Jakarta - Peneliti Pusat Penelitian Kewilayahan (P2W) LIPI, Dr. Cahyo Pamungkas dinobatkan sebagai Profesor Riset pada Kamis (27/09) di Auditorium Utama, LIPI. Cahyo menyampaikan orasi ilmiahnya yang berjudul Rekonstruksi Pendekatan dalam Kajian Konflik Asia Tenggara: Kasus Indonesia, Thailand, Filipina, dan Myanmar. Pengukuhan tersebut menjadikan Cahyo sebagai Profesor Riset ketiga di P2W-LIPI setelah Prof. Yekti Maunati dan Prof. Erwiza Erman.
Dalam orasinya, Cahyo menyebutkan pentingnya rekonstruksi pendekatan yang memandang identitas dan agama menjadi sumber utama kasus intoleransi, radikalisme, dan konflik sosial. Simbol-sim bol identitas agama dan atau etnisitas sering kali digunakan untuk memobilisasi massa disertai dengan narasi permusuhan. Penelitian Cahyo menunjukkan bahwa sentimen primordial tidak secara langsung mendorong sikap intoleran atau tindakan kekerasan. Namun, identitas ini dapat digerakkan oleh ekosistem konflik seperti telah dijelaskan di muka. Oleh karena itu, pendekatan dalam kajian konflik perlu melihat dan memusatkan perhatiannya pada ekosistem konflik termasuk relasi dominasi dalam sistem sosial, ekonomi, dan politik yang mengakibatkan deprivasi relatif.
Cahyo memperoleh gelar Sarjana Ekonomi dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta tahun 1999, memperoleh gelar Magister Sains bidang Sosiologi dari Universitas Indonesia tahun 2008, dan gelar Doktor bidang Ilmu Sosial dari Faculteit der Sociaal en Wettenschappen, Radboud Universiteit Nijmegen, Belanda tahun 2015. Aktif dalam organisasi profesi ilmiah, yaitu sebagai anggota Asia-Pacific Research Association (APRA), International Peace Research Association (IPRA), dan Himpunan Peneliti Indonesia (Himpenindo). Sepanjang perjalanan kariernya di LIPI, Cahyo telah mepublikasikan 90 karya tulis ilmiah dan 34 di antaranya menggunakan Bahasa Inggris. Selain itu, Cahyo juga termasuk Profesor Riset termuda yang ada di LIPI.