Jakarta, Humas LIPI. Japanologi merupakan perspektif yang mempengaruhi interpretasi terhadap budaya Jepang, termasuk budaya populer. Kajian kritis bukan sesuatu yang baru, karena sudah banyak mengalami perkembangan seperti halnya dalam studi Jepang yang baru mengalami perkembangan, khususnya di Indonesia. Menurut Fadjar Ibnu Thufail, peneliti Pusat Penelitian Kewilayahan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), pada webinar Kuliah Tamu yang mengusung tema “Budaya Populer Jepang: Pendekatan Kajian Kritis” yang diselenggarakan oleh Prodi Sastra Jepang Universitas Brawijaya, pada Senin (31/5) lalu. Konsep budaya popular muncul sebagai cara untuk membedakan bentuk budaya yang dianggap unik atau bercita rasa tinggi atau high arts, dari bentuk budaya yang dikonsumsi masal atau bercita rasa rendah atau mass arts.
Persoalan kontekstualisasi dan pentingnya analisis kritis dapat dilihat melalui perspektif konstruksi sosial-historis yang memiliki tiga aspek diantaranya waktu, ruang, dan nilai. Contoh tinjauan kritis terhadap topik yang memperlihatkan warisan Japanologi dan area studies dalam kajian Jepang dalam aspek waktu, misalnya pada film Ghibli “Grave of the Fireflies” yang sebenarnya merupakan representasi kegalauan masyarakat Jepang tentang dampak perang. Kita hanya dapat mengetahui kalau kita melakukan penelitian yang cukup mendalam tentang periode Perang Dunia II dan segala letak simbolisasi di dalam periode itu. Sehingga proses interpretasi selalu ada dasar sosiologis dan historisnya,” ungkap Fadjar.
Lebih lanjut, pada aspek ruang, contohnya pada anime yang selalu dianggap sebagai salah satu karakteristik “budaya populer Jepang”, dan dianggap memiliki karakter teknis dan visual yang “unik”. “Padahal, pada 1950-an Tezuka, seorang mangaka dan animator Jepang, belajar animasi dari film Disney. Selain itu, Jepang memproduksi games setelah Amerika mengembangkan industri games, misal game Atari. Jadi dalam kajian kritis, antara Jepang dan Amerika tidak “unik”, selalu ada pertukaran, belajar, serta technological learning yang terjadi di berbagai macam komunitas,” jelasnya.
Dari kedua aspek tersebut berimplikasi pada nilai, contohnya pada tahun 1970-1980 atau biasa disebut periode internalization kedua, Nippon Steel pada tahun 1980-an mengkonstruksi konsep tateshakai. Konsep seperti ini muncul sebagai kebutuhan industri itu sendiri untuk mengurangi resistensi pegawai, mengurangi kritik dari pegawai, dan juga untuk menjamin produksi akan terus berjalan. Oleh karena itu, dari contoh ini dapat dilihat jika nilai dibuat untuk kepentingan tertentu dan kelas tertentu, serta bukan esensi budaya yang tidak berubah,” imbuh Fadjar.
Seorang analis perlu mengungkap persoalan untuk memperlihatkan sebuah nilai yang dikonstruksikan oleh kelompok atau kelas tertentu pada periode historis tertentu. “Dasarnya, secara konseptual seperti inilah tujuan kritis,”. Untuk melakukan studi kajian kritis secara metodologi dan secara konseptual, harus banyak belajar dari ilmu-ilmu disiplin lain, salah satunya antropologi, sejarah, bahkan teknologi atau sains. Karena untuk memberi konteks terhadap formal yang ada budaya populer, kita perlu tahu juga tentang konsep-konsep antropologi tentang kelas, psikologi, dan konsep-konsep lain, tutup Fadjar. (sf/ed:suhe)
*********************************************************
DISCLAIMER: Tim website psdr.lipindonesia.com hanya menjalankan tugas penyuntingan teknis. Konten tulisan yang dimuat sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Korespondensi lebih lanjut terkait substansi artikel silakan menghubungi HUMAS LIPI.