• Home
  • About Us
    • About P2W
    • People
      • Management
      • Researchers
      • Visiting Researchers
    • Institutional Partners
    • Annual Reports
  • Projects
  • News and Events
    • News
    • Events
      • Past Events
      • Upcoming Events
    • Opinions
    • Prominent Figures
  • Publications
    • Books
    • Newsletter
    • Working Papers
    • Policy Papers
    • Journal Kajian Wilayah
    • Book Reviews
  • Gallery
    • Photos
    • Videos
  • Contact
  • Sudut Pandang Amin Mudzakkir

Latest Update

 
Mar 15, 2022

Rempah, Alat Niaga Pendorong Pertemuan Lintas Bangsa

News Humas BRIN
Dec 31, 2021

Perdagangan Indonesia-Uni Eropa: Studi Kasus Hambatan Ekspor Ikan Tuna Indonesia ke Uni Eropa

Opinions Catherina Henderson*
Dec 31, 2021

Sejarah Perbatasan di Asia Tenggara: Mengupas Pengelolaan Perbatasan Di Vietnam

Opinions Lamijo
Dec 31, 2021

Ethiopia 2020–2021: Mengulang Masa Kelam Perpecahan Etnis

Opinions Angela Iban
Dec 28, 2021

Kota-Kota Perbatasan di Asia Tenggara: Arti Penting Kota Perbatasan Mong Cai bagi Vietnam

Opinions Lamijo

Soekarno, Mburumba Kerina, dan Namibia

07 September 2021
Written by Saiful Hakam
fShare
Tweet

E4CWXK UUAAPjth

Infografis: KBRI Windhoek

 

Satu fakta kecil sangat menarik terkait Hubungan Indonesia Namibia adalah kisah asal usul nama Namibia. Indonesia terlibat di dalamnya dan tentu saja terkait dengan Sukarno. Alkisah nama Namibia berasal dari salah satu tokoh pejuang kemerdekaan Namibia, bernama Mburumba Kerina. Tokoh besar ini menempuh studi doktoral di Universitas Padjadjaran enam puluh tahun silam tepatnya 1960-1962. Pada saat di Indonesia ia sempat bertemu dan berbincang dengan Presiden Sukarno tentang perjuangan rakyat Afrika untuk merdeka dari penjajahan dan juga negerinya. Ketika menyebut nama negaranya, Afrika Barat Daya, Sukarno nampak kurang setuju. Sukarno meminta Kerina untuk memberi nama baru bagi negerinya. Ide dan permintaan dari Sukarno ini membuat Kerina menjadi gelisah.

Kerina menempuh studi doktoral di Indonesia, dengan beasiswa dari Presiden Sukarno. Pada satu ketika, ia diundang untuk minum teh dengan Sukarno di istana negara. Sukarno dan Kerina berbincang tentang Afrika dan negaranya. Sukarno bertanya kepada Kerina, apa nama negara Anda? Kerina menjawab, Afrika Barat Daya. Sukarno kemudian menukas bahwa Afrika Barat Daya bukan sebuah nama melainkan wilayah geografis. Sukarno lalu berkata bahwa anak laki-laki, budak dan anjing diberi nama oleh tuan majikan penjajah. Sesungguhnya, orang-orang yang merdeka bebas untuk memberi nama untuk diri mereka sendiri. Perbincangan ini mengilhami pencarian Kerina untuk mengganti nama Afrika Barat Daya. Segera setelah bincang-bincang yang menginspirasi ini, Kerina bertemu dengan Scott yang membawakannya koran Johannesburg Sunday Times yang memuat artikel tentang industrialis kulit putih Amerika. Para industrialis amerika sedang melakukan perjalanan dengan kapal, dilengkapi dengan penyedot debu, yang menambang berlian dan karena itu dia menjadi kaya. Kisah ini terjadi pada saat Afrika Selatan berusaha memasukkan Namibia menjadi provinsi kelima. Scott menyuruh Kerina membaca artikel tersebut dan bertanya apa yang Kerina pikirkan tentang itu. Kerina menyadari bahwa Namibia tidak akan lama lagi akan dianeksasi oleh Afrika Selatan dan ini akan menjadi akhir dari Namibia. Segera setelah itu, ia menulis sebuah artikel bahwa negerinya, Afrika Barat Daya, harus diberi nama Republik Namib dan rakyatnya disebut Namibia.

