• Home
  • About Us
    • About P2W
    • People
      • Management
      • Researchers
      • Visiting Researchers
    • Institutional Partners
    • Annual Reports
  • Projects
  • News and Events
    • News
    • Events
      • Past Events
      • Upcoming Events
    • Opinions
    • Prominent Figures
  • Publications
    • Books
    • Newsletter
    • Working Papers
    • Policy Papers
    • Journal Kajian Wilayah
    • Book Reviews
  • Gallery
    • Photos
    • Videos
  • Contact
  • Sudut Pandang Amin Mudzakkir

Latest Update

 
Mar 15, 2022

Rempah, Alat Niaga Pendorong Pertemuan Lintas Bangsa

News Humas BRIN
Dec 31, 2021

Perdagangan Indonesia-Uni Eropa: Studi Kasus Hambatan Ekspor Ikan Tuna Indonesia ke Uni Eropa

Opinions Catherina Henderson*
Dec 31, 2021

Sejarah Perbatasan di Asia Tenggara: Mengupas Pengelolaan Perbatasan Di Vietnam

Opinions Lamijo
Dec 31, 2021

Ethiopia 2020–2021: Mengulang Masa Kelam Perpecahan Etnis

Opinions Angela Iban
Dec 28, 2021

Kota-Kota Perbatasan di Asia Tenggara: Arti Penting Kota Perbatasan Mong Cai bagi Vietnam

Opinions Lamijo

Diplomasi Ekonomi Indonesia dan Afrika

News 20 September 2020
Written by Humas LIPI
fShare
Tweet

 

Jakarta - Kedekatan hubungan diplomatik antara Afrika dan Indonesia yang telah berlangsung lama menjadi salah satu perekat diplomasi. “Bila menilik dari sejarah hubungan dua negara yang luar biasa besar romantikanya pada zaman Konferensi Asia Afrika, menjadikan Afrika Selatan sebagai salah satu negara penting diplomasi Indonesia di Benua Afrika,” tutur Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Nuke Tri Pudjiastuti dalam webinar Diplomasi Ekonomi Indonesia di Afrika: Pengalaman, Peluang dan Tantangan pada Rabu (26/8).

Pusat Penelitian Kewilayahan (P2W) turut memberikan perhatian secara khusus melalui studi terhadap negara-negara Afrika yang dirintis sejak 2016. Topik yang diangkat terfokus pada dampak krisis global dan persoalan dinamika sosial-ekonomi di Afrika. Hingga tahun ini, tim peneliti Afrika P2W-LIPI sudah melakukan penelitian di tiga negara Afrika, yaitu Tanzania (2016 dan 2019), Kenya (2017), dan Ethiopia (2018).

Lebih lanjut Nuke menerangkan, kegiatan penelitian ini merupakan bagian dari Prioritas Riset Nasional Indonesia, dengan maksud  untuk mengetahui bagaimana peran Indonesia di tingkat regional dan global. Caranya, menghadirkan para praktisi dari wilayah negara target riset yang dijadikan sebagai suatu informasi untuk di analisa. “Tim peneliti Afrika mencoba untuk mempelajari, mengkaji apa perkembangan-perkembangan yang terjadi di Afrika yang kemudian dilakukan riset-riset dengan hasil rekomendasi untuk pemerintah,” terang Nuke.

Dirinya juga mengatakan kalau Afrika Selatan adalah negara pasar yang harus di lihat sebagai peluang positif, di mana ada upaya lebih lanjut bagi Indonesia untuk memberikan perhatian secara ekonomi. “Bukan sekadar politik dan keamanan. Ini menjadi suatu catatan penting bagi LIPI dan kami melihat kebijakan Indonesia adalah berupaya memberikan manfaat bagi seluruh wilayah termasuk Afrika,” papar Nuke.

Pada kesempatan terpisah, Kepala Pusat Penelitian Wilayah LIPI, Ganewati Wuryandari mengatakan bagi Indonesia, keinginan untuk mencari pasar-pasar non traditional baru menjadi suatu hal yang mendorong untuk lebih aktif melihat Afrika sebagai peluang ekonomi Indonesia ke depannya. “Afrika sendiri menjadi suatu wilayah yang diibaratkan sebagai gadis cantik yang diperebutkan banyak negara, karena memang menjadi suatu wilayah sangat menjanjikan,” terang Ganewati, pada Selasa (14/9) di Jakarta.

“Ini menjadi tantangan bersama, karena Afrika sekarang sudah berkembang maju. Sebelum COVID-19 beberapa negara di Afrika memiliki pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi, sayangnya hubungan ekonomi Indonesia dan Afrika belum terlalu meyakinkan,” sebutnya. Meski begitu, Indonesia ada peluang untuk mengatasi tantangan tersebut, mengingat  romantisme kedekatan sejarah yang terjalin dapat dijadikan peluang bagi kepentingan ekonomi Indonesia. “Peluang tersebut dapat dilakukan atas dasar kebijakan pemerintahan Djoko Widodo yang menekankan agar delapan puluh persen perwakilan Indonesia di luar negeri diminta untuk melakukan diplomasi ekonomi,” sebut Ganewati.

