Mad, petani jahe, menjelaskan tentang budidaya jahe selama pandemi (Foto: Fachry Aidulsyah)
Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terkenal dengan kekayaan rempahnya yang melimpah. Salah satu komoditas rempah unggulan yang sedang naik daun di Bangka Belitung adalah jahe. Permintaan aneka varian jahe, terutama jahe merah rupanya semakin meningkat signifikan pada masa pandemi COVID-19. Jahe merah memang dikenal luas sebagai tanaman obat yang berkhasiat menjaga daya tahan tubuh dan dipercaya menyembuhkan berbagai penyakit seperti kolesterol, gula darah hingga kanker. Tingginya permintaan jahe membuat Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bangka Belitung berupaya meningkatkan produktivitas petani jahe.
Berbagai program telah diupayakan untuk mendukung produktivitas petani, salah satunya Kredit Usaha Rakyat (KUR) tanpa bunga khusus petani jahe. Hingga April 2021, program itu sudah menjangkau 400 lebih petani di Bangka Belitung. Harapannya permintaan pasar lokal dan internasional sebanyak 300-400 ton per bulan bisa dipenuhi. Apalagi Pemprov Babel mulai mendapat permintaan ekspor jahe merah ke beberapa negara di Eropa Barat dan Timur Tengah. Untuk mengetahui keistimewaan dari komoditas jahe khas Bangka Belitung, anggota Tim Gastronomi Prioritas Riset Nasional (PRN) IV, Kedeputian Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan (IPSK-LIPI) berkesempatan mengamati aktivitas petani jahe di Gantung, Belitung Timur pada Rabu, 9 Juni 2021.
Ada beberapa informasi menarik dari penuturan Mohammad Made, narasumber yang kami temui. Pria asal Madura ini merantau ke Bangka Barat sejak tujuh tahun dan bekerja sebagai petani rempah. Setahun yang lalu, ia mendapatkan tawaran menggarap lahan pertanian seluas dua hektare di Belitung Timur. Pria yang karib disapa Memet ini akhirnya fokus membudidayakan bibit jahe gajah yang dia bawa dari Jawa. Jahe gajah sejatinya sama dengan jahe putih yang biasa dikonsumsi sehari-hari namun ukurannya jauh lebih besar. Selain itu, ia mulai menanam jahe merah yang pada masa pandemi ini banyak diminati konsumen dan harganya cukup mahal. Setiap minggunya, Memet memanen 1,5 ton jahe merah dan jahe gajah yang dikhusukan untuk kebutuhan pasar lokal dan dikirimkan ke beberapa kota di Indonesia seperti Jakarta, Semarang, Surabaya, dan Purwakarta. Sering kali Memet tidak bisa memenuhi permintaan jahe di pasaran yang melonjak signifikan. Karena itu, ia berharap akan semakin banyak petani di Bangka Belitung yang melakukan diversifikasi tanamannya ke jahe merah dan jahe gajah.
Menembus Pasar Internasional
Di samping memenuhi kebutuhan pasar lokal, ragam varian jahe khas Bangka Belitung telah menembus pasar dunia. Pemerintah Kabupaten Belitung Timur misalnya, baru-baru ini mendapatkan tawaran untuk ekspor jahe dan minyak atsiri ke Jerman. Sebelumnya, jahe segar dari Bangka Belitung telah diekspor ke Brunei Darussalam, Bangladesh, Pakistan, dan Belanda. Namun, ekspor jahe yang dilakukan selama ini masih berbentuk rimpang atau bahan mentah (raw material) sehingga harga jualnya lebih murah. Untuk merespon permintaan jahe yang semakin besar, Pemprov Bangka Belitung berencana akan membangun pabrik pengolahan jahe di Lubuk, Bangka Tengah. Jahe merah dan jahe gajah yang diolah menjadi bubuk dapat dijual dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan bahan mentah. Ada rencana pula untuk memproduksi bubuk minuman jahe instan yang lebih praktis. Keberadaan pabrik itu nantinya diharapkan semakin menghidupkan perekonomian masyarakat pada masa pandemi melalui sektor agroindustri.
Hingga sekarang, para petani mengekspor jahe secara mandiri dengan bermodal jaringan individu. Sebagai contoh Memet yang bergabung dengan Asosiasi Petani Jahe Organik. Melalui jaringannya itu, ia bisa mengekspor jahe ke Bangladesh, Pakistan, dan Brunei Darussalam. Lewat jaringannya itu pula, Memet selalu mendapatkan pemasok yang siap membeli jahe gajah dan jahe merah. Setiap bulan, puluhan kontainer jahe segar ia siapkan untuk kebutuhan ekspor. Selama menjalankan bisnis ekspor jahe, Memet belum menemukan kendala yang berarti. Hal itu lantaran produk jahe merah dan jahe gajah telah diproduksi memenuhi standar ekspor. Bahkan dalam waktu dekat, Memet akan memperluas kebun jahenya guna memenuhi permintaan ekspor jahe merah. Tentu saja, Memet tidak bisa bergerak seorang diri. Karena itu, ia bersedia memberikan pelatihan kepada petani pemula yang ingin menanam jahe merah maupun jahe gajah. Menurutnya, budidaya jahe cukup mudah untuk diaplikasikan dan tidak membutuhkan waktu lama dalam hal masa panen.
