Uni Eropa (UE) memiliki kebijakan untuk menjaga lingkungan yang disebut sebagai proyek European Green Deal. European Green Deal adalah sebuah strategi UE untuk membentuk perekonomian UE yang sustainable dengan mengatasi permasalahan-permasalahan lingkungan (European Commission, 2020). European Green Deal berkaitan dengan proses integrasi Eropa (European Integration) sebagai integrasi industri, politik, hukum, ekonomi, sosial, dan budaya negara-negara di Eropa. European Green Deal merupakan tujuan bersama UE dengan negara-negara anggotanya.
Namun di sisi lain, integrasi Eropa mendapat ancaman kehidupan politik dan demokrasi dari masyarakatnya sendiri yang disebut sebagai gerakan Euroscepticism. Euroscepticism merupakan gerakan atau kritik terhadap integrasi UE termasuk keengganan partisipasi politik, unifikasi kehidupan ekonomi, sosial dan budaya sebagai konsekuensi terhadap keanggotaan UE sebagai reaksi terhadap persyaratan aksesi UE dan kritik terhadap institusi beserta kebijakan UE (GÜLMEZ, 2013). Untuk memenuhi komitmen UE tentang kebijakan lingkungannya, UE tetap membutuhkan partisipasi negara anggotanya beserta masyarakatnya. Namun, Euroscepticism menjadi tantangan bagi UE untuk memenuhi target pada 2030.
Menurut De Vries, saat ini UE sedang dalam masa-masa sulit, di mana UE terlihat rapuh pada ekonominya, kurangnya keyakinan pada pengamanan antarnegara, begitu terpecah-pecah dalam menangani krisis legitimasi yang dihadapi lembaga-lembaganya, dan karenanya diserang oleh para pengusaha politik yang menganut Euroscepticism (De Vries, 2018). Euroscepticism dapat mengancam proses integrasi Eropa, termasuk proyek European Green Deal yang menjadi tujuan Bersama UE. Artikel ini akan melihat apakah komitmen UE dalam isu lingkungan dapat berjalan dengan baik walaupun isu Euroscepticism menjadi rintangan dalam implementasi komitmen UE tersebut.
Integrasi Eropa dan Euroscepticism
UE memulai perjalanan panjang integrasi Eropa mulai dari kerja sama antarpemerintah di bidang industri energi (European Coal and Steel Community) pada 1951 hingga menjadi organisasi supranasional. UE menjadi entitas politik baru yang berhak atas pemerintahan politik dan ekonomi di atas negara-negara anggotanya atau supranasional. Integrasi politik dan ekonomi yang masif membuat UE berhak membuat badan eksekutif dan legislatif yang birokrasinya lebih kuat dari sistem politik dan ekonomi negara-negara anggota. Negara-negara anggota UE wajib mematuhi instrumen-instrumen hukum yang telah di tetapkan oleh badan legislatif UE melalui perjanjian-perjanjian seperti traktat Maastricht dan traktat Lisbon. Perkembangan Integrasi Eropa dapat dilihat dari terus bertambahnya negara anggota, dan juga penambahan kebijakan-kebijakan untuk memperkuat integrasi ekonomi, politik, dan sosial antarnegara anggota. Setidaknya sejak awal 1990-an, berbagai bentuk Euroscepticism telah muncul di masyarakat dan menjadi perdebatan di politik UE (Harmsen & Spiering, 2004). Secara garis besar, Euroscepticism terbentuk atas kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap UE dalam berbagai aspek. Menurut Harmsen dan Spiering, kompetensi kebijakan UE yang semakin berkembang dapat melipatgandakan potensi gesekan yang dapat memunculkan bentuk-bentuk Euroscepticism. Sehingga proses dari integrasi Eropa menjadi korban dari keberhasilannya (Harmsen & Spiering, 2004). Parlemen Uni Eropa (European Parliament) selalu melakukan survei terhadap UE untuk masyarakatnya melalui Eurobarometer. Survei ini mencakup berbagai masalah, dengan fokus pada persepsi dan harapan warga negara terhadap tindakan UE, dan tantangan utama yang dihadapi UE. Survei Eurobarometer juga dapat digunakan sebagai indikator untuk memonitor Euroscepticism. Berikut merupakan survei Eurobarometer dari tahun 2007 hingga 2020 mengenai persepsi terhadap UE.

