• Home
  • About Us
    • About P2W
    • People
      • Management
      • Researchers
      • Visiting Researchers
    • Institutional Partners
    • Annual Reports
  • Projects
  • News and Events
    • News
    • Events
      • Past Events
      • Upcoming Events
    • Opinions
    • Prominent Figures
  • Publications
    • Books
    • Newsletter
    • Working Papers
    • Policy Papers
    • Journal Kajian Wilayah
    • Book Reviews
  • Gallery
    • Photos
    • Videos
  • Contact
  • Sudut Pandang Amin Mudzakkir

Latest Update

 
Mar 15, 2022

Rempah, Alat Niaga Pendorong Pertemuan Lintas Bangsa

News Humas BRIN
Dec 31, 2021

Perdagangan Indonesia-Uni Eropa: Studi Kasus Hambatan Ekspor Ikan Tuna Indonesia ke Uni Eropa

Opinions Catherina Henderson*
Dec 31, 2021

Sejarah Perbatasan di Asia Tenggara: Mengupas Pengelolaan Perbatasan Di Vietnam

Opinions Lamijo
Dec 31, 2021

Ethiopia 2020–2021: Mengulang Masa Kelam Perpecahan Etnis

Opinions Angela Iban
Dec 28, 2021

Kota-Kota Perbatasan di Asia Tenggara: Arti Penting Kota Perbatasan Mong Cai bagi Vietnam

Opinions Lamijo

Mengingat Dunkirk Sebagai Peristiwa Bersejarah di Eropa dan Sebuah Sinema

08 October 2020
Written by Prima Nurahmi Mulyasari
fShare
Tweet

Dunkirk

Sumber: TIME LIFE World War II, Dunkirk, July 2017.

 

Pertengahan April 2017 saya menumpang bus dari Belanda menuju Inggris dengan tujuan menyeberangi English Channel dari daratan Eropa. Trailer film ‘Dunkirk’ yang saya tonton beberapa minggu sebelumnya membangkitkan nyali saya untuk napak tilas lintas laut meski jalur yang akan saya lalui tidak persis sepenuhnya. Jika film itu menggambarkan jalur laut Dunkirk-Dorset, maka trayek yang akan saya sebrangi adalah Calais-Dover. Senja itu perlahan bus Eurolines yang saya tumpangi meninggalkan Den Haag Central Station. Waktu menunjukkan hampir pukul 20.30. Setelah menikmati Rotterdam dan beberapa kota di Belgia dalam temaram musim semi, saya terlelap dan dibangunkan pada tengah malam untuk pemeriksaan paspor di pelabuhan penyeberangan feri Calais, di tapal batas Prancis-Inggris.

Sebelum masuk bangunan untuk mengantre pengecekan dokumen imigrasi, saya menebar pandangan ke segala penjuru pelabuhan. Calais yang terpisah 38 Kilometer dari Dunkirk merupakan kota pelabuhan di Prancis Utara yang berjarak paling dekat dengan Inggris. Jalur penyeberangan feri Calais menuju Dover, Inggris selalu ramai. Tanpa harus mengantre lama, paspor saya langsung mendapat cap dari petugas imigrasi Prancis. Selanjutnya, di gedung sebelah adalah pengecekan imigrasi Kerajaan Inggris. Meskipun sempat terlibat wawancara cukup panjang dan detail dengan petugas imigrasi Inggris akhirnya ia membubuhkan cap imigrasi dan mempersilakan saya untuk melanjutkan lawatan.

Pukul tiga pagi, feri yang saya tumpangi mengangkat jangkar dan bergerak lancar mengarungi English Channel mengarah ke pelabuhan Dover, Inggris. Di dalam feri yang damai, saya teringat buku-buku yang saya baca mengenai pertempuran-pertempuran di English Channel selama Perang Dunia I dan II. Paling fenomenal tentu saja evakuasi pasukan sekutu dari kota Dunkirk pada 1940 yang dengan brilian diangkat ke layar bioskop oleh sutradara kenamaan Hollywood asal Inggris, Christopher Nolan.

Setelah resmi dirilis pada Juli 2017 Dunkirk menutup layar dengan membukukan pendapatan U$526,949,403 juta atau kurang lebih setara Rp7,7 triliun dari pemutarannya di semua belahan dunia dari estimasi biaya produksi senilai US$100 juta. Tak hanya meraup keuntungan lima kali lipat dari biaya produksi, sukses bertahan di posisi puncak box office selama 4 minggu di Inggris dan 2 minggu di Amerika Serikat Dunkirk mendapat respons yang sangat positif dari kritikus-kritikus film. Mahakarya sinema ini menorehkan lebih dari 60 kemenangan dan 200 nominasi dari berbagai penyelenggaraan festival film di seluruh dunia. Academy Awards yang dikukuhkan sebagai ajang penghargaan tertinggi dunia perfilman global menganugerahkan tiga Piala Oscar kepada film Dunkirk: Best Achievement in Film Editing, Best Achievement in Sound Editing, Best Achievement in Sound Mixing.

