasus ini menjadi alasan mengapa tidak ada tes massal di Taiwan (Radio Taiwan International, 2020)
Program Taiwan Can Help, Health for All
Setelah tiga bulan berjuang dan 14 April lalu otoritas Taiwan memastikan tidak adanya kasus transmisi lokal baru dan mempertimbangkan stabilitas produksi masker di tingkat internal, pada awal April 2020 Taiwan mendonasikan masker ke negara-negara yang terdampak COVID-19. Tujuannya untuk memberikan donasi masker ke negara-negara lain yang tedampak COVID-19 (Cheng, 2020). Program ini merupakan bentuk solidaritas Taiwan terhadap komunitas internasional. Sebanyak 10 juta masker medis, setara dengan jumlah produksi sehari, didonasikan kepada Negara-negara seperti Amerika, Uni Eropa, termasuk negara-negara New Southbound (Panda, 2020). Kemudian program Taiwan Can Help, Health for All diluncurkan agar masyarakat Taiwan bisa turut serta berkontribusi membantu komunitas internasional. Jatah pembelian masker yang tidak mereka gunakan dapat didonasikan melalui aplikasi National Health Insurance Express. Sebanyak 120 ribu orang berpartisipasi dalam aksi tersebut dan berhasil mengumpulkan 1 juta masker (Cheng_b, 2020).
Jadi faktor gerak cepat dalam membatasi pergerakan manusia, menjamin pasokan masker di tingkat internal, koordinasi antar lembaga yang efektif dengan satu komando, transparansi, karantina mandiri, penerapan denda, serta penggunaan big data menjadi kunci sukses Taiwan menangani COVID-19. Jelas, ini bukan rahasia. Ini adalah hal yang perlu ditularkan kepada negara lain. (ritz)
Referensi
Catriana, Elsa. 2020. Yayasan dari Taiwan ini Donasi 140.000 APD untuk Penanganan Corona Indonesia. Diakses 30 April 2020.
Cheng, Ching-Tse. 2020. Mask donation program attracts 120,000 Taiwan participants in one day. Taiwan News. https://www.taiwannews.com.tw/en/news/3924429. Diakses 30 April 2020.
Cheng_b, Ching-Tse. 2020. Taiwan citizens allowed to donate masks abroad via app. Taiwan News. https://www.taiwannews.com.tw/en/news/3923725. Diakses 30 April 2020.
Focustaiwan.tw. 2020. CORONAVIRUS/Taiwan citizens can now donate masks to countries in need. https://focustaiwan.tw/society/202004270010. Diakses 30 April 2020.
Harususilo, Yohanes Enggar. 2020. "Belajar dari Langkah Taiwan Redam Kegalauan Masalah Covid-19." https://edukasi.kompas.com/read/2020/03/04/17524091/belajar-dari-langkah-taiwan-redam-kegalauan-masalah-covid-19?page=all. Diakses 29 April 2020.
Hsu, Phillipe. 2020. How to end the mask panic buying. Taipei Times. https://www.taipeitimes.com/News/editorials/archives/2020/02/14/2003730944. Diakses 30 April 2020.
Iswara, Aditya Jaya. 2020. "Taiwan Lacak Karantina Warganya dari Ponsel, Denda Rp 500 Juta kalau Melanggar", https://www.kompas.com/global/read/2020/03/21/104405270/taiwan-lacak-karantina-warganya-dari-ponsel-denda-rp-500-juta-kalau. Diakses 15 April 2020.
Kurnia, Tommy. 2020. Sempat Diabaikan WHO, Taiwan Dipuji Dunia karena Unggul Lawan Corona COVID-19. https://www.liputan6.com/global/read/4230436/sempat-diabaikan-who-taiwan-dipuji-dunia-karena-unggul-lawan-corona-covid-19#. Diakses 29 April 2020.
Panda, Ankit. 2020. Taiwan to Ship More Than 1 Million Face Masks to New Southbound Policy Countries Amid Pandemic. https://thediplomat.com/2020/04/taiwan-to-ship-more-than-1-million-face-masks-to-new-southbound-policy-countries-amid-pandemic/. Diakses 30 April 2020.
Quartz. 2020. Taiwan hasn’t needed lockdowns to fight the coronavirus, but it simulated one anyway. https://qz.com/1841177/taiwan-contained-covid-10-but-simulated-a-lockdown-anyway/. Diakses 23 April 2020.
Radio Taiwan International. 2020. CECC: Taiwan tidak perlu melaksanakan tes massal Covid-19 karena angka infeksi sangat rendah. Id.rti.og.tw. Diakses 30 April 2020.
Scher, Isaac. 2020. Taiwan has only 77 coronavirus cases. Its response to the crisis shows that swift action and widespread healthcare can prevent an outbreak. Businessinsider. https://www.businessinsider.sg/coronavirus-taiwan-case-study-rapid-response-containment-2020-3?r=US&IR=T. Diakses 2 April 2020.