• Home
  • About Us
    • About P2W
    • People
      • Management
      • Researchers
      • Visiting Researchers
    • Institutional Partners
    • Annual Reports
  • Projects
  • News and Events
    • News
    • Events
      • Past Events
      • Upcoming Events
    • Opinions
    • Prominent Figures
  • Publications
    • Books
    • Newsletter
    • Working Papers
    • Policy Papers
    • Journal Kajian Wilayah
    • Book Reviews
  • Gallery
    • Photos
    • Videos
  • Contact
  • Sudut Pandang Amin Mudzakkir

Latest Update

 
Mar 15, 2022

Rempah, Alat Niaga Pendorong Pertemuan Lintas Bangsa

News Humas BRIN
Dec 31, 2021

Perdagangan Indonesia-Uni Eropa: Studi Kasus Hambatan Ekspor Ikan Tuna Indonesia ke Uni Eropa

Opinions Catherina Henderson*
Dec 31, 2021

Sejarah Perbatasan di Asia Tenggara: Mengupas Pengelolaan Perbatasan Di Vietnam

Opinions Lamijo
Dec 31, 2021

Ethiopia 2020–2021: Mengulang Masa Kelam Perpecahan Etnis

Opinions Angela Iban
Dec 28, 2021

Kota-Kota Perbatasan di Asia Tenggara: Arti Penting Kota Perbatasan Mong Cai bagi Vietnam

Opinions Lamijo

Peran Pemerintah Federal dan Negara Bagian dalam Mitigasi COVID-19 di Amerika Serikat (Edisi Khusus COVID-19, Bagian 11)

23 April 2020
Written by Angga Bagus Bismoko
fShare
Tweet

Perkembangan COVID-19

Amerika Serikat menjadi negara dengan kasus positif dan jumlah kematian terkait COVID-19 terbanyak di dunia. Pada 21 Januari, Pemerintah Amerika Serikat mengumumkan kasus pertama orang terkonfirmasi positif COVID-19 di Negara Bagian Washington. Tercatat hingga 17 April, sebanyak 694.520 orang terkonfirmasi positif dan dengan jumlah kematian mencapai 32.365 jiwa. Sebelumnya pada 12 April, Amerika Serikat telah melampaui Italia (19.468 jiwa) dalam jumlah orang yang meninggal terkait COVID-19 dengan total 21.919 jiwa.

Penyebaran COVID-19 di Amerika Serikat sudah menjangkau seluruh negara bagian dan negara teritorial. West Virginia menjadi negara bagian terakhir yang mengumumkan kasus pertama COVID-19 pada 17 Maret. Sementara itu, New York ditetapkan sebagai episentrum COVID-19 dengan total kasus positif mencapai 222.284 orang dan orang meninggal sebesar 12.192 jiwa hingga 17 April. Perkembangan data seputar COVID-19 di Amerika Serikat dapat diakses melalui covidtracking.com/data.

Artikel ini mengulas strategi, baik yang dilakukan oleh pemerintah federal maupun pemerintah negara bagian, untuk mengatasi penyebaran maupun penanganan pasien COVID-19 di Amerika Serikat. Strategi yang diulas meliputi respon awal pemerintah federal, pembatasan mobilitas penduduk, perluasan pengujian, dan peningkatan kapasitas medis. Secara khusus analisis memperlihatkan dinamika interaksi antara pemerintah federal dan negara bagian maupun lokal serta kendala dalam implementasinya.

 

Respon Awal Pemerintah Federal

Pada 29 Januari, Presiden Donald J. Trump membentuk The White House Coronavirus Task Force menyusul ditemukannya kasus positif COVID-19 pertama di Washington. Tim ini bertugas untuk mengoordinasi dan mengawasi upaya administrasi untuk memonitor, mencegah, menahan, dan mengurangi penyebaran COVID-19. Langkah pertama yang diambil oleh tim yaitu menyarankan pemerintah untuk mendeklarasikan public health emergency dan membatasi perjalanan masuk ke Amerika Serikat bagi wisawatan dari China. Segala update informasi resmi dari tim ini dapat diakses melalui coronavirus.gov. Setelah itu, pada 16 Maret, Presiden Trump pertama kali menyampaikan pedoman “30 Days to Slow the Spread”. Tiga hari sebelumnya, presiden telah mendeklarasikan darurat nasional Amerika Serikat terkait COVID-19. Dalam pedoman tersebut tersirat bahwa peran pemerintah negara bagian dan lokal menjadi penentu utama keberhasilan Amerika Serikat dalam menghambat penyebaran COVID-19.