Apakah yang istimewa dari film mengenai evakuasi pasukan Sekutu dari Dunkirk saat awal Perang Dunia II?

Dari sudut pandang sejarah, Operasi Dinamo atau yang lebih populer dengan Evakuasi Dunkirk adalah upaya sekutu sejak minggu terakhir Mei 1940 hingga minggu pertama Juni 1940 untuk menarik mundur kurang lebih 300.000-350.000 pasukannya dari Dunkirk, sebuah kota di Prancis Utara yang berbatasan dengan Belgia. Masalahnya, mental ratusan ribu pasukan yang telah dipukul kalah oleh tentara Jerman sehingga terdampar di bibir pantai sudah sedemikian payah  sementara armada pengangkut untuk membawa pulang mereka terkendala laut yang setiap saat penuh dengan serangan torpedo dari Kriegsmarine—Angkatan Laut Jerman—maupun bom-bom pesawat tempur Luftwaffe—Angkatan Udara Jerman—yang tanpa ampun menyerbu angkatan perang sekutu di English Channel. Korban jiwa yang tewas, hilang dan terluka tak terhitung.

Operasi Dinamo digelar berawal dari kurang matangnya intelejen sekutu dan logistik mereka dalam mengirimkan pasukan ke daratan Eropa untuk menghadang kekuatan Jerman di Barat Daya Eropa yang kian agresif meluaskan wilayah pendudukannya sejak mengobarkan perang pada 1939. Pengiriman tentara Inggris yang dikenal dengan nama British Expeditionary Force (BEF) ke Prancis mulai dilakukan seminggu setelah Inggris dan Prancis mendeklarasikan perang terhadap Jerman, 3 September 1939. Namun ketangguhan pasukan militer Jerman sukses memporakporandakan tentara sekutu dengan gampang.  Norwegia, Denmark, Belanda, Belgia dan Prancis berturut-turut menyerah dan dikuasai tentara Jerman yang dengan mudah menggunakan serangkaian operasi militer yang efektif dan mengejutkan melalui peran vital Fallschirmjäger—Pasukan Penerjun Payung Jerman—dan gerak cepat pasukan panzer di bawah komando Jenderal Heinz Guderian pada semester pertama 1940. Kegemilangan militer Jerman yang dengan kilat menduduki negara-negara tetangganya tentu saja meresahkan musuh mereka di seberang lautan.

Sementara itu, iklim politik di ibu kota Inggris sedang kacau. Mundurnya Perdana Menteri Inggris, Neville Chamberlain, pada 9 Mei 1940 setelah mendapat kritik keras dari Majelis Rendah (House of Commons) dan kehilangan dukungan pemerintah menyusul kegagalan Inggris membendung kemenangan Jerman di Norwegia menaikkan Winston Churcill sebagai penggantinya. Dengan cepat Churcill membentuk pemerintahan koalisi untuk menghadapi situasi perang serta meredam konflik politik di London.

Dikuasainya Calais yang memiliki rute terpendek ke Inggris oleh Jerman menyebabkan pasukan Inggris dan Prancis terkonsentrasi di Dunkirk. Berdasarkan peristiwa nyata inilah Christopher Nolan membuat film dengan skenario yang juga ditulis olehnya. Dari sudut pandang penonton, saya melihat tiga perspektif dan tempo yang berbeda. Christopher Nolan menuangkan usaha evakuasi penarikan pasukan terbesar dalam sejarah dunia ke layar perak. Perspektif pertama ialah penyelamatan melalui dermaga-dermaga darurat yang dibangun sebagai tempat bagi kapal-kapal penjemput tentara. Namun posisi pantai yang landai menyebabkan kapal-kapal besar sulit berlabuh. Seminggu adalah durasi penggambaran perspektif ini. Perspektif kedua ialah pengerahan kapal sipil untuk membantu angkatan perang membawa pulang para tentara sekutu dari Dunkirk. Termin yang digunakan yakni satu hari. Sudut pandang terakhir ialah melalui pilot-pilot Royal Air Forces (RAF)—Angkatan Udara Inggris—yang ditugaskan mengawal penyelamatan pasukan dari udara. Berpacu dengan bahan bakar yang tersedia di tangki Supermarine Spitfire—salah satu jenis pesawat tempur milik RAF—tempo satu jam menjadi batas aman bagi para pilot pesawat tempur pemburu pengintai Inggris untuk menjalankan misinya.

Plot film ini lebih mengandalkan ensemble cast dengan beragam sosok yang saling berkaitan dan mewakili tiga perspektif di atas daripada alur cerita konvensional. Situasi mencekam yang dibangun dalam adegan-adegan penting ditampilkan dengan elegan, minim dialog dan lebih berfokus pada kekuatan ekspresi aktor-aktor yang memerankan karakter-karakternya dengan dukungan penuh instrumen musik yang melatari. Hans Zimmer, komposer yang telah bekerja sama dengan Nolan dalam berbagai proyek film memberi efek musik yang memainkan stabilitas emosi penonton dalam menyaksikan berbagai usaha para tentara sekutu menjauhkan diri dari kematian.

