Jakarta, Humas LIPI. Kepala Pusat Penelitian Kewilayahan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Ganewati Wuryandari, mengungkapkan bahwa riset terkait hubungan internasional negara-negara di Indo-Pasifik menjadi salah satu fokus dalam Prioritas Riset Nasional 2020-2024 di bidang sosial-humaniora.
“Indo-Pasifik merupakan salah satu topik utama penelitian di Pusat Penelitian Kewilayahan LIPI, sehubungan dengan geoekonomi dan geostrategi Indonesia,” terang Ganewati dalam acara virtual konferensi hubungan internasional Indo-Pasifik Universitas Pelita Harapan “The First Pelita Harapan University International Relations Conference Indo-Pasific: Outlooks Opportunities, Challenges” pada 4 – 5 Desember 2020.
Ganewati pun menjabarkan tiga penelitian yang sedang digarap oleh Pusat Penelitian Kewilayahan LIPI sebagai kontribusi dalam Prioritas Riset Nasional terkait penguatan Indonesia di Indo-Pasifik. “Saat ini, ada tiga riset kami terkait Indo-Pasifik, yaitu strategi penguatan Indonesia di Indo-Pasifik, peningkatan peran ASEAN di Indo-Pasifik, serta kepemimpinan Indonesia di ASEAN terkait dinamika perkembangan di Indo-Pasifik,” terang Ganewati.
Peneliti Pusat Penelitian Kewilayahan LIPI, Saiful Hakam, menyatakan upaya penguatan peran Indonesia di Indo-Pasifik tidak akan terlepas dari andil Non Government Organizations (NGOs). “NGOs memiliki peran penting sebagai salah satu pemangku kepentingan yang mempengaruhi kerjasama Indo-Pasifik,” ujarnya.
Dirinya menjelaskan, NGOs adalah pelaku swasta atau kelompok masyarakat yang mendampingi masyarakat dalam menghadapi perusahaan multinasional. “Isu-isu yang muncul dari NGOs dapat menjadi isu global dan akan mempengaruhi posisi penawaran diplomasi Indonesia di Indo-Pasifik,” kata Hakam.
Di sisi lain, kebijakan luar negeri Indonesia terhadap Indo-Pasifik tidak akan jauh dari kemaritiman. “Berdasarkan definisi Indo-Pasifik sebagai wilayah yang diperebutkan dari berbagai sisi dan lapisan, Indonesia akan tetap fokus menguatkan karakter kemaritiman sebagai negara kepulauan dalam lingkup outlook ASEAN terhadap Indo-Pasifik,” terang Agus.
Agus pun merinci bahwa dalam upaya tersebut, kebijakan luar negeri Indonesia hingga saat ini masih terganjal oleh beberapa tantangan, antara lain permasalahan konektivitas internal, sub-regional dan regional; kerja sama internasional; serta kestabilan perdamaian dan kesejahteraan.
Sementara itu, peneliti Pusat Penelitian Kewilayahan LIPI, Meilinda Sari, mengungkapkan kompetisi Indo-Pasifik kali ini nampaknya akan ikut diramaikan oleh kontinen Eropa. “Eropa yang selama ini kurang tertarik pada Indo-Pasifik, mulai melihat Indo-Pasifik sebagai arena yang potensial untuk menguatkan hubungan ekonomi dan menjaga nilai normatif politiknya,” jelas Meilinda. Ketertarikan Eropa pada Indo-Pasifik tersebut dapat dilihat dari upaya penguatan konektivitas yang dilakukan Eropa terhadap India. (iz/ed.mtr)