
Promosi makanan tradisional Indonesia di Marseille (Sumber: The Jakarta Post)
Artikel ini bertujuan untuk memperlihatkan pentingnya pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) digital bagi diaspora Indonesia dalam rangka meningkatkan gastrodiplomasi Indonesia di luar negeri. Artikel ini juga sebagai rekomendasi bagi para diaspora Indonesia di luar negeri untuk sama-sama menjadi pelaku usaha dalam rangka meningkatkan citra dan perekonomian bangsa, serta memperkenalkan citra Indonesia kepada masyarakat internasional melalui gastronomi. Di zaman modern seperti sekarang, setiap negara dihadapkan dengan berbagai tantangan dan permasalahan kontemporer, di mana semua itu tidak bisa diselesaikan dengan cara-cara konvensional. Seperti halnya dengan membina hubungan baik antarnegara dan meningkatkan peluang kerja sama dalam berbagai sektor, soft diplomacy dapat menjadi solusi kontemporer dalam menciptakan perdamaian di kancah internasional. Salah satunya adalah dengan gastrodiplomasi di mana, dalam tulisan ini, diaspora menjadi salah satu komponen dalam membantu perkenalan makanan khas Tanah Air kepada masyarakat di luar negeri. UMKM sendiri bisa dimanfaatkan oleh para diaspora untuk membangun usaha kulinernya dengan dukungan teknologi digital. UMKM yang dibangun diaspora Indonesia sendiri akan lebih mudah daripada harus membangun restoran yang notabene membutuhkan surat izin usaha dan bangunan dari pemerintah setempat, administrasi yang memerlukan biaya tinggi, serta regulasi ketat yang harus dipatuhi oleh pelaku usaha. Penggunaan UMKM Go-Digital sendiri bisa menjadi solusi bagi setiap pelaku usaha untuk mendirikan usaha kuliner Nusantara di luar negeri. Artikel ini juga bertujuan untuk melihat upaya pemberdayaan diaspora Indonesia dengan UMKM digital dalam rangka meningkatkan citra dan pertumbuhan ekonomi melalui gastrodiplomasi di luar negeri. Salah satu studi kasus dalam tulisan ini adalah negeri Belanda sebagai negara potensial untuk pengembangan UMKM berbasis digital dengan melihat banyaknya diaspora Indonesia yang tinggal di sana.
UMKM Go-Digital
UMKM merupakan sebuah praktik usaha yang populer di kalangan masyarakat masa kini. UMKM merupakan salah satu roda penggerak perekonomian negara dan menyejahterakan rakyat kecil hingga menengah (Haryanti, 2019). Karakteristik dari sebuah UMKM yang saat ini ada di Indonesia, yaitu tidak membutuhkan biaya modal yang tinggi seperti halnya membuat suatu perusahaan besar, sehingga dalam pendirian usahanya tidak sesulit yang dibayangkan. Selain itu, tenaga kerja yang diperlukan tidak membutuhkan staf atau pekerja yang ahli di bidangnya, serta sebagian besar berlokasi di tempat-tempat yang tidak memerlukan infrastruktur (bangunan) sebagaimana perusahaan-perusahaan besar lakukan (Sarfiah 2019, 141). Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah, Teten Masduki, mengatakan bahwa UMKM Tanah Air masih tertinggal jika dibandingkan dengan negara-negara lain, di mana saat ini baru sekitar 14,5% produk UMKM Indonesia yang telah tembus ke pasar internasional, jauh dibandingkan dengan salah satu negara tetangga kita, Thailand, yang sudah mencapai 30% (Nua, 2019). Hingga saat ini, UMKM Indonesia masih dikembangkan di dalam negeri saja. Namun sudah ada upaya menjadikan UMKM Indonesia Go-International melalui salah satu