 

merge from ofoct

Pedoman strategi 30 hari untuk memperlambat penyebaran COVID-19 (coronavirus.gov)

 

Selanjutnya, pada 27 Maret 2020 ditandatangani CARES (The Coronavirus Aid, Relief, and Economic Security) Act atau paket stimulus untuk mendukung program penanganan COVID-19 di Amerika Serikat. CARES Act merupakan undang-undang bipartisan yang disepakati antara presiden dan kongres bernilai US$2 triliun dengan tiga fokus utama securing emergency relief, supporting families dan bolstering the economy. Dalam fokus securing emergency relief, terdapat anggaran US$100 miliar untuk penyedia layanan kesehatan, US$27 miliar untuk memperkuat penyelamatan jiwa (termasuk pengembangan vaksin) dan US$45 miliar untuk dana penanggulangan bencana di bawah FEMA (Federal Emergency Management Agency). Pada fokus supporting families, bantuan ekonomi diberikan selama masa krisis antara lain pembebasan pajak, bantuan tunai bagi pasangan berpenghasilan hingga US$150.000 akan menerima US$2.400 ditambah US$500 untuk setiap anak, sedangkan individu yang berpenghasilan hingga US$75.000 akan menerima US$1.200, ditambah US$500 untuk setiap anak. Sementara itu, fokus bolstering the economy bertujuan untuk memperkuat ekonomi dengan memberikan bantuan keuangan yang dibutuhkan untuk usaha kecil dan pekerja Amerika Serikat.

 

Pembatasan Mobilitas Penduduk

Pembatasan mobilitas manusia yang diterapkan Amerika Serikat dapat dibagi berdasarkan luas cakupannya yaitu perbatasan negara, nasional (antarnegara bagian), dan negara bagian. Di tingkat perbatasan negara, pembatasan mobilitas penduduk dimulai dengan CDC (Centers for Disease Control and Prevention) mengeluarkan karantina federal selama 14 hari bagi 195 warga Amerika Serikat yang dievakuasi dari Wuhan, China pada 31 Januari. Pada saat yang sama, Presiden Trump melarang masuk warga negara asing yang bepergian ke China dalam dua minggu sebelumnya, selain dari keluarga dekat warga negara Amerika Serikat. Selanjutnya, sejak 2 Februari, warga negara permanen Amerika Serikat dan keluarga yang mengunjungi Provinsi Hubei, China diwajibkan karantina mandiri selama 14 hari. Sementara itu, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat juga mengeluarkan larangan level 4 untuk bepergian ke China. Hal itu kemudian diikuti dengan pembatalan seluruh penerbangan antara Amerika Serikat dan China oleh perusahaan penerbangan Amerika Serikat seperti United Airlines, American Airlines, dan Delta. Pengecekan kepada para penumpang, khususnya dari China, juga diberlakukan di 20 bandara di Amerika Serikat untuk mengantisipasi imported cases COVID-19. Lebih lanjut, pemerintah federal juga melakukan penutupan jalur perbatasan darat dengan Kanada dan Meksiko untuk mengantisipasi potensi kasus COVID-19 dari dua negara tetangga tersebut.

Di tingkat nasional, CDC mengeluarkan panduan bepergian berupa domestic travel advisory untuk New York, New Jersey, dan Connecticut yang mendesak penduduk di negara bagian tersebut untuk tidak melakukan perjalanan domestik yang tidak penting selama 14 hari. Domestic travel advisory ini tidak berlaku bagi karyawan industri infrastruktur penting, termasuk tetapi tidak terbatas pada angkutan truk, profesional kesehatan masyarakat, layanan keuangan dan pasokan makanan. Meski demikian, gubernur di tiga negara bagian tersebut akan memiliki keleluasaan penuh dalam menerapkan kebijakan tersebut.

Untuk diketahui, tidak seperti India, Italia, dan China, national lockdown tidak dilakukan di Amerika Serikat meski bahkan Presiden Trump sangat ingin. Mengapa? Karena langkah tersebut akan terhambat oleh sistem federalisnya. Otoritas konstitusional untuk memerintahkan intervensi kesehatan publik utama seperti karantina massal dan pengaturan jarak fisik, terletak terutama di pemerintah negara bagian dan lokal melalui “kekuatan kepolisian” mereka. Implikasinya, kebijakan pembatasan mobilitas penduduk melalui social distancing diterapkan secara tidak seragam di masing-masing negara bagian.

