Humas, Jakarta LIPI. Menghadapi situasi baru yang tidak terduga awal tahun 2020, dimana pandemi tidak hanya mengubah cara hidup sehari-hari, juga saling berinteraksi. Virus COVID-19 telah mengubah wajah dunia.
Bandara, yang biasanya orang lalu lalang berpergian, sekarang terlihat sepi. Banyak negara sejak sekitar Maret 2020 telah menutup sama sekali kunjungan bagi orang asing. Seperti halnya pelaksanaan Ibadah Haji dan Umroh tahun lalu hanya dilaksanakan oleh warga setempat. “Dalam situasi ini, muncul pertanyaan inikah akhir globalisasi?,” kata Amin Mudzaki, Peneliti Pusat Penelitian Kewilayahan LIPI (P2W), dalam diskusi virtual ‘Virus Corona dan Wajah Baru Globalisasi’, pada Kamis (18/02) lalu.
“Sejak Bandara-bandara internasional menutup pembatasannya bagi orang asing, dunia seakan kembali ke abad pertengahan. Dampaknya sangat luas. Tidak hanya ekonomi, kehidupan sosial dan politikkpun mengalami kemerosotan,” tambahnya.
Amin menyinggung, status pandemi yang disebabkan oleh persebaran virus COVID-19 bukan akhir, melainkan awal, dari suatu pemahaman baru mengenai globalisasi. “Sisi positif dan negatif dari globalisasi sangat tergantung pada kemampuan pemerintahan masing-masing negara nasional dalam menjalankan fungsi kepengaturannya, terutama di saat krisis,” paparnya. Oleh karena itu, dampak globalisasi dari persebaran virus corona berbeda di antara negara satu dengan negara lainnya.
Namun di sisi lain, persebaran virus yang sekarang sudah bermutasi menjadi varian yang konon lebih mematikan, memaksa kita berpikir ulang, dan tidak bisa menghadapi ini sendirian. “Solidaritas internasional dibutuhkan, sutau nilai kemanusiaan universal yang lintas-batas diperlukan,” pungkas Amin.
Sejalan dengan itu peneliti Pusat Kewilayahan LIPI lainya, Saiful Hakam menyampaikan, situasi sekarang cukup membingungkan untuk orang-orang dengan pemahaman pengetahuan yang basisnya tradisi, budaya dan agama. “Pemahaman masyarakat tentang pandemi, ada tiga wacana, yaitu: bersifat ilmiah, tafsir budaya interpretasi dan ekonomi,” jelasnya.
Saiful menjabarkan, pemahaman bersifat ilmiah, merupakan otoritas para dokter dan akhli mikrobiologi yang mempunyai diksi-diksi atau istilah-istilah rumit bagi orang awam. “Pemahaman tentang virus bersifat ilmiah dengan nama COVID-19, saat itu publik susah untuk memahaminya, Lain halnya jika, nama krisis pandemi sesak nafas, publik akan lebih mudah memahaminya,” terang Saiful.
Berikutnya, pemahaman interpestasi tafsir budaya, muncul dikalangan agamawan, budayawan, dan antropolog. Masalah tafsir budaya melahirkan mitos-mitos baru. “Banyak hal mitos-mitos muncul bersimpangan dengan politik sekarang,” kata Saiful. Contoh: Munculnya doa-doa baru atau lama yang dulu tidak pernah dibacakan dan tafsir-tafsir baru atau lama yang muncul menjadi tafsir baru.
Adapun, pemahaman tentang ekonomi, munculnya istilah lockdown, yang kita tidak tahu istilah itu sebelumnya, mengingat istilah ‘dikunci’, dikenal untuk negara-negara maju. Menurut Saiful, lockdown yang paling kolaps dari sisi ekonomi di Indonesia adalah perjalanan dinas. “Mengingat, Indonesia merupakan negara dengan perjalanan dinas terbesar di dunia dan tiba-tiba hilang, hingga mempengaruhi sektor perhotelan dan sektor makanan,” sebut Saiful.
Dari ketiga hal diatas menghasilkan solidaritas sosial dalam membangun ikatan masyarakat yang memiliki rasa bersama, terutama gotong royong. “Menciptakan semangat gotong royong yang perlu ditingkatkan,” tutup Saiful. (ags,swa/ed:mtr)
*******************************************
DISCLAIMER: Tim website psdr.lipindonesia.com hanya menjalankan tugas penyuntingan teknis. Konten tulisan yang dimuat sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Korespondensi lebih lanjut terkait substansi artikel silakan menghubungi HUMAS LIPI.