• Home
  • About Us
    • About P2W
    • People
      • Management
      • Researchers
      • Visiting Researchers
    • Institutional Partners
    • Annual Reports
  • Projects
  • News and Events
    • News
    • Events
      • Past Events
      • Upcoming Events
    • Opinions
    • Prominent Figures
  • Publications
    • Books
    • Newsletter
    • Working Papers
    • Policy Papers
    • Journal Kajian Wilayah
    • Book Reviews
  • Gallery
    • Photos
    • Videos
  • Contact
  • Sudut Pandang Amin Mudzakkir

Latest Update

 
Mar 15, 2022

Rempah, Alat Niaga Pendorong Pertemuan Lintas Bangsa

News Humas BRIN
Dec 31, 2021

Perdagangan Indonesia-Uni Eropa: Studi Kasus Hambatan Ekspor Ikan Tuna Indonesia ke Uni Eropa

Opinions Catherina Henderson*
Dec 31, 2021

Sejarah Perbatasan di Asia Tenggara: Mengupas Pengelolaan Perbatasan Di Vietnam

Opinions Lamijo
Dec 31, 2021

Ethiopia 2020–2021: Mengulang Masa Kelam Perpecahan Etnis

Opinions Angela Iban
Dec 28, 2021

Kota-Kota Perbatasan di Asia Tenggara: Arti Penting Kota Perbatasan Mong Cai bagi Vietnam

Opinions Lamijo

Menilik Perjalanan Kaum Minoritas Islam di Asia Tenggara

News 19 May 2020
Written by Humas LIPI
fShare
Tweet

fdf76601 a3f1 4c23 8b5d 61c7053c9469

 

Jakarta - Seiring waktu, agama Islam telah mengalami perkembangan yang sangat pesat di berbagai belahan dunia. Di beberapa negara di Asia Tenggara termasuk Indonesia, agama Islam merupakan agama mayoritas. Namun, di negara-negara lain seperti Filipina, Kamboja dan Vietnam, perkembangan Islam sebagai kaum minoritas memiliki jejak sejarah yang panjang. Lebih jauh mengetahui perjalanan kaum minoritas Islam di Asia Tenggara, berikut rangkuman pengalaman riset yang disampaikan melalui diskusi secara daring oleh Pusat Penelitian Kewilayahan (P2W) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada Senin, (11/5) lalu.

Dr. Cahyo Pamungkas, peneliti P2W-LIPI mengungkapkan perdagangan internasional penduduk Kepulauan Filipina dengan pedagang dari Jazirah Arab merupakan jembatan penyebaran agama Islam ke Filipina. “Tercatat sejak abad ke-10 para pedagang Arab ini sudah mendarat di sejumlah pelabuhan besar di Kepulauan Filipina, seperti misalnya di Pulau Mindanao. Dalam perkembangannya, mereka tidak hanya melakukan jual-beli aneka komoditas, namun juga mengenalkan ajaran Islam di sana,” jelas Cahyo.

Hingga abad ke-15 Islam telah menyebar pesat di wilayah Filipina bagian Selatan hingga Manila di Pulau Luzon serta berdirinya sejumlah Kesultanan.  Datangnya armada Spanyol di Filipina saat itu kemudian memberikan pengaruh besar pada penyebaran Islam di Filipina. “Kesultanan Islam seperti  Sultan Kudarat menjadi salah satu simbol perlawanan terhadap Spanyol saat itu. Panas-dingin hubungan keduanya menyebabkan Islam dominan di wilayah Selatan Pilipina,” terang Cahyo. Menurut Cahyo, perjuangan mendapatkan eksistensi muslim Filipina terus berlanjut hinggga kemerdekaan Filipina pada tahun 1946. Sejumlah perundingan dan perlawanan mencapai titik puncak sekitar tahun 1990-an, setelah terjadi gencatan senjata dan terbentuknya otonomi bagi penduduk Muslim Mindanao di selatan Filipina.

