• Home
  • About Us
    • About P2W
    • People
      • Management
      • Researchers
      • Visiting Researchers
    • Institutional Partners
    • Annual Reports
  • Projects
  • News and Events
    • News
    • Events
      • Past Events
      • Upcoming Events
    • Opinions
    • Prominent Figures
  • Publications
    • Books
    • Newsletter
    • Working Papers
    • Policy Papers
    • Journal Kajian Wilayah
    • Book Reviews
  • Gallery
    • Photos
    • Videos
  • Contact
  • Sudut Pandang Amin Mudzakkir

Latest Update

 
Mar 15, 2022

Rempah, Alat Niaga Pendorong Pertemuan Lintas Bangsa

News Humas BRIN
Dec 31, 2021

Perdagangan Indonesia-Uni Eropa: Studi Kasus Hambatan Ekspor Ikan Tuna Indonesia ke Uni Eropa

Opinions Catherina Henderson*
Dec 31, 2021

Sejarah Perbatasan di Asia Tenggara: Mengupas Pengelolaan Perbatasan Di Vietnam

Opinions Lamijo
Dec 31, 2021

Ethiopia 2020–2021: Mengulang Masa Kelam Perpecahan Etnis

Opinions Angela Iban
Dec 28, 2021

Kota-Kota Perbatasan di Asia Tenggara: Arti Penting Kota Perbatasan Mong Cai bagi Vietnam

Opinions Lamijo

Cerita dari Maastricht: Dampak Kebijakan “Intelligent Lockdown” di Belanda (Edisi Khusus COVID-19, Bagian 12)

25 April 2020
Written by Rifki Indra Maulana
fShare
Tweet

Eropa telah menjadi episentrum dari pandemi corona sejak Februari 2020. Satu per satu kasus positif terkonfirmasi di Jerman dan Perancis, sebelum jumlahnya meningkat tajam secara drastis di Italia bagian utara. Pemerintah Belanda awalnya tidak menganggap serius penyebaran virus ini, meski pemberitaan tentang wabah di Italia semakin memprihatinkan. Hingga pertengahan Maret 2020, kantor, pertokoan, sekolah, dan universitas tetap beroperasi secara normal.

 

Netherlands 1

Suasana sekitar Basilicca of Saint Sevratius Maastricht yang sepi setelah penerapan kebijakan Intelligent lockdown (dokpri/rifki)

 

Kontroversi Kebijakan ‘Intelligent lockdown’

Pemerintah meminta agar sekolah, kafe, restoran dan sport club tidak beroperasi untuk mencegah penyebaran virus corona di Belanda. Kebijakan ini diambil setelah Institut Kesehatan Publik Belanda (RIVM) mencatat peningkatan jumlah pasien positif COVID-19 yang semakin masif. Melalui kebijakan “intelligent lockdown”, pemerintah meminta penduduk untuk menerapkan physical distancing (menjaga jarak) sejauh 1,5 meter dari orang lain jika terpaksa keluar rumah, dan mengimbau agar jangan memborong produk seperti tisu toilet serta hand sanitizer (the Government of the Netherlands, 2020a; Anna Holligan, 2020).

 

Netherlands 2

Imbauan menjaga jarak minimal 1,5 meter (dokpri/rifki)

 

Pada 23 Maret 2020, pemerintah mengumumkan langkah tambahan untuk memerangi penyebaran virus corona, yaitu melarang masyarakat menghadiri pertemuan atau berkumpul dan menerapkan denda bagi pihak yang melanggar aturan ini (Reuters, 2020a). Pemerintah juga memutuskan untuk memperpanjang masa penerapan physical distancing hingga 19 Mei 2020 (the Government of the Netherlands, 2020b). Pemerintah akan mengevaluasi pelaksanaan “intelligent lockdown” untuk memutuskan apakah akan memperpanjang atau mengakhiri penerapan kebijakan ini. Meski demikian, pemerintah telah memutuskan pembatalan sejumlah acara besar hingga 1 September 2020, termasuk pembatalan perayaan Liberation Festival dan King’s day.