Sebagai informasi, webinar Diplomasi Ekonomi Indonesia di Afrika: Pengalaman, Peluang dan Tantangan, diselenggarakan oleh Pusat Penelitian Wilayah LIPI dengan dua kali pertemuan daring, pada (26/8) dan (14/9), menghadirkan narasumber: Pertama,  Duta Besar Luar Biasa Berkuasa Penuh (LBBP) RI untuk Republik Afrika Selatan merangkap Botswana, Eswatini dan Lesotho berkedudukan di Pretoria; Kedua, Duta Besar LBBP RI untuk Nigeria merangkap Ghana, Liberia, Burkina Faso,, Benin, Kamerun, Togo, Rep. Kongo, Niger, Sao Tome & Principe, Gabon, Guinea Ekuator, Chad, Rep. Afrika Tengah dan ECOWAS.

 

Peluang Pasar Baru di Afrika Selatan

Duta Besar Luar Biasa Berkuasa Penuh (LBBP) RI untuk Republik Afrika Selatan merangkap Botswana, Eswatini dan Lesotho berkedudukan di Pretoria, Salman Al Farisi mengatakan, Presiden RI menetapkan target ekspor lima persen ke negara-negara di Afrika.”Awal tahun 2020, Joko Widodo berpesan perlu untuk  explore ke negara tujuan kerjasama ekonomi baru sebagai target yang harus dicapai oleh kepala perwakilan negara,” tutur Salman. Dirinya menyebutkan, meskipun adanya situasi pandemi COVID-19 saat ini, target tersebut tentunya harus disesuaikan lebih lanjut.

“Diplomasi ekonomi  tidak lebih sebagai upaya kita untuk menjebatani ekonomi dari satu negara ke negara lain.  Oleh karena itu, diplomasi ekonomi terkait dengan pilihan untuk  bisa memperjuangkan kepentingan ekonomi nasiona kepada satu wilayah negara. “ Kebetulan saya ada di Afrika. Tujuan utama yang harus di lakukan adalah bagaimana melaksanakan diplomasi ekonomi di negara-negara yang menjadi tanggung jawab saya dalam pelaksanaan tugas duta besar Afrika Selatan,” tutur Salman.

Lebih lanjut, Salman menyebutkan Afrika Selatan jadi pasar baru yang belum digarap maksimal sebagai potensi yang menguntungkan untuk Indonesia. Menilik dari perjalanan sejarah hubungan Indonesia dan Afrika Selatan, sebagai koneksi yang luar biasa dan harus digarap, yaitu: Pertama, Interaksi dengan  Afrika Selatan sejak 325 tahun yang lalu dengan kedatangan Syekh Yusuf pejuang dari Makasar dan Tuan Guru Tidore; Kedua, terdapat sekitar 1,2 juta warga Cape Malay keturunan nusantara yang bisa menjadi perekat hubungan Indonesia dan Afrika Selatan; Ketiga, diselenggarakannya Konferensi Asia Agrika (KAA) pada 1965 memberi inspirasi yang luar biasa pada perjuangan Afrika Selatan pada saat itu; Keempat, hubungan yang sangat baik antara mendiang Nelson Mandela dan presiden-presiden Indonesia hingga kerajinan Batik Mandela yang dikenal sebagai ‘Madiba Shirt’.

 

Diplomasi Ekonomi di Kawasan Afrika Sub Sahara

Duta Besar LBBP RI untuk Nigeria merangkap Ghana, Liberia, Burkina Faso,, Benin, Kamerun, Togo, Rep. Kongo, Niger, Sao Tome & Principe, Gabon, Guinea Ekuator, Chad, Rep. Afrika Tengah dan ECOWAS. Usra Hendra Harahap,  mengatakan sesuai amanah Presiden RI Djoko Widodo untuk melakukan diplomasi ekonomi di Kawasan Afrika, saat ini Kedutaan berdomisili di Sub Afrika Sahara ada 14 Negara ditambah ECOWAS menjadi 15 cukup banyak, “ Kita harus bekerja keras untuk mencapai suatu tujuan terutama diplomasi ekonomi. Afrika Sub Sahara merupakan Kawasan yang penting dan strategis bagi Indonesia. Secara keseluruhan Kawasan Sub Sahara yang terdiri dari 51 Negara memiliki populasi lebih kurang 1,1 miliar jiwa dan sumberdaya alam mineral yang melimpah”, tutur Hendra.