Nama Namibia menjadi identitas internasional ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa mengadopsi nama tersebut dengan dukungan partai SWAPO. Nama Namibia menjadi sangat populer sehingga tidak akan diganti oleh mereka yang memperjuangkan kemerdekannya. Bersama dengan beberapa pahlawan nasional Namibia seperti Chief Hosea Kutako, Pendeta Michael Scott, mendiang Advokat Jariretundu Kozonguizi, dan Presiden pertama Nambia, Dr Sam Nujoma, Kerina mengajukan petisi kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Namibia atas nama Herero Chiefs l'Council.

Mungkin banyak orang Indonesia yang belum tahu kisah historis ini. Kisah kecil ini seperti menerangkan kembali betapa Indonesia menjadi inspirasi bagi negeri-negeri Afrika dalam usaha perjuangan kemerdekaan enam dasawarsa silam. Jika saja Mburumba Kerina tidak studi di Universitas Padjadjaran, dan tidak berjumpa Presiden Sukarno mungkin nama Namibia tidak akan muncul dalam sejarah Afrika dan Dunia.

Kerina sendiri kemudian menjadi simbol politik hubungan persahabatan Indonesia dan Nambia. Namun sayangnya, publik Indonesia kurang mengenal negeri Nambia dan juga nama Kirena. Namanya Kirena hanya dikenal di kalangan diplomat-diplomat Indonesia yang bertugas di Nambia. Ia sering diundang dan hadir dalam acara-acara dan kegiatan kedutaan besar Indonesia di Nambia.

Saya sendiri baru mengenal Kerina ketika diberitahu oleh diplomat muda Indonesia yang bertugas di Namibia. Dalam diskusi informal antara LIPI dan Kedutaan Besar RI di Namibia, salah seorang staf, Bapak Sulthon menyebut nama Kerina sebagai alumni doktor Universitas Padjadjaran dan tentu saja pernah tingga di Indonesia. Setelah itu saya menelusuri di internat nama Mburumbu Kirena dan kisahnya sangat menarik. Selain dari situs resmi media Namibia, saya juga melihat video rekaman Youtube tentang asal usul nama Nambia. Kirena tampil seperti seorang nabi dan menceritakan dengan runtut bagaimana ia mendapatkan ilham nama untuknya negaranya itu. Ia juga mengaku bagaimana ia merasakan benar betapa Sukarno memberikan agitasi politik kepadanya. Bahwa Afrika Barat Daya bukan sebuah nama suatu negara melainkan geografi dan sebagaimana kita pahami bersama bahwa ilmu geografi modern benar-benar dikuasai oleh orang Barat. Para Penjajah dari bangsa-bangsa Eropa itu memang punya kehebatan di bidang ilmu navigasi dan ilmu geografi. Apa yang dikatakan Sukarno memang sangat jelas kebenarannya. Para penjajah, tentu saja orang-orang Inggris, Belanda, Perancis, Belgia, dan Jerman, memberi nama pada daerah-daerah jajahannya. Bahkan membuat peta geografi dari daerah-daerah jajahan itu dengan sangat detil sekali dan sangat rapi sekali. Semua nama tempat, dari desa, kampung, kota, dan gunung dicatat. Jujur saja saya harus akui bahwa peta Indonesia dan dokumen-dokumen geo-historis Indonesia dibuat dengan sangat rapi oleh penjajah Belanda. Belanda sebuah negeri kecil di Eropa bisa menguasai kepulauan Indonesia yang sangat luas ini berkat ilmu kartografi, sains, dan ilmu pelayaran mereka yang sangat maju.

Hal lain yang mencengangkan bagi saya adalah betapa Sukarno dan Indonesia memberikan insipirasi, dalam bahasa agak klenik jawa, wangsit, bagi Kerina bahwa melakukan perlawanan terhadap penjajahan bukan hanya dengan kekuatan fisik melainkan dengan kekuatan intelektual. Ketika ia menemukan nama “Namibia” maka pejuang Namibia punya identitas politik baru dalam melawan penjajah Afrika Selatan. Bahkan, PBB menerima nama Namibia sebagai dari  negara jauh sebelum negeri itu merdeka secara nyata.

Setelah membaca kisah Kerina maka saya punya keyakinan bahwa Indonesia masih bisa menjadi inspirasi bagi orang-orang Namibia terutama generasi muda. Jika dulu Indonesia menjadi inspirasi untuk perjuangan meraih kemerdekaan maka sekarang pun Indonesia bisa menjadi inspirasi dalam pembangunan membentuk “bangsa”. Membangun jati diri bangsa tidaklah mudah. Namibia adalah negara muda. Ada banyak keragaman dan perbedaan suku bangsa,  ada banyak kesenjangan sosial, dan pembangunan yang belum merata.

