
(Ilustrasi: Sawitplus.co)
Kelapa sawit adalah salah satu komoditas strategis yang sangat menguntungkan bagi Indonesia. Komoditas ini merupakan minyak nabati yang paling banyak diperdagangkan dan dikonsumsi di dunia karena harga yang rendah, hasil yang tinggi dan mudah ditanam (Guan & McKay, 2013). Uni Eropa beserta negara-negara anggotanya merupakan salah satu importir terbesar kelapa sawit di dunia. Namun, sejak 1980, kelapa sawit selalu bersanding dengan isu kesehatan manusia hingga isu lingkungan. Deforestasi besar-besaran untuk pembukaan lahan kelapa sawit terjadi di Indonesia dan Malaysia yang mengakibatkan deforestasi global hingga tiga persen (Roda, 2019). Terlebih lagi klaim yang mengatakan bahwa minyak sawit memiliki kandungan lemak jenuhnya yang tinggi, yang dapat berbahaya bagi kesehatan jantung (Ritschel, 2018). Keterlekatan sawit dengan isu kesehatan dan lingkungan banyak dilihat dari sisi persaingan komoditas minyak nabati antara Asia Tenggara, Amerika Serikat dan Eropa sendiri. Selain itu, isu deforestasi dan konflik sosial di negara produsen kelapa sawit juga menjadi sorotan.
Dalam kontestasi reputasi tersebut, organisasi nonprofit, politisi dari partai hijau dan media memiliki peran penting dalam membentuk persepsi masyarakat tentang kelapa sawit di Eropa. Politisi-politisi partai hijau dan organisasi non-profit yang terfokus pada lingkungan sangat gencar mempromosikan keberlangsungan (sustainability) termasuk desakan kepada pemerintah untuk mengurangi penggunaan produk kelapa sawit dan turunannya. Media berperan sebagai wadah penyebaran informasi mengenai kampanye politisi dan organisasi nonprofit sehingga masyarakat luas tahu bahwa kelapa sawit memberikan dampak yang buruk bagi lingkungan, kesehatan, dan konflik sosial. Media memiliki konektivitas secara langsung dengan masyarakat dibandingkan dengan komunikasi politik para politisi hijau maupun organisasi nirlaba.
Isu-isu yang dilekatkan dengan kelapa sawit kerap berubah-ubah setiap tahun, sehingga pemberitaan tentang kelapa sawit mendapatkan framing yang berbeda-beda. Artikel ini akan melihat bagaimana awal mula perkembangan persepsi masyarakat Eropa terhadap kelapa sawit dan keberlangsungan lingkungan, Perubahan persepsi apa saja yang terjadi di masyarakat melalui pemberitaan di media di Eropa, hingga siapa yang membentuk narasi dan framing pemberitaan tentang kelapa sawit yang mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap kelapa sawit terutama pada masyarakat Eropa.
Perkembangan persepsi masyarakat Eropa terhadap kelapa sawit dan keberlangsungan lingkungan
Kelapa sawit merupakan komoditas minyak nabati yang penting bagi Uni Eropa. Minyak nabati kelapa sawit banyak digunakan oleh berbagai industri makanan, manufaktur dan bahan bakar. Namun penggunaan minyak nabati selalu melekat dengan isu terkait tentang kesehatan dan lingkungan serta hak asasi manusia. Menurut Hospes dan Kentin, perubahan tata guna lahan pada hutan diubah menjadi lahan pertanian sering kali disertai dengan kebakaran hutan besar-besaran dan kabut asap yang dapat menyebabkan penyakit pernafasan yang mengancam kesehatan masyarakat. Pernyataan yang sama juga diutarakan oleh Derom Bangun bahwa kelapa sawit rentan tercemar dan dapat mengancam kesehatan masyarakat dikarenakan CPO (Crude Palm Oil) dengan kandungan hidrokarbon yang tinggi (Bangun, 2010). Kandungan hidrokarbon yang tinggi pada CPO yang tercemar dapat membahayakan produk-produk makanan yang diolah menggunakan CPO.
