
Ilustrasi perdagangan digital (creativemarket.com/2020)
Siapa yang tidak kenal dengan Tokopedia, Shopee, dan Lazada? Sejumlah e-commerce tersebut telah mengubah cara jual beli pada era digital 4.0. Sekarang proses jual beli dapat dilakukan dengan sentuhan jari dan dalam hitungan detik saja. Modal utama dari berjalannya e-commerce adalah internet. Internet sudah dikenal masyarakat Indonesia sejak 1988. Saat ini Indonesia menduduki posisi kelima dalam penggunaan internet terbesar didunia (Databoks 2019). Ini dikarenakan ada 171,17 juta jiwa yang telah mengakses internet di Indonesia (Kompas 2019). Tak heran jika kita sering melihat masyarakat Indonesia hampir di setiap menunduk dengan mata menatap layar seluler.
E-Commerce telah berkembang pesat di negara-negara seperti Amerika Serikat, Korea, India, dan Cina. Negara-negara tersebut sudah lebih dulu menggunakan dan tentunya sudah memiliki pengalaman lebih dalam memahami e-commerce. Selain itu, negara - negara tersebut juga telah mampu menciptakan iklim e-commerce yang bagus, seperti kenyamanan mengakses laman berbelanja, keamanan data, banyaknya pilihan barang, dan harga yang bersaing. Hal tersebut menjadi tolok ukur bagi Indonesia dalam mencoba mengembangkan sistem dan budaya kegiatan berbelanja melalui media digital tersebut.
Sisi Positif dan Negatif E-Commerce
Kelebihan dari hadirnya E-Commerce saat ini selain efisiensi waktu dan tempat, konsumen dapat mengetahui secara cepat kisaran harga barang yang akan dibeli. Ketika mencari produk yang sama pada laman e-commerce, konsumen disuguhkan dengan tipe barang yang sama tetapi dengan harga berbeda. Dalam membangun kepercayaan agar memiliki banyak pelanggan, para penjual menuliskan spesifikasi barang dengan rinci pada kotak deskripsi Semakin lengkap informasi yang ditulis, tingkat kepercayaan pembeli akan semakin tinggi. Dari keterangan yang terletak pada kotak deskripsi tersebut, masyarakat dapat memahami produk terlebih dahulu sebelum membeli. Selain kotak deskripsi, kepercayaan pembeli terletak pada feedback pembeli lain yang memberi rating serta komentar singkat tentang penilaian terhadap barang yang dibeli maupun pelayanan yang diberikan oleh toko daring.
Kekurangan e-commerce adalah barang yang akan dibeli hanya bisa dilihat secara virtual saja. Beberapa oknum menyalahgunakannya dengan mengunggah foto barang yang jauh berbeda dengan bentuk aslinya. Selain itu, masih banyak orang yang menolak berbelanja virtual karena tidak bisa menggunakan gawai. Kehadiran e-commerce juga mengancam eksistensi pasar tradisional, walaupun peminatnya masih cukup banyak.
Sesuai dengan judul artikel di atas, tulisan ini mengulas secara singkat bagaimana perkembangan e-commerce di Cina dan Indonesia. Kedua negara ini dipilih untuk pembahasan e-commerce karena kedua negara sama sama memiliki jumlah penduduk yang besar sehingga Indonesia dan Cina memiliki demand yang tinggi.
E-Commerce di Cina
Cina memiliki jumlah penduduk terpadat di dunia. Ini sebanding dengan pengguna internetnya yang mencapai 800 juta (Kompas 2018). Cina mengungguli Amerika Serikat yang selama ini selalu bertengger di peringkat teratas dalam penggunaan internet. Rata-rata pengguna internet di Cina berumur 15-35 tahun. Pada usia tersebut pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan hidup sangat besar. Hal ini menjadi keuntungan sendiri bagi perusahaan digital Cina dalam membangun e-commerce. Hal menarik dari e-commerce yang berkembang di Cina adalah karena terciptanya lingkungan industri yang berkembang dengan sangat pesat, Cina dapat memenuhi kebutuhan masyarakatnya sendiri. Cina dengan iklim perdagangan mereka yang bagus mampu memberikan inovasi berbelanja online yang baik kepada konsumen, baik dari sisi kenyamanan berbelanja, keamanan data, dan kemudahan akses informasi, mampu menjadikan Cina menjadi pasar digital terbesar di dunia pada 2018 (Digital Economy Compass Statista 2018). Fakta tersebut adalah prestasi terbesar Cina karena gaya berbelanja daring ini belum banyak dilirik oleh masyarakat Cina sekitar 2000an awal. “Sumber utama pertumbuhan ekonomi Cina yang fantastis adalah berasal dari faktor tenaga kerja dan bukan dari teknologi.” (Li 2001). Selain itu masyarakat Cina juga disuguhi oleh sistem cashless di mana mereka hanya membutuhkan smartphone serta ketersediaan jaringan internet untuk melakukan transaksi.