perusahaan dalam negeri, yaitu Digital Energy Asia (DEA) dan dibantu oleh pemerintah Indonesia. Hingga saat ini, belum ada pelaku usaha UMKM Indonesia yang membangun usahanya di luar negeri. Kebanyakan dari mereka masih dalam tahap mempromosikan UMKM Indonesia yang ada di dalam negeri kepada masyarakat internasional, sementara jika mereka membuka UMKM langsung di tempat mereka tinggal (domisili mereka), maka akan memiliki prospek serta penghasilan yang cukup menjanjikan seperti halnya yang sudah dilakukan oleh diaspora Indonesia di Jeddah, Arab Saudi. Walaupun upaya tersebut masih berbasis retail dan menjual barang hasil jadi yang diproduksi di Indonesia. Pembangunan UMKM di Arab Saudi ini berdasarkan inisiasi Kementerian Perdagangan bersama dengan platform digital Indomatjar, perusahaan logistik Goorita, dan Indonesia Chef Saudi Association (ICSA) yang telah menandatangani nota kesepahaman sebesar US$5 juta untuk ekspor produk makanan, minuman, serta kebutuhan sehari-hari secara retail kepada diaspora Indonesia (Timorria, 2021). Diaspora Indonesia di Jeddah, Arab Saudi, telah terbantu biaya kehidupannya dengan dibentuknya UMKM berbasis retail walaupun sempat terpukul oleh kondisi pandemi. Selain itu, ditambah dengan peran mereka sebagai agen diplomasi negara dan pemanfaatan teknologi yang ada akan meningkatkan citra bangsa Indonesia untuk lebih dikenal oleh masyarakat Internasional melalui pandangan identitas yang disampaikan oleh cita rasa masakan Indonesia.
UMKM Go-Digital sedang dalam tahap pengembangan di Indonesia. Para pelaku UMKM dapat membuat marketplace sendiri dari usaha yang mereka bangun tanpa harus membeli atau menyewa tempat atau bangunan. Setiap pelaku usaha cukup memiliki kemampuan menggunakan teknologi digital, kemampuan untuk menjadi pelaku usaha, serta dapat memanfaatkan rumah masing-masing sebagai tempat produksi (production house) dalam bidang kuliner. UMKM Go-Digital juga dapat menjadi solusi terutama pada masa pandemi COVID-19, di mana mobilitas masyarakat harus dibatasi untuk mengurangi penyebaran. Ditambah dengan sifat manusia zaman sekarang yang serbainstan dan menginginkan segala sesuatu dilakukan dengan cepat, termasuk dalam hal pembuatan dan pemesanan makanan. Usaha yang dibuat secara ringkas, mudah, dan berbasis digital dapat dengan mudah dipelajari oleh masyarakat zaman modern seperti sekarang, di mana teknologi digital berperan penting dalam setiap aspek kehidupan manusia.
UMKM Go-Digital Indonesia sendiri masih belum terbentuk di luar negeri, tetapi sudah ada yang menginisiasi walaupun belum secara pasti, salah satunya, yaitu sosialisasi pembentukan UMKM diaspora Indonesia di Jeddah, Arab Saudi. KJRI Jeddah pada tanggal 4 Oktober 2021 telah mendukung adanya pembentukan dan pengembangan UMKM Indonesia di luar negeri tetapi masih sebatas pelatihan usaha bagi para pengusaha Indonesia yang berada di Jeddah. Tujuan dari dilakukannya sosialisasi ini agar para diaspora dapat membantu untuk mempromosikan produk-produk Indonesia dan mereka dapat memperoleh modal untuk membuat UMKM sekembalinya ke Indonesia. KJRI Jeddah juga mengimbau agar setiap pelaku UMKM Indonesia di Arab Saudi untuk tetap meningkatkan kualitas produk yang dijual serta taat terhadap hukum atau regulasi setempat (Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, 2021).