Selain itu, hal tersebut juga menyebabkan hak properti tidak terjamin dan memicu timbulnya isu tentang HAM. Meningkatnya produksi kemungkinan akan menyebabkan lebih banyak masalah ini di masa depan (Hospes & Kentin, 2012). Sisi negatif dari produksi minyak nabati ini terletak pada kerusakan lingkungan dan keresahan sosial dan politik. Pada tahun 2008, Koh dan Wilcove memperkirakan bahwa setidaknya 50 persen dari pertumbuhan produksi minyak sawit antara 1990 dan 2005 mengorbankan hutan hujan dan penghuninya (Koh & Wilcove, 2008). Dampak dari berkembangnya industri kelapa sawit yang sangat signifikan pada masa itu membuat kelompok-kelompok yang peduli lingkungan, terutama di Eropa, termasuk aktivis lingkungan, organisasi nonprofit dan politisi partai hijau, mulai gencar untuk mengampanyekan buruknya produk kelapa sawit dan industrinya. Menurut Kraamwinkel, aktivis lingkungan dan organisasi nonprofit berperan penting dalam membentuk persepsi masyarakat terhadap kelapa sawit melalui media (Kraamwinkel, 2016). Organisasi Nonprofit, TSMO (Transnational Social Movement Organization) dan TAN (Transnational Advocacy Networks) yang terfokus pada isu lingkungan beroperasi dengan cara manajemen proyek, lobbying, advokasi, edukasi, hingga pekerjaan media untuk mengampanyekan isu-isu lingkungan yang nantinya akan menjadi sumber informasi dan pengetahuan bagi masyarakat luas (Pye, 2013).
Menurut penelitian Wageningen University, narasi dan framing kelapa sawit di media-media Eropa berubah-ubah setiap tahunnya dalam 15 tahun terakhir. Antara 2007 dan 2011 sebagian besar artikel tentang minyak sawit dan keberlangsungan lingkungan diterbitkan dan hampir semua media membingkainya seiring tren itu. Sebelum RSPO didirikan pada 2004, tidak ada artikel yang dipublikasikan tentang topik tersebut. Namun, mulai 2011 dan seterusnya, media memiliki minat yang jauh lebih tinggi terhadap topik ini (Kraamwinkel, 2016). Pemberitaan kelapa sawit di media-media Eropa menggunakan judul berita yang narasinya bersifat negatif karena sebagian besar media di Eropa berpacu pada sudut pandang environmentalis. Belanda, sebagai salah satu negara Uni Eropa yang paling banyak mengimpor minyak kelapa sawit, namun juga yang paling gencar soal keberlangsungan lingkungan, memiliki pemberitaan kelapa sawit yang cukup ofensif. Judul seperti “Good Intentions of the RSPO are Questionable”, “Palm Oil as a Biofuel is a Bad Idea”, ”Palm Oil Production Happens Unsustainable” adalah contoh beberapa judul berita dari pemberitaan tentang kelapa sawit di beberapa media Belanda. Pemberitaan tersebut dikeluarkan sekitar tahun 2007 yang dimana RSPO berdiri untuk menangani masalah keberlangsungan dari kelapa sawit. Selain judul-judul tersebut, ada juga judul berita yang berisikan tuntutan bagi pemerintah dan pihak lainnya untuk turun tangan mengatasi permasalahan kelapa sawit. Judul-judul tersebut seperti “We Need to Take Responsibility”, “Western Companies Should Take the Lead in the Educational Process”, dan “They Perceive us as a Green Colonist” pada 2010 dan seterusnya ketika pemerhati lingkungan dari organisasi nonprofit hingga politisi mulai mengampanyekan politik hijau dan keberlangsungan lingkungan di Eropa (Kraamwinkel, 2016). Judul-judul berita tersebut merupakan narasi dari pemerhati lingkungan yang ingin pembacanya melihat kelapa sawit sebagai produk yang tidak ramah lingkungan dan tidak mendukung keberlangsungan lingkungan. Media besar seperti de Volkskrant (Belanda) dan Mongabay (Belgia) merupakan dua dari beberapa media di Eropa yang gencar memberitakan permasalahan lingkungan termasuk kelapa sawit. Framing kelapa sawit di pemberitaan media media Eropa cenderung konstan namun negatif dalam memberitakan isu-isu yang menyangkut lingkungan.
