• Home
  • About Us
    • About P2W
    • People
      • Management
      • Researchers
      • Visiting Researchers
    • Institutional Partners
    • Annual Reports
  • Projects
  • News and Events
    • News
    • Events
      • Past Events
      • Upcoming Events
    • Opinions
    • Prominent Figures
  • Publications
    • Books
    • Newsletter
    • Working Papers
    • Policy Papers
    • Journal Kajian Wilayah
    • Book Reviews
  • Gallery
    • Photos
    • Videos
  • Contact
  • Sudut Pandang Amin Mudzakkir

Latest Update

 
Mar 15, 2022

Rempah, Alat Niaga Pendorong Pertemuan Lintas Bangsa

News Humas BRIN
Dec 31, 2021

Perdagangan Indonesia-Uni Eropa: Studi Kasus Hambatan Ekspor Ikan Tuna Indonesia ke Uni Eropa

Opinions Catherina Henderson*
Dec 31, 2021

Sejarah Perbatasan di Asia Tenggara: Mengupas Pengelolaan Perbatasan Di Vietnam

Opinions Lamijo
Dec 31, 2021

Ethiopia 2020–2021: Mengulang Masa Kelam Perpecahan Etnis

Opinions Angela Iban
Dec 28, 2021

Kota-Kota Perbatasan di Asia Tenggara: Arti Penting Kota Perbatasan Mong Cai bagi Vietnam

Opinions Lamijo

Laki-Laki dalam Pusaran Drama Korea

18 January 2021
Written by Ranny Rastati*
fShare
Tweet

do san

Pemeran utama pria dalam drakor Start Up yang menuai perdebatan di kalangan netizen (Sumber: Tabloid Bintang)

 

"Siapapun akan menonton drakor pada waktunya".

Begitulah kalimat yang sering diguyonkan oleh para pecinta drama Korea (drakor) saat menyambut para konverter baru demam drakor. Imej drakor bagai dua sisi mata pedang. Di satu sisi, penggemar yang menyukainya benar-benar larut dalam euforia drakor. Sebagai contoh, drakor Start Up (2020) yang berhasil membelah netizen menjadi dua kubu yaitu Tim Dosan dan Tim Jipyeong. Di sisi lain, orang-orang yang belum familiar dengan drakor hanya mengelus dada saat menyaksikan huru-hara para penggemar yang terkadang dinilai eksesif.

Selama ini, penonton drakor memang erat kaitannya dengan penonton perempuan. Drakor yang memiliki karakteristik feminin (seperti kisah cinta, romansa, dan perselingkuhan) dianggap sebagai genre perempuan (Lin dan Tong 2007). Dalam Family Television: Cultural Power and Domestic Leisure (1986), Morley menunjukkan perbedaan preferensi program televisi antara laki-laki dan perempuan. Menurut Morley, perempuan menyukai program fiksi seperti opera sabun dan drama, sementara laki-laki lebih memilih program berita dan olahraga.

Hasil kaji cepat tentang “Konsumsi Drama Korea di Tengah Pandemi COVID-19 di Indonesia” (Nadila dkk, 2020) yang dilakukan tim dari Pusat Penelitian Masyarakat dan Budaya (PMB) LIPI pun menemukan indikasi serupa. Sebanyak 92.6 persen responden yang menonton drakor adalah perempuan. Meskipun responden laki-laki hanya sebesar 7.4 persen, namun hal ini tetap menarik perhatian penulis. Apa yang menjadi alasan para laki-laki menonton dan turut menikmati drakor yang identik dengan tontonan perempuan.

 

Laki-Laki, Drakor, dan Stigma

Dalam riset Lat dan Tacla (2018) tentang penonton drakor laki-laki di Laguna, Filipina, ditemukan bahwa drakor (terutama bergenre komedi romantis), menjadi pereda stress. Selain itu, drakor pun dianggap menciptakan pelarian sejenak dari kenyataan hidup. Para penonton laki-laki ini juga menjadikan drakor sebagai topik obrolan dan bertukar pikiran dengan teman sesama penggemar drakor. Dalam riset serupa, di Hong Kong ditemukan bahwa laki-laki terkadang ingin dapat melarikan diri dari kerasnya tekanan pekerjaan dan menikmati realisme emosional yang disajikan melalui drakor (Lin & Tong 2007).

Di Indonesia, ada stigma negatif yang disematkan terhadap laki-laki penggemar drakor. Label seperti kurang jantan, melankolis, dan aneh kerap disematkan. Hal ini merupakan imbas dari masih banyaknya anggapan bahwa drakor adalah tontonan milik perempuan. Selain itu, beredar pula stereotip bahwa citra laki-laki Korea dalam drakor identik dengan kesan “laki-laki cantik” dan tidak macho.

Bagi Ronzzy, seorang produser dan host podcast Ngedrakor!, anggapan bahwa stigma “laki-laki cantik” sesungguhnya dapat dikategorisasikan sebagai toxic masculinity yaitu aturan-aturan tentang bagaimana seharusnya laki-laki bersikap dan berperilaku.

“Sadly memang, masih ada yang menganggap cowok Korea itu “cantik” padahal kan mereka cuma merawat diri… Dan orang semacam lupa konteks bahwa aktor-aktor itu berakting dan beraktivitas di Korea yang mana masyarakatnya menuntut kesempurnaan kepada selebritas, nggak cuma sekadar wajah bahkan kelakuan pun harus baik” [1].

Lebih lanjut, Ronzzy menganggap bahwa daya pikat drakor justru terletak dari kemasan maupun visual pemain. “Menurutku kemasan yang unik dan berbeda pada akhirnya membuat drakor menjadi menarik. Selain itu pemain-pemainnya memiliki visual yang menawan” [1].