Beralih ke  negeri minoritas muslim Kamboja, Betti Rosita Sari, peneliti P2W- LIPI menyebutkan minoritas muslim Cham terbentuk saat Islam masuk ke Kamboja pada abad ke-10 dan 11 Masehi dibawa oleh pedagang Arab dan Persia. Sekitar abad ke-16 dan 17 Masehi, menjelang jatuhnya kerajaan Champa,  sebagian besar etnis Cham mulai memeluk Agama Islam, Etnis Cham di Kamboja berbaur juga dengan etnis melayu yang sudah ada di Kamboja sejak abad ke-13, “Jumlah etnis Cham saat ini sekitar 400-500 ribu orang dari 15 juta penduduk Kamboja atau sekitar 5 persen dan mayoritas adalah generasi muda.” terang Betti.

Hingga pada masa munculnya pasukan Khmer Merah, terdapat segregasi sosial, mata pencaharian Khmer mendominasi di pemerintahan sedangkan cham memilih nelayan dan pedagang kecil. Saat itu, rezim Khmer ini melarang muslim Cham dan etnis-etnis lain untuk beribadah, yang berimbas pada perpindahan pengungsi ke negara Malaysia, Thailand, dan juga ke negara-negara barat. Pada masa Kamboja saat ini , “Muslim Cham mempunyai kesempatan yang sama untuk mencari penghidupan yang lebih baik, ada yang menjadi nelayan, petani, pedagang, pegawai pemerintahan, bahkan ada yang menjalankan bisnisnya sendiri atau political party,” ujar Betti. Dirinya menambahkan, Cham di Kamboja di bagi menjadi tiga kelompok besar, yaitu Cham Melayu (Cham Malay) dan  Cham Jawi (Cham Chvea) yang beribadah wajib 5 kali setiap hari seperti muslim pada umumnya dan kelompok  Cham Bani (Cham Jahed) orang cham yang beribadah pada hari jumat saja.

Menurut pandangan Peneliti P2W- LIPI, Lamijo menerangkan etnis Cham yang disebutkan diatas sejatinya berasal dari Vietnam Tengah. Berdasarkan sensus penduduk Vietnam tahun 2019, 80 persen dari 178.948 orang etnis Cham di Vietnam beragama Islam. Muslim Champa merupakan  dua per tiga dari total jumlah muslim di Vietnam, satu per tiga sisanya adalah muslim pendatang dari berbagai negara seperti Arab, Pakistan, India, Malaysia, Indonesia, dan lain-lain. Saat ini ada sekitar puluhan masjid di seluruh Vietnam yang sebagian besar berlokasi di wilayah selatan.

Lamijo menyebut  komunitas Muslim di Vietnam saat bisa dibedakan menjadi komunitas muslim imigran yang berkembang di kota-kota besar seperti Ho Chi Minh, Tay Ninh, An Giang, dan komunitas muslim Champa, yang merupakan komunitas muslim lokal paling awal di Vietnam dan mendiami dataran pantai Vietnam Tengah di Annam Lama, seperti Thuong Hai, Phan Rang, Nha Trang,  Chau Doc, dan Phan Thieta.

“Secara konstitusional, pemerintah Vietnam membebaskan orang Islam beribadah dan bekerja di berbagai bidang, Meski demikian, tidak gampang mencari kerja untuk muslim Cham di Vietnam. Banyak lulusan pesantren dan perguruan tinggi dari Timur Tengah yang akhirnya mencari kerja di Malaysia,” tutup Lamijo. (iz, laporan:agn,brl/ed:mtr)

Latest Update

 
Mar 15, 2022

Rempah, Alat Niaga Pendorong Pertemuan Lintas Bangsa

News Humas BRIN
Dec 31, 2021

Perdagangan Indonesia-Uni Eropa: Studi Kasus Hambatan Ekspor Ikan Tuna Indonesia ke Uni Eropa

Opinions Catherina Henderson*
Dec 31, 2021

Sejarah Perbatasan di Asia Tenggara: Mengupas Pengelolaan Perbatasan Di Vietnam

Opinions Lamijo
Dec 31, 2021

Ethiopia 2020–2021: Mengulang Masa Kelam Perpecahan Etnis

Opinions Angela Iban
Dec 28, 2021

Kota-Kota Perbatasan di Asia Tenggara: Arti Penting Kota Perbatasan Mong Cai bagi Vietnam

Opinions Lamijo

dokinfosimpegintra lipiepenelitiBanner KIP

Privacy Policy Legal Disclaimer « ISSN 2086-5309 » ContactCopyright © 2022 Research Center for Regional Resources - Indonesian Institute of Sciences (P2SDR-LIPI)
News