Dua terminologi yang berkembang terkait social distancing di negara bagian yaitu shelter-in-place dan stay-at-home. Dalam pelaksanaannya tidak ada perbedaan signifikan dari kedua konsep tersebut. Pada 19 Maret, California menjadi negara bagian pertama yang memerintahkan shelter-in-place bagi penduduknya kecuali untuk kegiatan penting tertentu. Beberapa hari setelahnya, Gubernur Cuomo mengumumkan perintah stay-at-home bagi penduduknya, istilah tersebut diambil agar tidak memunculkan kepanikan di masyarakat. Sementara itu, menurut laporan American Progress, banyak negara bagian yang memerintahkan stay-at-home menyebutkan bahwa ketidakpatuhan akan diganjar dengan hukuman perdata atau pidana, termasuk denda, perintah untuk menunda operasional bisnis, atau hukuman penjara. Sedikit berbeda, di California, para pejabat menyampaikan bahwa terdapat tekanan sosial yang kuat pada masing-masing individu untuk mematuhinya.

 

Perluasan Pengujian COVID-19

Amerika Serikat masih mengalami kendala dalam perluasan pengujian COVID-19, khususnya pada Januari sampai awal Maret. Dikutip dari covidtracking.com, hanya ada kurang dari 50 pengujian per hari dilakukan hingga 3 Maret, sangat jauh dibandingkan pengujian yang dibutuhkan sekitar 100.000 per hari. Target kebutuhan tersebut baru dapat terpenuhi setelah 27 Maret setelah adanya perubahan kebijakan pengujian. Kendala tersebut berakar pada tidak konsistennya pemerintah federal (CDC dan Food and Drug Administration (FDA)) dalam hal siapa yang berhak melaksanakan pengujian, siapa yang berhak mendapatkan pengujian, dan ketercukupan alat pengujian.

Pada Januari, CDC menyiapkan detail pengujian yang mereka lakukan sendiri, sementara Food and Drug Administration (FDA) hanya mengizinkan laboratorium melakukan pengujian dengan alat yang dibuat oleh CDC. Secara garis besar CDC mengembangkan alat pengujian, melakukan banyak pengujian, dan mendistribusikan perangkat pengujian ke laboratorium negara bagian. Selain itu, CDC menyampaikan pedoman terbatas untuk orang yang dianggap memenuhi syarat untuk pengujian yaitu hanya mereka yang sempat bepergian ke Wuhan atau mereka yang melakukan kontak dengan orang yang terinfeksi. FDA juga menetapkan CDC sebagai Emergency Use Authorization (UEA) yang berimplikasi pada laboratorium tidak diperkenankan mengembangkan pengujian sampai mereka menerima izin khusus dari CDC.

Washington Post melaporkan bahwa pendistribusian alat uji yang diproduksi CDC ke laboratorium negara bagian pada 6 dan 7 Februari. Akan tetapi, beberapa laboratorium memiliki masalah dengan tes tersebut. Lebih lanjut, pada 12 Februari, CDC mengumumkan bahwa tes tersebut memberikan hasil yang tidak meyakinkan. Sayangnya, pada minggu berikutnya pejabat kesehatan masyarakat setempat menyatakan bahwa COVID-19 telah menyebar di masyarakat dan menjadi endemi. Namun, CDC tetap memperingatkan laboratorium untuk tidak menguji tanpa izin darurat dari FDA. Selanjutnya, pada 24 Februari, laboratorium kesehatan negara bagian membuat permohonan yang tidak biasa bagi lembaga tersebut untuk membuka pengujian.

Pada 3 Maret, pembatasan siapa yang memenuhi syarat untuk pengujian dihilangkan. CDC kemudian membagi prioritas pengujian pasien yang diduga terinfeksi COVID-19 ke dalam empat kategori yaitu prioritas 1, prioritas 2, prioritas 3, dan non-prioritas. Meski CDC memiliki pedoman untuk siapa yang seharusnya dites, akan tetapi keputusan tentang pengujian adalah kebijaksanaan Departemen Kesehatan Masyarakat di negara bagian dan lokal dan/atau dokter individu.