Citra Uni Eropa di mata masyarakat Eropa dari tahun ke tahun. Sumber: https://www.europarl.europa.eu
Dari grafik di atas, kita dapat melihat bagaimana perkembangan citra UE di mata masyarakat Eropa sejak tahun 2007 hingga tahun 2020. Pada tahun 2010 hingga tahun 2015, persepsi negatif (garis merah) UE di mata masyarakat Eropa meningkat dan terjadi penurunan persepsi positif (garis biru) terhadap UE yang disebabkan oleh krisis ekonomi. Pada masa-masa tersebut, persepsi masyarakat terhadap UE dapat mengancam kepercayaan publik terhadap kinerja pemerintah UE. Selain tingginya persepsi negatif, persepsi netral (garis kuning) juga cukup tinggi yang di mana persepsi netral bisa berarti tidak adanya keterikatan dan dukungan kepada UE. Persepsi negatif dan netral dapat menjadi celah bahwa Euroscepticism bisa mempengaruhi pemikiran masyarakat Eropa. Menurut De Vries, ini merupakan perkembangan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam pemerintahan supranasional. Euroscepticism telah menyebabkan kontestasi publik yang lebih besar, tetapi pada saat yang sama UE lebih bergantung pada dukungan publik untuk legitimasi yang berkelanjutan (Vries, Euroscepticism and the Future of European Integration, 2018). Hingga sekarang, UE terus berusaha untuk mendapatkan dukungan dari masyarakat Eropa agar proses integrasi Eropa bisa terus berjalan dengan lancar.
European Green Deal sebagai salah satu proyek Integrasi Eropa
Proyek Integrasi Eropa meliputi berbagai macam bidang seperti politik, ekonomi, sosial, hingga budaya. Salah satu kebijakan yang sedang gencar untuk diimplementasikan adalah kebijakan mengenai lingkungan. UE dan negara-negara anggotanya mulai berkomitmen untuk membentuk politik dan ekonomi yang lebih hijau di benua Eropa dalam proyek European Green Deal. European Green Deal bertujuan untuk mengubah blok 27 negara dari ekonomi karbon tinggi ke rendah, tanpa mengurangi kemakmuran dan sejalan dengan meningkatkan kualitas hidup masyarakat Eropa, melalui udara dan air yang lebih bersih, kesehatan yang lebih baik, dan lingkungan yang berkelanjutan. Usaha-usaha ini didorong oleh banyaknya masalah lingkungan dan oleh karena itu diperlukan kerja sama antarpemerintah. Pada saat yang sama, peningkatan integrasi ekonomi antarnegara mendorong harmonisasi internasional standar produk lingkungan untuk mengurangi potensi hambatan perdagangan dan distorsi pasar (Holzinger, Knill, & Sommerer, 2014). Menurut McCormick (2014), fokus terhadap lingkungan merupakan bagian dari agenda integrasi UE, namun sedikit terlambat sebagaimana kebanyakan pemerintah nasional pada tahun 1950-an dan 1960-an kurang memperhatikan implikasi lingkungan dari pembangunan ekonomi (McCormick, 2001).
Sebagai bagian dari agenda integrasi Eropa, komitmen UE terhadap lingkungan tetap butuh dukungan dari negara-negara anggota dan masyarakatnya. Pengamat politik mengidentifikasi 'trio hijau' di negara UE yaitu: Denmark, Jerman dan Belanda. Trio hijau diperluas ke 'green sextet' ketika Austria, Finlandia dan Swedia bergabung dengan UE pada 1995. Negara-negara yang berfokus pada isu lingkungan menunjukkan gaya pengaturan, instrumen dan strategi lingkungan nasional yang berbeda-beda,. Namun demikian, di dalam Dewan, Negara Anggota 'hijau' ini telah bekerja erat dalam masalah lingkungan tertentu (Wurzel, Liefferink, & Di Lullo, 2019). Politisi Jerman, Ursula von der Leyen berpendapat bahwa perlunya Eropa tetap bersatu dalam menangani otoritarianisme, proteksionisme, dan, yang paling mendesak, perubahan iklim. "Pertama-tama kita harus menemukan kembali persatuan kita; jika kita bersatu di dalam tidak ada yang akan memisahkan kita dari luar (Deutsche Welle, 2019)." Namun, disisi lain, menurut Piotr Arak, UE perlu memiliki rencana yang andal dan inklusif yang menghasilkan netralitas iklim pada 2050 tanpa merusak dana kebijakan kohesi dan tidak mengekang ekonomi Eropa. Menjaga dan memelihara solidaritas sebagai nilai dasar Eropa sejauh ini merupakan tantangan terbesar yang harus dihadapi (Arak, 2020). Komitmen UE terhadap lingkungan dipercaya dapat membangun solidaritas antar negara anggota dan memperkuat agenda integrasi Eropa.
