
Ilustrasi rivalitas Cina dan Amerika (Foto: kompas.com)
Rivalitas AS-Cina di Asia Pasifik merupakan isu dalam hubungan internasional. Asia Pasifik merupakan kawasan yang dinamis. Terdapat isu-isu menarik di dalam kawasan ini. Isu yang ada seperti terorisme setelah Bom Bali di Indonesia, kepemilikan nuklir Korea Utara, India dan Pakistan, serta masalah Kepulauan Spratly dan ketegangan antara Cina dan Taiwan. Meskipun demikian, semua tantangan ini relatif sudah ada dikelola oleh kerja sama antar negara dan kekuatan utama di wilayah tersebut. Mengenai Cina sebagai kekuatan baru yang muncul di Asia Kawasan Pasifik, peningkatan kekuatan Cina dapat menyebabkan ketidakstabilan dan ketidakamanan di Asia Pasifik. Kebangkitan Cina dalam berbagai bidang manjadikannya sebagai mitra utama perdagangandi kawasan, menyalip Jepang dan Amerika Serikat (Drysdale, 2012).
Cina juga memodernisasi kekuatan militernya, People Liberation Army (PLA), untuk menunjukan kekuatannya di kawasan Asia Pasifik. Peningkatan utama dalam bidang ekonomi serta signifikan didalam kekuatan militer, Cina bersiap ingin melepas pengaruh akan politik dan kekuuasan Amerika Serikat yang telah mempertahankan pola dalam tatanan global setelah Perang Dingin. Mengamati dari pertumbuhan Cina, Amerika Serikat harus melestarikan ruang lingkup serta pengaruhnya telah mereformasi strategi pertahana dan memusatkan sumber dayanya di seluruh Asia Pasifik (Prantl, 2012).
Keamanan yang intens persaingan dengan potensi yang cukup besar untuk perang disebabkan oleh persaingan kekuatan yang besar seperti antara Cina dan Amerika Serikat. Oleh karena itu, isu ini dapat mengancam perdamaian, keamanan dan stabilitas kawasan, dan perang di Asia Pasifik, seperti diklaim White (2008). Menanggapi tekanan saat ini di Asia Pasifik, White membahas beberapa model yang ditetapkan untuk mengatasi benturan kekuatan utama dalam sebuah pergeseran kekuasaan. Di antara modelnya, White menyarankan bahwa European Power Concert adalah opsi paling menjanjikan untuk pesanan Asia Pasifik. Modelnya membutuhkan jurusan kekuatan seperti Cina, AS, dan Jepang, untuk terlibat di dalam hubungan kerja sama dan untuk mengakui legitimasi kekuasaan, tanpa mendominasi dan menghadapi konflik kekerasan antara lain (White, 2008).
Pertumbuhan ekonomi yang pesat, membuat Asia Pasifik berada pada transisi kekuasaan. IMF mengatakan Cina berupaya mengambil posisi sebagai mitra dagang utama di Asia, khususnya untuk menggantikan AS dan Jepang. Kekuatan kumulatif Cina yang dikontribusikan oleh pertumbuhan ekonominya. Cina melakukan upaya menjadi kekuatan hegemoni kawasan dengan meningkatkan kekuatan serta pengaruhnya. Soft power politik luar negeri Cina itu menjamin kebangkitannya dengan cara damai, mencerminkan kebijakannya. Cina tidak hanya meningkatkan ekonominya, tetapi juga melakukan geopolitik di kawasan Asia Pasifik.
Cina mempromosikan cara Beijing Consensus, membangkitkan ekonomi dengan cara yang damai, hal ini untuk memastikan kepercayaan negara lain terhadap Cina. Dukungan atas Piagam ASEAN oleh Cina, prinsip keseimbangan antar hak dan kewajiban sosial, serta dukungan Cina inisiatif global dalam kontra-terorisme dan non-intervensi. Meskipun kebijakan luar negeri Beijing menunjukkan strategi bagus yang baru yang tidak secara langsung menantang kekuatan AS, Cina masih lebih tegas dalam mendahulukan agenda kepentingan negaranya dan bahkan lebih chauvinistik di dalam perilakunya untuk menggeser kekuatan AS di wilayah tersebut (Bitzinger dan Desker, 2008).
