
Jakarta - Peninggalan tambang batu bara Ombilin di Sawahlunto, Sumatera Barat, telah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia ke-43 oleh UNESCO, melalui sidang Komite di Baku, Azerbaijan, pada 6 Juli 2019. Sawahlunto dianggap memenuhi kriteria internasional sehingga layak untuk dijadikan warisan dunia.
“Narasi sejarah tentang batu bara tahun 1867, tercatat lebih dari jutaan ton batu bara telah membawa Sawahlunto tidak hanya ke skala nasional tetapi juga dikenal hingga ke dunia internasional, karena hasil batu bara Ombilin telah mengurangi impor dari Nathal”, ungkap peneliti utama LIPI, Erwiza Erman, dalam acara seminar daring yang diselenggarakan Balai Pelestarian Cagar Budaya, Sumatera Barat, pada Kamis (9/7).
Dirinya mengatakan, di kota itu terdapat sisa-sisa industri batu bara dari masa kolonialisme Belanda. "Jika melihat skala yang lebih besar, di kota itulah terjadi proses ekstraksi, pemrosesan, dan pengangkutan batu bara dengan pembangunan kereta api hasil perpaduan teknologi lokal dan global," sebutnya.
Menurut Erwiza, batu bara telah mengubah desa Sawahlunto menjadi perkotaan, serta menjadikan masyarakat Minang sebagai masyarakat maju dan modern yang dilengkapi insfrastruktur. Sehingga terjadi interaksi antaretnis yang kaya akan budaya, contoh perantau dari penjuru negeri yang datang ke Ombilin: Indo-Eropa, Nias, Timor, Sumbawa, Bone, dan Belitung. Kondisi ini, menjadi bagian dari cerita sejarah yang dihasilkan dari eksploitasi batu bara. “Sejarah yang diciptakan oleh batu bara yang sampai kepada kita sebagai warisan, baik fisik maupun nonfisik kemudian menjadi modal ‘political will‘ dari Pemerintah”, jelas Erwiza.
Narasi Sejarah Sosial Sawahlunto
Narasi sejarah sosial menghadirkan masa lalu ke masa kini, seperti tempat/wilayah, praktik, ritual dan objek/subjektivitas, yang menghadirkan rasa emosi, takjub, heran, gembira, atau rasa takut yang melibatkan bermacam-macam emosi yang masih belum tersampaikan informasinya kepada publik. “Untuk itu, diperlukan peran pemandu sejarah untuk menjelaskan objek warisan dunia,” terang Erwiza.
Narasi sejarah sosial sebagai kekuatan pertumbuhan ekonomi daerah mempunyai dampak multiplier terhadap pendapatan dan tenaga kerja yang berperan sebagai pemandu (strory teller) dalam perekonomian. “Tuntutan peran pemandu harus menguasai narasi sejarah sosial dari objek dan human story, agar para turis dapat memahami informasi yang disampaikan mengenai Kota Sawahlunto ini sebagai Warisan Dunia”, jelasnya.
Mengapa Penting narasi sejarah sosial? Erwiza menjelaskan bahwa transmisi nilai-nilai pendidikan, pengetahuan antargenerasi perlu diketahui informasinya hingga ke generasi mendatang yang terus berlanjut di era modern. “Contoh narasi sejarah sosial, misalnya ada bunyi lonceng setiap pagi, di mana itu menandakan waktunya untuk mulai melakukan aktivitas tambang pada masa itu”, tutupnya. (mtr/agn)
*****
DISCLAIMER: Tim website psdr.lipindonesia.com hanya menjalankan tugas penyuntingan teknis. Konten tulisan yang dimuat sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Korespondensi lebih lanjut terkait substansi artikel silakan menghubungi HUMAS LIPI.