Lebih dari 50 penonton hadir dalam pemutaran film pendek bertajuk Menuju Batas pada Kamis, 24 November 2019 di Cendana Room 1, Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City Tangerang. Acara ini diselenggarakan oleh Pusat Penelitian Kewilayahan (P2W) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sebagai bagian dari rangkaian perhelatan akbar Indonesia Science Expo (ISE) 2019. Selain menonton bersama, acara juga dilanjutkan dengan sesi diskusi terkait isu-isu strategis di area perbatasan bersama peneliti P2W-LIPI, Betti Rosita Sari.

Salah satu penanya mendapatkan suvenir dari P2W-LIPI (Fikri)
Menuju Batas merupakan film pendek fiksi karya sutradara Jeffri Harianja yang diproduksi pada 2018. Film berdurasi 16 menit ini berkisah tentang perjalanan warga Entikong (Kalimantan Barat) dalam upayanya menembus perbatasan Indonesia – Malaysia secara ilegal. Perjalanan berbahaya tersebut mereka tempuh demi mendapatkan pekerjaan di Malaysia. Sayangnya, tidak semua warga bisa melewati wilayah perbatas dengan mudah dan justru banyak migran ilegal berujung di penjara.
Menurut Betti, kondisi area perbatasan wilayah Indonesia dan Malaysia sangat jauh berbeda dengan wilayah perbatasan Vietnam dan China. Wilayah perbatasan antara Vietnam dan China lebih teratur dan ramai salah satunya karena kedua negara menjadikan gerbang perbatasan sebagai pusat kegiatan ekonomi. Komoditas yang diperdagangkan mulai elektronik, produk fesyen, hingga obat-obatan tradisional. Selain itu, kota perbatasan tersebut juga menjadi tujuan utama para migran. Hal ini yang menjadikan kota di perbatasan tersebut mengalami perkembangan yang sangat pesat.

Suasana nobar film Menuju Batas yang diselenggarakan P2W-LIPI (Fikri)
Salah satu guru dari SMAN 28 Tangerang mengaku mendapatkan pengetahuan baru tentang kota-kota perbatasan di ASEAN setelah acara nobar dan diskusi dengan P2W-LIPI. Menurut dia, sudah saatnya Indonesia lebih memperhatikan kesejahteraan warga di wilayah perbatasan sehingga tidak ada lagi warga negara Indonesia yang menjadi tenaga kerja ilegal di negara tetangga.(Abdul Fikri Angga Reksa)
