• Home
  • About Us
    • About P2W
    • People
      • Management
      • Researchers
      • Visiting Researchers
    • Institutional Partners
    • Annual Reports
  • Projects
  • News and Events
    • News
    • Events
      • Past Events
      • Upcoming Events
    • Opinions
    • Prominent Figures
  • Publications
    • Books
    • Newsletter
    • Working Papers
    • Policy Papers
    • Journal Kajian Wilayah
    • Book Reviews
  • Gallery
    • Photos
    • Videos
  • Contact
  • Sudut Pandang Amin Mudzakkir

Latest Update

 
Mar 15, 2022

Rempah, Alat Niaga Pendorong Pertemuan Lintas Bangsa

News Humas BRIN
Dec 31, 2021

Perdagangan Indonesia-Uni Eropa: Studi Kasus Hambatan Ekspor Ikan Tuna Indonesia ke Uni Eropa

Opinions Catherina Henderson*
Dec 31, 2021

Sejarah Perbatasan di Asia Tenggara: Mengupas Pengelolaan Perbatasan Di Vietnam

Opinions Lamijo
Dec 31, 2021

Ethiopia 2020–2021: Mengulang Masa Kelam Perpecahan Etnis

Opinions Angela Iban
Dec 28, 2021

Kota-Kota Perbatasan di Asia Tenggara: Arti Penting Kota Perbatasan Mong Cai bagi Vietnam

Opinions Lamijo

Pengukuhan Profesor Riset LIPI, Dr. Cahyo Pamungkas

News 28 August 2020
Written by Abdul Fikri Angga Reksa
fShare
Tweet

DSC033501

 

Jakarta - Peneliti Pusat Penelitian Kewilayahan (P2W) LIPI, Dr. Cahyo Pamungkas dinobatkan sebagai Profesor Riset pada Kamis (27/09) di Auditorium Utama, LIPI. Cahyo menyampaikan orasi ilmiahnya yang berjudul Rekonstruksi Pendekatan dalam Kajian Konflik Asia Tenggara: Kasus Indonesia, Thailand, Filipina, dan Myanmar. Pengukuhan tersebut menjadikan Cahyo sebagai Profesor Riset ketiga di P2W-LIPI setelah Prof. Yekti Maunati dan Prof. Erwiza Erman. 

Dalam orasinya, Cahyo menyebutkan pentingnya rekonstruksi pendekatan yang memandang identitas dan agama menjadi sumber utama kasus intoleransi, radikalisme, dan konflik sosial. Simbol-sim bol identitas agama dan atau etnisitas sering kali digunakan untuk memobilisasi massa disertai dengan narasi permusuhan. Penelitian Cahyo menunjukkan bahwa sentimen primordial tidak secara langsung mendorong sikap intoleran atau tindakan kekerasan. Namun, identitas ini dapat digerakkan oleh ekosistem konflik seperti telah dijelaskan di muka. Oleh karena itu, pendekatan dalam kajian konflik perlu melihat dan memusatkan perhatiannya pada ekosistem konflik termasuk relasi dominasi dalam sistem sosial, ekonomi, dan politik yang mengakibatkan deprivasi relatif.

Kebijakan rekonsiliasi berbasis kultural yang sudah dilakukan dalam konflik intra-agama adalah program inklusi sosial bagi pengungsi minoritas aliran keagamaan. Di sejumlah daerah, program tersebut dapat dilanjutkan dan didukung oleh pemerintah dan lembaga donor.  Namun, rekonsiliasi kultural tidak dapat diterapkan untuk kasus kekerasan politik seperti yang terjadi di Tanah Papua. Rekonsiliasi tersebut harus didasarkan atas kebijakan negara melalui proses yang terdiri dari pengakuan kebenaran, permintaan maaf, penegakan keadilan, pengampunan, pemaafan, rehabilitasi, dan kompensasi.  Untuk mencapai rekonsiliasi tersebut, pemerintah harus terlebih dahulu melakukan dialog dengan gerakan politik Papua merdeka. Belajar dari kegagalan dialog damai antara Pemerintah Thailand dan MARA, wakil dari Papua harus berasal dari gerakan politik yang paling signifikan. Selain itu, belajar dari keberhasilan perundingan damai antara Pemerintah Filipina dan MILF, dialog Jakarta-Papua harus didahului dengan dialog internal antarkelompok masyarakat sipil di Tanah Papua dan penghentian segala bentuk tindakan kekerasan dari para pihak yang berkonflik.

Cahyo memperoleh gelar Sarjana Ekonomi dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta tahun 1999, memperoleh gelar Magister Sains bidang Sosiologi dari Universitas Indonesia tahun 2008, dan gelar Doktor bidang Ilmu Sosial dari Faculteit der Sociaal en Wettenschappen, Radboud Universiteit Nijmegen, Belanda tahun 2015. Aktif dalam organisasi profesi ilmiah, yaitu sebagai anggota Asia-Pacific Research Association (APRA), International Peace Research Association (IPRA), dan Himpunan Peneliti Indonesia (Himpenindo). Sepanjang perjalanan kariernya di LIPI, Cahyo telah mepublikasikan 90 karya tulis ilmiah dan 34 di antaranya menggunakan Bahasa Inggris. Selain itu, Cahyo juga termasuk Profesor Riset termuda yang ada di LIPI. 

Latest Update

 
Mar 15, 2022

Rempah, Alat Niaga Pendorong Pertemuan Lintas Bangsa

News Humas BRIN
Dec 31, 2021

Perdagangan Indonesia-Uni Eropa: Studi Kasus Hambatan Ekspor Ikan Tuna Indonesia ke Uni Eropa

Opinions Catherina Henderson*
Dec 31, 2021

Sejarah Perbatasan di Asia Tenggara: Mengupas Pengelolaan Perbatasan Di Vietnam

Opinions Lamijo
Dec 31, 2021

Ethiopia 2020–2021: Mengulang Masa Kelam Perpecahan Etnis

Opinions Angela Iban
Dec 28, 2021

Kota-Kota Perbatasan di Asia Tenggara: Arti Penting Kota Perbatasan Mong Cai bagi Vietnam

Opinions Lamijo

dokinfosimpegintra lipiepenelitiBanner KIP

Privacy Policy Legal Disclaimer « ISSN 2086-5309 » ContactCopyright © 2022 Research Center for Regional Resources - Indonesian Institute of Sciences (P2SDR-LIPI)
News