Pemerintah juga memberlakukan denda maksimal €400 untuk perorangan dan maksimal €4000 untuk perusahaan yang melanggar larangan pertemuan atau berkumpul lebih dari tiga orang dengan tidak menjaga jarak 1,5 meter antara satu sama lain. Kebijakan karantina diri juga diperketat; jika dalam satu keluarga ada anggota keluarga yang mengalami demam, semua anggota keluarga diminta untuk mengarantina diri. Sejak kebijakan ini diterapkan, polisi mulai sering terlihat berpatroli mengawasi masyarakat yang ke luar rumah.

Peran masyarakat juga penting dalam menerapkan kebijakan ini. Tidak sedikit warga “nakal” yang didatangi polisi dan didenda karena kedapatan mengadakan pertemuan atau berkumpul lebih dari tiga orang, dengan orang lain di luar anggota keluarga mereka. Hal ini dimungkinkan karena adanya laporan dari tetangga mereka ke kepolisian setempat. Penerapan aturan denda dengan melibatkan partisipasi (kontrol) dari masyarakat ini berdampak positif pada ketaatan masyarakat untuk diam di rumah dan menjaga jarak saat di luar rumah. 

Meski kebijakan telah diperketat, Pemerintah tidak memilih menerapkan total lockdown seperti yang diterapkan di Belgia dan Jerman (Eline Schaart, 2020). Hal ini juga mendapat protes dari Belgia, karena setelah Belgia menerapkan lockdown dan meminta semua kegiatan usaha untuk tutup, masyarakat di perbatasan Belgia dengan Belanda memilih untuk “jalan-jalan” ke Belanda. Café dan restoran di daerah Breda (Belanda) dipenuhi warga Belgia. Pemerintah Belanda dianggap abai, padahal wilayah selatan Belanda adalah wilayah dengan jumlah kasus positif COVID-19 terbanyak di Belanda.

 

COVID-19 dan Universitas

Awal maret, mahasiswa asal Italia di Maastricht University mulai menyuarakan kekhawatiran bahwa Belanda bisa mengalami apa yang terjadi di Italia jika tidak mengambil langkah serius dalam mencegah penyeraban virus ini. Perdebatan terkait permintaan untuk menutup kampus berkembang di kalangan mahasiswa dan berbagai platform sosial media.

Universitas sebenarnya telah menyadari risiko penyebaran virus di kampus, namun mereka tidak bisa mengambil kebijakan sendiri sebelum ada kebijakan resmi dari pemerintah. Sejak 28 Februari 2020, Maastricht University memberikan informasi terkini secara harian kepada mahasiswa terkait virus corona melalui surat elektronik (surel). Surel pertama berisi informasi umum terkait penyebaran virus di China, dan bagaimana saat itu virus sudah mulai menyebar di Korea Selatan serta Italia. Universitas juga memastikan bahwa kegiatan belajar, rencana pelaksanaan ujian akhir periode 4 serta acara Open House akan tetap berlangsung sesuai jadwal.

Update ke-6 tanggal 5 Maret menginformasikan bahwa salah satu staf universitas telah didiagnosis positif COVID-19, dan beberapa mahasiswa yang mengalami gejala COVID-19 telah diminta untuk melakukan isolasi diri. Meski demikian, pihak universitas berpandangan bahwa tingkat penyebaran virus corona di Belanda masih relatif rendah dan memutuskan untuk tidak menutup kampus.

Pada 12 Maret, univesitas akhirnya memutuskan menutup kampus dan mengganti sistem pembelajaran ke pembelajaran secara daring, yang mulai berlaku dari 16 Maret 2020, sesuai dengan kebijakan Pemerintah Belanda yang akan memberlakukan “intelligent lockdown” mulai 16 Maret 2020. Sistem daring ini diperkirakan akan berlaku hingga akhir tahun ajaran 2019/2020.

