• Home
  • About Us
    • About P2W
    • People
      • Management
      • Researchers
      • Visiting Researchers
    • Institutional Partners
    • Annual Reports
  • Projects
  • News and Events
    • News
    • Events
      • Past Events
      • Upcoming Events
    • Opinions
    • Prominent Figures
  • Publications
    • Books
    • Newsletter
    • Working Papers
    • Policy Papers
    • Journal Kajian Wilayah
    • Book Reviews
  • Gallery
    • Photos
    • Videos
  • Contact
  • Sudut Pandang Amin Mudzakkir

Latest Update

 
Mar 15, 2022

Rempah, Alat Niaga Pendorong Pertemuan Lintas Bangsa

News Humas BRIN
Dec 31, 2021

Perdagangan Indonesia-Uni Eropa: Studi Kasus Hambatan Ekspor Ikan Tuna Indonesia ke Uni Eropa

Opinions Catherina Henderson*
Dec 31, 2021

Sejarah Perbatasan di Asia Tenggara: Mengupas Pengelolaan Perbatasan Di Vietnam

Opinions Lamijo
Dec 31, 2021

Ethiopia 2020–2021: Mengulang Masa Kelam Perpecahan Etnis

Opinions Angela Iban
Dec 28, 2021

Kota-Kota Perbatasan di Asia Tenggara: Arti Penting Kota Perbatasan Mong Cai bagi Vietnam

Opinions Lamijo

Pengembangan Wilayah Perkotaan: Belajar dari Indonesia dan Korea Selatan

News 24 July 2019
Written by Ayu Nova dan Meilinda Sari/P2W LIPI
fShare
Tweet

Jakarta. Studi mengenai kota berkelanjutan kembali menjadi perhatian global terutama sejak diresmikannya “Sustainable Development Goals” (SDGs) tahun 2015. Konsep Sustainable cities atau kota berkelanjutan yang merupakan turunan SDGs ke-11 telah menjadi perhatian negara-negara di dunia. Merespon pentingnya studi ini, Pusat Penelitian Kewilayahan LIPI melalui Forum Kajian Wilayah menyelenggarakan diskusi bertema “Pengembangan Wilayah Perkotaan: Pengalaman Kota di Indonesia dan Korea Selatan” pada 9-10 Juli 2019. Diskusi ini merupakan wujud nyata kolaborasi antara Pusat Penelitian Kewilayahan LIPI dengan National Research Foundation (NRF) Korea (Seoultech) dan Universitas Pelita Harapan (UPH).

rame

Credit: Fatmawati/P2W LIPI

Diskusi ini diisi oleh dua orang pakar perkotaan, yakni oleh Prof. Dr. Erwiza Erman, M.A. (PSDR LIPI) dan Prof. Oh Joon Gul (Seoul National University of Science and Technology-Seoultech). Dalam presentasinya kali ini, Prof. Erwiza menjelaskan tentang pengalamannya dalam memperjuangkan kota tambang Sawahlunto Sumatera Barat untuk dinobatkan sebagai World Heritage oleh UNESCO. Beliau mengungkapkan bahwa mendaur ulang kota seperti Sawahlunto memerlukan waktu yang cukup panjang dan memerlukan peran aktor negara yang kuat. Menurutnya, mendaurulang kawasan tambang dan non-tambang ini memberikan dampak positif terhadap penguatan kerekatan sosial dan budaya warga mau pun peningkatan pendapatan ekonomi masyarakat setempat. Kini, Kota Sawahlunto semakin bangga dengan tagline kotanya sebagai “Kota Wisata Tambang Yang Berbudaya” yang mulai dikenal oleh dunia.  

 DSC0191

Credit: Fatmawati/P2W LIPI

Dalam konteks Korea Selatan, Prof. Oh Joon Gul memamparkan hasil penelitiannya terkait lahan kosong (vacant space) dan lahan yang kurang dimanfaatkan (underused space) di negara tersebut. Dalam presentasinya, ia menjelaskan bahwa munculnya fenomena vacant space merupakan implikasi dari pertumbuhan industri yang tinggi di negara tersebut, yang telah menjadikan masyarakat di daerah sekitar area industri memutuskan untuk berpindah tempat, sehingga lahirlah lahan-lahan kosong yang tidak berpenghuni. Merespon hal tersebut, pemerintah mulai membangun kembali infrastruktur baru di lahan kosong tersebut dan menekankan pentingnya menyertai pembangunan taman dan ruang publik dalam perencanaan pembangunan.

 DSC0037

Credit: Fatmawati/P2W LIPI

Kegiatan diskusi ini juga dilengkapi dengan pemaparan hasil desain dan konsep arsitektur bangunan dari para pemenang sayembara nasional untuk bangunan-bangunan di kota-kota Indonesia, antara lain; Baileo Masohi di Maluku Tengah (Emanuel Agung Wicaksono), Museum Situs dan Kawasan Song Terus Gunung Sewu (Dua Studio Architect Consultant), dan Infrastruktur Terintegrasi Transjakarta yang menghubungkan Stasiun MRT dan Halte Bus Transjakarta - Cakra Selaras Wahana (Studio Lawang Architect Consultant). Para pemenang sayembara yang juga merupakan representasi dari Universitas Pelita Harapan (UPH) berupaya untuk menggunakan sudut pandang arsitektur sebagai sebuah pintu masuk untuk melakukan social engineering terhadap suatu desa-kota. Acara diskusi setiap sesi semakin meriah, mengingat banyaknya peserta yang hadir dari berbagai macam unsur masyarakat hingga institusi pemerintah, mulai dari mahasiswa, dosen, pegawai kementerian mau pun Pemerintah daerah. (Ayu Nova dan Meilinda Sari/P2W LIPI)

Latest Update

 
Mar 15, 2022

Rempah, Alat Niaga Pendorong Pertemuan Lintas Bangsa

News Humas BRIN
Dec 31, 2021

Perdagangan Indonesia-Uni Eropa: Studi Kasus Hambatan Ekspor Ikan Tuna Indonesia ke Uni Eropa

Opinions Catherina Henderson*
Dec 31, 2021

Sejarah Perbatasan di Asia Tenggara: Mengupas Pengelolaan Perbatasan Di Vietnam

Opinions Lamijo
Dec 31, 2021

Ethiopia 2020–2021: Mengulang Masa Kelam Perpecahan Etnis

Opinions Angela Iban
Dec 28, 2021

Kota-Kota Perbatasan di Asia Tenggara: Arti Penting Kota Perbatasan Mong Cai bagi Vietnam

Opinions Lamijo

dokinfosimpegintra lipiepenelitiBanner KIP

Privacy Policy Legal Disclaimer « ISSN 2086-5309 » ContactCopyright © 2022 Research Center for Regional Resources - Indonesian Institute of Sciences (P2SDR-LIPI)
News