• Home
  • About Us
    • About P2W
    • People
      • Management
      • Researchers
      • Visiting Researchers
    • Institutional Partners
    • Annual Reports
  • Projects
  • News and Events
    • News
    • Events
      • Past Events
      • Upcoming Events
    • Opinions
    • Prominent Figures
  • Publications
    • Books
    • Newsletter
    • Working Papers
    • Policy Papers
    • Journal Kajian Wilayah
    • Book Reviews
  • Gallery
    • Photos
    • Videos
  • Contact
  • Sudut Pandang Amin Mudzakkir

Latest Update

 
Mar 15, 2022

Rempah, Alat Niaga Pendorong Pertemuan Lintas Bangsa

News Humas BRIN
Dec 31, 2021

Perdagangan Indonesia-Uni Eropa: Studi Kasus Hambatan Ekspor Ikan Tuna Indonesia ke Uni Eropa

Opinions Catherina Henderson*
Dec 31, 2021

Sejarah Perbatasan di Asia Tenggara: Mengupas Pengelolaan Perbatasan Di Vietnam

Opinions Lamijo
Dec 31, 2021

Ethiopia 2020–2021: Mengulang Masa Kelam Perpecahan Etnis

Opinions Angela Iban
Dec 28, 2021

Kota-Kota Perbatasan di Asia Tenggara: Arti Penting Kota Perbatasan Mong Cai bagi Vietnam

Opinions Lamijo

Di Balik Minimnya Angka COVID-19 di Kamboja

10 February 2021
Written by Betti Rosita Sari
fShare
Tweet

Angkor Wat

Para turis di area Pub Street, Siem Reap (Foto: The Jakarta Post)

 

Sudah setahun pandemi COVID-19 melanda dunia, namun belum terlihat tanda-tanda pandemi akan segera berakhir. Beberapa negara di dunia masih mengalami lonjakan kasus dan menerapkan lockdown untuk mencegah pandemi semakin meluas. Di Indonesia, jumlah kasus terkonfirmasi COVID-19 sudah menembus angka satu juta, tepatnya 1.078.314 kasus per 1 Februari 2021. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) penambahan korban jiwa di Indonesia seminggu terakhir tertinggi di Asia dan menempati urutan ke-11 secara global. Jumlah kasus aktif RI juga tertinggi di Asia, menggeser India dengan 169.654 kasus (Kompas, 1 Februari 2021). Sementara itu, Kamboja, bersama dengan Laos dan Timor Lester menjadi negara di Asia Tenggara yang angka positif COVID-19 sangat kecil, bahkan dilaporkan tidak ada korban meninggal dunia karena COVID-19. Tulisan ini akan menjelaskan mengapa Kamboja sebagai salah satu negara miskin di Asia Tenggara berhasil mengendalikan penyebaran COVID-19 dengan fasilitas kesehatan yang sangat terbatas.  

COVID-19 di Kamboja muncul pertama kali ketika seorang laki-laki berumur 60 tahun dari Provinsi Preah Sihanouk kembali dari Wuhan, Cina pada 23 Januari 2020. Kasus kedua muncul pada 7 Maret, sopir taksi di Siem Reap terdeteksi positif COVID-19 setelah kontak langsung dengan seorang turis asal Jepang yang juga positif setelah melakukan pemeriksaan di Jepang. Kasus ketiga ditemukan pada perempuan Inggris yang menjadi salah satu penumpang kapal Viking Cruise dari Ho Chi Minh, Vietnam yang kemudian menjadi klaster pertama di Kamboja setelah 8 penumpang lainnya juga positif sehingga angka COVID-19 di Kamboja naik menjadi 91 kasus. Lonjakan kasus positif meningkat signifikan ketika lebih dari 100 Muslim Cham kembali dari Malaysia setelah mengikuti Tabligh Akbar, termasuk 11 warga negara Malaysia yang dites di Kamboja juga positif. Kasus ini ditemukan di Tboung Khmum, Kampot, Koh Kong, dan provinsi lainnya sehingga sempat menimbulkan sentimen negatif terhadap etnis Cham, muslim minoritas di Kamboja yang dianggap sebagai pembawa virus COVID-19. Cluster kedua muncul pada 11 Maret saat grup turis asal Prancis tiba di Battambang, lebih dari 31 orang positif COVID-19, termasuk pemandu wisata lokal dan sopir. Kasus tambahan muncul ketika 2 orang Indonesia terkonfirmasi positif dan sedang mencari perawatan di Thailand.