 

Rasisme vs Solidaritas

Penyebaran virus corona menimbulkan dampak negatif terhadap warga dan mahasiswa keturunan Asia di Belanda, khususnya mereka yang memiliki karakteristik khas Asia Timur, seperti China, Korea, Jepang, Thailand dan bahkan Indonesia. Di Tilburg dan Rotterdam, beberapa kasus penyerangan terhadap mahasiswa keturuan China meningkat (Janene Pieters, 2020). Di Maastricht, beberapa mahasiswa asal China juga mengalami rasisme; mereka mulai mendapat gangguan, kekerasan verbal dan merasa tidak aman saat berada di area publik. Salah satu mahasiswa bahkan mengambil inisiasi menghadap dosen untuk menyampaikan kekhawatiran mereka karena mulai merasa terganggu dengan candaan sesama mahasiswa di kampus.

Corona tidak hanya meningkatkan rasisme, tetapi juga solidaritas. Di Maastricht, sekelompok mahasiswa mengambil inisiatif untuk membantu penduduk, terutama para lansia yang berisiko tinggi dan rentan terhadap virus corona, mulai dari membelikan barang yang dibutuhkan di supermarket atau apotek, hingga mengajak jalan-jalan anjing mereka. Selain itu, warga juga mulai menunjukan dukungan terhadap tenaga kesehatan dengan mengirimkan rangkaian bunga, pizza, dll. Warga menempelkan tulisan Haw Pin di jendela rumah mereka. Haw Pin adalah kalimat penyemangat dalam bahasa lokal yang berarti stay strong. 

 

hawpin

Warga menempelkan tulisan haw pin di jendela mereka (instagram @visitmaastricht)

 

Aturan untuk Supermaket

Pemerintah menerapkan “strict door policy” bagi supermarket. Jumlah pengunjung dibatasi. Setiap pengunjung wajib menggunakan troli yang disediakan dan harus menjaga jarak 1,5 meter dengan orang lain. Pembayaran diharuskan menggunakan kartu debit atau kredit, tidak diperbolehkan membayar secara tunai. Strict door policy ini berdampak pada bertambahnya jumlah pegawai di supermarket. Saat ini, ada pegawai yang khusus bertugas untuk membersihkan troli yang sudah dipakai, sebelum dipakai lagi oleh pengunjung berikutnya. Selain itu jumlah petugas kebersihan juga bertambah dan pembersihan fasilitas di supermarket dilakukan secara lebih sering.

Minggu awal pasca pengumuman kebijakan dilakukan, masyarakat mulai memadati supermarket. Masyarakat tidak hanya memborong tisu toilet dan sanitizer, tetapi juga makanan pokok, susu bayi dan obat-obatan. Sejumlah supermarket akhirnya menerapkan batas maksimal jumlah produk yang bisa dibeli oleh pembeli agar cukup untuk semua. Supermarket tetap buka seperti biasa selama masa “intelligent lockdown”. Namun, yang berbeda adalah beberapa supermarket menerapkan waktu khusus untuk berbelanja bagi para lansia, dialokasikan pada pagi hari dari pukul 07.00 hingga 08.00 pagi. Pasar tradisional juga mulai dibuka kembali sejak awal April, meski pedagang yang berjualan tidak sebanyak hari-hari biasanya. Pengunjung tetap diwajibkan menjaga jarak 1,5 meter pada saat berbelanja di pasar.

 

  Pasar di Belanda

Warga mengikuti aturan menjaga jarak saat berbelanja di pasar (dokpri/rifki)

 

Corona dan Petani Tulip

Dampak ekonomi dari wabah Corona, terutama terkait kebijakan lockdown, sangat dirasakan oleh para petani tulip di Belanda. Festival bunga tahunan, Keukenhof, yang biasanya berlangsung selama musim semi, tidak diizinkan untuk diadakan sebagai upaya mencegah orang agar tidak berkumpul. Sejak pertengahan Maret, toko-toko bunga harus tutup. Selain itu, pembatalan pemesanan dan pengiriman bunga untuk diekspor, dan larangan untuk mengadakan festival bunga telah menimbulkan kerugian besar bagi industri sektor pertanian bunga di Belanda yang merupakan industri bunga terbesar di dunia. Belanda memproduksi 77 persen bunga yang diperjualbelikan secara global (Daniel Boffey, 2020).

