
Film animasi Tiongkok 'Ne Zha' yang meraih kesuksesan di Hollywood (doc/global.chinadaily.com)
Secara leksikal makna storytelling ialah menceritakan atau menuliskan suatu kisah. Menurut Jack Zipes dalam bukunya “The Irresistible Fairy Tale: The Cultural and Social History of a Genre” manusia mulai bercerita sejak memiliki kemampuan berbicara.
Dengan kemunculan teknologi terbaru di era digital, storytelling mengalami pergeseran media dan fungsinya. Mulanya storytelling hanya mengutamakan penggunaan audio sebagai media. Kini dengan adanya teknologi, segi visual juga sangat ditonjolkan untuk menarik para penikmatnya. Di era digital, storytelling di Tiongkok dikemas dalam bentuk animasi menarik dan memiliki nilai ekonomi lebih besar. Uniknya, animasi Tiongkok tidak menghilangkan nilai ideologis sehingga pesan yang ingin disampaikan tercapai.
Tulisan ini menjelaskan bagaimana sejarah storytelling Tiongkok. Tujuan artikel ini untuk mengetahui faktor-faktor yang membuat industri animasi di Tiongkok berkembang pesat. Animasi tayang sekitar 220.000 menit per tahunnya, alasan ini membuat Tiongkok menjadi nomor satu dalam produksi animasi di dunia pada 2010 (Lu Bin, 2010). Kemajuan teknologi menjadi salah satu faktor yang mendukung meningkatnya produksi animasi Tiongkok selain kebijakan pemerintah.
Storytelling Zaman Dinasti
Storytelling sudah ada sejak zaman dinasti Tiongkok, bahkan lebih jauh sebelumnya. Berdasarkan pernyataan Jack Zipes, manusia mulai mengenal storytelling semenjak memiliki kemampuan untuk berbicara. Namun, cerita-cerita itu tidak dibukukan. Pada zaman dinasti Zhou catatan tertulis baru dibukukan. Dahulu, media storytelling adalah seorang lansia, ditugaskan oleh seorang Kaisar untuk mengumpulkan cerita-cerita rakyat. Profesi tersebut dinamakan pemetik sajak. Cerita-cerita yang dikumpulkan menggambarkan situasi ekonomi dan sosial masyarakat tersebut.
Kemudian cerita itu dicatat dalam kitab Shijing 诗经yang berarti nyanyian rakyat. Saat pertemuan kenegaraan, masing-masing pemetik sajak ini akan menceritakan kondisi kerajaan yang mereka wakilkan. Melalui certa pemetik saja, Sang Kaisar mengetahui kondisi rakyatnya. Dalam hal ini fungsi sosial storytelling dapat dilihat. Pemerintah dalam hal ini seorang kaisar memberdayakan seorang lansia terlantar yang sebatang kara untuk menyejahterakannya. Apabila dilihat dari nilai ekonominya, lansia diberi upah oleh pemerintah dari hasil mengumpulkan cerita masyarakat sekitar istana.
Titik Awal Animasi Tiongkok
Animasi Tiongkok sudah ada sejak dinasti Shang. Hal ini terbukti karena telah ditemukannya aksara Tiongkok dalam bentuk piktograf pada zaman itu. Dalam aksara Tiongkok, huruf-huruf yang digunakan sebagai alat komunikasi ini memiliki ceritanya tersendiri. Setiap huruf menjelaskan objek sehari-hari di sekeliling mereka. Mengambil sebuah contoh: misalkan kata 休息(xiuxi) yang berarti istirahat. Terdiri dari dua buah huruf hanzi. Hanzi pertama menggambarkan hanzi 人 (ren) dengan arti manusia, bersandar pada kepada kata 木(mu) yang memiliki arti pohon. Dan hanzi kedua 息(xi) yang juga berarti istirahat dalam hanzi tersebut menggambarkan karakter 自 (zi) yang berarti diri sendiri dan 心 (xin) yang dapat dianggap jatung. Secara keseluruhan, kata tersebut menceritakan seseorang yang sedang bersandar di dahan pohon untuk mengistirahatkan detak jantungnya. Meskipun fungsinya masih sebatas alat komunikasi, prinsip dasar cerita menggunakan visual yaitu animasi telah ada.
Storytelling Tiongkok Pada Era Digital
Awalnya animasi diterima sebagai media edukasi yang disisipi nilai-nilai ideologis bangsa Tiongkok yang bersifat patriotik sepeti adanya paham anti propaganda Jepang. Hal tersebut menjadikan pemerintah menaruh perhatian lebih di sektor animasi. Kebijakan pemerintah mendorong peningkatan produksi animasi Tiongkok. Para kreator animasi sangat diuntungkan oleh keringanan pajak. Upaya- upaya pemerintah turut andil dalam meningkatkan produksi animasi. Mulai dari persoalan perpajakan, waktu penayangan yang sangat diperhatikan untuk memberi ruang lebih penayangan animasi dalam negeri, sampai membangun beberapa kelas animasi di beberapa universitas. Dengan adanya dorongan dari pemerintah, banyak perusahaan-perusahan yang menaruh investasinya ke dalam industri ini.
