Menurut Reischauer (1963) modernisasi negara-negara di Asia Timur seperti Jepang dan China secara umum dimulai pada abad ke-19. Modernisasi ini juga tidak terlepas dari peranan pengetahuan yang di peroleh dari negara lain. Jepang misalnya merupakan salah satu negara yang banyak belajar dari kemajuan negara lain dalam membangun negaranya. Reischauer menyebutkan bahwa para pelajar yang belajar ke luar Jepang pada pertengahan abad ke-19 sangat mengaplikasi dan menggunakan pengetahuannya dan menjadi mereka figur dalam modernisasi Jepang dibandingkan (sebagai contoh) dengan pelajar China yang belajar ke luar negeri.
Modernisasi Jepang juga disumbang oleh kontak dan transfer pengetahuan dari salah satu negara Eropa yakni Belanda. Belanda merupakan satu-satunya negara yang pada masa masa isolasi atau ketertutupan Jepang dari negara luar (Sakoku, 1639 hingga 1853) diijinkan tinggal di wilayah Jepang. Belanda sendiri telah hadir di Jepang pada tahun 1609, ketika Belanda bersama armada dagangnya VOC (Verenigde Oost-Indische Compagnie-Dutch East India Company) memperoleh ijin memasuki Jepang dan menempati salah satu wilayah yaitu di pelabuhan perdagangan Hirado. Pada 24 Juli 1641, penguasa Jepang memindahkan posisi Belanda dari Hirado ke Deshima di selatan Jepang.
Kota Deshima pada saat itu merupakan sebuah wilayah yang di pilih sebagai tempat untuk isolasi bagi orang luar dan memudahkan Jepang dalam mengawasinya. Tidak sembarang orang Jepang dapat masuk ke wilayah ini. Begitu pula sebaliknya, orang Belanda tidak diijinkan keluar dari wilayah Deshima, kecuali yang mendapat ijin dari otoritas Jepang.
Meskipun kehadiran Belanda awalnya untuk melakukan kontak dagang dengan kekuasaan Jepang, namun Jepang juga mengambil manfaat lain dari adanya Belanda di wilayah Jepang. Jepang memang tertutup bagi Pembaratan (Westernisasi) dan Kristianisasi, namun keingintahuan Jepang tidak pernah berhenti untuk memahami dan menyerap ilmu pengetahuan, ide-ide kemajuan Barat dan perkembangan teknologi di dunia lain. Keingintahuaan ini yang menciptakan hubungan yang unik antara Jepang dan Belanda. Jepang berusaha mempelajari ilmu pengetahuan Barat melalui Belanda di Deshima. Jepang mempelajari bahasa Belanda dan hubungan tersebut telah menghasilkan banyak buku-buka Belanda yang diterjemahkan dalam bahasa Jepang. Jepang juga mempelajari berbagai ide dan teknik yang berkembang di Barat melalui Belanda. Hubungan transfer pengetahuan dari Belanda ke Jepang ini yang menciptakan sistem Rangaku (Marius B. Jansen, 1957:568).
Rangaku berkembang pada masa Shogun Yoshimune Kedelapan yang merupakan seorang penguasa dan pembaharu yang memahami keunggulan dari ilmu pengetahuan Barat. Rangaku sendiri merupakan sistem pengetahuan dari Belanda atau pembelajaran pengetahuan asing atau Barat. Melalui sistem Rangaku Jepang berhasil menterjemahkan hasil atau buku pengetahuan dari Belanda dalam bahasa Jepang seperti buku kedokteran, obat-obatan, pelayanan pengobatan, asronomi, navigasi, geografi, ilmu botani, ilmu kimia, ilmu fisika, ilmu sosial, seni, hingga teknologi, ilmu pertahanan dan militer (Katagiri Kazuo, 1982:1). Karena itu, meskipun Jepang menjalankan isolasi, tertutup bagi dunia luar, namun Belanda berhasil menjadi jendela pengetahuan Jepang tentang hal yang berkembang di dunia Barat. Melalui proses Rangaku, Belanda secara tidak langsung telah menjadi pintu pengetahuan bagi Jepang dan Jepang secara perlahan berhasil mengembangkan berbagai ilmu untuk kemajuan sosial, ekonomi, politik, budaya, dan militer hingga Jepang siap berkembang ketika kembali membuka diri pada tahun 1853 (Tantri, 2012).
Pembelajaran ilmu yang diambil dari Belanda juga menjadi salah satu jalan untuk meningkatkan kehidupan Jepang menjelang akhir abad kedelapan belas. Memasuki abad kesembilan belas kegiatan Rangaku terus berlanjut dan semakin masif. Pada abad kesembilan ini, ilmuwan Jepang ikut berkembang sejalan dengan perkembangan pengetahuan yang dialihkan dari Belanda. Pengetahuan dan informasi tentang ilmu kedokteran.
Pembelajaran dari Barat atau Belanda ini didasari oleh minat dan keingintahuan dari Daimyo (feudal lords, penguasa feodal). Daimyo melihat kemampuan Belanda mencapai Jepang dengan teknologi kapal, ilmu dagang, militer dan navigasinya hingga bermaksud memperlajarinya untuk meningkatkan dan mengembangkan pertahanan dan teknologi Jepang. Bakufu (government warrior, pemerintahan militer) juga mendorong Daimyo untuk memperkuat pertahanan lokal. Teknologi yang dipelajari tidak hanya digunakan untuk membangun kekuatan militer namun juga untuk mengatasi masalah ekonomi, seperti dalam pengembangan dan diversifikasi pertanian, sumber daya alam, industri, dan kesehatan. Selain itu, pengetahuan Barat yang diperoleh Jepang juga telah mendukung berkembangnya pengetahuan tentang perkapalan, teknik militer dan senjata. Hal ini menyebabkan Jepang mampu memiliki kekuatan militer dan senjata yang cukup modern pada awal abad keduapuluh. Di tambah dengan pertumbuhan ekonomi dan sistem pertanian yang maju sehingga membawa masyarakat Jepang pada taraf hidup yang lebih baik dan terus berlanjut hingga penguasa-penguasa baru Jepang selanjutnya.
Referensi
Goodman, Grant K. 2000. Japan and the Dutch, 1600-1853. Curzon Press.
Jansen, Marius B. 1957. “New Materials for The Intellectual History of No. 3/4 (December, 1957), Harvard-Yenching Institute Stable.
Kazuo, Katagiri. 1982. “The Rise and Development of Dutch Learning (Rangaku) in Japan”, Bulletin of the Institute of Eastern Culture, Acta Asiatica, the Tōhō Gakkai, Tokyo.
Reischauer, Edwin O. 1963. “Modernization in Nineteenth-Century China and Japan, Japan Quarterly, 10:3 (1963:July/Sept.) p.298
Tantri, Erlita. 2012. “The Dutch Science (Rangaku) and Its Influence on Japan,” Jurnal Kajian Wilayah, Vol. 3, No. 2, 2012, Hal. 141-158.