
Dr. Hiroshi Yamaguchi menjelaskan teknik fotogrametri (upiks)
Magelang - Candi Borobudur selalu memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan asing maupun domestik. Setiap tahunnya, jumlah pengunjung Candi Borobudur rata-rata mencapai 4,6 juta orang. Sebagian besar pengunjung tersebut pasti tertarik untuk naik ke atas bangunan candi. Sayangnya, jumlah pengunjung yang membeludak itu ternyata melebihi kapasitas Candi Borobudur yang idealnya hanya bisa menampung sekitar 128 orang per hari atau sepersepuluh dari jumlah total pengunjung saat ini. Apabila tren ini terus berlanjut, salah satu Candi Budha terbesar di dunia tersebut dikhawatirkan akan rusak. Terbukti hingga saat ini, kondisi lantai candi semakin rentan akan bebatuan aus.
Berbagai upaya dilakukan untuk menyusun strategi konservasi Candi Borobudur maupun mengurangi jumlah pengunjung yang naik ke bangunan candi. Salah satunya, Pusat Penelitian Kewilayahan (P2W-LIPI) bekerja sama dengan Art Research Center Ritsumeikan University dan Balai Konservasi Borobudur (BKB) melakukan kegiatan penelitian Manajemen Digital dalam Pengelolaan Warisan Budaya. Pada Rabu, 22 Januari 2020, anggota tim peneliti Jepang Dr. Hiroshi Yamaguchi (arkeolog) dan Dr. Liang Li (ahli ilmu komputer) memberikan pelatihan kepada staf borobudur tentang tata cara pengambilan foto Borobudur sebagai bagian dari teknik fotogrametri. Koordinator riset, Dr. Fadjar I. Thufail (P2W-LIPI), mengatakan bahwa teknologi fotogrametri sangat penting dimanfaatkan untuk membantu pengelolaan cagar budaya. “Dibandingkan teknologi laser scanning, fotogrametri adalah teknologi yang mudah digunakan dan berbiaya lebih murah. Oleh karena itu, LIPI bekerja sama dengan Ritsumeikan University dan BKB mengembangkan konsep pengelolaan warisan budaya di Indonesia berbasis teknologi fotogrametri digital” kata Dr. Fadjar.

Peneliti LIPI dan BKB mendengarkan penjelasan peneliti Jepang tentang teknik fotogrametri (upiks)
Dalam rangka monitoring dan evaluasi, Kepala P2W-LIPI, Dr. Ganewati Wuryandari, bertemu langsung dengan Direktur BKB, Drs. Tri Hartono M.Hum, dan semua anggota peneliti untuk membicarakan tahapan riset dan target penelitian yang akan dicapai. Pada tahap pertama disepakati akan membuat fotogrametri lorong 1 Candi Borobudur. Selain itu, penelitian sosial yang akan dilakukan oleh tim peneliti dari LIPI akan difokuskan pada identifikasi elemen relief Borobudur yang bisa dikembangkan lebih lanjut untuk pengembangan potensi masyarakat.
Konsep pengembangan kawasan Borobudur memiliki keterkaitan yang erat dengan konsep pengembangan dan pengelolaan cagar budaya di Jepang. Sejak tahun 1970an, JICA terlibat dalam pengembangan kawasan Borobudur dengan merujuk pada konsep pengelolaan warisan yang diterapkan di Jepang. Pemerintah Indonesia bisa belajar banyak dari pengalaman Jepang yang sejak lama terlibat dalam pengelolaan cagar budaya berteknologi tinggi di tingkat dunia. (upiks)