Potensi Penguatan Gastrodiplomasi Indonesia di Belanda Melalui UMKM Digital
Hubungan Indonesia dengan Belanda sudah berlangsung selama ratusan tahun, sejak masa kolonialisme hingga sekarang. Hubungan Indonesia dengan Belanda semakin erat setiap harinya dengan adanya kerja sama dari berbagai sektor dan banyaknya masyarakat Indonesia yang berdiaspora ke Belanda. Mulai dari pelajar, mahasiswa, pekerja profesional, TKI, wisatawan, WNA ex-WNI, hingga ex-KNIL yang tinggal sementara atau menetap secara permanen. KNIL (Koninklijk Nederlands Indische Leger) atau bisa disebut juga dengan orang-orang Maluku yang tergabung ke dalam Militer Belanda pada masa kolonialisme, dimana mereka juga merupakan diaspora yang terbentuk akibat adanya konflik dengan pemerintah Belanda pascakolonialisme (Amersfoort, 2007). Hal ini menjadikan diaspora Indonesia sebagai salah satu etnis minoritas terbesar dengan jumlah populasi sebesar 1,7 juta jiwa, atau 10% dari jumlah total penduduk di Belanda (Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, 2021). Dengan banyaknya diaspora Indonesia di Belanda, hal ini bisa dimanfaatkan oleh pemerintah Indonesia untuk menggerakan setiap diaspora yang ada untuk memperkenalkan masakan daerahnya dengan membuka usaha kuliner di tempatnya masing-masing. Ditambah dengan kedekatan hubungan budaya antara Indonesia dan Belanda, di mana masyarakat Belanda sudah mengenal budaya Indonesia dengan baik sebagai salah satu eks koloninya.
Gastrodiplomasi Indonesia di Belanda hingga saat ini kebanyakan masih diinisiasi oleh perwakilan Indonesia di Belanda, terutama oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia di Belanda, yang dibuat dalam bentuk pameran, festival, lokakarya, hingga kompetisi memasak. Tetapi hal itu rupanya masih belum cukup untuk menjangkau masyarakat Belanda yang ada di kota-kota kecil, terlepas masih perlu adanya pembenahan untuk kota-kota besar di Belanda seperti Amsterdam, Den Haag, dan yang lainnya. Strategi gastrodiplomasi Indonesia di Belanda masih belum mumpuni karena belum memberdayakan diaspora Indonesia secara penuh. Jika berkaca dengan negara-negara lain seperti Thailand, mereka telah memiliki strategi gastrodiplomasi yang mumpuni sehingga soft diplomacy mereka berhasil. Pemberdayaan diaspora melalui UMKM Go-Digital dapat menjadi terobosan baru untuk penguatan gastrodiplomasi Indonesia di Belanda mengingat adanya potensi dengan banyaknya diaspora Indonesia di Belanda.
Hingga saat ini, belum ada masyarakat Indonesia yang membuat UMKM di luar negeri, tetapi dalam membentuk UMKM terbilang lebih mudah daripada membuat usaha restoran secara utuh. Seorang pelaku usaha perlu untuk membuat Izin Usaha Mikro Kecil (IUMK) jika di Indonesia (Catriana, 2021), tetapi jika di luar negeri perlu untuk menanyakan perwakilan Indonesia di Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk membahas regulasi terkait pembukaan usaha berbasis UMKM di negara tersebut. Pelaku UMKM yang memiliki izin tidak hanya memiliki kepastian hukum yang jelas, tapi juga berkesempatan untuk mendapatkan fasilitas atau bantuan dari pemerintah setempat bila ada. Dalam menjadikan UMKM Go-Digital, para pelaku usaha cukup untuk mendaftarkan badan usahanya pada marketplace yang tersedia di negara setempat, yang dalam kasus ini adalah Belanda. Salah satu online marketplace yang cukup terkenal, contohnya adalah Thuisbezorgd.nl. Thuisbezorgd merupakan sebuah perusahaan yang mengkhususkan diri dalam pemesanan makanan daring dan pengiriman ke rumah, di mana layanan ini merupakan portal daring antara pengguna dan restoran tempat pelanggan dapat memesan makanan secara daring dari menu restoran yang tersedia secara daring serta mengirimkannya ke rumah mereka melalui jasa kurir yang tersedia (European Data Portal, 2021). Setelah itu, para pelaku cukup untuk menerima pesanan dan dapat membuat makanan tersebut dari rumah atau tempat tinggal masing-masing.