Selain Ronzzy, Anjar menonton drakor sejak tahun 2000an melalui drakor legendaris seperti Winter Sonata (2002) dan Hotelier (2001). Laki-laki berusia 41 tahun ini mengungkapkan bahwa pada awalnya ibunya lah yang menonton drakor. “Itu karena nyokap yang nonton itu, jadilah nggak bisa ganti channel” [2].

Menurut Anjar, tidak ada alasan khusus baginya mengapa nonton drakor. Namun, menurutnya drakor memiliki konsep menarik dan genre yang bermacam-macam. “Kalau specific reason kenapa harus drakor sih, nggak ada. Tapi kalau lihat produksinya, (drakor) itu memang bagus banget dan niat. Konsep cerita pun bermacam-macam, mulai dari komedi sampai horor. Drakor itu mostly untuk hiburan” [2].

Tidak hanya di Indonesia, meningkatnya minat terhadap drakor di kalangan laki-laki pun terjadi di Amerika. Berdasarkan laporan Korea Creative Content Agency (KOCCA) USA, fenomena menonton drakor semakin menguat sejak 2012 (Daehan Drama, 8 Des 2015). Lebih lanjut, jumlah penonton laki-laki bahkan naik 15.7 persen pada 2014. Kepopuleran lagu Gangnam Style (2012) oleh PSY disebut-sebut sebagai katalisator meningkatnya minat terhadap drakor di Amerika.

Hadirnya laki-laki dalam pusaran drakor tampaknya menjadi indikasi awal memudarnya stereotipe bahwa drakor hanya menarik bagi kalangan perempuan. Tersedianya berbagai genre mulai dari romantis hingga action membuat drakor pada akhirnya dilirik tidak hanya oleh perempuan, tapi juga laki-laki. Hal ini membuat drakor menjadi lebih terbuka dan dapat dinikmati berbagai kalangan. Seperti yang dinyatakan oleh Ronzzy, “Ini waktunya buat menghapus stigma seperti gitu dan menormalisasi bahwa masing-masing orang punya kesukaan yang berbeda soal tontonan dan hiburan.” [1].

[1] Wawancara melalui Instagram pada 7 Januari 2021
[2] Wawancara melalui WhatsApp pada 7 Januari 2021

 

Referensi


Choi, J. (2013). Constructing a multivocal self: A critical autoethnography. Tesis. University of Technology, Sydney, https://opus.lib.uts.edu.au/bitstream/10453/24078/2/02whole.pdf

Daehan Drama. (8 Des 2015). “KOCCA Report On The Consumption Of Korean Dramas In The U.S.”, https://www.daehandrama.com/1285/ (Diakses 7 Jan 2021)

Joo, J. (2011). Transnationalization of Korean popular culture and the rise of “Pop Nationalism” in Korea. The Journal of Popular Culture, 44(3), hal 489–504, https://onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.1111/j.1540-5931.2011.00845.x

Lat, K.B dan Tacla, K.J. (2018). Men and Korean Dramas: The Construction of Self Among Male Viewers of Laguna. LPU–Laguna Journal of Arts and Sciences 3 (1), hal 1-15, https://lpulaguna.edu.ph/wp-content/uploads/2018/12/1-Men-and-Korean-Dramas.pdf

Lin, A. M. Y., & Tong, A. (2007). Crossing boundaries: Male consumption of Korean TV dramas and negotiation of gender relations in modern day Hong Kong. Journal of Gender Studies, 16 (3), hal 217-232, https://hub.hku.hk/bitstream/10722/92427/1/Content.pdf?accept=1

Morley, D. (1986). Family television: Cultural Power and Domestic Leisure. London: Comedia Publication Group

Nadila, S.M, Rastati, R., Ratri, A.M., & Akmaliah, W. (28 Aug 2020). “Survey Result: K-Drama Consumption Amidst COVID-19 Pandemic in Indonesia”, https://pmb.lipindonesia.com/survey-result-k-drama-consumption-amidst-covid-19-pandemic-in-indonesia/ (diakses 7 Jan 2021).

 

*****

Tentang Penulis 

Chibi

Ranny Rastati adalah Peneliti Komunikasi di Pusat Penelitian Masyarakat dan Budaya (PMB) LIPI. Penulis memiliki ketertarikan pada riset cosplay, budaya pop, dan studi media. Penulis dapat dihubungi melalui surel ranny.rastati@gmail.com

 

Latest Update

 
Mar 15, 2022

Rempah, Alat Niaga Pendorong Pertemuan Lintas Bangsa

News Humas BRIN
Dec 31, 2021

Perdagangan Indonesia-Uni Eropa: Studi Kasus Hambatan Ekspor Ikan Tuna Indonesia ke Uni Eropa

Opinions Catherina Henderson*
Dec 31, 2021

Sejarah Perbatasan di Asia Tenggara: Mengupas Pengelolaan Perbatasan Di Vietnam

Opinions Lamijo
Dec 31, 2021

Ethiopia 2020–2021: Mengulang Masa Kelam Perpecahan Etnis

Opinions Angela Iban
Dec 28, 2021

Kota-Kota Perbatasan di Asia Tenggara: Arti Penting Kota Perbatasan Mong Cai bagi Vietnam

Opinions Lamijo

dokinfosimpegintra lipiepenelitiBanner KIP

Privacy Policy Legal Disclaimer « ISSN 2086-5309 » ContactCopyright © 2022 Research Center for Regional Resources - Indonesian Institute of Sciences (P2SDR-LIPI)
Opinions