
Gaya berbusana Ratu Elizabeth II (sumber: insider.com)
Bagi rakyat Inggris, Ratu Elizabeth II bukan hanya orang yang dihormati atau seorang kepala negara semata. Ratu Elizabeth juga dianggap memiliki pengaruh yang kuat terhadap gaya hidup rakyat Inggris dan paradigma masyarakat internasional terutama yang berhubungan dengan gaya busana dan bahasa tubuh. Pasalnya, sang Ratu telah menjadi kepala negara Inggris dan negara anggota persemakmuran (Commonwealth) terhitung selama 68 tahun, dan citra positif Sang Ratu sangat terjaga. Jikalau dapur rumah tangga Duke dan Dutches serta penghuni Buckingham Palace bisa didengar dan diketahui oleh masyarakat umum, tidak demikian halnya Ratu Elizabeth II.
Sang Ratu justru kerap kali dicap berbicara lebih banyak melalui “kode-kode” dalam cara berpakaian dan gestur tubuhnya. Menurut Sejarawan Kerajaan Inggris, Hugo Vickers dalam wawancaranya bersama People Magazine pada 14 Februari 2019 menjelaskan bahwa Sang Ratu menggunakan tasnya sebagai kode untuk mengirim sinyal rahasia. Ini adalah ekspresi kepada stafnya yang menunjukkan bahwa dia siap untuk beralih dari percakapan. (People’s, 2019) Vickers juga memberi tahu dalam wawancara dengan People Magazine bahwa Ratu akan meletakkan tasnya di bawah meja untuk menunjukkan bahwa dia ingin segera pergi dengan secepatnya. Namun, tas tangan Ratu bukanlah satu-satunya aksesoris dari pakaian pribadinya yang dapat digunakan sebagai kode diplomatik.
Saat ini, pada usia 93 tahun, tidak ada perdebatan dalam dunia mode, politik atau diplomasi bahwa dengan gaya yang tidak ada duanya, Ratu Elizabeth mentransmisikan keseimbangan sempurna antara glamor dan keagungan, serta pakaian kerajaannya memainkan peran kunci dalam fungsi yang diwakilinya sebagai kepala negara (Forbes, 2019). Ratu Elizabeth selalu berpakaian cerah. Sebenarnya alasan untuk hal tersebut ialah Sang Ratu harus dilihat dan menjadi sorotan masyarakat dan media setiap kali dia keluar di depan umum. Penasihat Pribadi Ratu sejak 1994, Angela Kelly, dalam bukunya yang berjudul “The Other Side of the Coin: The Queen, the Dresser and the Wardrobe” juga memaparkan bahwa sang Ratu selalu mendandani dirinya sendiri kecuali momen setahun sekali saat perayaan Natal di Televisi, ditambah ia juga membuktikan bahwa Elizabeth II tidak tertarik pada mode, dan tidak pernah pergi untuk “window shopping”.
Kelly bahkan menulis dalam buku yang sama, bahwa sang Ratu pernah ingin berpose lebih "informal" dalam sebuah foto, tetapi mendiang Ibu Ratu Elizabeth dan stafnya dulu membujuknya untuk tidak melakukan hal tersebut. Mereka sangat khawatir bahwa foto-foto seperti itu "akan menghancurkan monarki Inggris”. Bisa terlihat dari hal tersebut bahwa terdapat semacam misteri di pusat kekuasaan Inggris. Walau sesungguhnya Perdana Menteri punya peranan besar, namun Sang Ratu tetap tokoh politik yang paling banyak dibicarakan oleh media Inggris dan juga media Internasional terkait dengan isu-isu yang berbau simbolik. Setiap gerak gerik, tingkah laku dan fesyen Ratu Elizabeth II selalu menjadi sorotan dan seakan-akan menjadi maskot dari citra monarki Inggris di dunia Internasional
Sosiolog Prancis, Pierre Bourdieu, dalam bukunya yang berjudul The Puspose of Reflexive Sociology menjabarkan bahwa selera manusia tidaklah netral, melainkan selalu terkait dengan citra sosial tertentu. Termasuk anggapan bahwa semakin hegemonik kekuasaan beroperasi, makin efektif pula budaya dan bahasa mereka ditularkan kepada yang lemah. Karena sejatinya kehidupan di dunia adalah arena pertarungan kekuasaan. Dan budaya dianggap Bourdieu bertujuan sebagai alat untuk memperebutkan kekuasaan dan juga untuk melestarikannya. Berbeda dengan kekuasaan yang selama ini lebih dipahami sebagai pengaruh politik, Bourdieu menekankan pada konsep kekuasaan simbolik, yakni kekuasaan yang watak represifnya tidak dampak dan hanya dikenali dari tujuannya untuk memperoleh “pengakuan” dan “eksistensi”.