Media, perusahaan, dan organisasi nonprofit berperan penting dalam pembentukan persepsi masyarakat
Kampanye dan ideologi-ideologi environmentalis yang sedang naik daun di Eropa mempengaruhi pola pikir masyarakat untuk lebih menjaga keberlangsungan lingkungan. Tentunya hal ini mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap produk-produk yang menggunakan kelapa sawit dan produk turunannya. Aktor yang sangat berperan penting dalam penyebaran ide-ide environmentalis adalah organisasi nonprofit, perusahaan-perusahaan besar dan media. Organisasi nonprofit seperti WWF dan perusahaan seperti Unilever mengampanyekan keberlangsungan lingkungan yang secara tidak langsung juga membentuk pola pikir masyarakat untuk mengarah pada pentingnya keberlangsungan lingkungan bagi bumi. Di Belanda, peran utama Unilever terkait sustainable palm oil menjadi sorotan pemberitaan. Unilever juga dibanjiri pujian oleh media Belanda atas komitmennya untuk membuat rantai pasokan minyak sawit lebih transparan dan usaha-usaha lainnya dalam memperbaiki keberlangsungan dari industri kelapa sawit (Kraamwinkel, 2016). Keberlanjutan minyak sawit di surat kabar Belanda terutama ditandai dengan tanggung jawab dan opini yang sepenuhnya sesuai dengan pendapat dari organisasi non-profit dan perusahaan yang sustainable. Dengan membahas definisi pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development) sering disebut keseimbangan yang perlu diupayakan antara manusia, planet dan keuntungan (Olsson, Köhler, & Hourcade, 2014). Walaupun politisi dan perusahaan-perusahaan jarang dikutip oleh jurnalis, kampanye dan opini dari organisasi non-profit merupakan sumber informasi utama untuk semua media dalam analisis industri kelapa sawit dan isu lingkungan. Apalagi jurnalis memiliki bias yang jelas terhadap negaranya sendiri. Kebebasan pers di negara-negara Eropa memungkinkan jurnalis untuk menjadi kritis, tetapi media memanfaatkan setiap kesempatan untuk memuji posisi terdepan dalam keberlanjutan kelapa sawit di perusahaan-perusahaan besar. Media memiliki ketergantungan yang kuat terhadap organisasi non-profit sebagai tolak ukur pemberitaan tentang kelapa sawit dan isu-isu lingkungan yang terkait.
Tidak ada hambatan bagi kelapa sawit Indonesia yang berkelanjutan
Peran media bersama organisasi non-profit, perusahaan besar, dan politisi dalam membentuk persepsi masyarakat Eropa terhadap kelapa sawit sangatlah kuat, terlebih lagi dengan meningkatnya ideologi-ideologi environmentalis. Kampanye-kampanye yang diutarakan oleh organisasi non-profit dan perusahaan yang sustainable melalui media dapat diukur melalui judul dari pemberitaan seputar kelapa sawit yang tidak hanya bersifat protektif terhadap lingkungan, namun juga sadar akan konflik sosial dan politik yang tersangkut dalam isu negatif industri kelapa sawit. Permasalahan kelapa sawit yang semakin kompleks tiap tahunnya membuat reputasi industri kelapa sawit semakin sulit untuk dipercaya oleh masyarakat Eropa yang sudah sadar akan pentingnya keberlangsungan lingkungan. Indonesia diharapkan bisa memperbaiki industri kelapa sawit yang lebih sustainable agar reputasi kelapa sawit tidak memburuk di pasar Eropa. Dengan menciptakan industri kelapa sawit yang sustainable, tidak ada lagi hambatan untuk mengekspor kelapa sawit ke Eropa. (*)
*Ariq Radya Faustino adalah mahasiswa magang di Pusat Penelitian Kewilayahan LIPI. Saat ini, Ariq sedang menyelesaikan studi sarjana jurusan European Studies di The Hague University of Applied Sciences.
Referensi:
Hospes, O., & Kentin, A. (2012). Sustainability governance and scale framing: the case of palm oil. Retrieved from Wageningen University: https://library.wur.nl/WebQuery/wurpubs/fulltext/245819
Koh, L. P., & Wilcove, D. S. (2008). Is oil palm agriculture really destroying tropical biodiversity? Conservation Letters. Retrieved from Is oil palm agriculture really destroying tropical biodiversity?
Kraamwinkel, D. D. (2016). There are no facts, only interpretations: A comparative media framing analysis on palm oil sustainability in the Netherlands and Malaysia. Wageningen: Wageningen University.
Guan, C. C., & McKay, A. (2013). Sustainability in the Malaysian Palm Oil Industry. Journal of Cleaner Production.
Olsson, L., Köhler, J., & Hourcade, J.-C. (2014). Sustainable Development in a Globalized World. The Journal of Environment & Development.
Roda, J.-M. (2019). Politik dunia di balik pengembangan kelapa sawit Indonesia dan Malaysia. Retrieved from The Conversation: https://theconversation.com/politik-dunia-di-balik-pengembangan-kelapa-sawit-indonesia-dan-malaysia-120168
Ritschel, C. (2018). THE REASONS WHY PALM OIL IS SO CONTROVERSIAL. Retrieved from Independent: https://www.independent.co.uk/life-style/palm-oil-health-impact-environment-animals-deforestation-heart-a8505521.html
Pye, O. (2013). An Analysis of Transnational Environmental Campaigning around Palm Oil. In O. P. Bhattacharya, The Palm Oil Controversy in Southeast Asia. Singapore: Institute of Southeast Asian Studies.
Bangun, D. (2010). Memoar "Duta Besar" Sawit Indonesia. Jakarta: Kompas Media Nusantara.