• Home
  • About Us
    • About P2W
    • People
      • Management
      • Researchers
      • Visiting Researchers
    • Institutional Partners
    • Annual Reports
  • Projects
  • News and Events
    • News
    • Events
      • Past Events
      • Upcoming Events
    • Opinions
    • Prominent Figures
  • Publications
    • Books
    • Newsletter
    • Working Papers
    • Policy Papers
    • Journal Kajian Wilayah
    • Book Reviews
  • Gallery
    • Photos
    • Videos
  • Contact
  • Sudut Pandang Amin Mudzakkir

Latest Update

 
Mar 15, 2022

Rempah, Alat Niaga Pendorong Pertemuan Lintas Bangsa

News Humas BRIN
Dec 31, 2021

Perdagangan Indonesia-Uni Eropa: Studi Kasus Hambatan Ekspor Ikan Tuna Indonesia ke Uni Eropa

Opinions Catherina Henderson*
Dec 31, 2021

Sejarah Perbatasan di Asia Tenggara: Mengupas Pengelolaan Perbatasan Di Vietnam

Opinions Lamijo
Dec 31, 2021

Ethiopia 2020–2021: Mengulang Masa Kelam Perpecahan Etnis

Opinions Angela Iban
Dec 28, 2021

Kota-Kota Perbatasan di Asia Tenggara: Arti Penting Kota Perbatasan Mong Cai bagi Vietnam

Opinions Lamijo

Implikasi Belt and Road Initiative Tiongkok Terhadap Neraca Perekonomian Indonesia

06 January 2021
Written by Jeconnyah Veronica Magdalena*
fShare
Tweet

2018 04 13 44139 1523602428. large

Jalur BRI yang dipromosikan oleh China (Foto: China Daily) 

 

Sebagai kekuatan ekonomi baru dunia, Tiongkok mencanangkan Belt Road Initiative (BRI). Indonesia sebagai negara berkembang menjadi salah satu negara anggota BRI guna meningkatkan perekonomiannya. Dalam pelaksanaannya, kerja sama antara kedua negara terus meningkat yang berefek pada perkembangan perekonomian Indonesia secara signifikan. Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), akumulasi investasi Tiongkok dan Hongkong di Indonesia mencapai US$5,5 miliar pada 2017, mengalahkan Jepang dengan nilai investasi US$4,9 miliar. Sedangkan, investasi Singapura menempati posisi pertama dengan nilai US$8,4 miliar. Kemudian, Korea Selatan menempati posisi kelima dengan nilai investasi sebesar US$2 miliar. Padahal, sampai 2015, nilai investasi Tiongkok di Indonesia bahkan tidak mencapai posisi lima besar. Sedangkan, pada  2016, investasi Tiongkok ke Indonesia hanya mencapai US$2,7 miliar. Nilai investasi yang terus meningkat tampaknya menjadikan Tiongkok sebagai negara yang cukup berpengaruh bagi Indonesia, khususnya dalam sektor ekonomi. Tiongkok adalah negara dengan perekonomian terbesar di dunia, dilanjutkan dengan Uni Eropa, Amerika Serikat, India dan Jepang. Artikel singkat ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan “Mengapa Belt Road Inisiatif (BRI) Tiongkok dapat memberikan pengaruh terhadap perekonomian Indonesia”. 

 

Sektor Ekonomi BRI 

BRI adalah jalur perdagangan dan ekonomi baru yang menghubungkan Asia hingga Eropa dan terdiri dari sekitar 60 negara yang melalui jalur sutra. BRI mengacu pada Silk Economic Road atau rute perdagangan yang melalui jalur sutra berbasis daratan dari Tiongkok, Asia Tengah, Asia Timur, Asia Selatan, Timur Tengah hingga Eropa. Koneksi tersebut juga akan didukung dengan jalur rel, jalan raya, dan jaringan pipa baru. Sedangkan, BRI mengacu pada 21st Century Maritime Silk Road atau sebuah jalur sutra berbasis laut yang menghubungkan Tiongkok dengan Asia Tenggara, Asia Selatan, Afrika, Timur Tengah dan Eropa. BRI pertama kali diinisiasi oleh presiden Tiongkok, Xi Jinping pada September 2013 dengan tujuan untuk meningkatkan perekonomian dunia serta menciptakan sebuah jalur perdagangan baru yang memiliki peluang bisnis yang lebih besar bagi Tiongkok. Pada pertemuan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRI yang dilaksanakan pada Mei 2017, pemerintah Indonesia berusaha mengumpulkan investor sebanyak mungkin guna mendukung pembangunan infrastruktur terkait dengan inisiasi BRI.  investasi BRI Tiongkok ke Indonesia hanya mencapai US$5 miliar. Nilai tersebut terdiri dari investasi kereta cepat Jakarta-Bandung sebesar US$1 dan kucuran dana dari China Development Bank (CDB) ke tiga Bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebesar US$1 miliar untuk masing-masing Bank tersebut. Tiga bank BUMN tersebut antara lain PT Bank Mandiri Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Tbk, dan PT Bank Negara Indonesia (BNI) Tbk. Menurut BKPM, terdapat empat sektor yang menjadi tujuan utama investasi Tiongkok, antara lain smelter, electronic appliances, infrastruktur, dan industri minuman.

