Jakarta. Studi mengenai kota berkelanjutan kembali menjadi perhatian global terutama sejak diresmikannya “Sustainable Development Goals” (SDGs) tahun 2015. Konsep Sustainable cities atau kota berkelanjutan yang merupakan turunan SDGs ke-11 telah menjadi perhatian negara-negara di dunia. Merespon pentingnya studi ini, Pusat Penelitian Kewilayahan LIPI melalui Forum Kajian Wilayah menyelenggarakan diskusi bertema “Pengembangan Wilayah Perkotaan: Pengalaman Kota di Indonesia dan Korea Selatan” pada 9-10 Juli 2019. Diskusi ini merupakan wujud nyata kolaborasi antara Pusat Penelitian Kewilayahan LIPI dengan National Research Foundation (NRF) Korea (Seoultech) dan Universitas Pelita Harapan (UPH).

Credit: Fatmawati/P2W LIPI
Diskusi ini diisi oleh dua orang pakar perkotaan, yakni oleh Prof. Dr. Erwiza Erman, M.A. (PSDR LIPI) dan Prof. Oh Joon Gul (Seoul National University of Science and Technology-Seoultech). Dalam presentasinya kali ini, Prof. Erwiza menjelaskan tentang pengalamannya dalam memperjuangkan kota tambang Sawahlunto Sumatera Barat untuk dinobatkan sebagai World Heritage oleh UNESCO. Beliau mengungkapkan bahwa mendaur ulang kota seperti Sawahlunto memerlukan waktu yang cukup panjang dan memerlukan peran aktor negara yang kuat. Menurutnya, mendaurulang kawasan tambang dan non-tambang ini memberikan dampak positif terhadap penguatan kerekatan sosial dan budaya warga mau pun peningkatan pendapatan ekonomi masyarakat setempat. Kini, Kota Sawahlunto semakin bangga dengan tagline kotanya sebagai “Kota Wisata Tambang Yang Berbudaya” yang mulai dikenal oleh dunia.

Credit: Fatmawati/P2W LIPI
Dalam konteks Korea Selatan, Prof. Oh Joon Gul memamparkan hasil penelitiannya terkait lahan kosong (vacant space) dan lahan yang kurang dimanfaatkan (underused space) di negara tersebut. Dalam presentasinya, ia menjelaskan bahwa munculnya fenomena vacant space merupakan implikasi dari pertumbuhan industri yang tinggi di negara tersebut, yang telah menjadikan masyarakat di daerah sekitar area industri memutuskan untuk berpindah tempat, sehingga lahirlah lahan-lahan kosong yang tidak berpenghuni. Merespon hal tersebut, pemerintah mulai membangun kembali infrastruktur baru di lahan kosong tersebut dan menekankan pentingnya menyertai pembangunan taman dan ruang publik dalam perencanaan pembangunan.

Credit: Fatmawati/P2W LIPI
Kegiatan diskusi ini juga dilengkapi dengan pemaparan hasil desain dan konsep arsitektur bangunan dari para pemenang sayembara nasional untuk bangunan-bangunan di kota-kota Indonesia, antara lain; Baileo Masohi di Maluku Tengah (Emanuel Agung Wicaksono), Museum Situs dan Kawasan Song Terus Gunung Sewu (Dua Studio Architect Consultant), dan Infrastruktur Terintegrasi Transjakarta yang menghubungkan Stasiun MRT dan Halte Bus Transjakarta - Cakra Selaras Wahana (Studio Lawang Architect Consultant). Para pemenang sayembara yang juga merupakan representasi dari Universitas Pelita Harapan (UPH) berupaya untuk menggunakan sudut pandang arsitektur sebagai sebuah pintu masuk untuk melakukan social engineering terhadap suatu desa-kota. Acara diskusi setiap sesi semakin meriah, mengingat banyaknya peserta yang hadir dari berbagai macam unsur masyarakat hingga institusi pemerintah, mulai dari mahasiswa, dosen, pegawai kementerian mau pun Pemerintah daerah. (Ayu Nova dan Meilinda Sari/P2W LIPI)