Peran e-commerce sangat besar untuk mendistribusikan barang ke daerah lain di dalam dan luar Cina. Lalu mereka juga memiliki sistem logistik yang maju. Sebuah artikel menuliskan kemajuan sistem infrastruktur yang sempat menjadi penghambat perkembangan e-commerce pada 2006 silam. Salah satu e-commerce yang mengembangkan infrastruktur logistiknya adalah JD.com (Antaranews 2018). Mereka menawarkan one day service dengan memanfaatkan teknologi drone untuk mengantarkan barang. Harga yang dikenakan sesuai dengan fasilitas yang didapat. Selain itu beberapa kebijakan unik juga diterapkan oleh e-commerce ini yaitu dengan mengirimkan barang pada alamat kedua jika barang tersebut akan dikirmkan pada siang hari. Setelah e-commerce yang mereka bangun berkembang pesat, mereka merambah bisnis offline store dengan bantuan smart system dan self service. Hal ini membuat konsumen menjadi tidak perlu berlama-lama lagi antre membayar barang belanjaan. Offline store ini pada umumnya dirancang untuk menjual berbagai macam barang harian dengan masa kedaluwarsa yang pendek.
Alibaba - Taobao
Alibaba Group adalah perusahaan B2B yang membawahi berbagai bidang bisnis yang dioperasikan melalui digital. Perusahaan yang dibuat pada 1999 oleh Jack Ma ini, berhasil menguasai pasar digital di 200 negara. Anak usaha Alibaba Grup mencakup bidang e-commerce, logistik, dan kecerdasaan buatan. Pada bidang e-commerce Alibaba Grup memiliki anak usaha yang bernama Taobao. Taobao merupakan perusahaan B2B (business to business) dan C2C (consumer to consumer) yang berdiri pada 2003. Saat ini, Taobao memiliki lebih dari 4000 “Taobao Village” yang berfungsi untuk memenuhi permintaan konsumen. Terciptanya “Taobao Village” saat ini telah mengubah perekonomian masyarakat Cina menjadi lebih baik daripada sebelumnya.
Tidak hanya membantu perputaran perekonomian dalam negeri, perusahaan Alibaba telah membantu banyak negara dalam perkembangan ekonominya. Mereka menggunakan live streaming yang ditayangkan pada aplikasi Taobao untuk mempromosikan barang yang dijual. Dengan banyaknya pengguna Tao Bao di seluruh dunia mereka berhasil menjual barang dalam kuota besar dengan waktu singkat. Salah satunya pemasaran 1,5 ton Rwandan Coffee milik petani asal Afrika dan berhasil terjual hanya dalam waktu 1 detik saja.
E-commerce di Indonesia
Hadirnya e-commerce membuat masyarakat Indonesia dapat merasakan sensasi baru dalam berbelanja. Menariknya e-commerce di Indonesia seringkali memberikan diskon-diskon bernilai cukup fantastis yang tentunya selalu berhasil menghipnotis masyarakat untuk memburu barang yang mereka inginkan. Memang, perkembangan e-commerce di negeri ini tidak terlalu signifikan seperti negara-negara lain yang telah lebih dulu melakukannya. Dari segi infrastruktur, sistem logistik belum secanggih negara lain karena barang yang dikirimkan akan sampai dalam 7 hari hingga 1 bulan. Tetapi belakangan ini e-commerce yang berkembang di negara kita telah mulai menawarkan one day service yang pelaksanaannya cukup baik. Perbedaan one day service di Cina dengan Indonesia hanya pada transportasi yang digunakan.
Namun Indonesia menjadi salah satu negara dengan pertumbuha e-commerce tercepat di dunia menurut Merchant Machine. Pada 2018, lembaga riset asal Inggris itu mencatat pertumbuhan e-commerce di Indonesia mencapai 78 persen. Rata – rata jumlah belanja konsumen di Indonesia pada e-commerce mencapai Rp3,19 juta per individu dan diproyeksikan akan bertamabah tiap tahunnya. E-commerce di Indonesia masih dikuasai oleh sektor fesyen dan kecantikan. Itu artinya, konsumen dari bisnis daring masih kebanyakan dari kalangan anak muda yang gemar fesyen dan merawat kecantikan diri.
