• Home
  • About Us
    • About P2W
    • People
      • Management
      • Researchers
      • Visiting Researchers
    • Institutional Partners
    • Annual Reports
  • Projects
  • News and Events
    • News
    • Events
      • Past Events
      • Upcoming Events
    • Opinions
    • Prominent Figures
  • Publications
    • Books
    • Newsletter
    • Working Papers
    • Policy Papers
    • Journal Kajian Wilayah
    • Book Reviews
  • Gallery
    • Photos
    • Videos
  • Contact
  • Sudut Pandang Amin Mudzakkir

Latest Update

 
Mar 15, 2022

Rempah, Alat Niaga Pendorong Pertemuan Lintas Bangsa

News Humas BRIN
Dec 31, 2021

Perdagangan Indonesia-Uni Eropa: Studi Kasus Hambatan Ekspor Ikan Tuna Indonesia ke Uni Eropa

Opinions Catherina Henderson*
Dec 31, 2021

Sejarah Perbatasan di Asia Tenggara: Mengupas Pengelolaan Perbatasan Di Vietnam

Opinions Lamijo
Dec 31, 2021

Ethiopia 2020–2021: Mengulang Masa Kelam Perpecahan Etnis

Opinions Angela Iban
Dec 28, 2021

Kota-Kota Perbatasan di Asia Tenggara: Arti Penting Kota Perbatasan Mong Cai bagi Vietnam

Opinions Lamijo

Dilema Herd Immunity dalam Penanganan COVID-19 di Inggris (Edisi Khusus COVID-19, Bagian 15)

22 June 2020
Written by Gusnelly & Ayu Nova Lissandhi
fShare
Tweet

coronavirus england illustration creative concept scales versus one side scale lies virus covid 19 other uk flag icon flat illustration 7280 3438

Ilustrasi freepik.com

 

Pandemi COVID-19 menjadi catatan kelam dalam dunia kesehatan di seluruh penjuru dunia.  Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) per 13 Juni 2020 mencatat sebanyak 7,5 juta orang terkonfirmasi positif COVID-19 dengan angka kematian mencapai 423.349 jiwa. Penyebaran virus ini menjadi krisis kesehatan terbesar karena telah menyebar ke 185 negara. Tidak hanya Cina yang mengalami tekanan ekonomi, politik, dan sosial akibat serangan wabah ini, tetapi seluruh dunia terjebak dalam situasi yang sama. Negara adikuasa seperti Amerika, Jerman, dan Inggris tidak luput dari serangan wabah ini. Italia mencapai rekor pertama kali untuk jumlah korban meninggal terbesar dalam satu hari akibat COVID-19. Spanyol mencatat 832 orang dan Italia mencatat 889 orang penduduk meninggal hanya dalam waktu sehari. Di Inggris, sampai pertengahan Juni, jumlah orang yang sudah terpapar sebanyak  292.954 orang dengan angka kematian sebesar 41.481 jiwa.

Pada Desember 2019, menjadi tonggak sejarah yang tidak akan pernah terlupakan oleh masyarakat dunia, termasuk penduduk Inggris. Pada penghujung tahun itu, WHO mendapatkan laporan dari pemerintah Cina tentang adanya sejenis  pneumonia yang menyebabkan terjadinya infeksi pernapasan akut yang menyerang paru-paru. Laporan ini sekaligus menjadi awal kepanikan masyarakat dunia karena virus mematikan tersebut telah menyerang puluhan penduduk di Wuhan, Provinsi Hubei. Penyebarannya juga sangat cepat melalui turis atau orang yang pernah berkunjung ke China kala itu.

Pada pertengahan Januari, penyebaran virus yang disebut SARS-Cov-2 itu sampai ke Taiwan dan kian hari terus menambah jumlah orang yang terinfeksi. Hal itu terjadi terutama karena terbawa oleh mereka yang pernah bepergian ke negara terdampak (imported cases).  Tidak berselang lama, pada Januari 2020, virus yang sama menyebar di Prancis dan menjadi negara pertama di  Eropa yang mengonfirmasi tiga kasus COVID-19  (Kompas, 2020). Akhirnya,  pada 11 Maret 2020 WHO mengumumkan darurat kesehatan masyarakat global akibat serangan virus COVID-19 tersebut.

Pada deteksi awal, Pemerintah di negara-negara Eropa belum menganggap serius penyebarannya.  Meskipun sebenarnya, pada Februari 2020, Eropa telah menjadi episentrum dari penyebaran pandemi virus COVID-19.  Hingga pertengahan Maret 2020, kantor, pertokoan, sekolah, dan universitas tetap beroperasi secara normal. Satu per satu kasus positif terkonfirmasi di Jerman, Spanyol, Belanda, Italia, dan Inggris meski pemberitaan tentang wabah di Italia semakin memprihatinkan.