Omset penjualan bunga selama musim semi biasanya merupakan omzet terbesar setiap tahunnya, ketika orang-orang merayakan libur Paskah,  Hari Ibu, dan International Women’s Day (Noah Manskar, 2020). Sejak corona mulai mewabah di Eropa, omzet mingguan yang didapatkan industri bunga turun hingga 70 persen, dengan keseluruhan kerugian diperkirakan mencapai lebih dari €5 miliar (Reuters, 2020b). Para petani bunga terpaksa membuang bunga-bunga mereka yang layu sebelum terjual. Sekitar 140 juta batang tulip dibuang dalam sebulan terakhir karena lockdown menyebabkan permintaan terhadap produk bunga menurun drastis (Noah Manskar, 2020).

Pemerintah mendorong masyarakat dan perusahaan-perusahaan untuk membantu membeli bunga. Pertengahan Maret 2020, perusahaan di Rotterdam menginisiasi program untuk menyelamatkan industri bunga Belanda dengan memborong bunga untuk dibagikan kepada keluarga, kerabat dan pegawai mereka. Program ini berkembang menjadi skema yang melibatkan lebih dari 1.000 perusahaan di Belanda yang telah membeli lebih dari 1 juta bunga untuk dibagikan kepada masyarakat umum (Daniel Boffey, 2020). Selain itu, dukungan masyarakat yang menggunakan tagar #BuyFlowersNotToiletPaper dan #FlowerBoostChallenge juga mulai memberikan dampak positif terhadap penjualan bunga. Bunga-bunga ini juga dikirimkan ke rumah sakit sebagai bentuk apresiasi kepada para petugas kesehatan yang merawat pasien COVID-19.

 

Coffeeshop Tetap Beroperasi Selama Lockdown

Fenomena antrean panjang di depan coffeeshop (tempat penjualan ganja) sehari sebelum Pemerintah Belanda menerapkan lockdown sempat ramai menjadi bahan pembicaraan di berbagai media (Peter Dejong, 2020; Zack Newmark, 2020; RFI, 2020). Belanda dikenal sebagai negara yang menerapkan kebijakan yang longgar dalam kaitannya dengan penjualan narkoba. Belanda membedakan narkoba ke dalam ddua kategori, soft drugs, dan hard drugs. Ganja masuk kedalam kategori soft drugs yang dianggap tidak berbahaya. Di Belanda coffeeshop diizinkan menjual ganja jika memenuhi beberapa persyaratan yang ketat, salah satu di antaranya adalah hanya boleh menjual ganja dengan berat tidak boleh lebih dari 5 gram, kepada penduduk lokal yang berusia di atas 18 tahun.

 

Coffee

Kedai kopi yang masih buka pada masa intelligent lockdown (dokpri/rifki)

 

Tidak banyak yang mengetahui bahwa coffeeshop saat ini sudah diperbolehkan untuk beroperasi kembali. Pemerintah Belanda memutuskan untuk menerapkan kebijakan yang sama dengan yang diberlakukan kepada restoran atau café yang diperbolehkan untuk tetap beroperasi dengan hanya membuka layanan take away. Pemerintah meralat kebijakan untuk menutup coffeeshop setelah mendapat tekanan dari beberapa wali kota yang khawatir penutupan coffeeshop malah akan mendorong praktik penjualan ganja secara ilegal. Penjualan ganja merupakan salah satu bisnis yang signifikan di Belanda. Penjualan ganja secara legal di coffeeshop per tahun diperkirakan mencapai €1 miliar. Kebijakan menutup coffeeshop diperkirakan akan berdampak pada lebih dari 5.000 pekerja yang bekerja di coffeeshop di seluruh Belanda (Ruben Munsterman, 2020). (rifki/piks)

 

 

Referensi

Anna Holligan (2020), Coronavirus: why Dutch lockdown may be a high-risk strategy, https://www.bbc.com/news/world-europe-52135814

Daniel Boffey (2020), Dutch scheme to boost wilting flower industry takes root, https://www.theguardian.com/world/2020/apr/03/dutch-scheme-to-boost-wilting-flower-industry-takes-root-coronavirus