Para pelaku UMKM di luar negeri tersebut dapat dengan mudah memperkenalkan citra makanan Indonesia kepada masyarakat Belanda melalui makanan khas Indonesia yang mereka jual. Disinilah peran gastrodiplomasi berjalan, masyarakat Belanda akan semakin mengenal makanan khas Indonesia, meningkatkan eksistensi dan pandangan baik masyarakat Belanda terhadap Indonesia, serta meningkatkan perekonomian masyarakat Indonesia yang ada di Belanda. Para pelaku usaha juga dapat meningkatkan perekonomian keluarga mereka yang tinggal di Indonesia dengan mengirimkan uang hasil penjualan mereka kepada keluarga atau kerabat mereka (remitansi), dengan ini harapannya tingkat kesejahteraan masyarakat Indonesia dapat meningkat. Penguatan peran gastrodiplomasi Indonesia di Belanda juga dapat membantu merek bangsa yang kurang dikenal untuk dapat menarik lebih banyak perhatian dari masyarakat setempat terutama dalam bidang kuliner. Hal ini juga secara tidak langsung dapat meningkatkan soft power Indonesia di Belanda.
Peluang, Tantangan, dan Manfaat dalam Membangun UMKM Digital di Luar Negeri
UMKM di Tanah Air sendiri sekarang sedang dalam proses digitalisasi walaupun masih belum sempurna. Membangun UMKM digital di luar negeri menjadi tantangan tersendiri bagi diaspora Indonesia karena sudah melewati lintas batas negara dan memiliki peraturan tersendiri. Dibutuhkan kemauan, kerja keras, kompetensi yang mumpuni, baik dari pemerintahan maupun setiap individu yang terlibat sebagai pelaku usaha. Peluang untuk membangun UMKM digital di luar negeri sangatlah besar, mengingat manfaat yang diterima juga akan besar, baik dari citra Indonesia sendiri yang akan semakin dikenal oleh bangsa asing, ditambah peningkatan perekonomian masyarakat yang dapat mengurangi angka kemiskinan. Peluang lainnya, yaitu UMKM Indonesia berbasis kuliner terkhusus makanan khas/tradisional Indonesia masih belum banyak, karena sebagian besar berasal dari masyarakat negara setempat, ataupun produk UMKM Indonesia yang diimpor dari Indonesia dalam bentuk barang jadi. Usaha makanan tradisional Indonesia sudah ada seperti katering kecil-kecilan yang menjual makanan khas Indonesia tetapi masih belum terintegrasi dengan baik dan perlu dilakukan digitalisasi dalam proses pemesanannya dengan mendaftarkan diri ke salah satu food marketplace yang tersedia di negara setempat. Hal ini merupakan peluang peningkatan gastrodiplomasi Indonesia dengan memicu ketertarikan dari masyarakat lokal atas terbentuknya UMKM berbasis kuliner dari luar negeri, terutama Indonesia. Gastrodiplomasi sendiri menggunakan “rasa” untuk meningkatkan kesadaran akan keunikan budaya suatu bangsa, mulai dari ketertarikan dari masyarakat setempat, hingga mencoba rasa masakan khas suatu negara. “Rasa” itu sendiri terlihat sebagai hal yang fantastis dan terbukti sangat terkait dengan memori emosional, sehingga gastrodiplomasi dapat efektif karena adanya media koneksi yang disaring melalui lensa antropologis dan sosiologis Proustian yang menghubungkan indera perasa dan penciuman ke area emosi dan memori. Fenomena Proustian menunjukkan bahwa “rasa” dan “bau” terlihat rapuh tetapi lebih tahan lama, seperti jiwa dalam diri, tersimpan di dalam memori. (Rockower 2020, 207).