Mungkin ini terasa aneh bagi kita orang-orang Indonesia yang merasakan bahwa pembangunan di Indonesia masih kurang sempurna. Namun, jika membandingkan dengan negeri-negeri Afrika maka Indonesia terlihat sangat lebih baik. Dalam parameter ilmu politik maka mustahil Indonesia berdiri tegak sebagai sebuah negara dan bangsa. Betapa luas wilayah, betapa beragam suku bangsa, betapa beragama bahasa, dan betapa beragam agama di Indonesia, ini semua memerlukan sebuah energi yang luar biasa besar untuk mempersatukannya ke dalam sebuah bangsa dan negara. Bagi orang-orang Afrika mungkin saja Indonesia sebagai subyek politik terasa membingungkan sekaligus mengagumkan karena Indonesia mampu menciptakan ulang bahasa lokal melayu menjadi bahasa nasional dan dijadikan bahasa resmi sekaligus bahasa persatuan. Etnis besar seperti Jawa dan Sunda tidak merasa keberatan secara politik maupun identitas. Fakta semacam ini tidak terjadi di Afrika karena kebanyaka negara-negara Afrika sangat tergantung dengan bahasa penjajahnya seperti Inggris dan Perancis. Karena itu, kami sepakat dengan usulan Sulthan Sjahril Sabaruddin dalam Jurnal Kajian Lemhanas RI, edisi 42, Memperkuat Hubungan Ekonomi dan Sosial Budaya Indonesia-Namibia Baru,2020. Indonesia perlu lebih aktif dalam mempromosikan perguruan tinggi Indonesia kepada kalangan muda Nambia sehingga Indonesia bisa menjadi negara tujuan utama bagi anak muda Namibia menempuh pendidikan tinggi.

 

Tentang Kerina 

Lantas siapakah Kerina. Nama aslinya adalah William Eric Getzen. Namun ia lebih dikenal dengan nama Mburumba Kerina. Kerina adalah seorang politikus, akademisi, dan penulis Namibia. Ia merupakan salah satu pendiri organisasi politik berjuang untuk kemerdekaan Nambia dari Afrika Selatan yakni SWAPO, NUDO, dan FCN. Pada masa awal kemerdekaan Namibia, ia menjadi anggota Majelis Konstituante, Majelis Nasional (National Assembly), dan Dewan Nasional (National Council).

Dalam tubuh Kerina mengalir darah suku Ovambo dan suku Herero. Kerina adalah cicit dari penjelajah dan pedagang Frederick Thomas Green. Dari nama kakeknya inilah, ia mendapatkan nama lahir Kerina Otjiherero, yang berarti warna hijau. Kerina lahir pada 6 Juni 1932 di Tsumeb. Ia dibesarkan di Walvis Bay dan bersekolah di Kawasan Lama Windhoek. Ia belajar di Sekolah Gereja Anglikan St Barnabas. Ketika di sekolah Anglikan tersebut, ia bertemu dengan Pendeta Michael Scott yang kemudian membawanya belajar di Amerika Serikat. Ia hijrah ke Amerika Serikat pada tahun 1953 dan melanjutkan studi di Lincoln University di Pennsylvania. Ia lulus dengan gelar Bachelor of Arts pada tahun 1957. Kerina kemudian menjadi mahasiswa pasca sarjana di New School for Social Research, New York. Pada tahun 1960 dan 1962, karena semangat solidaritas Konferensi Asia Afrika, ia tiba di Indonesia melanjutkan studi doktoral di Universitas Padjadjaran di Bandung. Ia berhasil mendapatkan gelar Phd.

Tahun 1959, ketika Nambia berada di bawah pendudukan Afrika Selatan, berdiri dua partai nasionalis yang berjuang untuk kemerdekaan Namibia. South West Afrika National Union (SWANU) dan Ovambolan People’s Organization (OPO). SWANU memiliki basis di kalangan Suku Herero sedangkan OPO  memiliki basis di kalangan Suku Ovambo. Pada bulan Desember 1959, terjadi unjuk rasa di Kawasan Lama Windhoek menolak kebijakan segregasi dan politik rasial yang akan memindahkan orang-orang kulit hitam dari kota-kota di Namibia. Unjuk rasa ini berubah menjadi tuntutan kemerdekaan. Polisi menembak para pengunjuk rasa. Tembakan polisi menewaskan 11 orang dan melukai 44 orang. Saudara laki-laki Kerina juga tewas dalam insiden tersebut. Insiden ini menjadi mendorong tokoh-tokoh OPO di pengasingan untuk mendirikan South West Africa People’s Organization (SWAPO). SWAPO tidak lagi tertarik dengan taktik diplomasi dan petisi dan lebih memilih perjuangan bersenjata untuk kemerdekaan dengan bantuan persenjataan dari Uni Soviet dan Kuba. Perbedaan taktik perjuangan kemerdekaan menyebabkan perpecahan di tubuh SWAPO. Kerina berada di pihak moderat. Ia tidak menyukai kekerasan. Ia dikeluarkan dari SWAPO pada tahun 1962.