 

US Ilustration2

Prioritas pengujian pasien yang diduga terinfeksi COVID-19 (cdc.gov)

 

Selain itu, pencabutan pembatasan pelaksanaan uji pada laboratorium (29 Februari) membuka akses bagi laboratorium swasta untuk melakukan pengujian mengingat kebutuhan akan uji sangat tinggi. NBC News menulis bahwa 85 persen dari pengujian COVID-19 di Amerika Serikat dilakukan oleh laboratorium swasta. Hingga 17 April 2020, sudah ada 3.557.493 pengujian yang dilakukan di Amerika Serikat. Meningkatnya jumlah pengujian karena laboratorium swasta memiliki kapasitas uji yang lebih besar, bahkan ada yang mencapai 35.000 pengujian per hari. Jumlah itu jauh lebih besar dibandingkan jika hanya mengandalkan laboratorium pemerintah yang hanya mampu menguji pada kisaran 300 – 15.000 orang per hari. Peningkatan jumlah orang yang mendapatkan pengujian ini terjadi juga karena laboratorium swasta menerima pengujian bagi orang yang tidak masuk kriteria prioritas sesuai protokol CDC. Meski demikian, laboratorium swasta masih mengalami kendala yaitu tidak adanya dana untuk laboratorium guna mendukung pengujian COVID-19 secara lebih luas dalam paket stimulus pemerintah federal menurut American Clinical Laboratory Association (ACLA).

 

Peningkatan Kapasitas Medis

Upaya peningkatan kapasitas medis di Amerika Serikat dalam merespon pandemi COVID-19 masih terus dilakukan. Berdasarkan laporan berbagai media, kendala seperti kurangnya kapasitas rumah sakit dalam menghadapi berbagai skenario moderat hingga terburuk, banyaknya tenaga medis yang terinfeksi dan bahkan meninggal dunia, serta kelangkaan alat pelindung diri (APD) bagi tenaga medis masih terjadi hingga sekarang.

Kurangnya kapasitas rumah sakit seperti halnya disampaikan oleh Gubernur Cuomo dalam keterangan pers bahwa New York tidak akan siap mengatasi skenario terburuk dari permodelan yang dibuat oleh beberapa lembaga penelitian. Hal ini mengacu kepada kapasitas tempat tidur rumah sakit di seluruh negara bagian New York hanya sekitar 53.000. Kapasitas tersebut jauh lebih rendah dibandingkan kebutuhan berdasarkan skenario moderat dan terburuk yang berada di kisaran 55.000 hingga 136.000 tempat tidur. Oleh karena itu, Gubernur Cuomo meminta pemerintah federal untuk mengizinkan penggunaan Convention Center: Javits Center dengan bantuan dari tim militer.

Di samping itu, banyak tenaga medis yang bekerja lebih dari shift yang wajar, sehingga menyebabkan kelelahan dan kemungkinan daya tahan tubuh menurun. Terlebih, sebagian dari mereka (baik dokter, perawat, maupun responden pertama) terinfeksi bahkan meninggal akibat COVID-19. Oleh karena itu, beberapa negara bagian mulai meminta kelompok tenaga medis sukarela dan juga pensiunan untuk mengatasi kekurangan tersebut. Kelompok seperti the MAVEN Project (organisasi non-provit) ini mendapatkan pedoman dari American Medical Association (AMA) tentang informasi yang dibutuhkan untuk mendukung masyarakat yang terdampak COVID-19.

Sementara itu, keterbatasan alat pelindung diri direspon oleh FDA dengan memberikan instruksi kepada produsen mengimpor peralatan pelindung diri dan perangkat medis lain yang dibutuhkan. FDA memberikan fleksibilitas maksimum kepada mereka yang bermaksud membawa APD ke Amerika Serikat, termasuk untuk terlibat dengan importir guna meminimalkan gangguan selama proses impor. Sebelumnya, pada Januari dan Februari, perusahaan Amerika Serikat banyak mengekspor masker operasi, ventilator, dan peralatan pelindung pribadi ke beberapa negara dengan mayoritas permintaan dari China (senilai US$271.000). Ironisnya, Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat juga mendonasikan 17,8 ton peralatan medis ke China pada Februari. Tercatat jumlah kasus positif hingga akhir Februari sebanyak 18 orang dengan kapasitas pengujian kurang dari 20 orang per hari. Keputusan tersebut masih menuai kecaman masyarakat di media sosial karena pemerintah dianggap gagal dalam mengantisipasi melonjaknya kebutuhan penduduk Amerika Serikat. (angga)

 

 

Referensi

ABC News. 9 April 2020. “Timeline: How coronavirus got started” https://abcnews.go.com/Health/timeline-coronavirus-started/story?id=69435165 Diakses pada 10 April 2020.