Dalam rangka meningkatkan efektivitas gastrodiplomasi ini, perlu dimasukkan peran teknologi digital, yaitu dengan menjadikan UMKM Go-Digital bagi bisnis kuliner Indonesia di luar negeri. Teknologi digital akan mempermudah masyarakat dalam memesan makanan secara daring, dapat menekan harga, serta menghemat waktu dan tenaga, dengan ini peran gastrodiplomasi dalam memperkenalkan makanan Indonesia dan mendapatkan persepsi yang baik dari masyarakat setempat dapat terwujud. Selain itu, setiap pelaku UMKM perlu untuk melakukan segmentasi pasar dalam menawarkan produk, memanfaatkan kerjasama dengan para pelaku UMKM yang lain, adanya otomasi, mampu beradaptasi dalam berbagai kondisi dan dapat melakukan penyesuaian, serta melakukan investasi terhadap diri sendiri untuk meningkatkan perekonomian pasar (Rachmawati 2021, 118-119). Tantangan lainnya adalah bahwa segala proses pembentukan UMKM digital internasional ini masih belum ada, sehingga masih belum ada regulasi atau langkah-langkah khusus yang dapat dilakukan oleh diaspora Indonesia. Diaspora Indonesia juga masih harus belajar bagaimana cara membangun dan membina wirausaha secara UMKM itu sendiri, ditambah dengan melakukan penyesuaian terhadap perkembangan teknologi digital yang banyak dipakai di negara maju. Diaspora Indonesia di luar negeri dan pemerintah Indonesia di negara terkait juga harus saling bekerja sama untuk dapat merealisasikan ide ini, mengingat peluang dan manfaat yang besar dari pembentukan sebuah UMKM, karena akan membantu banyak pihak, baik dari diaspora itu sendiri maupun pemerintahan Indonesia.
Kesimpulan dan Rekomendasi
Pemberdayaan diaspora Indonesia di luar negeri secara efektif sangat dibutuhkan dalam rangka mempromosikan citra bangsa melalui bidang kuliner dengan dilakukannya gastrodiplomasi. Pada masa ini pula, manusia tidak bisa lepas dari perkembangan teknologi, sehingga perlu ada penyesuaian dari setiap bidang usaha yang dilakukan agar dapat bersaing. UMKM sendiri merupakan sebuah jenis usaha yang mudah untuk dipahami dan dilakukan karena termasuk usaha skala mikro hingga menengah, serta ditambah kemajuan teknologi, maka akan mempermudah transaksi jual-beli. Dalam meningkatkan peran gastrodiplomasi Indonesia, kebanyakan masyarakat dunia sekarang lebih memilih segala sesuatu yang instan dan cepat, tetapi tetap memperhatikan kualitas. Membangun restoran membutuhkan modal yang besar, izin, serta harus memperhatikan regulasi yang cukup ketat, sehingga UMKM bisa menjadi solusi karena bisa dilakukan di tempat tinggal masing-masing tanpa harus membuka restoran secara dine in. Terdapat berbagai peluang dan tantangan dalam membangun UMKM Indonesia di luar negeri, mengingat sampai saat ini Indonesia masih dalam tahap Go-International untuk produk-produk dalam negeri yang diimpor ke berbagai negara di dunia. UMKM Indonesia di luar negeri masih dalam tahap penyesuaian dan pembangunan, serta masih belum ada tahapan serta regulasi yang sesuai tentang bagaimana cara membangun UMKM oleh diaspora langsung di negara tempat mereka berada. Kemudahan dalam mempromosikan kuliner khas Indonesia bisa meningkatkan tujuan dari dilakukannya gastrodiplomasi, yaitu untuk meningkatkan citra Bangsa Indonesia melalui cita rasa makanan yang khas, meningkatkan nation branding negara, serta mengkomunikasikan budaya kuliner Indonesia kepada masyarakat internasional dengan cara yang lebih holistik dan tidak hanya berada di ruang lingkup pemerintahan atau kegiatan formal saja, di mana dapat mempengaruhi khalayak umum yang lebih luas daripada elit tingkat tinggi.