Perkembangan panggung animasi Tiongkok dan faktor-faktor yang membuat industri animasi sukses yakni internet dan banyaknya permintaan serta peminatan masyarakat. Badan pengawasan State Administration of Radio, Film and Television (SARFT) sama seperti badan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) di Indonesia sangat berperan dalam pengawasan animasi ini. Pengawasan itu idak hanya berlaku untuk animasi negeri Tiongkok saja, animasi dari negara lain pun harus melewati uji sensor lembaga ini terutama untuk penyesuaian durasi waktu tayang di televisi nasional.
Dikutip dari jurnal The Digital Turn in Storytelling and Creative Industries in China yang ditulis oleh Vacenzo De Masi dan Han Yan, Peran pemerintah dalam memajukan industri animasi dapat dilihat pada 2008 di mana kebijakan untuk melarang penayangan film animasi luar negeri apapun pada pukul 17.00-21.00. Pada Oktober 2009, kementrian kebudayaan bahkan memberikan keringanan pajak bagi perusahaan yang terkait dengan produksi animasi, termasuk VAT exemption (PPN) animasi yang memiliki kriteria-kriateria yang sesuai oleh permintaan pemerintah ini akan diberikan sebuah reward. Kriteria yang dimaksud adalah memiliki nilai edukasi. Nantinya badan SARFT yang akan menyeleksi apakah animasi tersebut masuk kriteria atau tidak. Pada November 2009 SARFT memiliki otoritas penuh terhadap film animasi dan memberlakukan mulai dari 1 Januari 2010, slot pada pukul 17.00-21.00 atas permintaan pemerintah hanya akan menayangkan animasi produksi dalam negeri. Pada akhir 2009, SARFT berkerja sama dengan Jiangshu TV untuk membuat kanal TV khusus tayangan anak yang disebut Cady(优漫卡通卫视)
Dengan kemunculan teknologi terbaru, para kreator dipermudah untuk memproduksi film-film animasinya seperti dengan adanya artificial intellegence. Teknologi yang mampu membaca keinginan pasar tersebut, dapat memudahkan para kreator untuk membuat animasi yang sesuai dengan keinginan masyarakat. Jadi keinginan masyarakat terpenuhi, kreator juga diuntungkan karena karyanya dapat diterima masyarakat.
Banyaknya ruang digital juga menyediakan ruang bagi para kreator untuk mengeksplorasi diri secara leluasa. Berbeda dengan televisi yang diawasi pemerintah, ruang digital seperti Youku dinilai lebih fleksibel untuk menerima berbagai macam konten meskipun juga ditinjau pemerintah, namun tidak sedetil peraturan untuk tayang di televisi nasional.
Peminatan masyarakat juga bertambah seiring dengan teknologi Virtual Reality (VR) yang memberikan pengalaman-pengalaman lain selagi menikmati animasi itu sendiri. Audiens diajak masuk ke dalam storytelling itu sendiri dengan animasi-animasi visualnya. Tidak hanya VR, Augmented Reality (AR) juga memberikan pengalaman seru lainnya. Berbeda dengan VR yang membawa kita masuk ke dalam storytelling tersebut, AR menambahkan warna dengan menghadirkan animasi tersebut ke penonton. Hal itu dapat menghibur penonton dan menjadi cara tersendiri untuk menikmati storytelling tersebut. Akibatnya storytelling menjadi suatu kebutuhan untuk menghibur masyarakat sendiri. Saya berpendapat dengan adanya berbagai pengalaman yang disuguhkan, storytelling ini bukan hanya dapat diterima usia anak-anak, tapi di segala usia.
Dengan kemajuan teknologi di era digital ini, nilai ekonomi storytelling semakin meningkat. Di sisi lain, perusahaan teknologi juga diuntungkan oleh para penikmat storytelling. Dalam hal ini, Indonesia bisa mencontoh kebijakan pemerintah Tiongkok dalam mendukung penuh storytelling seperti halnya cerita rakyat yang banyak tersebar di Indonesia. Tujuannya untuk menjadikan generasi muda Indonesia mengenal nilai budaya yang terkandung dalam cerita rakyat. Hal ini juga dapat meningkatkan produktivitas ekonomi kreatif apabila storytelling itu dikemas kedalam bentuk animasi misalnya pada era digital ini. Bentuk dukungan tidak hanya berupa finansial saja, tetapi membuka kelas animasi di beberapa universitas seperti yang dilakukan pemerintah Tiongkok dapat menjadikan kreator-kreator menghasilkan lebih banyak produk storytelling yang berkualitas. (nab/fik)
* Nabillah Fudlloh adalah mahasiswa magang di Pusat Penelitian Kewilayahan LIPI. Saat ini sedang menempuh studi sarjana di Program Studi Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok, Universitas Al Azhar Indonesia (UAI). Penulis dapat dihubungi melalui surel nfudlloh@yahoo.com