Ancaman yang nyata akan hadirnya kekuatan besar baru dalam menyaingi kekuatan utama AS di kawasan tersebut. Perubahan tatanan dimobilisasi oleh Cina, menciptakan ketidakpastian keadaan dalam hubungan internasional di kawasannya. Hubungan Cina dan Jepang yang terhambat, mengarah kepada balance of power. Cina juga menjalin kerjasama dengan negara “rouge state” seperti Iran dan Rusia, yang mengancam kepentingan AS di kawasan itu. Terdapat beberapa poin dalam Rivalitas AS-Cina, seperti akan dideskripsikan sebagai berikut:
Perebutan Pengaruh Ekonomi melalui TPP dan RCEP Nilai strategis yang dimiliki Asia Pasifik memicu perkembangan perdagangan bebas di beberapa tahun terakhir. Menurut data WTO, perdagangan bebas di Asia Pasifik meningkat signifikan dimulai dari tahun 2000 dengan hanya ada 3 Free Trade Agreement menjadi 40 FTA di tahun 2014. Sedangkan menurut data ADB, pada tahun 2014 terdapat 71 FTA di Asia Pasifik baik yang sudah berjalan,maupun yang sedang dinegosiasikan diluar data WTO. Perdagangan bebas bilateral, multilateral, dan pluraliteral. Perdangangan bebas di kawasan Asia Pasifik semakin berkembang dikarenakan pembaruan regulasi seperti integrasi perdagangan bebas regional. Negara-negara di kawasan Asia Pasifik memperluas isu perdagangan. Perluasan isu tersebut direalisasikan melalui pembentukan FTA,dimana dalam FTA terdapat pembesaran kapasitas perekonomian dan geopolitik. Absennya kehadiran suatu negara dari FTA dapat mengisolasi kegiatan perdagangan dari negara tersebut.
Cina dan Amerika Serikat memiliki intensi yang sama dalam menjadi hegemoni melalui kekuatan ekonomi melalui pembentukan aliansi perdagangan. Pembentukan aliansi perdagangan sebagai alat tawar dipergunakan dengan baik oleh Amerika Serikat melalui TPP dan Cina melalui RCEP. Keduanya sama- sama mencari celah dalam FTA yang sudah terdapat di kawasan Asia Pasifik. Amerika Serikat yang bersikeras menyempurnakan kesepakatan Pacific-4 menjadi TPP. Kemudian Cina yang berinisiatif mengkomprehensifkan kerjasama ASEAN+6 yang sebelumnya sudah ada menjadi RCEP. Amerika Serikat melalui TPP membentuk poros ekonomi di kawasan Asia Pasifik. Hal tersebut merupakan cara yang dipakai untuk menghegemoni kawasan Asia Pasifik. Gerakan pertahanan dalam penyeimbangan kekuatan dilakukan guna menandingi Cina.
Perkembangan Kekuatan Cina Sebagai Upaya Balance of Power di Pasifik Balance of Power (BoP) merujuk kepada sebuah kondisi dimana adanya distribusi dari kekuatan diantara negara dalam sebuah sistem baik dalam ruang lingkup internasional maupun regional. BoP secara ideal akan menjamin bahwa power tersebut terdistribusi sedemikian rupa sehingga tidak ada satu negara atau entitas yang mampu melakukan dominasi terhadap negara atau entitas lain (Odgaard, 2007 : 25). Kondisi BoP mengarah kepada persaingan secara langsung dan kompetisi untuk menyeimbangkan kekuatan lawan. Pola persaingan masing-masing negara melakukan kebijakan luar negeri untuk tercapainya kepentingan negara tersebut. Pola kompetisi negara-negara melakukan hal guna mendapatkan dukungan dari negara ketiga untuk memaksimalkan kebijakan negaranya. Hubungan AS-Cina dapat dianalisa dengan disimpulkan sebagai persaingan secara langsung. Hal ini terkait dengan keberadaan dari kebijakan masing-masing negara ditujukan terhadap satu sama lain. Cina melihat bahwa dalam konteks kekuatan maritim, AS telah mendominasi wilayah pasifik dalam beberapa dasawarsa terkahir. Bagi Cina, dominasi kekuatan maritim AS di pasifik membatasi keleluasaan dalam ruang gerak dalam rangka meningkatkan