Dunkirk merupakan sebuah mahakarya sinema berlatar sejarah perang dengan penyajian yang menawan. Meskipun nyaris semua karakternya adalah tokoh fiktif namun peristiwanya benar terjadi. Ia sukses secara gemilang menampilkan kekejaman medan pertempuran dengan melepaskan diri dari stigma genre film semacam itu.  Hampir semua film bertema perang menyajikan banyak adegan berdarah-darah serta gambaran-gambaran sadis lainnya sebagaimana lazim dipertontonkan dalam pertikaian bersenjata. Jiwa patriotisme para prajurit, perwira, pilot hingga masyarakat sipil yang turut andil dalam Evakuasi Dunkirk tersirat dari tindakan-tindakan mereka dengan cara masing-masing. Pidato Perdana Menteri Winston Churcill pada adegan penutup film “We shall go on to the end. We shall fight in France, we shall fight on the seas and oceans, we shall fight with growing confidence and growing strength in the air, we shall defend our island, whatever the cost may be,..” menjadi momentum penting sebagai penjaga mental dan moral prajurit sekutu dalam perjalanan perang yang masih akan berlangsung lima tahun ke depan.

Operasi penarikan pasukan di Dunkirk adalah mimpi buruk sekutu pada Perang Dunia II. Walaupun terbilang berhasil membawa pulang ratusan ribu prajurit dari Daratan Eropa ke Inggris, namun peristiwa tersebut telah memberi pelajaran sangat berharga yang ikut menjadi penentu akhir perang. Mengira Sekutu akan kembali menyerbu daratan Eropa melalui Calais, setelah apa yang terjadi di Dunkirk, Angkatan Perang Jerman membangun pertahanan yang sangat kuat di sepanjang pantai Calais. Namun pada 1944 intelejen, taktik, dan logistik sekutu sudah lebih maju dengan adanya bantuan Amerika Serikat. Operation Overlord, 6 Juni 1944 di Normandia, Barat Laut Prancis, yang dipimpin Jenderal Dwight D. Eisenhower giliran menjadi awal mula Jerman untuk bermimpi buruk. (ima/fik)

 

 

Sumber Bacaan:

Dildy, Douglas C. (2010). Dunkirk 1940: Operation Dynamo. Oxford: Osprey Publishing.

Eisenhower, D. D., & Mazal Holocaust Collection. (1948). Crusade in Europe. Garden City, N.Y: Doubleday.

Levine, J. (2017). Dunkirk: The history behind the major motion picture. HarperCollins Publishers Limited.

Nolan, C. (2017). Dunkirk: The Complete Screenplay with Selected Storyboards. Faber & Faber.

Ojong, P.K. dan Sugiantoro, R.B. (2003). Perang Eropa Jilid I. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

TIME-LIFE World War II: Dunkirk: One Rescue. Nine Days. 340,000 Lives Saved. Single Issue Magazine – July 21, 2017

Sumber Internet:

“Dunkirk (2017)”, https://www.boxofficemojo.com/title/tt5013056/, diakses 7 Oktober 2020.

“Dunkirk (2017)”, https://www.imdb.com/title/tt5013056/, diakses 7 Oktober 2020.

O'Sullivan, Michael. “‘Dunkirk’: Impeccable action filmmaking, on a scale both epic and stripped-down”, July 20, 2017. https://www.washingtonpost.com/goingoutguide/movies/dunkirk-impeccable-action-filmmaking-on-a-scale-both-epic-and-stripped-down/2017/07/20/a62d5596-6bc8-11e7-b9e2-2056e768a7e5_story.html, diakses 7 Oktober 2020.

 Zacharek, Stephanie. “Ambitious and Harrowing, Christopher Nolan’s Dunkirk Is a  Masterpiece”,  July 19, 2017,  https://time.com/4864051/dunkirk-review/, diakses 7 Oktober 2020.

Sumber Film:

Nolan, C. (2017). Dunkirk. Warner Bros.

Latest Update

 
Mar 15, 2022

Rempah, Alat Niaga Pendorong Pertemuan Lintas Bangsa

News Humas BRIN
Dec 31, 2021

Perdagangan Indonesia-Uni Eropa: Studi Kasus Hambatan Ekspor Ikan Tuna Indonesia ke Uni Eropa

Opinions Catherina Henderson*
Dec 31, 2021

Sejarah Perbatasan di Asia Tenggara: Mengupas Pengelolaan Perbatasan Di Vietnam

Opinions Lamijo
Dec 31, 2021

Ethiopia 2020–2021: Mengulang Masa Kelam Perpecahan Etnis

Opinions Angela Iban
Dec 28, 2021

Kota-Kota Perbatasan di Asia Tenggara: Arti Penting Kota Perbatasan Mong Cai bagi Vietnam

Opinions Lamijo

dokinfosimpegintra lipiepenelitiBanner KIP

Privacy Policy Legal Disclaimer « ISSN 2086-5309 » ContactCopyright © 2022 Research Center for Regional Resources - Indonesian Institute of Sciences (P2SDR-LIPI)
Opinions