Euroscepticism sebagai penghambat atau pemercepat European Green Deal?
Menurut penelitian De Vries dan Hoffmann, Euroscepticism dapat dibenahi melalui empat dimensi, yaitu: functional dimension, communal dimension, utilitarian dimension, dan institutional dimension. Empat dimensi tersebut menjadi trade-offs penting yang harus dihadapi masyarakat Eropa (Vries & Hoffmann, 2017). Functional dimension melihat bentuk integrasi entitas Eropa. Dimensi ini melihat fungsi UE secara keseluruhan mulai dari monetary union, political union, hingga custom union. Communal dimension melihat dengan siapa masyarakat Eropa menginginkan integrasi ini. Dimensi ini fokus pada kenyamanan masyarakat Eropa dengan satu sama lain sebagai satu komunitas yang bersatu. Utilitarian dimension melihat seberapa besar keinginan masyarakat Eropa untuk ikut serta dalam integrasi Eropa. Keikutsertaan dan kontribusi masyarakat Eropa terhadap UE menjadi bagian penting bagi integrasi Eropa. Dan yang terakhir, Institutional dimension melihat bagaimana masyarakat Eropa menginginkan institusi pemerintahan yang baik. UE sebagai institusi supranasional harus melihat bagaimana keinginan masyarakatnya untuk mendapatkan pemerintahan yang ideal. Lalu, Sony Kapoor berpendapat melalui European Green Deal dapat membenahi Euroscepticism karena memenuhi dimensi-dimensi tersebut. Menurut Sony Kapoor, krisis multifaset ini membutuhkan respons yang ambisius dan multidimensi. European Green Deal dapat menjadi solusi yang kuat karena European Green Deal dapat mengembangkan investasi swasta dan publik berskala besar dan menghijaukan ekonomi UE. European Green Deal merupakan respons yang secara bersamaan memberikan stimulus ekonomi, menciptakan lapangan kerja baru, menangani perubahan iklim yang akan datang, dan menempatkan ekonomi UE di jalur keberlanjutan (Kapoor, 2011).
Strategi European Green Deal yang dapat mengembangkan ekonomi memungkinkan terjadinya kepentingan yang sama antara berbagai haluan politis di UE, termasuk golongan Euroscepticism. Sebuah studi dari Waldholz (2019) menerangkan bahwa partai populis di beberapa negara anggota EU, menyuarakan semangat “Green Patriotism” dalam orientasi politiknya (Waldholz, 2019). “Green Patriotism” memberikan dukungan kepada proyek-proyek UE yang berfokus pada ekonomi hijau seperti hambatan dagang yang tidak sustainable, dan investasi pada perusahaan lokal yang mendorong ekonomi hijau. Dalam hal ini, tergambar bahwa European Green Deal memberikan ruang umum di mana interaksi empat dimensi antar berbagai kepentingan identitas politik terjadi, termasuk kelompok Euroscepticism yang cenderung masuk pada orientasi yang populis. Jika UE berhasil memenuhi semua target European Green Deal, maka dukungan dan kepercayaan masyarakat dapat meningkat kembali.
European Green Deal untuk masa depan lingkungan dan integrasi Eropa dan tantangan untuk Indonesia
European Green Deal merupakan salah satu usaha untuk mengembangkan proses integrasi Eropa di masa depan melalui jalur sustainability. Selain berkomitmen untuk menjaga lingkungan, European Green Deal juga dapat membantu meningkatan integrasi UE dari sisi ekonomi, sosial, dan politik. Hanya saja implementasi dari European Green Deal harus memenuhi segala dimensi yang dibutuhkan dalam integrasi Eropa untuk mengihndari Euroscepticism. European Green Deal merupakan tujuan bersama dalam membentuk integrasi UE menjadi lebih sustainable. Maka dari itu dukungan dan partisipasi masyarakat sangat dibutuhkan dalam menjalani semua proses European Green Deal. Jika European Green Deal berhasil memenuhi targetnya bersama dengan negara-negara anggotanya, maka Euroscepticism bukan lagi halangan bagi UE untuk mengembangkan proses integrasi Eropa.
