• Home
  • About Us
    • About P2W
    • People
      • Management
      • Researchers
      • Visiting Researchers
    • Institutional Partners
    • Annual Reports
  • Projects
  • News and Events
    • News
    • Events
      • Past Events
      • Upcoming Events
    • Opinions
    • Prominent Figures
  • Publications
    • Books
    • Newsletter
    • Working Papers
    • Policy Papers
    • Journal Kajian Wilayah
    • Book Reviews
  • Gallery
    • Photos
    • Videos
  • Contact
  • Sudut Pandang Amin Mudzakkir

Latest Update

 
Mar 15, 2022

Rempah, Alat Niaga Pendorong Pertemuan Lintas Bangsa

News Humas BRIN
Dec 31, 2021

Perdagangan Indonesia-Uni Eropa: Studi Kasus Hambatan Ekspor Ikan Tuna Indonesia ke Uni Eropa

Opinions Catherina Henderson*
Dec 31, 2021

Sejarah Perbatasan di Asia Tenggara: Mengupas Pengelolaan Perbatasan Di Vietnam

Opinions Lamijo
Dec 31, 2021

Ethiopia 2020–2021: Mengulang Masa Kelam Perpecahan Etnis

Opinions Angela Iban
Dec 28, 2021

Kota-Kota Perbatasan di Asia Tenggara: Arti Penting Kota Perbatasan Mong Cai bagi Vietnam

Opinions Lamijo

Dangdut dan Trot, Mengenal Musik Rakyat dari Indonesia dan Korea Selatan

19 August 2020
Written by Ranny Rastati
fShare
Tweet

Generasi 90-an tentu tak asing dengan lagu “Dangdut is the Music of My Country” yang dipopulerkan oleh Project Pop. Lagu yang dirilis pada 2003 ini tidak seutuhnya berirama Dangdut. Ada unsur musik Rock dan komedi parodi yang turut dikemas di dalamnya. Meskipun diidentikkan sebagai musik kaum pinggiran, kini Dangdut dinikmati oleh berbagai lapisan kalangan termasuk anak muda perkotaan. Bahkan, theme song (lagu resmi) Asian Games 2018 “Meraih Bintang” dinyanyikan oleh pedangdut muda, Via Vallen.

Jika dilacak awal kemunculannya, Dangdut berasal dari musik Gambus yang merupakan perpaduan Melayu, Arab, dan Asia Barat (Muttaqin, 2006). Genre ini populer pada 40-an dan dianggap sebagai cikal bakal Dangdut. Namun, sumber lain menyebutkan bahwa Dangdut berasal dari musik Melayu-Deli yang berbaur dengan unsur musik lain dari India dan Arab (Luayik dan Khusyairi, 2012). Pun demikian, para ahli sepakat bahwa istilah Dangdut berasal dari onomatope instrumen gendang yang berbunyi “daang” dan “nduut” (lihat Frederick 1982, Depdikbud RI 1995, Simatupang 1996).

Kepopuleran dangdut di Indonesia tak lepas dari peran Rhoma Irama dan Soneta Grup yang memberikan warna dan ciri khas tersendiri pada era 70-an (Luayik dan Khusyairi, 2012). Selain mengadopsi irama rock, Rhoma Irama juga memberikan variasi lirik seperti dakwah, pesan moral, nasionalisme, hingga kritik sosial. Hal ini membuat Dangdut tidak melulu soal urusan percintaan. “Begadang”, “Judi”, dan “Darah Muda” adalah beberapa karya Rhoma Irama yang hit di blantika dangdut Indonesia.

 

Rhoma

Gambar 1. Raja Dangdut Rhoma Irama (Sumber: https://www.fimela.com/news-entertainment/read/3223226/rhoma-irama-dan-soneta-buka-konser-raya-23-tahun-indosiar-luar-biasa?page=1)

 

Trot: Dangdut dari Tanah K-Pop

Bagi pecinta K-Pop, tentu tidak asing dengan genre Trot yang berasal dari Korea Selatan. Trot (트로트 dibaca teu.ro.teu) disebut-sebut sebagai “Dangdut-nya” Korea Selatan karena sama-samanya dinyanyikan dengan cengkok yang khas, musik yang semarak, dan kostum yang meriah. Pun demikian, keduanya memiliki perbedaan di tempo lagu yaitu 4/4 untuk Dangdut sedangkan 2/4 dan 3/4 untuk Trot (Ismianti dkk, 2016).