Kasus penyebaran virus COVID-19 di Inggris bermula dari seorang laki-laki berkewarganegaraan Inggris yang terinfeksi virus corona di kapal Diamond Princess. Lelaki tersebut dikabarkan meninggal dunia. Ia menjadi Warga Negara Inggris pertama yang meninggal di Jepang karena COVID-19. Pada 1 Maret 2020, virus telah menjangkiti empat penjuru wilayah Great Britain yakni Inggris, Irlandia Utara, Skotlandia, hingga Wales. Pada awal Maret, warga Inggris yang positif terinfeksi COVID-19 meningkat jadi 51 orang. Dilansir dari Foreign Policy, meski virus telah menyebar di beberapa area, Pemerintah Inggris hanya meminta warganya untuk tenang dan beraktivitas seperti biasa. Padahal beberapa negara di Eropa Barat lainnya telah telah menutup sekolah dan menempatkan para tentara di jalanan untuk menertibkan peraturan karantina. Pemerintah Inggris hanya melarang warga di atas usia 70 tahun dengan kondisi flu atau gejala-gelaja serupa COVID-19 untuk tetap di rumah (Kompas, 2020).    

Respon Inggris yang lambat didorong oleh teori kontroversial yang dianut petinggi di lingkup Pemerintah Inggris. Pemerintah Inggris menjamin bisa mengendalikan penularan virus corona dengan mengklaim lembaga kesehatan mereka siap menghadapi virus ini. Inggris menyebut sudah menyiagakan dua rumah sakit untuk melakukan karantina terhadap para pengidap virus corona. Pemerintah Inggris melalui  National Health Service (NHS) telah menyiapkan berbagai prosedur pengendalian infeksi untuk menghadapi virus corona. Cara lain yang dilakukan adalah  membiarkan masyarakat Inggris tetap beraktivitas sampai virus menyebar secara alami. Setelah virus itu menular ke seluruh populasi,  mereka akan menjadi  kebal terhadap COVID-19.

Inggris merupakan salah satu negara yang laju pertambahan jumlah terinfeksi COVID-19 cenderung tinggi.  Inggris bahkan telah menjadi negara paling parah kelima di dunia akibat penyebaran virus corona, setelah Amerika Serikat, Italia, Spanyol, dan Prancis. Bahkan sama hal nya dengan Indonesia, petinggi negara, seorang Menteri pun ikut menjadi terjangkiti oleh COVID-19 tersebut, yaitu Menteri Kesehatan Inggris Nadine Dorries. Menteri Nadine Dorries dinyatakan positif terjangkit virus corona pada Maret 2010. Kondisi ini pada akhirnya menjadi pengungkit kepanikan dan kekhawatiran  masyarakat Inggris. Pandemik global virus corona pada akhir 2019 tersebut mulai menjadi  momok menakutkan bagi masyarakat Inggris  karena bisa jadi serangan virus ini akan mengubah pola hidup dan peradaban manusia. Hal itu tidak hanya melingkupi ranah teknologi, tetapi  juga hal yang lebih mendasar, yaitu tentang kesehatan manusia, perekonomian, terutama kebutuhan akan pangan.

Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk menghentikan penyebaran virus corona. Pemerintah Inggris memutuskan menerapkan kebijakan pembatasan akses total (lockdown) selama tiga pekan untuk melawan penyebaran virus corona. Kebijakan itu diterapkan karena penduduk setempat seolah mengabaikan anjuran untuk dan tidak bepergian guna menekan penyebaran virus. Selain mengambil kebijakan lockdown, menjaga jarak diberlakukan oleh pemerintah Inggris karena masyarakat yang sulit untuk dilarang bepergian dan keluar rumah. Pemerintah meminta penduduk untuk menerapkan physical distancing (menjaga jarak) sejauh 1,5 meter dan tidak bersentuhan tangan. Perdana Menteri Boris Johnson melarang masyarakat untuk  melakukan perjalanan yang tidak penting, pertemuan publik, dan bekerja di kantor. Masyarakat diperbolehkan meninggalkan rumah hanya untuk berolahraga, berbelanja barang-barang penting ataupun kebutuhan perawatan medis, atau untuk melakukan sebuah pekerjaan yang tidak bisa dilakukan dari rumah.