Platform dalam berbelanja daring di Indonesia juga cukup beragam dan menawarkan ciri khas masing – masing. Tokopedia, perusahaan e-commerce milik Indonesia yang didirikan oleh William Tanuwijaya dan Leontinus Alpha Edison ini berupaya mencapai pemerataan ekonomi secara digital. E-commerce ini pernah mendapat suntikan dana sebesar US$1,1 miliar dari Alibaba Group milik Jack Ma pada Agustus 2017 silam. Dengan dana ini Tokopedia berhasil melebarkan sayapnya sehingga mendapat peringkat pertama sebagai e-commerce yang memiliki jumlah pengunjung web terbanyak yaitu 137 juta pengguna per bulan.
Seiring berjalannya waktu, e-commerce lain juga ikut meramaikan pasar ekonomi digital Indonesia.Tidak ingin kalah saing, Tokopedia cukup cepat membaca situasi dan berinovasi yaitu dengan melihat peminat K-Pop yang cukup banyak di berbagai belahan dunia. Tokopedia menjadikan boyband Korea, BTS (Bang Tan Boys) sebagai brand ambassadors. Sebagai teknik pemasaran, Tokopedia secara eksklusif menyediakan konten-konten mengenai BTS yang nantinya akan menarik perhatian para Army (sebutan untuk penggemar BTS).
Dengan adanya e-commerce membuat dunia perekonomian Indonesia berubah secara signifikan. Indonesia mau tidak mau harus terus mengembangkan infrastruktur digital serta daerah industrialisasi, agar mampu bersaing dengan negara yang sudah berpengalaman dalam hal ini. Jalannya pembangunan infrastruktur digital juga harus diimbangi dengan sosialisasi atau pendidikan yang diberikan kepada masyarakat agar inovasi ini dapat diterima dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Penutup
Dengan cepatnya arus perubahan dalam kehidupan, telah terjadi transformasi dari beberapa kebiasan lama manusia. Digitalisasi telah memberikan warna baru dalam kehidupan, termasuk dalam hal pemenuhan kebutuhan manusia, baik sandang, pangan, maupun papan. E-Commerce menjadi tren baru dalam kehidupan. Dengan mengandalkan smartphone kita sudah mampu untuk memilih dan menentukan barang apa saja yang kita inginkan pada saat kondisi apapun. Bahkan ketika sedang rebahan kita dapat membeli suatu barang, tanpa harus berjalan dan berkeliling pasar ataupun toko untuk memilih barang yang kita suka. Melihat bagaimana perkembangan e-commerce di Cina dan Indonesia, kita dapat mengambil beberapa pelajaran. Dari perkembangan e-commerce di Cina yang mampu memberikan inovasi baru dalam pelayanan seperti one day service milik JD.com, ataupun Taobao Village yang mampu memberdayakan masyarakat di desa. Hal itu menjadikan Cina sebagai pasar digital terbesar di dunia pada 2018. Studi kasus Cinan memberikan kita gambaran bahwa kreativitas sangat mempengaruhi iklim e-commerce yang mana itu dapat diterapkan dan dikembangkan oleh para pelaku e-commerce di Indonesia.
Selain itu, para pelaku dalam bisnis e-commerce ini bisa juga menyesuaikan pelayanan mereka dengan kearifan lokal di Indonesia. Mungkin pendekatan kebudayaan mampu mendongkrak kembali angka pertumbuhan penggunaan e-commerce di indonesia, sehingga mampu meningkatkan minat masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya melalui e-commerce dan juga dapat dilakukan oleh konsumen di daerah, dan tidak hanya terpusat di kota. Contohnya seperti memberikan iklan – iklan terkait kebudayaan daerah dan produk unggulan daerah maupun menyelipkan penggunaan bahasa daerah pada aplikasi jual beli mereka. Hal itu memberikan ruang bagi masyarakat di daerah untuk berinovasi. Seperti yang di lakukan Taobao Village di Cina dengan memberikan pelatihan kepada masyarakat di desa, sehingga masyarakat di perdesaan di Cina mampu berinovasi dan melebarkan pasar penjualan produknya. (rah/fik)
*Rahmi Aziza adalah mahasiswa magang di Pusat Penelitian Kewilayahan LIPI. Saat ini sedang menempuh studi sarjana di Program Studi Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok, Universitas Al Azhar Indonesia (UAI). Penulis dapat dihubungi melalui surel azizarahmi1@gmail.com