Asal mula Trot di Korea dimulai sejak masa Kolonial Jepang atau sekitar akhir tahun 20-an. Mendapat pengaruh dari genre musik Jepang bernama Enka (演歌 dibaca eng.ka), Trot merupakan musik yang paling dinikmati khususnya selama Perang Korea tahun 1950-1953 (Lee, 2017). Meskipun mengalami penurunan kepopuleran pada tahun 90an karena gempuran musik pop, Trot tetap diminati khususnya di kalangan orang tua dan para pekerja.

Memasuki pertengahan 2000-an, Trot kembali mengalami peningkatan popularitas. Menurut survei yang dilakukan Seoul Broadcasting System (SBS) pada tahun 2003, 64 dari 100 lagu favorit Korea sepanjang masa adalah lagu bergenre Trot (Son, 2006). Merespon hal tersebut, Super Junior membentuk sub unit grup bernama Super Junior T pada 2007. Beranggotakan Leeteuk, Heechul, Eunhyuk, Sungmin, Shindong, dan Kangin, Super Junior T merilis lagu Trot berjudul “Rokuko” dan “Tok Tok Tok”.

 

Trot

Gambar 2. Super Junior T yang merilis lagu bergenre Trot (Sumber: https://kpop.fandom.com/wiki/SUPER_JUNIOR-T)

 

Dangdut dan Trot dalam Satu Panggung

Seperti Dangdut, Trot paling sering terdengar diputar di ruang publik seperti bis, pasar, festival lokal, dan karaoke. Sama-sama menjadi genre musik yang memiliki ciri khas tersendiri, Dangdut dan Trot kemudian dipertemukan dalam satu panggung. Bertajuk Indonesia-Korea Carnival (I-Ko), konser Dangdut terbesar di Korea Selatan diselenggarakan pada 7-8 Juli 2018 di Olympic Stadium Gym Arena, Seoul.

Enam pedangdut yaitu Fitri Carlina, Nabilla Gomes, Balena, Ratu Meta, Lilin Herlina, dan Susi Julia KDI serta dua penyanyi pop yaitu Once dan Husein IDOL juga turut didatangkan dari Indonesia. Sejumlah artis Korea Selatan seperti A-Daily, Sha Sha, dan Kim Malkum pun ikut memeriahkan pentas. Penyanyi Trot senior Tae Jin Ah dan putranya Eru juga turut ambil bagian.

Eru yang dijuluki Indonesia’s Prince bahkan pernah didaulat bersama ayahnya sebagai selebritas Korea yang mewakili Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Seoul pada  2014 (Park, 2014). Mengusung tema “Menuju Persahabatan Abadi Indonesia-Korea", poster Eru dan Tae Jin Ah dipajang satu tahun di depan KBRI Seoul. Tidak hanya itu, Eru pun mendapat penghargaan “Teman Istimewa Indonesia” dari KBRI Seoul karena banyak berperan dalam mempromosikan dan mempererat hubungan Indonesia dan Korea (Kompas, 2 September 2014).

Yang menarik, dalam konser tersebut tampil seorang model asal Korea Selatan bernama Danbi yang memulai karir sebagai pedangdut di Indonesia. Danbi yang sebelumnya menekuni Trot merasa tertarik dengan Dangdut memiliki juga memiliki cengkok khas. Dengan memadukan antara K-Pop dan Dangdut, Danbi memperkenalkan genre baru bernama Korea Pop Dangdut atau K-Dut. Namun, sayangnya tidak ada kabar terbaru dari sepak terjang Danbi sejak 2018 di jagat Dangdut Indonesia.

Sebagai sebuah musik yang menjadi identitas negara, baik Dangdut maupun Trot masih belum banyak didiskusikan secara serius dalam sebuah wacana maupun diskursus. Padahal, keduanya memberikan warna khas terhadap jati diri bangsa. Dangdut dan Trot adalah genre musik yang sama-sama dibentuk dan dipengaruhi oleh musik asing. Namun, pada perkembangannya, kedua genre ini mengalami perubahan gaya mengikuti konteks zaman. Meskipun mengalami pasang surut kepopuleran, Dangdut dan Trot berhasil melebur dan menempati posisi penting dalam budaya populer di negara masing-masing. 

