Jakarta, Humas LIPI.Diaspora Indonesia yang berjumlah sekitar 8 juta orang, merupakan potensi yang besar guna berkontribusi kepada ilmu pengetahuan terhadap masa depan dan kemajuan bangsa. “Namun demikian dari kajian dan riset, diketahui bahwa banyak aspek lain dari diaspora Indonesia yang terjadi. Buku yang ditulis para peneliti Pusat Penelitian Kewilayahan LIPI ini mencoba memberikan kontribusi secara akademik atas kajian mengenai diaspora dengan perspektif yang berbeda yaitu dengan melihat diaspora muslim Indonesia yang ada di Belanda,” demikian Ganewati Wuryandari, Kepala Pusat Penelitian Wilayah LIPI dalam sambutannya pada Webinar Peluncuran dan Diskusi Buku dengan tema Diaspora Muslim Indonesia di Belanda, pada Rabu (28/4).
“Populasi mereka di Belanda menjadi fokus isi buku bagaimana mereka membangun identitas jejaring konektivitas dan pengenalan budaya keagamaan Indonesia ke dunia global,” tegas Ganewati. Bagaimana komunitas Indonesia di Belanda menjaga komitmen, religiusitasnya dan membangun nuansa baru di tengah-tengah sentimen konservatisme agama dan Islamofobia yang melanda secara global, lanjut Ganewati
Lebih lanjut Ganewati menyampaikan bahwa, pengetahuan tentang bagaimana komunitas Indonesia di luar negeri menjaga komitmen religiusitasnya memang masih sangat kurang, baik itu dalam hal konteks identitas sosial budaya dan koneksitas global. Hal lain yang penting dan belum banyak digali adalah soal kontribusi mereka terhadap problematika sosial kultural yang ada ditanah air. “Kenyataan ini tentu memberikan peluang dan sekaligus tantangan bagi studi-studi diaspora Indonesia ke depan,” jelas Ganewati.
Adapun pendapat Fachri Aldulsyah, peneliti Pusat Penelitian Kewilayahan LIPI adalah bahwa, diaspora menjadi suatu hal yang menarik, karena memang ternyata Indonesia satu di antara sepuluh negara terbesar yang ikut serta dalam melakukan migrasi ke luar negeri, baik di wilayah Eropa, Asia, maupun Timur Tengah. “Persebaran diaspora Indonesia, Belanda adalah tujuan utama terbesar, atau migrasi orang-orang Indonesia di wilayah Eropa,” jelas Fachri. Dirinya menguraikan dari negara tujuan migrasi yang pertama Malaysia, kedua Saudi Arabia, dan yang ketiga adalah Belanda mencapai hampir 400 ribu orang.
Lebih lanjut Fachri mengupas tentang persoalan dari maraknya migrasi dan kaitannya dengan agama yang ada di Belanda. Hal yang menimbulkan perdebatan adalah ketika persoalan migrasi ini bukan hanya menghadirkan wajah keagamaan baru namun juga telah menjadikan agama yang merupakan hal privat, kemudian menjadi hadir di ruang public Eropa yang sesungguhnya sekuler. Berdasarkan riset 2019, isu hadirnya migrasi kalangan Turki dan Maroko, menjadi persoalan dual nasionalisme atau dual citizenship “Dual Citizenship cukup mengancam kedaulatanBelanda itu sendiri. Aktivitas politik yang dilakukan oleh pemerintah Turki maupun Maroko memanfaatkan kaum migran mereka di Belanda,” jelas Fachri. “ Ini yang menjad salah satu questioning terhadap persoalan relasi agama dan negara juga dual nasionalisme yang menimbulkan perdebatan publik dan dan muncul isu ‘Gerakan Islamofobia’ di sebagian kalangan masyarakat Belanda itu sendiri”.
Dikatakan Fachri, meskipun jumlah diaspora Muslim Indonesia di Belanda lebih sedikit dibandingkan diaspora Turki, Maroko, maupun Suriname, namun diaspora Muslim Indonesia turut berperan penting dalam mendinamisasikan khasanah ke-Islam-an di Negeri Kincir Angin tersebut. “ Ditengarai dari komunitas Islam dan kegiatan keagamaannya, penerjemahan dan penerbitan Al-Qur’an ke dalam Bahasa Belanda, pengadvokasian masyarakat Islam, hingga menginisiasi dan membangun jejaring konektivitas dengan berbagai organisasi Islam di Indonesia maupun di tingkat global,” ungkap Fachri.
Lebih lanjut, Amin Mudzakkir, peneliti Pusat Penelitian Kewilayahan LIPI menyoroti pada proses pembentukan NU cabang Belanda, bukan merupakan suatu hal yang baru meskipun secara formal cabang istimewa NU Belanda baru berdiri tahun 2015. Berawal darisejak tahun 2000-an muncul kesadaran untuk mengekspor ideologi atau paham mahzab keagamaan Islam ala Indonesia ke dunia termasuk ke Belanda,”jelas Amin.
Lebih lanjut Amin menyampaikan bahwa “Ini sangat berkembang dan berpengaruh terutama kepada kalangan mahasiswa Indonesia bahwa mereka ingin memperlihatkan kepada warga Belanda, warga Eropa dan warga dunia bahwa ada satu bentuk Islam yang tidak sama dengan Islam Arab, Islam Turki, dan Islam Maroko. Ada satu kebutuhan dan kesadaran internal dari pihak Belanda untuk memperkenalkan satu bentuk Islam yang lain yang sifatnya lebih kultural, lebih adaptif dengan situasi setempat dan seterusnya,” ungkap Amin. Dalam perkembangannya, terbentuk aktifis melalui kegiatan sangat aktif setiap minggu berkumpul tidak hanya pengajian dalam artian formal tetapi juga bahkan acara-acara kesenian.
“Berbicara kontribusi secara materi para diaspora muslim di Belanda sangat luar biasa kontribusinya, yang tak kalah pentingnya Pemerintah Belanda mendengar kiprah teman-teman NU dari Belanda ini, lalu mereka mengundang, terutama di Den Haag terlibat dalam kegiatan masyarakat setempat semacam festival dan lain sebagainya. Dimana teman-teman dari PCINU memperlihatkan satu bentuk Islam yang di mata orang Barat kok berbeda tapi menarik,”lanjut Amin. “Kontribusi-kontribusi diaspora Indonesia dalam hal ini diwakili oleh temen-temen NU tak hanya terhadap tanah airnya, tetapi juga terhadap masyarakat setempat. Mereka terlibat dengan aktifitas warga di sekitar Masjid. Belanda melihat ini sebagai hal yang memberi warna pada Islam yang lebih kultural . Beberapa pejabat setempat juga melibatkan teman-teman NU untuk ikut dalam acara-acara yang menyangkut warga,”demikian Amin mengakhiri paparannya. (Rdn,Agn/ed: mtr)
***************************************************************
DISCLAIMER: Tim website psdr.lipindonesia.com hanya menjalankan tugas penyuntingan teknis. Konten tulisan yang dimuat sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Korespondensi lebih lanjut terkait substansi artikel silakan menghubungi HUMAS LIPI.