Bourdieu menyatakan pula bahwa tidak ada symbolic power tanpa symbolism of power, dan symbolism power itu tidak lain merupakan atribut-atribut simbolik (Bourdieu, 1991: 75) Selalu ada kekuasaan di balik realitas yang melingkupi sebuah masyarakat. Sistem kemasyarakatan, hingga kekuatan sebuah ideologi, selalu dikonstruksi oleh "kekuasaan" tertentu. Dan kondisi ‘ketidaksadaran maupun kesadaran’ sang aktor merupakan kondisi yang mungkin keduanya terjadi. Dalam hal ini maka kondisi tersebut tergantung pada sejauhmana otoritas/legitimasi habitus yang memproduksi praktik dan kompleksitas produk sosial dan politik Sang Ratu sebagai subjek yang mengendalikan kekuasaan. Praktik kekuasaan tersebut biasanya selalu dijalankan secara simultan, terus menerus oleh subjek yang mengendalikan kekuasaan yang berada dalam kompleksitas kehidupan sosial-politik subjek. Praktik kekuasaan tersebut biasanya selalu dijalankan secara simultan, terus menerus oleh subjek yang mengendalikan kekuasaan yang berada dalam kompleksitas kehidupan sosial-politik subjek.
Ratu Elizabeth II adalah penguasa 15 negara Persemakmuran selain Inggris. Dia juga Kepala Persemakmuran itu sendiri. Ini jelas merupakan sebuah peran simbolis dan pemersatu yang penting (Royal UK, 2019). Jadi, terlepas dari Buckingham Palace dan Duke-Dutches, Ratu Elizabeth mempunyai kedudukan simboliknya tersendiri yang sudah jelas sangat terpisah dari Royal Family. Hal tersebut lah yang menambah keunikan dalam monarki Inggris. Pengaruh kekuasaan Ratu Elizabeth bisa dikatakan sangat signifikan sehingga negara-negara di dalam Commonwealth tidak ada satupun yang menolak atau ingin mengajukan pergantian kepala Persemakmuran untuk mengganti Ratu Elizabeth yang kini telah berumur 94 tahun. Justru 2 negara yang tidak pernah dijajah oleh Inggris malah bergabung ke dalam Commonwealth, yaitu Mozambik dan Rwanda. Kesukarelaan 2 negara non-colonized Inggris anggota Commonwealth tersebut menambah salah satu argumen terhadap pemikiran kaum realis ataupun penganut keamanan tradisional tentang teori kekuasaan dan penaklukan yang cenderung mengandalkan hard power, dan bersifat represif / koersif.
Dalam Talking of the Royal Family, Michael Billig (2002) meneliti daya tarik yang masih dimiliki monarki saat ini. Banyak subjek modern, yang bertentangan dengan penilaian pribadinya yang lebih baik tetap melekat pada mitologi kerajaan. Ilusi, yang selama berabad-abad dipentaskan oleh rombongan kerajaan, dihancurkan sebagai ilusi-ilusi lainnya, tetapi masih banyak orang, terlepas dari demistifikasi ini, ingin mempertahankan ilusi itu: biarkan kaisar dan ratu menjaga pakaian, mahkota, dan perhiasannya; signifikansi mistiknya yang kental. Jadi, pada saat yang sama kita dihadapkan pada demistifikasi dan tuntutan mistifikasi yang secara sadar terus-menerus. Persis dengan apa yang telah disampaikan oleh Bourdieu tentang selera manusia yang tidaklah netral, melainkan selalu terkait dengan citra sosial tertentu. Maka sudah jelas bahwa Queen Elizabeth (sebagai personifikasi mahkota) tidak diragukan lagi merupakan sebuah “global personality brand”. Dimana sang Ratu dianggap “Not only British Monarch but is also a monarch” karena memiliki kuasa dalam kapasitas pribadi atau personal di luar nama "Inggris".
*Ellya Dameria Enesca adalah mahasiswa magang di Pusat Penelitian Kewilayahan - LIPI. Saat ini menempuh pendidikan sarjana di Jurusan Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Kristen Indonesia (UKI). Penulis dapat dihubungi melalui surel ellyadameria@gmail.com
Referensi
Billig, Michael. Talking of the royal family. Routledge, 2002.
Bourdieu, Pierre. Language and Symbolic Power. First Published, Cambridge: Polity Press, 1991.
Bourdieu, Pierre dan Wacquant, Loic. “The Puspose of Reflexive Sociology” dalam An Invitationto Reflexive Sociology, Chicago: University of Chicago Press, hal: 61-215, 1992.
Forbes Magazine, 5th November 2019, by Rodrigues and Cecilia, Editor’s pick.
https://www.forbes.com/sites/ceciliarodriguez/2019/11/05/dressing-the-queen-royal-behind-the-scene-secrets-revealed-by-her-majestys-dresser/#3cd10a724325 accessed on 12th October 2020.
Kelly, Angela, The Other Side of the Coin: The Queen, the Dresses and the wardrobe. Harper Collines Publisher. 2019.
People’s Magazine, 14 February 2019, by Simon Perry and Stephanie Petit, https://people.com/royals/queen-elizabeth-unveils-plaque-hidden-message-cyber-agency/ accessed on 15th October 2020.
Royal Family UK Official Website, 31 Oktober 2019, https://www.royal.uk/commonwealth#:~:text=The%20Queen% 20is%20Sovereign%20of,important%20symbolic%20and%20unifying%20role.