Jakarta, Humas LIPI. Indonesia dengan segala keragaman budaya dan penduduknya tak bisa dipisahkan dari etnis China/Tionghoa yang pun telah menjadi bagian dari warga negara Indonesia. Kedekatan kedua negara menjadi menarik untuk diulas mengingat keduanya memiliki latar belakang budaya Tionghoa yang begitu kontras dengan Indonesia yang lekat dengan budaya Islam. Selasa (3/9) di Jakarta, Pusat Penelitian Kewilayahan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia menggelar bedah buku Islam, Indonesia dan China yang hingga kini telah masuk cetakan ke-3.
Ganewati Wuryandari , Kepala Pusat Penelitian Kewilayahan LIPI, mengucapkan apresiasinya pada terbitnya buku dan acara ini. “Dari judulnya saja menarik, bagaimana islam di China juga belum banyak yang mengetahui ,” ujarnya. Menurut Andari, pembahasan dalam buku ini penting mengingat masih banyak stigma yang mengkotakkan China sebagai negara komunis sementara Indonesia adalah negara beragama. "Padahal sebenarnya di China juga terdapat daerah yang mayoritas penduduknya beragama islam, dan praktek-praktek agama (islam) juga tidak dilarang," lanjutnya.
Ardhitya Eduard Yeremia, Dosen Hubungan Internasional UI, mengungkapkan bahwa dekatnya hubungan Indonesia dan China pun terlihat disewakannya dua Panda, hewan endemik China, ke Taman Safari Indonesia selama 10 tahun. "Perwakilan duta besar China mengungkapkan bahwa itu merupakan tanda persahabatan. Untuk menunjukkan rasa persahabatan antara 1,3 miliar orang China dengan 260 juta orang Indonesia, " jelas Ardhitya. Dirinya menyebutkan bahwa tahun 2010 disebut juga sebagai tahun persahabatan Indonesia China dengan berdirinya 6 pusat Mandarin di Indonesia. " Perdana Menteri China pun pernah mengutip bahwa China tidak bertentangan dengan Islam." Kedekatan Indonesia pun terlihat dari People to People Exchange Mechanism pada 2015 antara Cina dengan hanya 8 Negara di dunia, termasuk Indonesia.
Idris Mesut, Redaktur Alif.Id, menyoroti aspek toleransi beragama sebagai salah satu isu yang diangkat dalam buku ini. Idris menyebutkan bahwa banyak santri yang menempuh pendidikan di China dan fakta bahwa China begitu ramah dengan Islam melalui penyediaan makanan halal dan tempat ibadah (Masjid). "Ketika saya ke China, makanan halal mudah ditemukan dan bahkan makam sahabat nabi di sana pun begitu bersih dan terawat," tuturnya. Idris pun menambahkan bahwa bahkan beberapa pondok pesantren di Indonesia mengajarkan mandarin sebagai 2 bahasa ke dua. P
ungkasnya ( iz/ed: mtr)