Perkembangan kasus COVID-19 di Kamboja tidak semasif kasus COVID-19 di beberapa negara Asia Tenggara lainnya, misalnya Indonesia atau Filipina di mana jumlah penambahan kasus positif bisa mencapai 1.000 kasus per hari. Dari penjelasan di atas, sebagian besar kasus COVID-19 di Kamboja berasal dari luar Kamboja atau imported cases dan transmisi lokal di beberapa provinsi. Oleh karena itu, pemerintah mengeluarkan kebijakan ketat yang fokus pada tiga hal utama, yaitu (1) menekan jumlah kasus impor, (2) mencegah transmisi lokal ke masyarakat, dan (3) meningkatkan pengobatan untuk kasus positif. Pemerintah Kamboja menutup semua pintu perbatasan darat, laut, dan udara, dan tidak melayani visa on arrival dan e-visa sehingga hampir tidak ada turis yang masuk ke Kamboja. Sementara turis yang terlanjur masuk ke Kamboja wajib menunjukkan hasil tes negatif COVID-19 yang berlaku 72 jam dan melakukan karantina ketat selama 14 hari. Pemerintah juga melarang semua perjalanan domestik di seluruh Kamboja selama seminggu pada awal pandemi COVID-19 dan menutup semua sekolah, kegiatan bisnis, dan fasilitas publik lainnya.

Setelah tidak ada penambahan kasus baru, pemerintah Kamboja mulai membuka kembali larangan masuk 6 negara, yaitu Iran, Italia, Jerman, Spanyol, Perancis, dan USA. Sekolah, kegiatan bisnis dan sektor penting lainnya juga dibuka dengan menerapkan protokol kesehatan untuk mendorong perekonomian nasional. Jumlah deposito bagi orang asing juga berkurang dari US$3.000 menjadi US$2.000 pada pertengahan Juni untuk membayar jasa pencegahan virus. Pada 1 Agustus 2020 pemerintah melarang penerbangan dari Malaysia, Indonesia, dan Filipina ketiga jumlah kasus COVID-19 di ketiga negara tersebut naik signifikan. Sebagian besar kasus COVID-19 di Kamboja merupakan kasus impor dan pemerintah Kamboja dinilai berhasil dalam mengendalikan COVID-19 pada tahap pertama, meskipun ada beberapa pihak yang masih meragukan keberhasilan itu karena jumlah tes yang dilakukan sangat sedikit. Data per 22 Januari 2021, Kamboja melaporkan 448 kasus positif dan nol kematian.

Menurut Li Ailan, perwakilan WHO di Kamboja menyebutkan ada beberapa faktor yang berperan dalam kesuksesan Kamboja, di antaranya adalah kebijakan yang efektif, sistem kesehatan nasional dalam mempersiapan pandemi, komunikasi publik dan keterlibatan masyarakat, serta kolaborasi yang baik antara pemerintah dengan stakeholder, seperti Kementrian Kesehatan, WHO, US-CDC, dan Institute Pasteur du Cambodge. Ditambah lagi dengan faktor sosial budaya dan kondisi demografi Kamboja turut berperan dalam menekan jumlah kasus COVID-19.

 

Kepemimpinan Hun Sen

Tidak dimungkiri Hun Sen, pemimpin Kamboja selama lebih dari 30 tahun memegang peran utama dalam pengendalian COVID-19. Sebagian besar masyarakat Kamboja masih taat dan tunduk dalam kepemimpinannya sehingga pemerintah mempunyai kekuasaan lebih untuk melarang warganya melakukan perjalanan, perkumpulan, dan hak individu lainnya. Jika melanggar keadaan darurat yang ditetapkan oleh pemerintah bisa dikenakan denda sebesar US$250.000 atau penjara 10 tahun. Hun Sen juga meniadakan perayaan Tahun Baru Khmer, perayaan terbesar di Kamboja untuk mencegah semakin menyebarnya virus COVID-19. Ia juga melarang acara pernikahan atau perkumpulan lebih dari 20 orang, mengumumkan keadaan darurat “the most critical moment” COVID-19 di Kamboja, serta memerintahkan Kementrian Kesehatan untuk membagikan 2 juta masker di Phnom Penh dan Siem Reap.

Pemerintah Kamboja juga menyertakan kepala desa (village head) atau tokoh masyarakat untuk turut serta mengawasi masyarakat dan mengomunikasikan kebijakan pemerintah. Ketika terjadi wabah lokal yang berasal dari sebuah pusat perbelanjaan di Phnom Penh pada November kemarin, kepala desa berperan sebagai sukarelawan untuk melakukan pelacakan dari pintu ke pintu dan memastikan apakah warganya mengunjungi pusat perbelanjaan tersebut. Kepala desa di Kamboja, terutama di wilayah perdesaan mempunyai kekuatan untuk memobilisasi warganya untuk patuh protokol kesehatan dan masyarakat mempunyai kepercayaan penuh kepada pimpinannya. Hal ini juga terjadi ketika penulis melakukan penelitian untuk tesis S2 di beberapa desa di provinsi Kampung Speu di mana kepala desa menjadi tokoh sentral dalam setiap pengambilan keputusan warganya. Secara sosiologis, hal ini tidak terlepas dari pengalaman ketika Khmer merah berkuasa di mana rakyat sangat takut terhadap pimpinan dan hal ini masih terjadi sampai sekarang terutama di wilayah perdesaan di Kamboja. Faktor kepemimpinan, baik di tingkat pusat maupun level desa atau komunitas menjadi salah satu kunci penting dalam mengatasi kasus wabah kecil pada November kemarin.