kembali eksistensi negaranya dalam bidang ekonomi, politik dan militer.Merujuk kepada Chang (2012 : 22) kekhawatiran Cina akan dominasi AS berkaca kepada kesuksesan persenjataan canggih AS dalam perang teluk tahun 1991 dan kegagalan Cina melakukan deterrence kepada AS saat terjadinya krisis di Selat Taiwan pada periode 1995-1996. Dimana pada saat tersebut AS menerapkan strategi gunboat diplomacy dengan menempatkan gugus tempur Armada ke – 7 untuk mengamankan Taiwan dari ancaman China. Kondisi tersebut mengharuskan Cina membangun sebuah kekuatan yang mampu untuk melakukan deterrence terhadap kekuatan angkatan laut AS khususnya armada pasifik. Respon terhadap kondisi tersebut membuat Cina di bawah kepemimpinan Presiden Hu Jin Tao mengeluarkan kebijakan dalam rangka merevisi misi dari People Liberation Army (PLA) dalam rangka meningkatkan kepentingan strategis Cina dalam ruang lingkup global dan mengawal kekuasaan partai komunis Cina, menjamin keamanan perkembangan ekonomi nasional, dan kedaulatan teritorial (Sharman, 2014 : 5).
Secara historis, rivalitas kekuatan besar akan mengakibatkan destabilisasi kawasan. Kebangkitan Jerman pada akhir abad ke 19 mengakibatkan gesekan politik dengan AS dan Jepang. Perseteruan negara adidaya ini kemudian memuncak pada Perang Dunia II. Pada masa Perang Dingin, rivalitas AS dan Uni Soviet juga menyebabkan beberapa ketegangan keamanan di Eropa, Asia dan Amerika Latin. Tidak ada jawaban pasti kemudian bahwa peningkatan kekuatan Cina sebagai negara adidaya baru adalah sebuah pengecualian atas kondisi ini. Dampak rivalitas Cina terhadap AS kini telah berkembang dalam berbagai aspek, termasuk keamanan. Selama ini, sebagian besar transisi kekuasaan tersebut diakhiri dengan perang atau konflik. Dapatkah Cina dan AS menghindari kontes mematikan tersebut. Peningkatan kekuatan ekonomi dan militer Cina jelas akan menyebabkan gejolak geopolitik kawasan (Layne, 2008). Dalam konteks itulah studi tentang rivalitas keamanan ini diletakan, yaitu sebagai bagian dari dinamika dan konstelasi keamanan regional. Penggunaan terminologi rivalitas keamanan dikonsepsikan secara sempit dalam lingkup regional, meskipun penulis memahami bahwa terdapat korelasi kuat antara keamanan global dengan keamanan regional. Namun, rivalitas keamanan merupakan konsep yang sangat kompleks.
Daftar Pustaka
Bitzinger, RA & Desker B . 2008.“Why East Asian War is Unlikely”, Survival: Global Politics and Strategy, 50:6, hlm.105-128.
Chang, Felix K.2012. “China Naval Rise and South China Sea : An Operational Assesment”, Orbis, Vol. 56 Issue. 1. hlm 19-38.
Layne, Christopher. 2008. China’s Challenge to US Hegemony. Current History. Januari, hlm. 13-16.
Odgaard, Liselotte. 2007. The Balance of Power in Asia-Pacific Security US-China Policies on Regional Order. London and New York : Routledge.
Prantl, J 2012, “Five principles for a new security order in the Asia Pacific”, diakses dari http://www.eastasiaforum.org/2020/11/08/five-principles-for-a-new-security-order-in-the-asia-pacific/. Pada tanggal 19 Desember 2020.
Sharman, Christopher H. 2014. China Moves Out : Stepping Stones Toward a New Maritime Strategy, Institute for International Strategic Studies, China Strategic Prespective No.9. Defence University Press: Washington DC.
White, H 2008, “Why War in Asia Remains Thinkable”, Survival: Global Politics and Strategy, 50:6, hlm.85-104.
* Kezia Margaret Hasian adalah mahasiswa jurusan Hubungan Internasional Universitas Kristen Indonesia. Kezia dapat dihubungi melalui surel keziamargareth3@gmail.com