Aljazeera. 3 April 2020. “US doctors, nurses on coronavirus front line beg for critical PPE” https://www.aljazeera.com/indepth/features/doctors-nurses-coronavirus-front-line-beg-critical-ppe-200403183125090.html Diakses pada 16 April 2020.

American Medical Association (AMA). Diperbaharui 14 April 2020. “COVID-19 volunteer guide for health care professionals” https://www.ama-assn.org/delivering-care/public-health/COVID-19-volunteer-guide-health-care-professionals Diakses pada 15 April 2020.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC). 2020. “COVID-19 Testing Priorities.” https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/downloads/priority-testing-patients.pdf Diakses pada 15 April 2020.

Food and Drug Administration (FDA). 24 Maret 2020. “FDA Statement. Coronavirus (COVID-19) Update: FDA takes action to increase U.S. supplies through instructions for PPE and device manufacturers” https://www.fda.gov/news-events/press-announcements/coronavirus-COVID-19-update-fda-takes-action-increase-us-supplies-through-instructions-ppe-and Diakses pada 14 April 2020.

NBC News. 8 April 2020. “Private labs do 85 percent of U.S. COVID-19 tests but still struggle with backlogs, shortages” https://www.nbcnews.com/health/health-news/private-labs-do-85-percent-u-s-COVID-19-tests-n1177866 Diakses pada 16 April 2020.

NBC News. 9 April 2020. “Live: NY Gov. Andrew Cuomo Holds Coronavirus Briefing | NBC News” https://www.youtube.com/watch?v=zvlOJKznO40 Diakses pada 9 April 2020.

The Atlantic. 31 Maret 2020. “Why There’s No National Lockdown: Enforcing a large-scale quarantine would be legally murky, even if it’s what the country needs to slow the spread of the coronavirus.” https://www.theatlantic.com/ideas/archive/2020/03/why-theres-no-national-lockdown/609127/ Diakses pada 13 April 2020.

The COVID Tracking Project. 2020. “US Historical Data” https://covidtracking.com/data/us-daily Diakses pada 17 April 2020.

The Cut. Diperbaharui 17 April 2020. “Shelter-in-Place and Stay-at-Home Orders: What They Mean” https://www.thecut.com/article/what-does-shelter-in-place-mean.html Diakses pada 13 April 2020.

The Washington Post. 30 Maret 2020. “What went wrong with coronavirus testing in the U.S.” https://www.washingtonpost.com/politics/2020/03/30/11-100000-what-went-wrong-with-coronavirus-testing-us/ Diakses pada 8 April 2020.

USA Today. 3 April 2020. “U.S. exported millions in masks and ventilators ahead of the coronavirus crisis”https://www.usatoday.com/story/news/investigations/2020/04/02/us-exports-masks-ppe-china-surged-early-phase-coronavirus/5109747002/ Diakses pada 15 April 2020.

White House. 27 Maret 2020. “President Donald J. Trump Is Providing Economic Relief to American Workers, Families, and Businesses Impacted by the Coronavirus.” https://www.whitehouse.gov/briefings-statements/president-donald-j-trump-providing-economic-relief-american-workers-families-businesses-impacted-coronavirus/. Diakses pada 10 April 2020.

Latest Update

 
Mar 15, 2022

Rempah, Alat Niaga Pendorong Pertemuan Lintas Bangsa

News Humas BRIN
Dec 31, 2021

Perdagangan Indonesia-Uni Eropa: Studi Kasus Hambatan Ekspor Ikan Tuna Indonesia ke Uni Eropa

Opinions Catherina Henderson*
Dec 31, 2021

Sejarah Perbatasan di Asia Tenggara: Mengupas Pengelolaan Perbatasan Di Vietnam

Opinions Lamijo
Dec 31, 2021

Ethiopia 2020–2021: Mengulang Masa Kelam Perpecahan Etnis

Opinions Angela Iban
Dec 28, 2021

Kota-Kota Perbatasan di Asia Tenggara: Arti Penting Kota Perbatasan Mong Cai bagi Vietnam

Opinions Lamijo

dokinfosimpegintra lipiepenelitiBanner KIP

Privacy Policy Legal Disclaimer « ISSN 2086-5309 » ContactCopyright © 2022 Research Center for Regional Resources - Indonesian Institute of Sciences (P2SDR-LIPI)
Opinions