Pada tahun 1964 Kerina gagal pulang ke Namibia. Ia terpaksa kembali ke  AS. Mula-mula  ia tinggal di Bechuanaland, yang kini disebut Botswan, untuk sementara waktu sebelumnya akhirnya diusir dan pindah ke Tanzania. Pada September 1965, Kerina, Clemens Kapuuo, dan Hosea Kutako mendirikan National Unity Democratic Organization (NUDO). Sebagian besar anggota pendukung NUDO berasal dari Suku Herero. NUDO sendiri didirikan  atas desakan dan persetujuan dari Dewan Kepala Suku Herero. Namun, pada tahun 1966, Kerina memutuskan hubungan dengan Dewan Kepala Suku Herero dan keluar dari NUDO. Pada tahun yang sama, ia mendirikan  South West Africa United Front (SWANUF) dalam upaya menyatukan SWANU dan NUDO. Upaya itu tidak berhasil. Kedua pihak tetap bermusuhan. SWANUF menghentikan kegiatannya pada akhir tahun 1970-an.

Pada tahun 1966 perjuangan Kemerdekaan Namibia berubah menjadi Perang Perbatasan Afrika Selatan-Nambia-Angola. Majelis Umum PBB mencabut mandat Afrika Selatan untuk memerintah Namibia. Majelis Umum PBB membentuk Komisaris PBB untuk Namibia. Masyarakat kulit putih dan masyarakat kulit hitam konservatif, termasuk Kerina, berusaha menghentikan kekerasan dan mempertahankan status quo. Pemerintah Afrika Selatan mengusulkan reformasi kecil dan kompromi dengan tujuan agar orang-orang asli Namibia menghentikan dukungan mereka kepada perlawanan bersenjata. Pemerintah Afrika Selatan mengadakan Konferensi Konstitusi Turnhalle. Konferensi diadakan di Windhoek tahun 1975- 1977. Konferensi bertujuan membentuk konstitusi untuk Namibia yang otonom namun masih di bawah kekuasaan Afrika Selatan. Konferensi ini menciptakan kerangka kerja bagi pemerintah Namibia dari tahun 1977 hingga 1989 menjelang kemerdekaan.  

Konferensi Turnhalle mendapat kritikan keras. Konferensi ini memberikan reformasi semu karena masih memperkuat segregasi rasial dan apartehid di Namibia. Negara malah memperkuat dominasi ekonomi dan politik warga kulit putih. Namun, beberapa delegasi kulit hitam menerima baik hasil konferensi tersebut karena menjadi ruang komunikasi yang dilembagakan antar partai-partai di Namibia.

Kerina tidak hadir dalam konferensi tersebut karena berada di Amerika Serikat. Namun, ia tetap bersikap moderat. Ia mendukung hasil konferensi. Bagi Kerina, Konferensi Turnhalle menciptakan suasana tenang sehingga seluruh lapisan rakyat Namibia bisa melakukan perenungan dan lembaga-lembaga politik di Nambia bisa hidup berdampingan sesuai dengan resolusi PBB,  Mahkamah Internasional, dan Manifesto Lusaka. Sebaliknya, Kerina melontarkan kritik pada keputusan Majelis Umum PBB tahun 1972 karena mengakui SWAPO sebagai satu-satunya perwakilan sah rakyat Namibia Bagi Kerina PBB tidak memahami keragaman etnis dan organisasi politik di Nambia. Nambia memiliki beragam etnis dan keragaman etnis ini juga harus mendapatkan pengakuan  .

Setelah konferensi Turnhalle, Kerina mendirikan beberapa partai politik. Ia mendirikan Namibia Patriotic Coalition (NPC) pada tahun 1978. Partai ini bekerja sama dengan Rehoboth Liberation Front (LF) dan Partai Liberal. NPC tidak bekerja dengan baik dan didirikan ulang pada tahun 1982 dengan nama Namibia National Democratic Coalition (NNDC).