Eline Schaart (2020), Dutch PM: we won’t impose national lockdown, https://www.politico.eu/article/dutch-pm-mark-rutte-we-wont-impose-national-lockdown-coronavirus-covid19/

Janene Pieters (2020), Dutch-Chinese woman attacked after asking others to stop singing coronavirus-song, https://nltimes.nl/2020/02/24/dutch-chinese-woman-attacked-asking-others-stop-singing-coronavirus-song

Joanna Kakissis (2020), The Netherlands’ huge flower sector wilts as Coronavirus hurts business, https://www.npr.org/2020/03/25/820239298/netherlands-huge-flower-sector-wilts-as-coronavirus-hurts-business?t=1587375937878

Noah Manskar (2020), Dutch growers destroy millions of tullips as coronavirus slams sales, https://nypost.com/2020/04/13/millions-of-dutch-tulips-destroyed-as-coronavirus-wilts-demand/

Peter Dejong (2020), Up in smoke: Coronavirus closures hit Dutch Coffeeshops, https://abcnews.go.com/International/wireStory/smoke-coronavirus-closures-hit-dutch-coffeeshops-69609630

RFI (2020), The Netherlands in lockdown demonstrates one Dutch priority: hoarding cannabis, http://www.rfi.fr/en/europe/20200316-the-netherlands-in-lockdown-deomonstrates-dutch-priorities-hoarding-cannabis

Reuters (2020a), Dutch PM Rutte: ban on public gatherings is ‘intelligent lockdown’, https://www.reuters.com/article/us-health-coronavirus-netherlands-gather/dutch-pm-rutte-ban-on-public-gatherings-is-intelligent-lockdown-idUSKBN21A39V

Reuters (2020b), Dutch flower industry countinues to wither amid coronavirus, https://www.reuters.com/article/us-health-coronavirus-netherlands-flower/dutch-flower-industry-continues-to-wither-amid-coronavirus-idUSKBN21H1BO

Ruben Munsterman (2020), Weed back on sale in coffe shops even as Amsterdam locks down, https://www.bloomberg.com/news/articles/2020-03-18/pot-stores-are-open-again-even-as-the-netherlands-locks-down

The Government of the Netherlands (2020a), The approach to tackling coronavirus in the Netherlands, https://www.government.nl/topics/coronavirus-covid-19/tackling-new-coronavirus-in-the-netherlands

The Government of the Netherlands (2020b), Changes to measures after 28 April, https://www.government.nl/topics/coronavirus-covid-19/tackling-new-coronavirus-in-the-netherlands/faqs-about-approach-to-tackling-coronavirus/changes-to-measures-after-28-april

Zack Newmark (2020), People race to buy last-minute weed as coronavirus rules shut Dutch coffeeshops, https://nltimes.nl/2020/03/15/people-race-buy-last-minute-weed-coronavirus-rules-shut-dutch-coffeeshops

Latest Update

 
Mar 15, 2022

Rempah, Alat Niaga Pendorong Pertemuan Lintas Bangsa

News Humas BRIN
Dec 31, 2021

Perdagangan Indonesia-Uni Eropa: Studi Kasus Hambatan Ekspor Ikan Tuna Indonesia ke Uni Eropa

Opinions Catherina Henderson*
Dec 31, 2021

Sejarah Perbatasan di Asia Tenggara: Mengupas Pengelolaan Perbatasan Di Vietnam

Opinions Lamijo
Dec 31, 2021

Ethiopia 2020–2021: Mengulang Masa Kelam Perpecahan Etnis

Opinions Angela Iban
Dec 28, 2021

Kota-Kota Perbatasan di Asia Tenggara: Arti Penting Kota Perbatasan Mong Cai bagi Vietnam

Opinions Lamijo

dokinfosimpegintra lipiepenelitiBanner KIP

Privacy Policy Legal Disclaimer « ISSN 2086-5309 » ContactCopyright © 2022 Research Center for Regional Resources - Indonesian Institute of Sciences (P2SDR-LIPI)
Opinions