Jakarta. Karawang yang saat ini telah dikenal sebagai salah satu kawasan industri di Indonesia sejatinya telah melewati proses transformasi penggunaan lahan yang berdampak pada perubahan masyarakat sosial setempat dan telah menjadi salah satu daerah di Indonesia dengan perubahan ekonomi dan sosial yang sangat dinamis. Kabupaten Karawang dulu dikenal sebagai daerah pertanian dengan sebutan “lumbung padi” di Jawa Barat. Namun, seiring perubahannya, pola pekerjaan dari masyarakat setempat pun yang dahulu bercocok tanam mulai berubah menjadi pegawai atau buruh perusahaan-perusahaan di kawasan industri sekitar. Karawang International Industrial City (KIIC) adalah salah satu bentuk nyata dari lahan yang bertransformasi menjadi kawasan industri.
Terkait hal tersebut, tiga peneliti dari Jepang yakni Prof. Dr. Aiko Kurasawa (Keio University), Prof. Dr. Makoto Ito (Tokyo Metropolitan University), dan Prof. Dr. Tagayasu Naito (Tokai University) melakukan penelitian di Karawang untuk melihat lebih dalam transformasi penggunaan lahan pertanian menjadi kawasan industri. Ketiga peneliti senior memaparkan hasil sementara penelitiannya dalam Forum Kajian Wilayah (FKW) yang diselenggarakan oleh Pusat Penelitian Kewilayahan (P2W) pada 15 Agustus 2019.

Credit: Hanum Ayuningtyas/P2W
Dalam forum diskusi, Prof. Dr. Aiko menyampaikan bahwa pembebasan tanah di Karawang pertama kali dilakukan untuk irigiasi, jalan tol, dan kemudian berkembang untuk pembangunan daerah industri (KIIC), termasuk lapangan golf dan juga perumahan di dalam kawasan. Target konsumen dari perumahan ini adalah orang-orang yang bekerja di Jakarta dan karyawan dari KIIC sendiri. Oleh karena itu, gelombang perpindahan penduduk ke daerah Karawang juga semakin meningkat. Hasil penelitiannya menunjukkan penduduk pendatang yang sebagian besar bertempat tinggal di perumahan kini mencapai angka 14.031 orang. Sedangkan, penduduk yang masih tinggal di kampung hanya sekitar 6.784 orang yang terdiri dari penduduk asli desa dan pendatang. Hal ini menunjukan bahwa gelombang pendatang untuk tinggal di Karawang memang tidak dapat dikatakan sedikit dalam jumlahnya. Pada akhir presentasi, Prof. Dr. Aiko menyampaikan dampak dari urbanisasi yang cepat mengakibatkan perubahan gaya hidup penduduk desa di Karawang.

Credit: Hanum Ayuningtyas / P2W-LIPI
Penelitian ini juga membahas lebih dalam tentang perubahan masyakarat sosial di Desa Sukaluyu, Karawang. Desa ini bersifat heterogen terdiri dari banyak penduduk pendatang dan pekerja di daerah industri. Prof. Dr. Makoto Ito menyampaikan bahwa sekitar 273ha dari 524ha tanah Desa Sukaluyu telah digunakan oleh KIIC untuk kompleks industri dan perumahan. Hampir 60% rumah tangga yang tinggal di sekitar Desa Sukaluyu dan KIIC kini menggantungkan pendapatan mereka pada sektor perindustrian di KIIC, tidak lagi pada sektor pertanian seperti dahulu kala. Dalam kajian tersebut, Prof. Dr. Tagayasu Naito memberikan perspektif yang berbeda. Prof. Tagayasu melihat perubahan sosial masyarakat dapat berdampak pada pergeseran perilaku, sikap, dan nilai-nilai konsumsi dalam proses urbanisasi kontemporer khususnya di Karawang.
Dr. Fadjar I. Thufail sebagai host ketiga peneliti Jepang dan moderator dalam diskusi ini menyampaikan bahwa kegiatan ini penting dilakukan sebagai ajang sharing knowledge antara peneliti asing yang melakukan penelitian di Indonesia dengan para peneliti di Indonesia. Diskusi FKW berjalan dengan sangat menarik, para peserta diskusi banyak menyampaikan pertanyaan seputar bagaimana masyarakat bereaksi saat pembebasan lahan dilakukan dan elemen-elemen utama apa saja yang berubah dari masyarakat setempat ketika daerahnya sudah bertransformasi menjadi kawasan industri. (Meilinda Sari & Hanum Ayuningtyas/P2W LIPI)