 

Polemik Kebijakan Herd Immunity  di Inggris

Pemerintah melalui Boris Johnson, menginisiasi kebijakan ini dengan harapan bahwa jika komunitas dibiarkan terjangkiti, maka pembentukan kekebalan kelompok (herd immunity) dapat  menghentikan penyebaran infeksi. Herd immunity atau kekebalan kelompok adalah kondisi ketika sebagian besar orang dalam suatu kelompok telah memiliki kekebalan terhadap penyakit infeksi tertentu. Semakin banyak orang yang kebal terhadap suatu penyakit, semakin sulit bagi penyakit tersebut untuk menyebar karena tidak banyak orang yang dapat terinfeksi.

Herd Immunity adalah konsep epidemiologis yang menggambarkan keadaan di mana populasi - biasanya orang - cukup kebal terhadap penyakit sehingga infeksi tidak akan menyebar dalam kelompok itu. Strategi ini  dipercaya dapat melindungi kelompok rentan. Herd immunity adalah konsep yang terkait dengan program vaksinasi  untuk mendapatkan kekebalan pada banyak orang.  Kekebalan dapat diperoleh dengan infeksi, atau dengan vaksinasi dapat dilakukan pada kelompok rentan yang telah terinfeksi. Jadi, semakin banyak orang yang terinfeksi dan sembuh, semakin banyak juga orang yang kebal dan herd immunity pun akan terbentuk. Keberhasilan dalam metode herd immunity  atau vaksinasi tersebut akan berhasil di beberapa populasi apabila kampanye untuk social distancing di daerah berisiko tinggi gencar dilakukan sehingga dapat menjadi cara efektif paling akhir untuk menghambat mata rantai penyebaran virus. Masalah lain akan muncul karena kekebalan setiap orang yang rentan terkena virus tidak sama. Jika dalam kelompok ada yang pernah mengalami terpapar virus, maka akan memiliki kekebalan biologis baru yang dapat melindunginya dari kontraindikasi vaksinasi untuk dirinya dan mencegah penularan (Fine P, Eames K, Heymann DL, 2011). Kendati demikian, sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal medis Lancet menunjukkan bahwa tidak hanya mereka yang rentan saja perlu dilindungi karena anak-anak mungkin menularkan virus meski tidak menunjukkan gejala apapun. Risiko tertularnya anak-anak selama di sekolah harus ikut jadi perhatian pemerintah Inggris.  Para peneliti menemukan seorang anak yang berada pada satu keluarga terinfeksi tetapi tidak menunjukkan gejala. Namun,  hasil CT Scan dada menunjukkan bahwa ia memiliki pneumonia dan bahkan hasil tes virus juga dinyatakan positif COVID-19 (Detik News, 2020).

Pendekatan herd immunity ternyata mengundang polemik  karena dianggap bukan solusi yang tepat sebagai  penghambat penyebaran virus. Sebuah analisis baru oleh ahli imunologi di Imperial College London dan London School of Hygiene and Tropical Medicine tentang dampak virus corona di Italia menunjukkan bahwa sebanyak 30 persen pasien yang dirawat di rumah sakit memerlukan perawatan intensif  (Wirawan, 2020). Kebijakan ini tidak akan berfungsi jika langkah-langkah social distancing,  melindungi kelompok berisiko seperti lansia dan orang sakit dari kontak dengan populasi umum dan pembiaran atas aktifitas masyarakat telah menyebabkan angka penyebaran  terus mengalami kenaikan. Kebijakan lockdown dan social distancing  baru dijalankan pada tanggal 24 Maret 2020 setelah sebelumnya terjadi penolakan atas kebijakan  herd immunity yang dianggap tidak efektif. 

Pada akhirnya herd immunity tidak jadi dijalankan pada awal Maret 2020. Pemerintah memilih menjalankan kebijakan lockdown pada 24 Maret.  Namun pada  akhir April, beberapa ahli dan praktisi ekonomi kembali menyarankan untuk melakukan kebijakan herd immunity dengan alasan menjaga stabilitas ekonomi. Pemberlakuan  lockdown  dalam jangka waktu lama berpengaruh juga pada peningkatan pengangguran. Krisis kesehatan yang terjadi secara masal di seluruh benua, memunculkan krisis ekonomi, politik, dan sosial budaya.  Persoalan yang tidak kalah penting adalah kesehatan mental orang tua dan anak-anak. Kondisi ini yang kemudian ikut mendorong Menteri Kesehatan Inggris, Matt Hancock untuk mendukung kembali dilakukan kebijakan herd immunity  yang telah terbukti secara saintifik, bukan sekadar strategi. Akhirnya pada Mei, PM. Johson, membolehkan mereka yang tidak bisa bekerja di rumah kembali bekerja dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang berlaku. Pada awal Juni, pusat pertokoan dapat dibuka kembali, sementara hotel dan restoran rencananya akan beroperasi kembali pada awal Juli.