Pada tahun 1988, Kerina ikut serta mendirikan Federal Convention of Namibia (FCN) dengan Hans Diergaardt menjadi presiden. Pada pemilu pra-kemerdekaan 1989, FCN memperoleh satu kursi di Majelis Konstituante dan kursi tersebut ditempati oleh Diergaardt. Ketika Diergaardt mengundurkan diri karena alasan kesehatan, Kerina mengambil alih kursi tersebut dan terpilih sebagai Wakil Ketua Majalies Konstituante. Setelah Namibia merdeka pada tahun 1990, ia juga menempati kursi FCN di Majelis Nasional Namibia tetapi mengundurkan diri pada tahun yang sama. Selama delapan tahun ia tidak aktif berpolitik.

Kerina kembali aktif di dunia politik pada tahun 1998 sebagai Utusan Daerah dari Daerah Pemilihan Aminuis melalui partai Democratic Turnhalle Alliance (DTA). Ia berhasil mendapatkan suara dan duduk di Dewan Nasional. Pada tahun 2003, ia keluar dari partai DTA. Ia kembali bergabung dengan NUDO. Namun, pada tahun 2005, ia dikeluarkan dari NUDO diduga karena penyalahgunaan dana. Ia membantah tuduhan tersebut. Pada tahun 2009, ia kembali menjadi anggota SWAPO. ia mendapat kritik karena sering berganti partai. Ia sendiri kemudian menegaskan bahwa ia merupakan pelari maraton politik bermula di SWAPO dan berakhir di SWAPO.

Kerina adalah seorang intelektual dan dosen di perguruan tinggi. Dari tahun 1953 hingga 1990, ia tinggal di Amerika Serikat. Namun, namun sering melawat ke Namibia. Ia bekerja sebagai akademisi, memegang jabatan akademik dan administrasi di beberapa universitas. Kerina menjadi Dosen di Sekolah Seni Visual Kota New York (1966-1968), Asisten,  Associate, dan lalu Profesor di Brooklyn College of the City University of New York (1968-1971).

Pada tahun 1982 - 1992 ia bekerja sebagai konsultan. Ia menikah dengan Evelhardine Kapuuo-Kerina.  Kerina tinggal di pinggiran Katutura di Windhoek. Pada Juli 2016, dalam usian yang sudah lanjut, Kementerian Pertanahan menganugerahkan lahan pertanian yang luas kepada Kerina. Pada 2019, Kota Windhoek mengganti nama Jalan Bahnhof di kawasan pusat bisnis menjadi Jalan Kerina sebagai penghormatan atas perannya dalam perjuangan kemerdekaan Namibia.

 

Referensi:

http://http://www.nid.org.na/view_book_entry.php?book_id=96

https://www.namibian.com.na/127811/archive-read/The-Man-Who-Named-Namibia--Mburumba-Kerina

https://www.youtube.com/watch?v=3MGgxupN5hs di dalam video youtobe ini Kerina menceritakan langsung latar belakang ia mendapatkan ilham nama Namib, Nambia. Ia menyebut dengan jelas betapa Sukarno memberikan agitasi kepadanya untuk mencari nama bagi bangsa negaranya.

Dr. Sulthon Sjahril Sabaruddin, “Memperkuat Hubungan Ekonomi dan Sosial Budaya Indonesia Namibia Baru”, Jurnal Kajian Lemhanas RI, Edinis 42, Juni 2020.

 

 

Latest Update

 
Mar 15, 2022

Rempah, Alat Niaga Pendorong Pertemuan Lintas Bangsa

News Humas BRIN
Dec 31, 2021

Perdagangan Indonesia-Uni Eropa: Studi Kasus Hambatan Ekspor Ikan Tuna Indonesia ke Uni Eropa

Opinions Catherina Henderson*
Dec 31, 2021

Sejarah Perbatasan di Asia Tenggara: Mengupas Pengelolaan Perbatasan Di Vietnam

Opinions Lamijo
Dec 31, 2021

Ethiopia 2020–2021: Mengulang Masa Kelam Perpecahan Etnis

Opinions Angela Iban
Dec 28, 2021

Kota-Kota Perbatasan di Asia Tenggara: Arti Penting Kota Perbatasan Mong Cai bagi Vietnam

Opinions Lamijo

dokinfosimpegintra lipiepenelitiBanner KIP

Privacy Policy Legal Disclaimer « ISSN 2086-5309 » ContactCopyright © 2022 Research Center for Regional Resources - Indonesian Institute of Sciences (P2SDR-LIPI)
Opinions