“Dibidang Ekonomi potensi yang dimiliki oleh negara-negara di Kawasan Afrika Sub Sahara juga memberikan kesempatan yang besar untuk digali dan dimanfaatkan secara optimal melalui hubungan dagang dan investasi. “Baik pada tatanan Government to Government nilai strategis Kawasan ini ditunjukan dengan banyaknya negara yang membuka perwakilan atau kedutaan besar. Dominasi China dan negara-negara Eropa yang secara tradisional merupakan mitra utama dikawasan mulai bergeser. Sejalan dengan semakin intensnya hubungan dan Kerjasama negara-negara Afrika sub sahara dengan negara-negara lain termasuk Indonesia”, jelasnya

Dirinya merinci, volume perdagangan Indonesia dengan negara-negara Kawasan mengalami peningkatan 1,8 kali lebih besar dari US$3,8 Miliar pada 2010 menjadi US$7 Miliar pada 2017. Produk-produk Indonesia seperti produk makanan dan minuman, obat-obatan herbal dengan mudah dapat ditemukan di Nigeria, Ghana dan negara-negara lainnya di Kawasan.

Selain hubungan Bilateral, komunikasi dan informasi juga dilakukan penjajakan untuk memfasilitasi hubungan dagang yang lebih besar dengan negara-negara ECOWAS ( Economic Community of West African States). “Salah satunya, melalui upaya mendorong terwujudnya Trade Agreement antara Indonesia dengan ECOWAS agar hambatan-hambatan perdagangan seperti tarif yang tinggi rata-rata 30 persen dan non tarif lainnya dapat dikurangi untuk memudahkan penetrasi produk-produk ekspor Indonesia yang lebih besar lagi,” ungkapnya.  

Hendra menjabarkan, potensi sumber daya alam dan mineral dapat memberikan peluang bagi diplomasi Indonesia di bidang perdagangan, Investasi dan pariwisata. Di Nigeria tercatat sedikitnya ada 3 perusahaan besar yang melakukan investasi yaitu Indomie, Indorama, dan Wings. Tercatat : (1) Produk Indomienya menguasai hampir 90 persen pangsa pasar di Nigeria, dan negara tetangga lainnya; (2). BUMN Indonesia, seperti PT Timah mulai melakukan eksplorasi disalah satu negara bagian di Nigeria; (3). Biofarma, pada 2021 akan mulai melakukan kerja sama membangun fasilitas produksi vaksin dengan mitranya di Nigeria; (4). Jasa konstruksi, oleh Wijaya Karya di Miami sedang mengerjakan  pembangunan dan inovasi istana kepresidenan Nigeria.

Selanjutnya, Hendra berharap pada industri strategis dan industri pertahanan diupayakan untuk dapat masuk dan mengembangkan produk-produk di Nigeria dan Ghana. “Tentunya, upaya KBRI Abuja untuk menyesuaikan dengan visi dan misi Presiden RI, bahwa diplomasi ekonomi menjadi salah satu prioritas kebijakan dan politik luar negeri Indonesia dengan cara merangkul negara-negara potensial yang menjadi pasar non tradisional,” tegas Hendra.

Sebagai penutup, diplomasi ekonomi yang dilakukan oleh KBRI Abuja tentunya perlu didukung pemangku kepentingan lainnya baik swasta dan pemerintah. “Salah satu tantangan yang besar perlu didiskusikan adalah skema pembiayaan yang menjadi kendala utama dalam menjalani hubungan dengan mitra negara akreditasi,”tutup Hendra.  (mtr/ags)

******

DISCLAIMER: Tim website psdr.lipindonesia.com hanya menjalankan tugas penyuntingan teknis. Konten tulisan yang dimuat sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Korespondensi lebih lanjut terkait substansi artikel silakan menghubungi HUMAS LIPI. 

Latest Update

 
Mar 15, 2022

Rempah, Alat Niaga Pendorong Pertemuan Lintas Bangsa

News Humas BRIN
Dec 31, 2021

Perdagangan Indonesia-Uni Eropa: Studi Kasus Hambatan Ekspor Ikan Tuna Indonesia ke Uni Eropa

Opinions Catherina Henderson*
Dec 31, 2021

Sejarah Perbatasan di Asia Tenggara: Mengupas Pengelolaan Perbatasan Di Vietnam

Opinions Lamijo
Dec 31, 2021

Ethiopia 2020–2021: Mengulang Masa Kelam Perpecahan Etnis

Opinions Angela Iban
Dec 28, 2021

Kota-Kota Perbatasan di Asia Tenggara: Arti Penting Kota Perbatasan Mong Cai bagi Vietnam

Opinions Lamijo

dokinfosimpegintra lipiepenelitiBanner KIP

Privacy Policy Legal Disclaimer « ISSN 2086-5309 » ContactCopyright © 2022 Research Center for Regional Resources - Indonesian Institute of Sciences (P2SDR-LIPI)
News