
Jakarta - Saat ini perkembangan teknologi melaju begitu pesat. Dunia pun telah diwarnai dengan hal-hal yang serba digital, termasuk dalam ranah penelitian ilmiah. Konsep digital menjadi semakin akrab digunakan dalam diseminasi hasil-hasil penelitian sehingga dapat dengan mudah diakses oleh masyarakat. Konsep digital dalam bidang penelitian sosial dikenal dengan pendekatan digital humanities. Digital humanities awalnya digunakan untuk analisis teks, hingga kemudian berkembang pada data visual seperti material warisan budaya.
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Penelitian Kewilayahan (P2W-LIPI) berkolaborasi dengan Art Research Center (ARC) - Ritsumeikan University (Jepang) dan Balai Konservasi Borobudur melakukan penelitian lintas disiplin yang melibatkan ilmuwan sosial, arkeolog, dan ilmuwan komputer untuk digitalisasi Borobudur.
“Borobudur bukan hanya sebuah situs warisan budaya tetapi juga salah satu situs warisan dunia dan telah terdaftar sebagai Memory of the World pada 2017,” ungkap Peneliti Pusat Penelitian Kewilayahan LIPI, Fadjar I. Thufail, dalam acara bertajuk "Digitizing Borobudur: A Perspective of Sociotechnological Co-Production" pada Rabu (22/7).
Fadjar menjelaskan, studi yang dilakukan mengusung konsep imajinasi sosioteknologis yang biasa digunakan dalam studi Science, Technology, and Society (STS). Pendekatan imajinasi sosioteknologis merupakan konsep analisis yang menggabungkan ilmu sosial dengan teknologi, bagaimana memahami kehidupan dan batas-batas sosial dan teknologi yang tidak dapat dipisahkan. Melalui, co-productionproses digitalisasi berlangsung atas kerja sama para ilmuwan dan penyedia data serta arsip Memory of the World. Metode tersebut digunakan untuk mengungkap dan merepresentasikan nilai-nilai dalam Candi Borobudur melalui Visualisasi 3D.
“Visualisasi candi Borobudur yang ditemukan yaitu narasi warisan pariwisata, museum, relief candi, galeri seni, ritual dan pusat ekonomi desa. Dari narasi warisan wisata tersebut juga ditemukan antara lain budaya maritim, mitos dan cerita rakyat, pengetahuan arsitektur dan astronomi, sejarah rekonstruksi Borobudur, flora fauna,geologi, simbol spiritual, dan tempat ziarah,” tutup Fadjar. (iz/ed:mtr)
******
DISCLAIMER: Tim website psdr.lipindonesia.com hanya menjalankan tugas penyuntingan teknis. Konten tulisan yang dimuat sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Korespondensi lebih lanjut terkait substansi artikel silakan menghubungi HUMAS LIPI.