Melihat proyek European Green Deal milik UE sebagai pembentukan ekonomi yang lebih hijau, maka ada tantangan tersendiri bagi negara-negara lainnya dalam membuat komitmen yang sama. Komitmen ini juga berlaku bagi Indonesia, yang mana Indonesia merupakan negara yang bisa dikatakan dekat dengan lingkungan dan alam. Melihat dari sumber daya alam yang dimiliki Indonesia, Indonesia bisa lebih mudah dalam menjalani komitmen kepada lingkungan. Selain dapat membentuk perkonomian yang lebih sustainable, komitmen terhadap lingkungan seperti European Green Deal merupakan salah satu investasi besar untuk masa depan yang lebih hijau dan sehat.
*Ariq Radya Faustino adalah mahasiswa magang di Pusat Penelitian Kewilayahan LIPI. Saat ini Ariq sedang menyelesaikan studi sarjana jurusan European Studies di The Hague University of Applied Science.
Daftar Pustaka
Arak, P. (2020). FOR OR AGAINST THE EUROPEAN GREEN DEAL? Retrieved from The Rift: https://therift.eu/index.php/2020/01/27/for-or-against-the-european-green-deal/
Deutsche Welle. (2019). Von der Leyen urges 'green deal' for a more united EU. Retrieved from Deutsche Welle: https://www.dw.com/en/von-der-leyen-urges-green-deal-for-a-more-united-eu/a-49603706
European Commission. (2020). A European Green Deal. Retrieved from European Commission: https://ec.europa.eu/info/strategy/priorities-2019-2024/european-green-deal_en
GÜLMEZ, S. B. (2013). EU-SCEPTICISM VS EUROSCEPTICISM: RE-ASSESSING THE PARTYPOSITIONS IN THE ACCESSION COUNTRIES TOWARDS EU MEMBERSHIP. EU Enlargement: Current Challenges and Strategic Choices.
Vries, C. E. (2018). Euroscepticism and the Future of European Integration. Oxford: Oxford University Press.
Harmsen, R., & Spiering, M. (2004). EUROSCEPTICISM AND THE EVOLUTION OF EUROPEAN POLITICAL DEBATE. In R. Harmsen, & M. Spiering, EUROSCEPTICISM: PARTY POLITICS, NATIONAL IDENTITY AND EUROPEAN INTEGRATION. Amsterdam: Rodopi.
Holzinger, K., Knill, C., & Sommerer, T. (2014). Is there convergence of national environmental policies? An analysis of policy outputs in 24 OECD countries. In H. Jörgens, A. Lenschow, & D. Liefferink, Understanding Environmental Policy Convergence. Cambridge: Cambridge University Press.
McCormick, J. (2001). Environmental Policy in the European Union. New York: Palgrave.
Kapoor, S. (2011). Funding the Green New Deal: Building a Green Financial System. Brussels: Green European Foundation.
Wurzel, R. K., Liefferink, D., & Di Lullo, M. (2019). The European Council, the Council and the Member States: changing environmental leadership dynamics in the European Union. Environmental Politics.
Deutsche Welle. (2019). Von der Leyen urges 'green deal' for a more united EU. Retrieved from Deutsche Welle: https://www.dw.com/en/von-der-leyen-urges-green-deal-for-a-more-united-eu/a-49603706
Arak, P. (2020). FOR OR AGAINST THE EUROPEAN GREEN DEAL? Retrieved from The Rift: https://therift.eu/index.php/2020/01/27/for-or-against-the-european-green-deal/
Vries, C. E., & Hoffmann, I. (2017). What Do the People Want? Opinions, Moods, Preferences of European Citizens.
Vries, C. E., & Hoffmann, I. (2017). What Do the People Want? Opinions, Moods, Preferences of European Citizens.
European Commission. (2020). A European Green Deal. Retrieved from European Commission: https://ec.europa.eu/info/strategy/priorities-2019-2024/european-green-deal_en
Waldholz, R. (2019). 'Green wave' vs right-wing populism: Europe faces climate policy polarisation. Retrieved from Clean Energy Wire: https://www.cleanenergywire.org/news/green-wave-vs-right-wing-populism-europe-faces-climate-policy-polarisation