Penanaman modal dalam sektor infrastruktur di Indonesia merupakan salah satu upaya Tiongkok guna merealisasikan inisiatif  BRI. Investasi yang masuk ke Indonesia memang tidak hanya didominasi oleh Tiongkok, namun modal yang masuk dari Tiongkok sedikit-banyak berpengaruh terhadap perkembangan dan kemajuan pembangunan infrastruktur. Selanjutnya, kemajuan infrastruktur akan meningkatkan perekonomian Indonesia. Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN), menilai proyek BRI dapat dimanfaatkan seluas-luasnya untuk kepentingan pertumbuhan ekonomi Indonesia. BRI harus bisa menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperbaiki neraca perdagangan Indonesia dengan Cina. Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, neraca perdagangan Indonesia dengan China mengalami defisit dalam delapan tahun terakhir dengan angka yang semakin membesar. Pada 2017, neraca perdagangan mencatat defisit US$10,88 miliar atau berkurang 20 persen dari posisi tahun sebelumnya. Indonesia harus jeli dalam memanfaatkan BRI ini, salah satunya dengan menjadikan peluang untuk mempersempit neraca perdagangan dengan Tiongkok, misalnya dengan membangun area perdagangan bebas.

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, dan terdapat di wilayah tumpuan maritim dunia. Indonesia menghubungkan navigasi maritim antara 2 samudra, 2 benua dan antara pasar utama yaitu Asia Tenggara. Dengan populasi sekitar 250 juta orang, pendapatan yang meningkat dan pertumbuhan PDB yang stabil di angka 6 persen dalam 10 tahun terkahir. Indonesia diperkirakan jumlah penduduknya akan bertambah hingga 90 juta pada 2030. Artinya Indonesia merupakan sebuah negara pemain ekonomi yang perannya sangat penting. Pada 2030 Indonesia diperkirakan menjadi negara yang perekonomiannya terbesar di urutan ketujuh didunia, dan pada 2050 diperkirakan untuk menjadi ekonomi terbesar keempat di dunia dan dalam daya beli pasar. Meskipun memiliki potensi ekonomi yang sangat besar, Indonesia tidak memiliki infrastruktur maritim yang cocok sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. Bahkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya terkonsentrasi di pulau-pulau utama negara, tetapi interkonektivitas antarpulau masih kurang, dan perusahaan yang pernah menghabiskan biaya transportasi yang tinggi karena kurangnya jumlah pelabuhan perairan laut dalam di Indonesia, memindahkan produksi mereka ke negara tetangga.

Strategi maritim Indonesia dengan Tiongkok telah erat pada masa Presiden Xi Jinping. Xi Jinping pertama kali memperkenalkan gagasan China Maritime Silk Road didepan parlemen Indonesia di Jakarta, dan Tiongkok mendukung strategi maritim Indonesia sebagai bentuk balasan atas dukungan Indonesia terhadap strategi maritime milik Tiongkok. Dana yang dikhususkan untuk mengembangkan Maritime Silk Road juga dapat menjadi sumber pembiayaan yang penting untuk proyek-proyek di Indonesia. Setelah terjadi pembekuan hubungan diplomatik selama sebagian besar dari era Soeharto – di mana Indonesia secara terbuka bertindak sebagai negara anti-komunis, Tiongkok dan Indonesia akhirnya menjalin hubungan diplomatik pada awal 1990-an. Hal tersebut membuktikan hubungan Indonesia dan Tiongkok yang kuat, setelah Tiongkok membantu Indonesia keluar dari puncak krisis keuangan Asia pada 1997. Kedua negara tersebut saat ini memiliki hubungan diplomatik dan ekonomi yang makmur, hubungan baik keduanya dalam membangun infrastruktur maritim membuat Indonesia yakin banyak dari pembangunan pelabuhan yang akan didanai oleh China. Bagi Indonesia sendiri sebagi negara yang dinilai startegi bagi pelaksanaan BRI, Indonesia akan mampu memainkan posisi tawar dan kepercayaan strategis bagi kepentingan nasional.