 

Keuntungan Demografis dan Geografis Kamboja

Total penduduk Kamboja saat ini adalah 16.8 juta di mana 75 persennya tinggal di 25 provinsi di Kamboja. Provinsi yang padat penduduknya adalah Phnom Penh sebanyak 1.573 juta jiwa dan Takeo 843 ribu jiwa. Sisa penduduk lainnya hidup di wilayah pedesaan yang tidak padat penduduk serta lingkungan sekitar yang masih menyatu dengan alam. Mereka tinggal di rumah-rumah panggung dan rumah yang mempunyai sirkulasi udara cukup baik dan jarang sekali penduduk desa yang memiliki air conditioning (AC).

Kamboja juga tidak memiliki transportasi publik di perkotaan seperti bus atau KRL. Masyarakat perkotaan di Phnom Penh sering menggunakan motor roda dua, mobil pribadi atau sewa motodop (ojek). Sementara bus antarkota sering digunakan untuk perjalanan antarprovinsi. Kondisi ini mengurangi risiko penyebaran virus COVID-19. Selain itu, secara demografis, 65 persen penduduk Kamboja terdiri dari generasi muda dan usia produktif berusia di bawah 30 tahun yang cenderung mempunyai daya tahan tubuh yang baik dan tidak berpenyakit bawaan (komorbid). Hal ini mengurangi risiko kematian akibat COVID-19.

 

Sosial Budaya Kamboja

Seperti negara Asia Tenggara lainnya, penduduk di Kamboja terbiasa menggunakan masker, terutama dari kain ketika keluar rumah. Hal ini sudah menjadi kebiasaan penduduk, terutama di perkotaan seperti Phnom Penh karena polusi udara akibat penggunaan sepeda motor yang sangat banyak. Ketika musim kemarau, kondisi lingkungan di Kamboja juga sangat panas, kering, dan berdebu sehingga banyak warga yang menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah. Oleh karena itu, ketika pandemi COVID-19 muncul, masyarakat Kamboja tidak membutuhkan waktu lama untuk beradaptasi dengan penggunaan masker ini.

Budaya Kamboja lainnya adalah greeting atau pemberian salam dengan “Sompeah”, yaitu mengatupkan kedua telapak tangan di depan dada sambil sedikit menundukkan kepala ketika bertemu dengan orang tua atau teman sebaya dibandingkan dengan berjabat tangan atau berpelukan. Kebiasaan sompeah ini dilakukan oleh tua-muda, laki-laki dan perempuan ketika saling bertemu yang artinya untuk saling menghormati. Hal ini tentu saja mengurangi penyebaran virus COVID-19 yang juga terjadi melalui kontak fisik.

Penduduk Kamboja juga terbiasa hidup di luar ruangan. Ketika bercengkerama dengan tetangga dilakukan di luar rumah dan kegiatan berkumpul juga dilakukan di wilayah terbuka, seperti lapangan, dan bukan di gedung-gedung yang tertutup yang menggunakan AC. Pada sore hari banyak warga yang menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan di tepi Sungai Mekong atau bermain di alun-alun di depan Istana Grand Palace.

Selain itu, Kamboja juga beruntung karena diapit oleh Vietnam dan Thailand yang juga sukses mengendalikan penyebaran COVID-19. Hal ini memberikan semacam tekanan dan semangat kepada warga negara Kamboja untuk turut serta mengendalikan COVID-19 seperti yang dilakukan oleh negara tetangganya. Bahkan Kamboja mengirimkan bantuan berupa 2,5 juta masker, 10 ribu N95 respirator, seribu sabun tangan, dan alat pelindung diri kepada Myanmar, Laos, dan Timor Leste sebagai bentuk dukungan Kamboja kepada negara sahabat untuk melawan COVID-19. (/fik)

 

 

 

 

Latest Update

 
Mar 15, 2022

Rempah, Alat Niaga Pendorong Pertemuan Lintas Bangsa

News Humas BRIN
Dec 31, 2021

Perdagangan Indonesia-Uni Eropa: Studi Kasus Hambatan Ekspor Ikan Tuna Indonesia ke Uni Eropa

Opinions Catherina Henderson*
Dec 31, 2021

Sejarah Perbatasan di Asia Tenggara: Mengupas Pengelolaan Perbatasan Di Vietnam

Opinions Lamijo
Dec 31, 2021

Ethiopia 2020–2021: Mengulang Masa Kelam Perpecahan Etnis

Opinions Angela Iban
Dec 28, 2021

Kota-Kota Perbatasan di Asia Tenggara: Arti Penting Kota Perbatasan Mong Cai bagi Vietnam

Opinions Lamijo

dokinfosimpegintra lipiepenelitiBanner KIP

Privacy Policy Legal Disclaimer « ISSN 2086-5309 » ContactCopyright © 2022 Research Center for Regional Resources - Indonesian Institute of Sciences (P2SDR-LIPI)
Opinions