Rekomendasi yang ditawarkan yaitu dengan adanya kerja sama antara pemerintah Indonesia, baik di Indonesia dengan perwakilannya di negara setempat, bersama dengan diaspora Indonesia di luar negeri. Pemerintah sebaiknya juga terus mendukung dan menyukseskan perkembangan teknologi digital dalam bidang food marketplace di luar negeri agar bisa memfasilitasi diaspora Indonesia yang akan membuka UMKM di luar negeri. Tujuan utama melakukan promosi kuliner khas Indonesia di luar negeri menggunakan jenis UMKM yaitu untuk mempermudah masyarakat Indonesia dalam membangun usaha, dengan menekan biaya produksi dan tidak perlu menyewa tempat untuk membangun restoran. Diaspora Indonesia sendiri juga harus mengenal dengan baik setiap makanan khas di daerahnya maupun makanan khas Indonesia yang sudah mendunia, seperti Rendang, Gado-gado, Sate, dan yang lainnya. Selain itu, diaspora Indonesia harus mau belajar untuk terus mengikuti perkembangan teknologi serta memiliki kemampuan untuk berwirausaha. Diaspora Indonesia juga perlu mengenal dengan baik regulasi maupun peraturan negara setempat dalam membangun usaha agar tidak mengalami masalah, terutama bagi negara-negara yang memiliki regulasi maupun peraturan ketat baik dalam usaha maupun makanannya itu sendiri. (*)
*Andrew Michael Effendi adalah mahasiswa magang di Pusat Riset Kewilayahan - BRIN. Saat ini sedang menempuh studi sarjana jurusan Ilmu Hubungan Internasional di Universitas Kristen Indonesia (UKI)
Referensi
Amersfoort, V. (2007). The Waxing and Waning of a Diaspora: Moluccans in the Netherlands, 1950-2002. Journal of Ethnic and Migration Studies, 30(1), 151-174
Catriana, E dan Yoga S. (2021). Ini Cara Membuat Izin Usaha Mikro Kecil atau UMKM. Kompas.com, Smarpreneur. Diakses November 17, 2021. https://money. kompas.com/read/2021/02/22/151948726/ini-cara-membuat-izin-usaha- mikro-kecil-atau- umkm?page=all
European Data Portal. (2021). Thuisbezorgd Application & Website. Diakses November 25, 2021. https://data.europa.eu/sites/default/files/use-cases/the_netherlands_-_thuisbezorgd.pdf
Haryanti, Dewi M dan Isniati H. (2019). Potret UMKM Indonesia: Si Kecil yang Berperan Besar. Diakses November 17, 2021. https://www.ukmindonesia.id/baca-artikel/62.
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. (2021). Diaspora Indonesia di Belanda Semangat “Bangun Negeri via Investasi”. Diakses November 29, 2021.. https://kemlu.go.id /thehague/id/news/15033/diaspora-indonesia-di-belanda-semangat-bangun-negeri-via-investasi
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. (2021). Dukung UMKM Indonesia di Arab Saudi, KJRI Jeddah Gelar Pelatihan Pengembangan Kewirausahaan. Diakses November 25, 2021.https://kemlu.go.id/portal/id/read/3014/berita/dukung-umkm-indonesia-di-arab-saudi-kjri-jeddah-gelar-pelatihan-pengembangan-kewirausahaan.
Nua, F. (2019). UMKM RI Masih Tertinggal dari Negara Lain. Diakses 17 November 2021. https://mediaindonesia.com/ekonomi/277917/umkm-ri-masih-tertinggal-dari-negara-lain
Rachmawati, Mariana, dkk. (2021). Menciptakan UMKM Unggul dan Terstandarisasi dalam Memasuki Pasar Global. Jurnal Pengabdian Dharma Laksana Mengabdi Untuk Negeri, 118-119
Rockower, Paul. (2020). A Guide to Gastrodiplomacy.” Dalam Routledge Handbook of Public Diplomacy Second Edition, di edit oleh Nancy Snow dan Nicholas H. J. Cull, 207. New York and Oxon: Routledge
Sarfiah, Sudati N, dkk. (2019). UMKM Sebagai Pilar Membangun Ekonomi Bangsa. Jurnal Riset Ekonomi Pembangunan, 141.
Pinandita, Apriza. (2019). Gastrodiplomacy: Indonesia wants to advance soft power with good taste. The Jakarta Post. Diakses 2 Desember 2021.
Timorria, Lim F. (2021). Ada Hambatan Selama Pandemi, UKM Bisa Secara Ritel ke Arab Saudi. Bisnis.com, Ekonomi.bisnis.com. Diakses 25 November 2021. https://ekonomi. bisnis.com/read/20211108/12/1463569/ada-hambatan-selama-pandemi-ukm-bisa-ekspor-secara-ritel-ke-arab-saudi