 

Potensi BRI 

Kita dapat mengetahui bahwa BRI mengacu pada Silk Economic Road dengan tujuan untuk meningkatkan perekonomian dunia serta menciptakan sebuah jalur perdagangan baru yang memiliki peluang bisnis yang lebih besar bagi Tiongkok. Penanaman modal di Indonesia merupakan salah satu upaya Tiongkok guna merealisasikan inisiatif  BRI. Modal yang masuk dari Tiongkok sedikit-banyak telah memberikan pengaruh terhadap perkembangan dan kemajuan pembangunan infrastruktur Indonesia. Dengan kemajuan infrastruktur akan meningkatkan perekonomian Indonesia. Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, dan terdapat di wilayah tumpuan maritime dunia. Indonesia menghubungkan navigasi maritim antara 2 samudra, 2 benua dan antara pasar utama yaitu Asia Tenggara. Artinya Indonesia merupakan sebuah negara pemain ekonomi yang perannya sangat penting. Di ramalkan bahwa pada tahun 2030 Indonesia diperkirakan menjadi negara dengan perekonomian terbesar diurutan ketujuh di dunia, dan pada tahun 2050 diperkirakan akan menjadi ekonomi terbesar keempat didunia dan dalam daya beli pasar.

Meskipun potensi ekonomi sangat besar, Indonesia tidak memiliki infrastruktur maritim yang cukup sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. Pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya terkonsentrasi di pulau-pulau utama negara, tetapi interkonektivitas antar pulau masih kurang, dan perusahaan yang pernah menghabiskan biaya transportasi yang tinggi karena kurangnya jumlah pelabuhan perairan laut dalam di Indonesia, memindahkan produksi mereka ke negara tetangga.  Dana yang dikhususkan untuk mengembangkan Maritime Silk Road juga dapat menjadi sumber pembiayaan yang penting untuk proyek-proyek di Indonesia. Dengan membaiknya infrastruktur Indonesia membuat para investor menjadi lebih mudah untuk menjangkau daerah-daerah yang akan dituju sehingga dengan adanya kerja sama ini dapat membantu meningkatkan neraca perekonomian Indonesia.

 

******************

*Jeconnyah Veronica Magdalena adalah mahasiswa magang di Pusat Penelitian Kewilayahan LIPI dari Jurusan Ilmu Hubungan Internasional Universitas Kristen Indonesia (UKI). Ia dapat dikontak melalui surel veronicaconny1@gmail.com

 

 

PUSTAKA ACUAN

Apa Itu OBOR, Jalur Sutra Modern China yang Jadi Polemik RI? Rehia Sebayang. https://www.cnbcindonesia.com/news/20190513181838-4-72178/apa-itu-obor-jalur-sutra-modern-china-yang-jadi-polemik-ri diakses pada 17 Desember 2020.

Poros Maritim Dunia dan Kemitraan Strategis Indonesia-China.Yohanis Fransiskus Ansy Lema  https://news.detik.com/kolom/d-4709274/poros-maritim-dunia-dan-kemitraan-strategis-indonesia-china diakses pada 17 Desember 2020.

"One Belt, One Road" untuk Indonesia?. Muhammad fahrulrozzi Iriansyah https://www.kompasiana.com/muhammadfahrulrozzi7860/5b37b76e16835f7e52226c92/one-belt-one-road-untuk-indonesia?page=all diakses pada 20 Desember 2020.

Poros Maritim Dunia, Potensi Indonesia Miliki Model Diplomatik Unik". Deti Mega Purnamasari https://nasional.kompas.com/read/2019/08/07/07214581/poros-maritim-dunia-potensi-indonesia-miliki-model-diplomatik-unik?page=all. diakses pada 23 Desember 2020.

One Belt One Road (OBOR): China’s Liberal Security Agenda?.Yandry Kurniawan https://jurnal.dpr.go.id/index.php/politica/article/download/1135/622 diakses pada 28 Desember 2020.

Latest Update

 
Mar 15, 2022

Rempah, Alat Niaga Pendorong Pertemuan Lintas Bangsa

News Humas BRIN
Dec 31, 2021

Perdagangan Indonesia-Uni Eropa: Studi Kasus Hambatan Ekspor Ikan Tuna Indonesia ke Uni Eropa

Opinions Catherina Henderson*
Dec 31, 2021

Sejarah Perbatasan di Asia Tenggara: Mengupas Pengelolaan Perbatasan Di Vietnam

Opinions Lamijo
Dec 31, 2021

Ethiopia 2020–2021: Mengulang Masa Kelam Perpecahan Etnis

Opinions Angela Iban
Dec 28, 2021

Kota-Kota Perbatasan di Asia Tenggara: Arti Penting Kota Perbatasan Mong Cai bagi Vietnam

Opinions Lamijo

dokinfosimpegintra lipiepenelitiBanner KIP

Privacy Policy Legal Disclaimer « ISSN 2086-5309 » ContactCopyright © 2022 Research Center for Regional Resources - Indonesian Institute of Sciences (P2SDR-LIPI)
Opinions