Budidaya Jahe secara Alami
Salah satu kelebihan produk jahe dari Bangka Belitung adalah proses budidayanya yang menggunakan metode alami. Teknik penanaman dan pembibitan dikerjakan secara manual. Sedangkan untuk proses pemupukan menggunakan pupuk alami tanpa campuran bahan kimia. Begitu pula dengan pestisida yang dipakai termasuk kategori pestisida nabati. Bahan yang digunakan untuk membuat pestisida nabati dan pupuk organik cukup mudah ditemui seperti telur ayam, air bekas kolam ikan yang difermentasi, daun pepaya, cabe, dan bawang merah. Uniknya, pengetahuan membuat bahan-bahan organik itu mereka dapatkan dari pengalaman pribadi dan menonton video tutorial di Youtube. Teknik pembibitan hingga panen tanpa bahan kimia itulah yang memudahkan komoditas Jahe Bangka Belitung menembus pasar internasional.
Keunikan dari budidaya jahe di Bangka Belitung juga tampak dari jenis lahan yang digunakan. Beberapa petani mampu merestorasi lahan bekas tambang timah menjadi lahan perkebunan produktif. Metode yang digunakan pun juga diklaim menggunakan bahan-bahan natural. Seperti diketahui, lahan bekas tambang termasuk tanah kering dan kehilangan unsur hara. Untuk mengembalikan unsur hara itu, para petani menggunakan pupuk kandang, bawang merah, dan dolomit. Selang beberapa bulan, tanah eks tambang itu sudah bisa ditanami jahe dengan hasil yang tidak jauh berbeda dengan lahan subur. Proses reklamasi lahan bekas tambang timah menjadi lahan pertanian dan destinasi ekoswisata bukan cerita baru di Bangka Belitung. Setelah masa eksplorasi timah usai, banyak inisiatif hijau dari warga bermunculan dengan tujuan memunculkan sumber penghidupan baru yang lebih berkelanjutan. Perlu penelitian lebih lanjut mengenai kualitas komoditas perkebunan yang ditanam di atas lahan eks tambang. Akan tetapi, kesuksesan para petani dalam mereklamasi lahan eks tambang menjadi kebun jahe patut mendapat apresiasi.
Peluang Jahe Bangka Belitung di Pasar Internasional
Seperti disebutkan sebelumnya, komoditas jahe Bangka Belitung telah menembus pasar luar negeri. Pada masa pandemi, kebutuhan rempah-rempah tradisional meningkat drastis seiring dengan perubahan pola konsumsi masyarakat urban yang lebih natural. Dari kisah petani jahe di Bangka Belitung bisa terlihat potensi yang cukup besar komoditas jahe di pasar internasional. Sebagai provinsi yang termahsyur akan rempahnya terutama lada, munculnya jahe merah dan jahe gajah sebagai komoditas unggulan baru akan memperkuat posisi Bangka Belitung dalam usaha menghidupkan Jalur Rempah Nusantara. Namun, untuk menetapkan jahe sebagai komoditas unggulan masih banyak hal yang perlu diperhatikan.
Untuk menuju wilayah dengan pengekspor varian jahe merah dan jahe gajah terbesar di pangsa pasar internasional, seluruh pemangku kepentingan di Bangka Belitung perlu meningkatkan mutu dari komoditas sekaligus kesejahteraan dan perlindungan untuk petani. Apalagi berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), telah terjadi peningkatan impor jahe selama periode dua tahun terakhir. Ironisnya, harga jahe impor jauh lebih murah yang berimplikasi pada turunnya harga jahe lokal. Pada 2019, impor jahe yang didominasi dari Vietnam, Thailand, Cina, dan Myanmar mencapai 21.782 ton. Besaran impor jahe sedikit menurun menjadi 19.525 ton pada 2020. Padahal apabila dibandingkan dengan 2017, impor jahe hanya 53 ton. Karena itu, perlu adanya regulasi pembatasan impor komoditas jahe untuk melindungi petani jahe merah dan jahe gajah yang sedang bergairah, termasuk para petani di Provinsi Bangka Belitung.
***************************
*Tulisan dipersiapkan oleh Abdul Fikri Angga Reksa, Anggota Tim Gastronomi PRN IV. Artikel ini merupakan hasil petikan wawancara petani jahe di Belitung Timur.