Sebanyak apapun kebijakan dibuat dan dijalankan dengan ketat, tetap yang dibutuhkan adalah kesadaran dan kepatuhan dari  individu dan kelompok masyarakat. Mereka yang tampak sehat, justru bisa jadi yang menjadi penyebar virus. Oleh karena itu, menjaga jarak, menggunakan masker ketika keluar rumah atau ketika berinteraksi dengan orang lain, serta  stay at home adalah pilihan tepat di tengah situasi wabah berbahaya ini.  

 

Meningkatkan Imunitas: Sebuah Refleksi Gastronomi di Tengah Pandemi

Dalam masa pandemi dan krisis kesehatan global ini, berbagai negara termasuk Inggris menjalankan berbagai cara untuk membantu mengatasi serangan dari wabah mematikan ini. Upaya untuk menjauhkan masyarakat dari kerumunan, melarang interaksi jarak dekat dan bahkan meminta untuk melakukan berbagai aktivitas dari rumah saja menjadi tren dalam penanganan penyebaran COVID-19. Inggris yang merupakan sebuah negara maju di Eropa dengan fasilitas kesehatan yang bagus pun tidak mampu menekan angka kematian warga negaranya melawan serangan virus ini. Obat herbal asal Indonesia mungkin dapat menjadi salah satu solusi membantu negara-negara di Eropa dalam meningkatkan daya tahan tubuh warga negaranya. Hal yang sama sebenarnya sudah dijalani oleh pemerintah Cina. Sejak pandemi produk obat herbal Negeri Tirai Bambu seperti Linhua Qingwen Jiaonang dan Hua Xiang Zheng Qi Kou Fu Ye menjadi sangat popular karena dipercaya mampu mengatasi serangan flu dan masuk angin.

Jika dalam masa pandemi COVID-19, perdagangan obat herbal Cina meningkat, maka jamu dan minuman tradisional Indonesia pun memiliki peluang yang sama.  Semakin mewabahnya COVID-19 menjadi momentum yang sangat bagus untuk memanfaatkan dan menghidupkan kembali kejayaan rempah-rempah negeri ini. Dalam pembukaan Asian Agriculture and Food Forum (ASAAF), Pemerintah menyakini bahwa seduhan rempah-rempah yang seperti cengkeh, pala, sereh dan kayu manis bisa meningkatkan daya tahan tubuh untuk melawan virus. Jika pola penanganan COVID-19 melalui herd immunity dengan vaksinasi dipercaya dapat membantu kekebalan tubuh komunitas, maka obat herbal membantu meningkatkan  daya tahan tubuh individu mencegah terjangkiti virus. Namun BPOM Indonesia menyatakan bahwa meskipun banyak jenis obat herbal yang muncul, tidak semua dikategorikan dapat memelihara daya tahan tubuh. Hanya beberapa obat tradisional terstandar saja, seperti obat yang mengandung jahe, kunyit, temulawak, pala, dan beberapa rempah lainnya.

Meskipun ada beberapa pihak yang menganggap jamu atau rempah hanya mitos, namun bagi sebagian besar masyarakat lokal racikan jamu atau rempah-rempah dalam masa pandemi ini dapat membantu meningkatkan imunitas tubuh. Meracik dan meminum  ramuan herbal sebagai bentuk reproduksi pengetahuan tradisi masyarakat. Semangat untuk menjaga daya tahan tubuh agar tidak terpapar COVID-19 telah mengembalikan memori kolektif masyarakat Indonesia tentang ramuan rempah dengan pengetahuan yang beragam. Pengetahuan lokal tentang ramuan herbal seperti empon-empon juga memiliki varian lain misalnya Bir Pletok sebagai minuman penyegar tubuh khas Betawi yang terdiri dari 11 macam rempah dengan bahan baku jahe putih, jahe merah, sereh, kayu manis, daun pandan, daun jeruk, kulit kayu secang, kulit kayu mesoyi, kulit kayu manis, kapulaga, jinten hitam, cengkeh, bunga lawang, biji pala, adas, lada hitam, dan lada putih. Ramuan yang muncul pada periode kolonial di Batavia ini hingga Maret 2020 mengalami lonjakan permintaan hingga ke pasar luar negeri sebesar 300 persen.