 

Daftar Referensi

Depdikbud RI. (1995). Pesan-Pesan Budaya Lagu-Lagu Pop Dangdut dan Pengaruhnya terhadap Perilaku Sosial Remaja Kota. Jakarta: Eka Putra, http://repositori.kemdikbud.go.id/12163/1/pesan%20budaya%20lagu%20pop%20dangdut%20dan%20pengaruhnya%20perilaku%20sosial%20remaja%20kota.pdf

Frederick, W.H. (1982). Rhoma Irama and the Dangdut Style: Aspects of Contemporary Indonesia Popular Culture. Indonesia, No 34, Oct 1982, hal 102-130, https://www.jstor.org/stable/3350952

Kompas. “Artis K-Pop Eru Dapat Penghargaan “Teman Istimewa” Indonesia. Kompas, 2 September 2014, https://entertainment.kompas.com/read/2014/09/02/064613610/Artis.K-Pop.Eru.Dapat.Penghargaan.Teman.Istimewa.Indonesia

Ismianti, D. Asrori, Y.W, dan Hasanah, U. (2016). Perbandingan Musik Dangdut Indonesia dan Musik Trot Korea. Tugas Akhir, DIII Bahasa Korea, http://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/105579

Lee, S.A. (2017). Decolonizing Korean Popular Music: The “Japanese Color” Dispute over Trot, Popular Music and Society, Vol 40, No 1, hal 102-110, DOI: 10.1080/03007766.2016.1230694

Luaylik, F dan Khusyairi, J.A. (2012). Perkembangan Musik Dangdut Indonesia 1960an-1990an, Verleden, Vol 1, No 1, Desember 2012, hal 26-38, http://journal.unair.ac.id/download-fullpapers-3_Fatin.pdf

Muttaqin, M. (2006). Musik Dangdut dan Keberadaannya di Masyarakat: Tinjauan dari Segi Sejarah dan Perkembangannya. Humaniora Jurnal Pengetahuan dan Pemikiran Seni, Vol VII, No 2, Mei-Agustus 2006, https://media.neliti.com/media/publications/65811-EN-musik-dangdut-dan-keberadaannya-di-masya.pdf

Park, S.S. “Eru, Tae Jin-ah to represent Indonesian Embassy”, Korea Times, 25 Februari 2014, http://www.koreatimes.co.kr/www/news/culture/2016/09/386_152272.html

Simatupang, G.R.L.L. (1996). Dangdut is Very… Very… Very Indonesia: The Search for Cultural Nationalism in Indonesia Popular Music. Bulletin Antropologi, Vol 11, No 20, hal 55-74

Son, M.J. (2006). Regulating and Negotiating in T'urot'u, a Korean Popular Song Style, Asian Music, Volume 37, Number 1, Winter/Spring 2006, hal 51-74, http://citeseerx.ist.psu.edu/viewdoc/download?doi=10.1.1.693.3431&rep=rep1&type=pdf

 

***

 

Tentang Penulis

Chibi

* Ranny Rastati adalah Peneliti Komunikasi di Pusat Penelitian Masyarakat dan Budaya (PMB) LIPI. Penulis memiliki ketertarikan pada riset cosplay, budaya pop, dan studi media. Penulis dapat dihubungi melalui email ranny.rastati@gmail.com

 

Latest Update

 
Mar 15, 2022

Rempah, Alat Niaga Pendorong Pertemuan Lintas Bangsa

News Humas BRIN
Dec 31, 2021

Perdagangan Indonesia-Uni Eropa: Studi Kasus Hambatan Ekspor Ikan Tuna Indonesia ke Uni Eropa

Opinions Catherina Henderson*
Dec 31, 2021

Sejarah Perbatasan di Asia Tenggara: Mengupas Pengelolaan Perbatasan Di Vietnam

Opinions Lamijo
Dec 31, 2021

Ethiopia 2020–2021: Mengulang Masa Kelam Perpecahan Etnis

Opinions Angela Iban
Dec 28, 2021

Kota-Kota Perbatasan di Asia Tenggara: Arti Penting Kota Perbatasan Mong Cai bagi Vietnam

Opinions Lamijo

dokinfosimpegintra lipiepenelitiBanner KIP

Privacy Policy Legal Disclaimer « ISSN 2086-5309 » ContactCopyright © 2022 Research Center for Regional Resources - Indonesian Institute of Sciences (P2SDR-LIPI)
Opinions