
Jakarta - Di era globalisasi seperti sekarang, pertautan antara manusia, buku, dan diskusi adalah suatu hal yang sudah usang dan mulai ditinggalkan zaman. Kini, preseden tersebut semakin ditunjukkan dengan gambaran manusia modern saat ini yang lebih senang dengan suatu hal yang bersifat receh, nirfaedah, dan bergumul pada dunia perjulidan dibandingkan pada suatu hal yang bersifat ilmiah yang mampu membangkitkan nalar intelektual publik. Sebagaimana digambarkan oleh Tom Nichols, realitas seperti ini telah masuk pada era the death of expertise, era matinya kepakaran. Pada masa yang disebut-sebut sebagai matinya ilmu pengetahuan, setiap orang lebih memilih berlomba-lomba menjadi Youtuber, Vlogger, dan Selebgram yang selalu mewartakan cerita-cerita bombastis dan fantastis, penuh dengan simulacra kehidupan. Namun hal itu tidak memiliki implikasi apa-apa terhadap peningkatan perekonomian dan kohesivitas sosial masyarakat.
Meskipun begitu, justru di era the death of expertise ini pula, sirkulasi dunia ilmiah hari ini pun secara perlahan mulai mengalami perubahan, dari yang selama ini bersifat ekslusif menjadi suatu hal yang bersifat inklusif, dari suatu hal yang bersifat elitis menjadi suatu hal yang lebih bisa dinikmati oleh khalayak umum. Dan di era seperti inilah, dunia kepakaran tidak lagi ditentukan oleh legacy profesi dan kesarjanaan, melainkan lebih ditentukan oleh ketekunannya dan keahliannya terhadap suatu aktivitas tertentu. Di era distruptif seperti ini, perusahaan-perusahaan kenamaan dunia seperti Google, Facebook, serta start-up-start up digital yang berkembang di berbagai negara mulai merekrut praktisi dan expert mereka tidak ditentukan oleh educational background dan sertifikasi lisensi tertentu, melainkan lebih ditentukan oleh keahliannya dalam menyelesaikan suatu pekerjaan tertentu.
Apa yang menjadi ‘realitas’ di era distruptif seperti saat ini; di mana kepakaran tidak lagi bertumpu pada gelar juga mulai terjadi di Indonesia. Dalam konteks kesarjanaan Islam Indonesia hari ini saja, banyak para Doktor dan Profesor di bidang Tafsir dan Islamic Studies yang tengah mengagumi kecerdasan seorang KH. Bahauddin Nursalim (Gus Baha), seorang ulama besar Indonesia yang sejatinya hampir tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Lebih lanjut, model ‘kepakaran baru’ seperti ini juga terjadi di dunia Chinese studies, di mana beberapa sarjana yang menggeluti isu-isu sosial politik dan kesusastraan Cina mulai menjadikan Sia Ka Mou sebagai rujukan.
Setidaknya, ada beberapa alasan yang mengakibatkan Pak Sia Ka Mou menjadi referensi hari-hari ini. Meskipun sejatinya Pak Sia Ka Mou yang berprofesi sebagai pengusaha -tidak memiliki gen dari rahim akademisi- namun kemampuannya dalam menganalisis persoalan Cina bisa dianggap cukup unik dan mengejutkan. Kemampuan analisis tersebut ia dapatkan dari kefasihannya berbahasa Mandarin, keaktifannya dalam mengikuti berbagai kegiatan konferensi ilmiah di berbagai mancanegara, serta kebiasaannya dalam membaca dan mengoleksi ribuan buku ilmiah tentang Cina dan isu-isu global.
Terdapat tiga kali perjumpaan saya dengannya, yang pertama ialah di Singapura ketika kami sama-sama mengikuti dua seminar pada tahun 2018 silam, serta mengikuti The International Convention of Asia Scholars (ICAS) di Leiden pada tahun lalu. Aktivitas beliau mengikuti tiga seminar tersebut tidak hanya sebagai peserta aktif, melainkan juga diikuti dengan pembelian koleksi buku-buku penting yang tersaji di berbagai event tersebut. Sudah barang tentu, bagi mahasiswa Indonesia yang tengah mendalami isu tentang Cina, kini beliau tengah menjadi rujukan baru yang tidak hanya menjadikannya sebagai tempat untuk berdiskusi tentang persoalan Cina, melainkan juga menjadi “tumpuan baru” kepustakaan Chinese Studies yang belum banyak di koleksi, bahkan oleh Universitas sekali pun. (FA)