Situasi pandemi telah membuka peluang-peluang usaha baru dalam bidang gastronomi. Dalam pantauan pada akhir Maret 2020, lonjakan permintaan tertinggi dari bahan rempah yaitu jahe merah yang menempati angka Rp. 100.000,- per kilogram yang sebelumnya  seharga Rp.40.000,- per kilogram.  Bisnis gastronomi Indonesia ini diharapkan akan mendapatkan pasarnya di Eropa, terutama karena memang sejak dahulu negara-negara Eropa sudah menjadi pasar bagi rempah-rempah Indonesia. Data dari Kementerian Perindustrian menyebutkan bahwa terdapat sejumlah negara yang menjadi tujuan ekspor obat tradisional Indonesia antara lain kawasan ASEAN,  Eropa, Afrika serta Timur Tengah.

Penyebaran virus corona menimbulkan dampak negatif terhadap warga masyarakat dunia. Namun mungkinkah 2020 dan krisis kesehatan dunia akibat serangan virus corona akan  menjadi era baru dari pergerakan industri makanan minuman kesehatan? Melihat tren dari fenomena tersebut pasar rempah Indonesia perlu optimistis dan bergerak strategis dalam menjaring momen pasar global diiringi peningkatan kemampuan gastrodiplomasi. Oleh karena itu, partisipasi berbagai pemangku kepentingan seperti akademisi, praktisi, pemerintah, media dan masyarakat penting dan dibutuhkan untuk memperkuat promosi untuk penjualan rempah Indonesia di era pandemi ini. (nel/ayu)

 

Referensi 

 Antares, Reza. 2020. “Disebut Anti Corona, Bir Pletok Tangsel Tembus Luar Negeri.” Tagar. https://www.tagar.id/disebut-anti-corona-bir-pletok-tangsel-tembus-luar-negeri.Diakses pada tanggal 17 April 2020.

Anna Holligan (2020), Coronavirus: why Dutch lockdown may be a high-risk strategy, https://www.bbc.com/news/world-europe-52135814

Baskara, Bima, 2020, Rangkaian Peristiwa Pertama Covid’19, https://bebas.kompas.id/baca/riset/2020/04/18/rangkaian-peristiwa-pertama-COVID-19/ diakses pada bulan Juni 2020.

Ekarina, 2020, "Menteri Kesehatan Inggris Positif Terjangkit Corona” dalam https://katadata.co.id/berita/2020/03/11/menteri-kesehatan-inggris-positif-terjangkit-corona diakses pada bulan April 2020.

Fine P, Eames K, Heymann DL. “Herd Immunity”: A Rough Guide. Clinical Infectious Diseases. 2011;52(7):911-6 diakses https://www.semanticscholar.org/paper/%22Herd-immunity

Khairally, Elmy. 2020. “Jangan Salah Paham, Jahe Merah Bukanlah Penangkal Virus Corona.” https://travel.detik.com/travel-news/d-4944906/jangan-salah-paham-jahe-merah-bukanlah-penangkal-virus-corona. Diakses pada tanggal 17 April 2020.

Miranti Kencana Wirawan, 2020, "Teori Herd Immunity PM Inggris Atasi Virus Corona Terbukti Gagal” dalam https://www.kompas.com/global/read/2020/03/23/135713570/teori-herd-immunity-pm-inggris-atasi-virus-corona-terbukti-gagal?page=all.

Vina Fadhrotul Mukaromah dan Virdita Rizki Ratrian (editor), 2020", Wabah Virus Corona di Inggris, Satu Bulan yang Mengubah Segalanya" dalam https://www.kompas.com/tren/read/2020/03/30/153503465/wabah-virus-corona-di-inggris-satu-bulan-yang-mengubah-segalanya.

Latest Update

 
Mar 15, 2022

Rempah, Alat Niaga Pendorong Pertemuan Lintas Bangsa

News Humas BRIN
Dec 31, 2021

Perdagangan Indonesia-Uni Eropa: Studi Kasus Hambatan Ekspor Ikan Tuna Indonesia ke Uni Eropa

Opinions Catherina Henderson*
Dec 31, 2021

Sejarah Perbatasan di Asia Tenggara: Mengupas Pengelolaan Perbatasan Di Vietnam

Opinions Lamijo
Dec 31, 2021

Ethiopia 2020–2021: Mengulang Masa Kelam Perpecahan Etnis

Opinions Angela Iban
Dec 28, 2021

Kota-Kota Perbatasan di Asia Tenggara: Arti Penting Kota Perbatasan Mong Cai bagi Vietnam

Opinions Lamijo

dokinfosimpegintra lipiepenelitiBanner KIP

Privacy Policy Legal Disclaimer « ISSN 2086-5309 » ContactCopyright © 2022 Research Center for Regional Resources - Indonesian Institute of Sciences (P2SDR-LIPI)
Opinions